Ada apa dengan orang Indonesia? Orang Yang Ditagih Hutang Kok Lebih Galak – Analisis Psikologi Fenomena Orang yang Berhutang

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai analisis psikologi fenomena orang yang berhutang. Uniknya orang Indonesia itu bisa kamu lihat dari kehidupan sehari-harinya. Salah satu contohnya yaitu orang Indonesia memiliki jurus menghilang. Mereka ketika butuh uang bisa menemui siapapun, tapi pas kita minta balk uang tersebut mereka hilang bak tidak pernah hidup di dunia ini. 

Baca juga: Sebuah Tulisan yang Didedikasikan untuk Mas Denny Siregar – Fenomena Bias Berpikir dalam Psikologi 

Selain jurus menghilang tadi, mereka punya jurus dua kepribadian yang berbeda. Misalnya saat merasa butuh terhadap orang lain, terutama butuh uang, mereka berbudi baik sekali. Namun dalam kondisi mereka ketika kita minta balikin uang yang tadi mereka pinjem, seaakan orang itu terlahir kembali jadi orang berwajah masam dan berbudi pahit sekali. Kenapa sih bisa begitu? Baca skuy analisis psikologi fenomena orang yang berhutang. 

Langsung saja baca dan bagiin artikel dengan judul lengkapnya ada apa dengan orang Indonesia? Orang yang ditagih hutang kok lebih galak – analaisis psikologi fenomena orang yang berhutang. 

Ada apa dengan orang Indonesia? Orang Yang Ditagih Hutang Kok Lebih Galak – Analisis Psikologi Fenomena Orang yang Berhutang 

Analisis Psikologi Fenomena Orang Berhutang

Pernah dengar orang menagih hutang, malah mereka blokir nomor WA nya? Atau malah bentak-bentak hingga daun putri malu pun mengatup tanpa kamu sentuh juga. Kasus lainnya lanjut ada yang kena UU ITE pencemaran nama baik, kaya kasusnya Febi yang sialnya ‘Bu Kombes’ Fitriani Manurung laporan ke polisi. 

Ada apa dengan orang Indonesia? saat kita nagih malah ngegas. Saya kan jadi mikir-mikir kalau mau minjemin; “ada nggak ya buat minjeminnya” atau jangan-jangan orang yang mau minjem juga mikir- mikir “emang dia punya duit buat minjeminnya yaa?”. Amanlah ya, mikir-mikirnya bukan soal gimana cara nagih, tapi soal layak atau tidak jadi orang yang orang lain pinjemin.

Mengenali Perilaku Berhutang 

Analisis Psikologi Fenomena Orang yang Berhutang. Orang Berhutang dalam Psikologi. Ditagih hutang marah dalam psikologi. Psikologi orang yang meminjam uang.
Bumi Psikologi – Marah saat ditagih utang, hilih. Sumber: unsplash.com

Berhutang sering kali kita kaitkan  dengan keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhannya atau istilah lainnya Homo Economicus. Kebutuhan yang beragam dan terus meningkat namun memiliki keterbatasan dengan kemampuan pemenuhan yang terbatas. Dalam kebijakan ekonomi modern, hutang sengaja terjadi untuk menjaga keberlangsungan proses produksi dan konsumsi. Menurut AL- Bara perilaku berhutang tersusun dari dua kata perilaku dan berhutang.

Perilaku berhutang memperlihatkan reaksi yang terwujud dalam gerakan untuk meminjam atau berhutang. Perilaku berhutang atau dikenal dengan perilaku dissaving adalah saat pengeluaran untuk konsumsi lebih besar daripada pendapatan (Wibowo, 2016). Dissaving juga disebut sebagai hutang yang mana hutang sering disangkut pautkan dengan kegiatan kredit, meminjam, mengangsur, dan membeli non-tunai.

Dalam sebuah penelitian, intensi berhutang berpengaruh secara langsung terhadap perilaku berhutang. Namun dari tiga aspek ‘perilaku terencana’ dari Ajzen untuk mendorong munculnya intensi; yaitu sikap, norma subjektif dan perceived behavior control, hanya norma subjektif yang menjadi faktor pendorong munculnya intensi. Adanya budaya kolektif di Indonesia yang cukup tinggi mendorong munculnya intensi atau keinginan untuk melakukan perilaku berhutang.

