Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan heuristik keterwakilan dalam psikologi. Artikel ini masih berhubungan dengan netizen. Kenapa sih selalu netizen, mungkin kamu yang ingin tahu jawabannya, karena setinggi apapun pendidikan orang ujung-ujung nya bakal jadi netizen. Bener kan? Jadi netizen itu bagaikan populasi yang merepresentasikan warga bumi. Dan alasan lain netizen itu selalu menarik gerak geriknya di medsos, terutama terkait suatu isu.

Baca juga: Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi

Apalagi isu mengenai kafir mengkafirkan orang lain menjadi bumbu menarik untuk selalu dibahas. Karena bias-bias pemikiran atau berpikir ketika berada di media sosial sangat besar terjadi. Salah satunya terkena bias heuristik keterwakian ini. Salah satu sebabnya mungkin karena tidak terlalu santunya nya netizen ini hehe. Baca saja artikel penjelasan heuristik keterwakilannya yuk [Baca Resensi Buku Daniel Kahneman – Thinking Fast and Slow].

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Sebuah Fenomena

penjelasan heurisitk keterwakilan dalam psikologi, representative heuristik dalam psikologi, contoh fenomena heuristik keterwakilan dalam psikologi
Bumi Psikologi – Menjadi netizen yang ramah. Sumber:Pexels.com

Seperti yang sudah saya singgung di atas, siapapun bisa menjadi seorang netizen. Bukan bermaksud merendahkan, tetapi ini suatu pujian karena netizen telah banyak mengilhami penulis atau peneliti untuk menganalisis fenomena baru ini. Batasan dan sekat waktu atau tempat bagi netizen merupakan cerita lalu. Siapapun dan dimanapun bisa jadi kawan, bahkan mungkin lawan. Baik lawan berdebat, saling bela jungjungan sendiri atau memang jadi objek hujatan. Katanya sih nih ya, netizen itu jago dan ahli banget dalam masalah ini. Bahkan ada yang menjadikan sumpah serapah sebagai salah satu kemampuan spesialisnya. Tapi tidak semuanya juga sih ya.

Tentunya, ini merupakan sebuah fenomena menarik untuk dibahas. Bahasan menarik dalam hal ini yaitu kemampuan netizen untuk melabeli orang lain, bahkan hanya dengan satu ciri saja. Contohnya gini deh, ketika seseorang membicarakan kebaikan Presiden RI terutama di medsos, label yang disematkan pada orang itu pasti pendukung rezim. Contoh lainnya mungkin seperti ini, ketika ada orang memasang foto dirinya bercelana cingkrang, berjanggut, dan jidat hitam, ramuan label netizen untuk orang dengan ciri seperti itu adalah “kadrun” atau “wahaboy” dll.

Contoh yang paling diingat oleh kamu mungkin ketika orang membicarakan Tiongkok atau China, pasti dilabeli sebagai bagian dari antek-antek aseeng. Padahal alat yang dipakainya untuk melabeli orang itu buatan aseeng. Ya mungkin, berbaik sangka saja, itu bukan ulah orangnya tapi auto ngetik sendiri androidnya.

Mungkin juga kamu masih ingat dengan fenomena yang sempat viral antara “Ustadz” Baequnay yang memprediksi masjid di salah satu jalan tol daerah Purwakarta buatan Gubernur Jawa Barat adalah bagian dari konspirasi zionis, freemanson atau apapun itu. Ustaz tersebut membuat kesimpulan yang mengarah kepada antek-antek zionis hanya berdasarkan ciri masjid yang menyerupai segitiga atau mata dajal, kesimpulannya. Yang cukup menarik, pernyataan ini diamini oleh jemaahnya dan mulai menyumpahserapahi Gubernur Jabar tersebut, tentunya di medsos ya.

Baca juga: Ikut-Ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi

Hal seperti ini sering sekali terjadi, bahkan intens dilontarkan oleh warganet dimanapun. Terutama mereka yang menggunakan akun anonim, alias buzzer. Menyerang orang dengan cara melabeli orang lain dari satu karakteristik saja merupakan kebiasaan yang lumrah terjadi. Coba saja kamu lihat akun media sosial para pemimpin negeri, misalnya akun Presiden atau akun kontroversi, kerap terjadi komentar bersifat sok tahu hanya dengan satu ciri saja. Bahkan, sering kali netizen sampai tahu niat seseorang hanya dengan hal yang tidak ada kaitannya dengan hal itu. Seperti tadi, masjid berkubah segitiga diidentikan dengan konspirasi zionis. Padahal mungkin pembuat tidak ada niatan sama sekali pikiran ke sana.

