Apakah Kotak Tertawa Benar-Benar Ada? – Analisis Tertawa dalam Psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai analisis tertawa dalam psikologi. Ada ga sih kotak tertawa yang Tuan Tentakel bilang itu. Katanya kalau kamu sering tertawa maka kotak tertawamu akan habis. Emang bener begitu? Berarti kalau ada kang lawak itu bakalan kena undang-undang soalnya bakal ngabisin kotak tertawa orang kan ya hehe. 

Bahkan Gus Dur pernah memberi petuah, menertawakan diri sendiri merupakan obat mujarab bagi masalah diri. Misalnya seperti menjadi orang yang santuy bisa dengan menertawakan diri sendiri. Tidak terlalu baper juga karena ya kita menertawakan diri hehe. Lalu kalau begitu, ada ga sih kotak tertawa itu? Simak analisis tertawa dalam psikologi. 

Yuk langsung saja baca dan bagiin artikel dengan judul lengkapnya apakah kotak tertawa benar-benar ada? – analisis tertawa dalam psikologi

Apakah Kotak Tertawa Benar-Benar Ada? – Analisis Tertawa dalam Psikologi 

Tertawa dalam Psikologi 

Kata orang, kalau kamu mau bikin dia jatuh cinta sama kamu, maka buatlah dia tertawa. Tapi setiap kali dia tertawa, malah aku yang selalu jatuh cinta. 

Saae lu gembel 

Bagi sebagian orang, tertawa adalah cara mereka bernafas. Bahkan yang lebih hebat lagi, tertawa bisa menjadi lahan pekerjaan orang. Penonton bayaran misalnya, enak banget ga sih cuman ketawa doang dapet duit. Tapi bagi segelintir orang yang lain, tertawa tuh kayak barang mewah yang langka. Kayak hidupnya tuh serius banget gitu sampai buat ketawa aja irit banget. Terkadang, kita yang mencintai tertawa ini suka bertanya orang tipe kayak gini tuh hidupnya punya masalah apasih sebenernya??!!! 

analisis tertawa dalam psikologi. Fenomena tertawa dalam psikologi. Penjelasan tertawa dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Tertawalah sebelum kamu ditertawakan. Sumber: Unsplash.com

Yang mulia Squidward Tentacle pernah bercerita, ada satu bagian di dalam tubuh kita yang berfungsi menciptakan tawa. Bagian itu berbentuk seperti kotak yang dinamakan kotak tertawa. Konon katanya, kalau kita menggunakannya terlalu sering bisa membuatnya rusak dan kita tidak akan bisa tertawa lagi. Mungkin bisa jadi itu alasannya kenapa sebagian orang itu jarang tertawa, kapasitas kotak tertawanya tidak sebanyak yang lainnya. Tapi sebenernya kotak tertawa itu beneran ada engga sih? 

Tertawa : monoisme vs dualisme 

Tertawa, sekalipun identik dengan bercanda, merupakan objek kajian serius bagi para ilmuan untuk dipecahkan. Saking seriusnya, kajian tertawa ini setidaknya terbagi menjadi dua madzhab besar. Ada aliran monoisme, ada aliran dualisme. 

Bagi aliran monoisme, tertawa dipercaya diatur oleh pusat emosi yang ada di dalam struktur otak yang bernama sistem limbik. Sistem ini dibentuk oleh beberapa komponen otak seperti hippocampus, amygdala, dan gyrus limbic. Sistem limbik yang bentuknya menyerupai lingkaran ini berperan dalam mengatur emosi manusia. Kalau inti lingkaran ini rusak, maka akan menimbulkan kekacauan. Bisa jadi orang ini tertawa keras sekalipun itu tidak lucu, atau bisa jadi orang ini mudah marah. Itu karena lingkaran pusat emosi manusia ini terputus. 

Baca juga: Bagaimana sih Toleransi Beragama dalam Sudut Pandang Psikologi? Simak Penjelasan Teoritisnya! 

