Analisis Film Arcane dalam Psikologi: Kepribadian Tokoh Powder atau Jinx – Powder Tidak Bersalah!

Perfilman | Piksikologi

8 Des, 2021

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai Analisis Film Arcane dalam Psikologi, terutama analisis tokoh Powder atau Jinx, ga pake awalan an, dari perspektif psikologi. Yang suka netflix, atau saya ga tau sih ada ga di tempat lain dan lupakan saja, tentu tau dong dengan film Arcane. Yang suka nonton film ini pasti tidak asing dong dengan tokoh Powder atau Jinx. Apalagi kamu yang ngikut dari episode awal, pasti sudah hatam sampai ke tulang-tulangnya. Tapi tahu ga sih gimana kalau kita analisis film Arcane dalam psikologi itu bakal seperti apa, khususnya tokoh Jinx.

Salah satu hal menarik ketika menganalisis tokoh Jinx yaitu memiliki krisis pribadi yang bergejolak dalam diri pribadinya loh. Tau ga kenapa? Ya mana saya tau kok tanya saya~ Ikhwalnya kita analisis tokoh ini dengan banyak teori, tapi kita fokusin ke teori sosial dan perkembangan untuk melihat kepribadian si Jinx ga pake an.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Analisis Film Arcane dalam Psikologi: Kepribadian Tokoh Powder atau Jinx – Powder Tidak Bersalah! sampai tuntas ke akarnya.

Analisis Film Arcane dalam Psikologi: Kepribadian Tokoh Powder atau Jinx – Powder Tidak Bersalah!

Selamat datang di Arcane! Bab cerita mengenai dua dari total tiga belas region yang menjadi panggung cerita sebuah gim dengan catatan pemain spektakuler sepanjang dekade terakhir : League of Legends!

Abaikan LoL, karena kami yakin Alucard lebih familiar untuk anda dengar.

Analisis Film Arcane dalam Psikologi. Analisis Tokoh Powder dalam Psikologi. Analisis Tokoh Jinx Arcane dalam Psikologi
Bumi Psikologi – Analisis Film Arcane dalam Psikologi. Sumber: Pinterest

Arcane berkisah tentang orang-orang yang hidup di dua kota yang menunjukkan dualitas sejati : Piltover City dan The Lanes. Piltover adalah kota futuristik dengan perkembangan sains yang luar biasa, aristokrat, perdagangan, dan identik dengan inovasi lintas region. Tak jauh dari Piltover—The Lanes yang nantinya akan benar-benar memisahkan diri menjadi sebuah daerah sendiri—Zaun.

Jika di Piltover kamu akan mendapati senyuman dan canda tawa, di Zaun kamu akan menemukan hari-hari penuh sesak dan kekerasan. Di Piltover hukum mengatur kehidupan namun di Zaun—aturan dibuat oleh kekuatan. Kedua region ini sebenarnya memiliki kisah tersendiri yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Masalah politik yang mengawali Zaun kelak sebagai sebuah bangsa baru, hingga isu kompetisi sains yang membayangi kedua kota ini.

But let’s just save it for now.

Powder (yang diduga berumur 12 tahun), adalah sosok anak yang kreatif, periang, dan sangat menyayangi kakaknya—Vi. Namun setiap kali Vi membawa Powder untuk  menjarah Piltover bersama Mylo dan Claggor, Powder sering sekali justru membuat masalah sampai menggagalkan pencurian mereka. Pada episode awal ditunjukkan adegan Powder bahkan membuang hasil jarahan mereka ke sungai untuk kabur dari kejaran. Powder mengekspresikan kreatifitasnya lewat mainan-mainan unik yang mematikan. Monyet yang bisa menembakkan paku hingga robot peledak pernah dibuatnya, namun kebanyakan gagal.

Mylo selalu mengeluhkan keikutsertaan Powder dalam tiap kegiatan penting, namun Vi selalu membela Powder, memberikannya semangat untuk terus berkembang—Vi adalah caretaker Powder yang paling utama sepeninggal orangtua mereka. Powder selalu berusaha untuk menjadi berguna untuk kakaknya dengan terus menciptakan alat-alat yang Ia harap bisa membantu.

Namun alat-alat Powder kecil belum pernah benar-benar berhasil—malah justru membuat situasi makin kacau. Singkat cerita alat Powder pada akhirnya merenggut nyawa Mylo, Claggor dan Vander. Monyet simbal yang memukul hextech core membuat ledakan magis luar biasa hingga menghancurkan tembok beton dalam sekali reaksi. Powder yang mengira alatnya akhirnya berhasil pada saat itu justru membuat Vi kehabisan kesabaran dan memarahi Powder sejadi-jadinya. Pemandangan bangunan yang runtuh akibat ledakan, kematian Mylo dan Claggor, dan Vi yang akhirnya meninggalkan Powder membuat trauma psikologis mendalam bagi Powder sendiri.

“You’re a jinx.”

