Memahami Mengapa Orang Ingin Bunuh Diri

Redaktur

11 Jan, 2023

Alasan orang bunuh diri

Bumipsikologi.com – Banyak sekali alasan manusia untuk mengakhiri hidup, tapi apakah kamu pernah dengar bunuh diri terjadi pada kalangan binatang? Hmmm tentu tidak. Lantas apa saja yang memicu seseorang merasa harus melakukan penghakiman terhadap diri sendiri? Simak alasan orang bunuh diri

“Hanya ada satu masalah filosofis yang layak dipikirkan, yaitu bunuh diri”

Albert Camus

Pernahkah kita membayangkan ada makhluk hidup selain manusia yang melakukan tindak bunuh diri? atau bertanya-tanya apakah rasa putus asa hanya ada pada manusia saja? Kasus bunuh diri terus mengalami tren peningkatan setiap tahunnya.

Data dari WHO menunjukkan selama tahun 2020 di Indonesia tercatat sebesar 3,5 per 100.000 populasi. Artinya 3,5 orang melakukan tindak bunuh diri dari setiap 100.000 penduduk Indonesia. Ada beragam perspektif untuk menjelaskan mengapa fenomena bunuh diri terus bermunculan. Tak pandang gender tak kenal status sosial, bunuh diri seolah berpotensi terjadi pada siapa pun.

Apa yang melatar belakangi tindakan bunuh diri? Dari kalangan filusuf sejak era Plato, Arthur Schopenhauer, hingga Albert Camus, tak ketinggalan sosiolog seperti Emile Durkheim, hingga psikolog seperti Sigmund Freud turut membedah fenomena ini.

Emile Durkheim seorang sosiolog yang menghabiskan hidupnya berkeliling dunia dan mempelajari fenomena ini menyimpulkan, jika kegagalan relasi seseorang terhadap lingkungan sosial menjadi akibat dari tindakan bunuh diri. Lain hal dengan Freud, menurutnya setiap manusia memiliki hasrat untuk bunuh diri.

Walau demikian menurutnya hasrat ini dapat kita redam dalam kondisi normal. Namun saat depresi, manusia akan cenderung melakukan bunuh diri yang merupakan bentuk kemarahan terhadap diri nya sendiri.

Pendekatan Arthur Schopenhauer mungkin dapat menjadi alternatif jawaban. Dalam pendekatan filsafatnya sang filsuf kelahiran Jerman (1788-1860), menyimpulkan jika “kehendak” menjadi penyebab dari segala bentuk penderitaan yang dapat memicu tindakan bunuh diri. Schopenhauer beranggapan jika dunia ini digerakkan oleh kehendak, dari kehendak yang sederhana seperti ingin dicintai hingga ke hal yang kompleks seperti kehendak untuk hidup dan mendapatkan pengakuan. Melalui kehendak manusia cenderung akan menjumpai sejumlah permasalahan.

Masalah tersebut dipicu oleh keinginan manusia yang tak kenal batas saat dirinya bersentuhan dengan “kehendak”. Sudah jadi hukum alam jika semakin terpenuhinya kehendak, manusia akan terus memproduksi kehendak baru yang lebih banyak, massif, dan cenderung destruktif.

Berkenalan Dengan Kekecewaan

Pertanyaannya apa yang terjadi saat manusia gagal menunaikan kehendaknya? Konsekuensi paling ringan ialah rasa kecewa namun yang terberat akan berujung pada penderitaan dan depresi. Depresi merupakan bentuk lain dari keputusasaan yang dipicu kekecewaan. Contoh paling konkret yang biasa kita temui ialah rasa kecewa akibat kegagalan dalam menunaikan kehendak untuk dicintai.

Contoh manifestasi kehendak yang paling sederhana ialah saat seorang pria belajar mencintai dan berusaha dicintai oleh seorang wanita. Jika cinta bersambut mungkin sang pria bahagia, namun bagaimana jika tak bersambut alias bertepuk sebelah tangan, tidak direstui, bahkan diselingkuhi? Saat kegagalan cinta terjadi, itulah saat paling memungkinkan bagi manusia berkenalan dengan kekecewaan, bahkan yang paling ekstrem rasa kecewa dapat berubah menjadi penderitaan dan berujung depresi.

Seperti belum lama ini seorang pria dari Bengkalis, Riau berinisial IS (38) tewas gantung diri akibat diputuskan oleh pacarnya. Tak sampai di situ seorang influencer berinisial Z viral di medsos, usai memergoki pasangannya berselingkuh. Ia mengaku begitu depresi mengetahui kenyataan tersebut dan tak menutup kemungkinan kitalah korban berikutnya.

Depresi karena cinta selalu muncul akibat ketidaksiapan kita dalam menghadapi konsekuensi atas kehendak yang kita pilih (berusaha mengejar cinta orang lain). Secara kehendak kita inginnya orang lain mencintai kita juga, namun faktanya kita sama sekali tak mampu mengendalikan kehendak orang yang kita cintai agar mengafirmasi cinta kita atau tidak berselingkuh dari kita. Kegagalan-kegagalan itulah yang membuat kita menjadi depresi. Mengatasi

Depresi/Penderitaan

Menilik asumsi di atas, kita layak mempertimbangkan pandangan Schopenhauer. Baginya penderitaan muncul karena manusia kerap bersentuhan dengan banyak hal, sehingga selama manusia hidup penderitaan akan terus ada akibat sifat alamiah manusia yang tak pernah mengenal kata cukup.