Lain lagi dengan dualisme, aliran ini percaya bahwa tertawa merupakan pelepasan energi jiwa yang berasal dari alam bawah sadar. Tertawa bukan hanya sekedar melibatkan proses di otak, akan tetapi tertawa juga melibatkan jiwa seseorang. Alasan mengapa tertawa yang dipaksa atau dibuat-buat akan sangat mudah dibedakan dengan tertawa yang tulus, ini disebabkan jiwa orang tersebut tidak ikut tertawa. 

Fisik yang tertawa 

Saat seseorang tertawa, akan terjadi perubahan pada dua bagian. Pertama, melibatkan satu set gerakan (movement), dan yang kedua melibatkan satu produk suara (sound). Perubahan gerak seperti otot-otot wajah berkontraksi, mulut yang membuka dan menutup, dan ekstrimnya, saluran air mata diaktifkan. Produk suara tertawa yang bunyinya seperti “ha-ha-ha”. 

Tertawa merupakan wujud pengekspresian emosi yang meluap. Seorang bayi akan tertawa ketika melihat suatu hal yang menggembirakan, sedangkan orang yang jatuh terpeleset dia tertawa untuk menutupi perasaan malunya. Ada juga orang yang terlalu banyak tertimpa musibah meresponnya dengan tertawa. Artinya, tertawa bukan hanya luapan kegembiraan, akan tetapi bisa juga sebagai bentuk perlawanan atas kesedihan. 

Dalam kasus tertawa saat mengalami emosi sedih, ini adalah fungsi dari salah satu bagian di otak manusia. Ada satu bagian yang memegang prinsip homeostatis, yang artinya tubuh ini harus selalu seimbang. Jadi kalau dia sedih berlebihan, maka otak ini akan berkata “udeh lu ketawa aja, sedih melulu bikin tubuh lu ga seimbang”. Akhirnya, stimulus sedih tersebut di respon dengan tertawa. 

Jiwa yang tertawa 

Tertawa dipercaya merupakan warisan nenek moyang kita yang kalau kata Jung adalah ketidaksadaran kolektif. Gagasan ini mungkin yang menjawab pertanyaan kenapa bayi lebih dulu tertawa dibandingkan berbicara. Apalagi, tidak ada satupun yang mengajari bayi tertawa. Sama seperti takut dengan gelap, kita tidak pernah diajarkan untuk takut gelap. Bisa dikatakan bahwa tertawa merupakan jiwa leluhur kita yang tanpa kita sadari merasuk ke dalam alam bawah sadar kita. 

Sejak dulu, tertawa adalah aktivitas untuk merekatkan ikatan sosial. Sangat jarang sekali kita tertawa saat sendirian. Kita lebih sering tertawa, ketika ada seseorang bersama kita. Tertawa karena digelitik, karena lelucon, atau karena terpeleset kulit pisang, semuanya sama. Saat kejadian tersebut ada orang yang menggelitik kita, melempar lelucon, atau melihat terpelesetnya kita. Bisa dikatakan bahwa tertawa merupakan suatu bentuk komunikasi universal yang bisa memperkuat tali silaturahim. 

Lucunya lagi, tertawa ini pada hakikatnya bebas budaya. Mau orang tersebut menggunakan bahasa inggris, mandarin, thailand, saat tertawa kita semua mengeluarkan gerak dan suara yang sama. Itulah kenapa saat kita tertawa, terlepas dari apapun suku, agama, ras, golongannya, lawan bicara kita akan paham kalau kita sedang tertawa. Sebab, ada satu sistem yang menangkap sinyal dan memberitahu kita bahwa dia sedang tertawa. 

Kenapa orang bisa tertawa? 

Kita mungkin percaya bahwa tertawa adalah respon atas suatu lelucon. Padahal hanya sedikit tertawa yang disebabkan oleh lelucon. Ada determinan lain yang menjadi alasan kenapa seseorang bisa tertawa. Salah satunya adalah teori keganjilan (incongruity). Kita biasa tertawa melihat sesuatu hal yang tidak biasa alias ganjil.  