Powder yang merasa ditinggalkan oleh Vi kemudian memilih untuk tinggal dan membencinya. Halusinasi traumatis terkait Mylo dan Claggor terus menetap menjadi gangguan mental Powder. Kehidupannya yang berlanjut bersama Silco—seorang tokoh mafia The Lanes membuat sosok Powder benar-benar berubah. Powder remaja mengganti namanya menjadi Jinx, menjalankan perintah Silco untuk melakukan tugas-tugas kriminal dengan alat-alat kreasinya. Senyumnya yang dulu tulus dan polos berubah menjadi senyum psikopat yang mengerikan. Bahkan dalam misi-misi barunya Ia membuat kekacauan yang lebih daripada ketika masih kecil—membuat Silco kini menjadi Vi lama yang membersihkan kekacauan yang dibuatnya.

Tidak ada satupun teman lagi yang menemaninya, Ia bermusuhan dengan banyak orang bahkan dengan bawahan Silco sendiri. Jinx benar-benar bermasalah secara kepribadiannya. Ditambah lagi kebenciannya dengan Piltover dan halusinasinya membuat emosi Jinx seringkali menjadi tidak terkontrol. Finalnya adalah ketika Jinx salah mengartikan keberadaan Vi yang kembali ke Lanes, banyak nyawa orang-orang Piltover yang tidak bersalah menjadi korban pelampiasan emosi Jinx.

Benar, bung. Jinx benar-benar kacau sebagai seorang karakter. Namun sebagai biang utama masalah di dalam bab Arcane, Jinx—sama seperti karakter lain memberikan impresi perkembangan karakter cerita yang luar biasa indah, terlebih dalam aspek psikologi perkembangan dan kepribadian.

Baik, pertanyaannya sekarang adalah apakah Jinx benar-benar bersalah?

Analisis Film Arcane dalam Psikologi. Analisis Tokoh Powder dalam Psikologi. Analisis Tokoh Jinx Arcane dalam Psikologi
Bumi Psikologi – Analisis Film Arcane dalam Psikologi. Sumber: Pinterest

Hal pertama yang perlu diketahui ketika menganalisis aspek psikologis adalah penyebab sebuah perilaku tidak pernah disebabkan hanya oleh satu faktor saja. Mulai dari keturunan, lingkungan yang konteksnya banyak, hingga kondisi sosioekonomi di tempat seseorang hidup bisa saja menjadi prediktor—faktor penyebab perubahan perilaku terjadi. Namun kali ini kita akan membedah Jinx berdasarkan teori kepribadian dan perkembangan yang populer sampai sekarang—Teori Psikososial Erik Erikson.

Erikson pada dasarnya membuat proposisi bahwa sepanjang kehidupan, seseorang akan mengalami krisis pertentangan kepribadian. Penyelesaian krisis ini akan menentukan bagaimana kepribadian orang tersebut pada masa kehidupan selanjutnya. Erikson kemudian membuat model tahapan perkembangan sepanjang rentang kehidupan—membaginya menjadi 8 tahapan.

Jika ditinjau dari tahapan yang diungkapkan oleh Erikson, Jinx kurang lebih sedang memasuki usia remaja dan tengah menghadapi krisis Identity vs Role Confusion. Masa ini secara umum banyak membahas mengenai pencarian jati diri seseorang—terutama bagaimana posisinya dalam dunia sosial. Perlu diingat pula tahapan-tahapan yang ada merupakan hasil dari tahapan sebelumnya.

Dari cerita awal Arcane, Powder kecil mendapatkan identitas pertamanya dari Vi kakaknya. Vi selalu memberikan Powder keyakinan bahwa Ia memiliki kelebihan tersendiri, dan tidak perlu khawatir untuk bisa mengimbangi Mylo, Claggor atau Vi sendiri. Namun di sisi lain Vi juga selalu bertindak sebagai pembela Powder setiap kali kesalahan dibuat olehnya. Hal inilah yang membuat Powder mulai menanamkan konsep bahwa dengan alat-alatnya lah Ia akan bisa membantu Vi dalam bertahan hidup.

Baca juga: Belajar Membaca Bahasa Tubuh dan Micro Ekspresi dari Film – Analisis Psikologi Film Lie to Me

Ditambah dengan kondisi hormonal yang meningkatkan sikap impulsif Powder, Ia kemudian semakin kekeuh pada identitas bahwa Ia selalu bisa membantu Vi, Mylo dan Claggor dalam tiap misi yang dijalankan. Vi-lah yang menanamkan identitas ini padanya, bahwa Powder selalu bisa menjadi berguna dengan alat-alatnya. Untuk sementara Jinx masih bisa menyelesaikan krisis psikososialnya. Namun pada akhirnya Vi pulalah yang menjadi penyebab traumatis Powder kehilangan identitas tersebut.

Perubahan Powder menjadi Jinx merupakan identitas baru Powder yang didapatkan dari Silco. Trauma insiden kematian Vander, Mylo dan Claggor kini berubah menjadi halusinasi yang seringkali datang tiap kali Ia menjalankan misi dari Silco. Halusinasi ini membuatnya makin impulsif, sehingga tidak jarang pula Silco harus membersihkan kegagalan yang disebabkan Jinx. Identitas barunya membuat Jinx harus membenci Vi. Keterlibatan Vi dengan seorang Piltover membuat Jinx kembali bimbang. Kebingungan identitasnya kembali akut.