penjelasan heurisitk keterwakilan dalam psikologi, representative heuristik dalam psikologi, contoh fenomena heuristik keterwakilan dalam psikologi
Bumi Psikologi – Mendingan jadi netizen yang tidak galak dan gak so tahu. Sumber:Pexels.com

Nah, orang yang berpikir semacam ini terkena bias berpikir heuristik keterwakilan atau representative heuristic. Secara definisi teoritis heuristik keterwakilan berarti kemampuan dalam mengambil kesimpulan atau penilaian dengan cara melihat tingkat kemiripan antara suatu simulus dengan peristiwa atau stimulus lainnya. Mudahnya, mengkaitkan suatu karakteristik dengan karakteritik lain yang telah diketahui orang tersebut. Akibatnya orang akan menilai orang lain, meski hanya memiliki satu karakteristik yang mirip, dengan serampangan dan tanpa pikir panjang.

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Jadi judgement atau penilaian orang yang terkena heuristik keterwakilan didasarkan pada gagasan bahwa orang sering membuat penilaian berdasarkan seberapa banyak suatu kejadian atau peristiwa menyerupai peristiwa lainnya. Bisa juga dikatakan seberapa mirip suatu karakteristik terhadap karakteristik besar yang lainnya.

Misalnya gini deh, coba kamu nilai kira-kira pekerjaan yang cocok dengan karakteristik berikut itu pasnya sebagai apa:

Kadrun merupakan seorang mahasiswa cerdas lulusan di universitas ternama dan bisa berbahasa Arab. Coba kamu urutkan kira-kira Kadrun cocoknya berada di jurusan mana ketika kuliah (nilai 1 – 9, 1 berarti mungkin dan sampai 9 berarti tidak mungkin):

Administrasi bisnis, Ilmu Komputer, Tafsir Hadist, Hukum, Kedokteran, Psikologi, Sastra Arab, Sosiologi.

Disadur dari Thinkin Fast and Slow – Daniel Kahneman

Dari sini bisa menjelaskan bahwa heuristik keterwakilan juga bisa berjalan kelindan dengan heuristik ketersediaan. Jadi seberapa sering munculnya seseorang dengan karakteristik yang mirip dengan karakteristik lainnya akan memenuhi pikiran orang tersebut. Dalam contoh di atas, ketika kamu sering melihat ciri mahasiswa yang jago bahasa arab cenderung kuliah di jurusan Agama, dan akan diasumsikan sedikit kemungkinannya mengambil jurusan ilmu kafeer psikologi misalnya.

Baca juga: Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam

Hayo, apa kamu sering seperti ini? Saya rasa tidak ya, semoga saja hehe. Fenomena ini juga menyerembet ke berbagai hal. Salah satu hal yang saya amati yaitu merebaknya orang dilabeli “ustadz”. Orang yang sering ke masjid, berbicara mengenai Islam, memakai peci atau jubah, sorban, dan baju putih. Masyarakat cenderung akan melabeli orang itu sebagai ustadz. Dalam bidang lain, ini merupakan sebuah masalah. Karena pelabelan ustadz secara serampangan akan menjamurnya orang seperti ini. Tentu, kalau pengikutnya tidak ada sih tidak masalah, kalau ribuan bahkan jutaan seperti freemanson tadi, ya susah juga.

Atau orang yang melabeli kafir orang lain hanya karena beda sedikit perincian terkait agama Islam, merupakan orang yang sangat jauh terkena bias heuristik keterwakilan ini. Hanya karena oran berbeda dengan kamu, kamu menggolongkannya sebagai ahli bid`ah atau kafeer? Coba renungkan kembali.

Daftar Pustaka

Goldsetin (2008), Cognitive Psychology, Belmont: Thomson Wadsworth

Kahneman, D, thinking fast and slow

Penutup

penjelasan heurisitk keterwakilan dalam psikologi, representative heuristik dalam psikologi, contoh fenomena heuristik keterwakilan dalam psikologi
Bumi Psikologi – Berpikir sebelum berkomentar.Sumber: Pexels.com

Oke untuk penjelasan heuristik keterwakilan dalam psikologi hanya cukup sampai di sini saja. Semoga kita selalu diberikan jiwa-jiwa yang santuy mengadapi kenyataan. Perbanyak ngopi dan tidak menjadi sumbu pendek ketika bersinggungan dengan kenyataan yang berbeda atau menilai orang hanya karena memiliki satu karakteristik dari yang kamu anggap mirip tersebut. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan heurisitk keterwakilan dalam psikologi, representative heuristik dalam psikologi, contoh fenomena heuristik keterwakilan dalam psikologi