Baca juga: Penjelasan kenapa kamar mandi menjadi tempat datangnya inspirasi – Imajinasi dari kamar mandi 

Norma subjektif terkait dengan penerimaan lingkungan sosial, budaya juga keluarga. Individu akan cenderung untuk berupaya memenuhi harapan orang lain di sekelilingnya dan berkonformitas dengan harapan orang lain tersebut. Sehingga, apakah seseorang akan berhutang atau tidak berhutang lebih terpengaruh oleh lingkungan normatif orang tersebut.

Beberapa literature lain menunjukan perilaku berhutang berhubungan dengan gaya hidup yang hedon, konformitas teman sebaya, perilaku konsumtif dan compulsive buying (keinginan belanja yang tidak bisa kamu control). Di Malang perilaku berhutang mahasiswa 20% pengaruhnya oleh faktor gaya hidup hedonis. Sedangkan 80% terjadi karena faktor lain seperti kiriman orang tua telat, jenis kelamin, faktor pribadi (usia terhadap siklus hidup, pekerjaan, lingkungan, ekonomi, kepribadian, dan konsep diri) faktor budaya, faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaan, dan sikap).

Strebkov (2005) mengatakan perilaku berhutang interpersonal di Rusia umum terjadi. Setidaknya 41,5 % mereka harus berhutang pada kerabat, teman atau kenalannya. Pada saat yang sama hanya 17 % dari mereka memiliki pengalaman mendapatkan pinjaman dari perusahaan, bank, atau lembaga keuangan lainnya.  Dari jumlah tersebut, 4 persen mengambil pinjaman dari Sberbank, 1 % dari komersial bank, 6 % dari pegadaian, 6 % di tempat kerja, dan 5 % melakukan pembelian secara kredit. Dalam penelitiannya, Strebkov menunjukan bahwa usia, pendidikan, pendapatan serta jenis pekerjaan mempunyai hubungan dengan kecenderungan seseoraang untuk berhutang.

Mengapa Malah Marah

Berbagai tweet-an warga twitter sering nge-tweet yang lucu-lucu soal ini. Misalnya “Kenapa ya yg ngutang lebih galak daripada yang diutangin”. Ada lagi tweet-an “konsep hutang: Yang ngutang ~ Pas Minjem melas banget, pas ditagih lebih galak. Yang minjemin ~ nagih sampek musuhan/ikhlaskan demi pertemanan“. Soal nagih menagih ini juga sempat viral saat seorang kurir shopee memasang foto profil WA dengan gambar yang bertuliskan ‘Angkat teleponnya, kami kurir shopee express bukan debcolector’. Ini dilakukan gara-gara telepon kurir disangka sebagai telepon dari penagih atau debcolector. Pertanyaanya mengapa harus senga banget itu mulut? Sampe-sampe yang nagih bisa batal tuh kalau lagi puasa.

Secara psikologis mereka yang berhutang cenderung lebih galak saat kamu tagih karena merasa terancam. Sikap galak muncul sebagai bentuk defense mechanism manakala menghadapi situasi yang menimbulkan kecemasan. Pertahanan diri yang ada dengan sikap galaknya merupakan representasi dari penolakan terhadap realita yang sedang terjadi yaitu ketidaksiapan untuk membayar. Dengan demikian, mereka mengasumsikan penolakan dalam bentuk sikap galak bisa menghilangkan kecemasan atau setidaknya agar tidak ada yang mengganggu. Lebih-lebih bagi yang punya niat baik agar punya rentang waktu lebih untuk membayar.

Reference 

  • Wibowo, K. P. (2016). Hubungan compulsive buying dengan perilaku berhutang. Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang. 
  • Renanita, Theda & Rahmat Hidayat (2013). Faktor-faktor Psikologis Perilaku Berhutang pada Karyawan Berpenghasilan Tetap. Jurnal Psikologi VOLUME 40, NO. 1: 92 – 101 
  • Strebkov, D. (2005). Household borrowing behavior in Russia. Problems of Economic Transition, Vol.48, no.5 pp.22–48. [Tandfonline

Penutup 

Oke untuk artikel analisis psikologi fenomena orang yang berhutang cukup sampai di sini saja. Jangan lupa komentar di bawah dan bagiin ke teman kamu yang lain supaya kami dapet adsenseTerima kasih. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com 

Kata kunci: Analisis Psikologi Fenomena Orang yang Berhutang. Orang Berhutang dalam Psikologi. Ditagih hutang marah dalam psikologi. Psikologi orang yang meminjam uang.

Kunjungi: http://mnurrifqifuadi1001.blogspot.com/