Pertemuan pertama setelah beberapa tahun dengan VI membuat kenangan akan identitas lamanya bangkit, walaupun Ia sudah berusaha untuk mengafirmasi diri nya bahwa Powder yang dulu sudah tidak ada. Kini yang tersisa adalah Jinx yang bertugas membuat jinx—kekacauan di bawah komando Silco—orangtua barunya yang memusuhi Piltover. Halusinasi Jinx makin parah sejak pertemuan itu. Apakah Vi benar-benar kembali untuknya? Atau Ia hanya kembali karena kepentingan Piltover? Siapa orang Piltover yang Ia bawa?

Baca juga: Analisis Film Layangan Putus dalam Psikologi: Cheating Phenomenon in Relationship – Belajar Dikit Tentang Perselingkuhan dari Layangan Putus

Sebuah penelitian berjudul The Impact of Childhood Trauma, Hallucinations, and Emotional Reactivity on Delusional Ideation menjelaskan banyak hal tentang halusinasi akut Jinx, reaksi impulsifnya di dalam misi, dan kaitannya dengan insiden Vander. Penelitian tersebut menghasilkan penemuan bahwa halusinasi dan reaksi impulsif sepenuhnya menjadi variabel mediator (penengah) antara trauma masa kecil dan pikiran delusional. Dengan kata lain, trauma Jinx ketika masih memasuki masa remaja yang disertai oleh halusinasi dan kecenderungan impulsif pada masa remaja membuat pikirannya membuat gambaran-gambaran yang tidak realistis terhadap masalah yang muncul. Ini tampak pada kesalahpahaman Jinx dalam mengartikan kepulangan Vi dengan Caitlyn, dan ketika Ia tidak sengaja mendengar Silco menggerutu diam-diam.

Sumbu Pendek Jinx adalah hasil dari krisis yang tidak terselesaikan dengan baik, dan pengalaman traumatis yang datang tak tanpa ada yang ngundang. Sebagai Powder, Ia seperti remaja tanggung yang lain, berusaha setiap saat untuk mengkonfirmasi identitasnya. Sebagai Jinx, Ia gagal menyelesaikan krisis barunya karena kegagalan konfirmasi pada tahapan yang sama. Jinx adalah ilustrasi perkembangan yang alamiah. Kita bahkan belum membahasa kondisi demografis dan sosioekonomi yang membuat Jinx dan Vi bisa mengalami perubahan sedemikian rupa. Jinx benar-benar sulit untuk disalahkan.

Arcane, di samping memberikan inovasi luar biasa dalam industri animasi, juga meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya. Emosi karakter tergambar begitu kuat, hingga detil kecil seperti perubahan ekspresi Powder kecil ketika insiden traumatis begitu terlihat. Transisi kepribadian yang tampak pada karakter benar-benar mulus dan jelas sehingga sangat menarik untuk dilakukan analisa  lintas disiplin ilmu lebih lanjut.

Tidak hanya Jinx, semua tokoh utama yang tampak pada ilustrasi iklan benar-benar mendapatkan perubahan kepribadian yang dinamis. Dan tentu, di balik indahnya kemasan Arcane tentu ada pelajaran-pelajaran hidup yang bisa kita ambil. Namun mungkin untuk saat ini kita akhiri dulu. Sampai ketemu pada analisis-analisis selanjutnya!

Referensi

  • Wright, A. C., Coman, D., Deng, W., Farabaugh, A., Terechina, O., Cather, C., Fava, M., & Holt, D. J. (2020). The Impact of Childhood Trauma, Hallucinations, and Emotional Reactivity on Delusional Ideation. Schizophrenia Bulletin Open, 1(1), sgaa021. https://doi.org/10.1093/schizbullopen/sgaa021
  • Zaun—Regions—Universe of League of Legends. (t.t.). Akses pada 4 Desember 2021, dari https://universe.leagueoflegends.com/en_US/region/zaun/
  • Papalia, D. E., & Martorell, G. (2021). Experience human development (Fourteenth edition). McGraw-Hill Education.
  • Miller, P. H. (2016). Theories of developmental psychology (Sixth edition). Worth Publishers, Macmillian Learning.
  • Pinterest

Penutup

Oke untuk artikel analisis film Arcane dalam psikologi, khususnya tokoh Powder atau Jinx, ga pake awalan an, sampai di sini saja. Semoga dengan menonton film Arcane dan baca artikel ini pengetahuanmu terkait psikologi setidaknya bertambah. Juga semoga jadi bahan buat tugas analisis tokoh wkwk.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa kamu kirimkan ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.

Kata kunci: Analisis Film Arcane dalam Psikologi. Analisis Tokoh Powder dalam Psikologi. Analisis Tokoh Jinx Arcane dalam Psikologi