Selain itu, ada teori superioritas. Pandangan ini berpendapat bahwa kita akan tertawa atas keinferioran orang lain. Kalau ada nenek tua terpeleset di jalan, maka kita akan menolongnya. Tapi ketika ada temen kamu yang ganteng, wangi, membahana jalan sok cool tiba-tiba terpeleset maka kita justru akan mentertawakannya. Sebab, bawah sadar kita seperti menilai bahwa dia lebih inferior dari kita dan kita senang akan hal itu. 

Kita juga suka tertawa untuk mengejek seseorang. Melihat temen kita yang belum mandi kita ketawa, tertawa jadi bentuk ejekan atas keinferioran seseorang. Masih tentang superioritas, seseorang tertawa juga bisa disebabkan oleh kebahagiaan atas keberhasilannya mencapai sesuatu. Ketika berhasil mencapai satu titik tujuan yang diimpikan, tertawa adalah salah satu bentuk penghayatan rasa syukur mendalam yang bisa dilakukan.  

Baca juga: Itachi: Puisi Paling Sedih dalam Dunia Shinobi – Belajar Mengenal Diri Sendiri dari Uchiha Itachi 

Tertawa juga merupakan kebutuhan biologis setiap orang untuk menghadapi tuntutan zaman. Coba kita lihat bagaimana persoalan politik, percintaan, pengangguran, dan kemiskinan menciptakan manusia yang rentan dengan gangguan kecemasan, stress, depresi, insecure dan gangguan lainnya. Ketika work from office takut terpapar virus corona, pas work from home mata pusing banget ngeliat layar laptop melulu. Libur, nongkrong bareng temen insecure liat temen udah sukses. Buka sosmed, isinya berantem urusan sosial politik melulu. Ini kan bisa menciptakan suasana yang tidak nyaman dan sangat menegangkan. 

Saat semua tekanan dunia tersebut menyerang tak kenal kasihan, terkadang tertawa adalah solusi yang paling tepat. Untuk menghadapi ketidakpastian dunia yang menjengkelkan, beberapa orang merespon dengan mentertawakannya. Sekalipun kita sendiri tidak tahu dengan segala macam persoalan hidup ini kita malah tertawa. Beberapa kali tertawanya seseorang menggunakannya untuk menutupi kelemahannya. Tertawa adalah tameng untuk menutupi kesedihan mendalam yang seseorang alami.

Kotak tertawa 

Sejatinya, kotak tertawa tidak pernah benar-benar ada. Bagi kaum monoisme ada yang namanya lingkaran tertawa alias sistem limbik, yang apabila itu rusak maka bisa menciptakan tertawa di tempat yang tidak seharusnya. Bagi kaum dualisme ada yang namanya pengetahuan tertawa dari warisan leluhur kita, yang bahkan tanpa ada yang mengjarkan pun kita bisa melakukannya. Satu hal yang pasti, kemampuan tertawa seseorang tidak akan pernah bisa habis. 

Sedikit mengkritik tuan muda Squidward Tentacle yang berkata bahwa jangan terlalu sering tertawa, mungkin seharusnya kita justru harus lebih sering tertawa. Selain merupakan warisan nenek moyang, bahasa universal, dan memperkokoh ikatan sosial, tertawa juga memiliki banyak manfaat lain untuk tubuh kita. Hidup memang harus serius, tapi bukan berarti haram untuk tertawa. Mengutip Warkop DKI, “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Meskipun konon katanya, ada dua jenis tertawa, pertama adalah tertawa bersamanya dan yang kedua adalah mentertawakannya~ 

Penutup 

Oke untuk artikel mengenai analisis tertawa dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Jangan lupa bagiin artikel ini ke teman kamu yang lainnya biar pada tau juga semua orang. Terima kasih. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com  

Kata kunci: analisis tertawa dalam psikologi. Fenomena tertawa dalam psikologi. Penjelasan tertawa dalam psikologi. 

Menulis untuk merawat kewarasan berpikir. Follow Instagram: Shandifofficial