Bagi Schopenhauer ketika rasa sakit kehidupan lebih menyakitkan dari rasa sakit akibat kematian itu sendiri. Maka bunuh diri diperbolehkan, karena lewat kematian manusia tak lagi bersentuhan dengan kekecewaan hidup, dan di fase ini manusia berhenti untuk menghendaki sesuatu.

Meski demikian, Schopenhauer sendiri hidup hingga umur 72 tahun, dan dia tidak bunuh diri. Bagi Schopenhauer ketika manusia tidak mampu memperoleh makna tentang kehidupan, mengapa manusia harus menciptakan makna tentang kematian?

Dari logika tersebut, asumsinya ketika manusia menghadapi berbagai tekanan hidup yang mungkin saja berujung pada penderitaan. Lalu manusia memilih kematian sebagai opsi mutlak mengakhiri permasalahan hidup, maka secara tidak sadar manusia tengah seberusaha itu untuk memberikan makna pada kematian dengan asumsi kematiannya dapat menghilangkan penderitaan.

Lantas, jika kita bekerja keras memberi arti pada kematian, mengapa kita tidak berusaha keras memberikan makna pada kehidupan? Ketimbang bunuh diri, Schopenhauer menawarkan 2 formulasi untuk mengakhiri penderitaan.

Pertama dengan mengafirmasi (mengakui/menerima) kehendak, kedua dengan menegasikannya (menyangkal/menolak). Bila kita mengafirmasi, maka bersiaplah untuk menderita, namun apakah menegasikannya berarti kita lepas dari penderitaan? Belum tentu, namun setidaknya dapat meminimalisir penderitaan.

Baca juga: Aku Bahagia karena Tidak Tahu – Ignorance Bliss

Sederhananya kita bisa praktikan hal ini dalam hidup kita. Kita bisa menegasikan berbagai bentuk kehendak yang kita sudah tahu jika kita gagal mewujudkan kehendak tersebut maka kita akan sangat kecewa dan membuat kita menderita. Contohnya seperti berharap secara berlebihan pada orang-orang, ingin divalidasi dan dipuji manusia, atau memaksa diri untuk diterima oleh semua orang.

Kita mungkin harus belajar mengafirmasi apa yang saat ini telah kita miliki, seperti keluarga atau lingkungan yang mencintai kita secara utuh, maka terimalah rasa cinta itu dan berusahalah mengarahkan kehendak kita untuk mencintai mereka seperti mereka mencintai kita. Schopenhauer juga berpesan untuk jangan pernah merasa menjadi manusia yang paling menderita apalagi berpikir penderitaan yang orang lain hadapi tak lebih buruk dari penderitaan yang kita hadapi.

Jika kita sering melihat masih banyak orang di sekitar kita yang juga menghadapi banyak masalah bahkan jauh lebih parah dari yang kita rasakan, entah akibat ketidakmampuan mewujudkan kehendak hidupnya ataupun karena faktor lainnya, maka perasaan sebagai si paling menderita yang kita sematkan sendiri pada diri kita akan hilang, karena kita mengetahui bahwa ada yang lebih menderita daripada kita.

Empati

Ber-empatilah pada sekitar kita. Saat manusia belajar mengasihi dan menyayangi, saat itulah manusia secara perlahan melepaskan diri nya dari segala penderitaan yang membelenggu jiwanya. Berempatilah pada sekitar kita. Mungkin jika masalah yang kita rasakan begitu berat, ada baiknya jika perlu kita ceritakan keluh kesah kita pada orang yang tepat, walau belum tentu terselesaikan namun setidaknya kita tak merasa sendirian.

Belajarlah juga menjadi pendengar yang baik. Lebih baik kita mendengar keluh kesah orang-orang di sekitar kita selama beberapa jam, daripada kita tak akan pernah lagi mendengarkan suara mereka untuk selama-lamanya.

Bacaan Lanjutan: Artikel Ide Bunuh Diri

Biodata Pribadi

  • Nama : Lambang Wiji Imantoro
  • Alamat : Jalan Rancho Indah No.26 A-K, Jl. Rancho Indah No.2, RT.2/RW.2, Tj. Bar., Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12530
  • Pendidikan : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
  • Hubungi saya di : • Whatsapp 0895331327545 • Email lambangwiji98@gmail.com • Instagram: Imantoro11

Penutup

Setelah membaca artikel ini bagaimana menurutmu terkait bunuh diri? Tulis di komentar ya!

Penulis: Lambang Wiji Imantoro

Keterangan: Artikel ini merupakan kiriman dari redaktur bebas. Bagi kamu yang memiliki artikel untuk dibagikan kepada para pembaca melalui kanal kami, kamu bisa kirim ke lama ini ya, Masukan dan Submit Artikel atau ke email kami di bumipsikologi@gmail.com

Kanal kiriman artikel dari pembaca dan seluruh manusia tercinta.