Lu bilang gue egois? Lah lu sendiri gimana?: Mengenal Retorika Soviet bernama ‘Whataboutisme’

Diana Zanuba Zahra SN

17 Jan, 2023

Bumipsikologi.com – “Hari ini King emyu kenapa kalah terus?”, “Lah memang klub kebanggan lu peringkat berapa? Dasar milan”. Kok ada orang kalo ditanya malah nyari-nyari kebobrokan orang lain dan malah lupa bercermin diri? Ya ada lah masa engga. Yuk pahami apa itu whataboutisme.

Ketika Tuduhan Dibalas Dengan Tuduhan – “…and what about you?”

Dalam sebuah debat kandidat calon presiden di sebuah wilayah, terdapat dua pasang calon presiden. Kemudian dalam sesi tanya jawab dengan hadirin, terjadilah percakapan.

Hadirin : “Saya akan bertanya pada pasangan calon nomor urut 1, kebetulan saya di sini pendukung calon nomor urut 2, tapi kenapa KTP saya ada dalam berkas dokumen orang yang mendukung Anda untuk diserahkan ke KPU? Bukan hanya saya, tapi banyak rekan – rekan saya yang tercatat KPU sebagai pendukung Anda padahal kita mendukung lawan Anda. Kalau dari awal pemilihan saja udah begini, gimana nanti kalau sudah terpilih?”

Semua orang bergemuruh bersorak kepada si calon, kemudian si calon berdiri seraya melemparkan senyum, kemudian dengan santai dia menjawab “Pernah juga kemarin… temen-temen lapor sama saya, katanya mereka tercatat secara resmi oleh KPU sebagai pendukung calon nomor urut 2, padahal sudah jelas-jelas mereka adalah tim pendukung kita tapi ada dalam berkas dokumen orang yang mendukung pasangan sebelah”

Kemarin-kemarin, saya baru saja menonton video yang dimuat oleh narasi news room pada akun instagramnya yang bertajuk “Ridwan Kamil Tersandung Whataboutism? Masjid Al-Jabbar Dikritik, What About Pura Besakih?”

Ya, barangkali kita semua sudah tahu, baru-baru ini di Bandung ada Masjid Al Jabbar berdiri tegak di sana. Tak sedikit tentunya warganet yang melontarkan kritikan. Nah, pada muatan video di laman Instagram Narasi News Room itu berisikan postingan pak Gubernur Jawa Barat yang sedang ramai oleh kritikan dan argumen dari netizen.

Pada postingannya itu, Pak Gubernur RK membandingkan antara Majid Al Jabbar dengan Pura Agung Besakih katanya telah menelan dana Rp 1 Triliun. Keingintahuan saya pada satu titik agaknya cukup membuat saya mencari tahu lebih lanjut apa sih sebenarnya ‘whataboutism’ itu.

Whatabout-isme Itu Apa, Sih?

Singkatnya, whatabouism atau whataboutery ialah suatu logical fallacy (kesesatan berpikir) sebagai taktik argumentatif. Seseorang atau satu pihak akan menanggapi kritikan atau tuduhan pertanyaan dengan membelokkan, mengalihkan pada isu lain yang Ia anggap setara—yang padahal tidak relevan sama sekali dengan bahasan topik saat itu.

Teknik retorika ini memang hanya bertujuan untuk membelokkan tudingan yang tertuju pada seseorang oleh satu pihak lain. Tentu, ini mengandung bias dan juga akan menyebabkan diskusi berjalan kurang kondusif dan hanya berakhir sebagai debat kusir.

Baca juga: Pentingnya Sabar dalam Mengatasi Kesehatan Mental

Taktik argumentatif yang disebut whatabouism atau whataboutery ini biasanya identik dengan frase “bagaimana dengan…?” Ya, alih-alih membahas topik yang sedang dibahas, eh, si dia malah membalasnya dengan topik atau isu lain.

Padahal, hal itu maksudnya untuk mengalihkan fokus masalah dari suatu pembahasan dengan membuat tuduhan balasan. Intinya, ketika satu pihak terdakwa dengan tuduhan yang kurang mengenakkan, maka ia akan membuat tuduhan balasan berdasarkan sesuatu yang negatif juga.

Contoh 1 (pertengkaran kecil yang mungkin pernah kalian alami)

Ketika sepasang kekasih bertengkar karena sesuatu, dalam pertengkaran tersebut salah satu pihak melontarkan pernyataan seperti, “Lu bohong tentang di mana lu kemaren. Bilangnya, lu cabut nonton bareng adek lu!” pihak kekasih yang dirugikan mengatakan itu. Eh, alih-alih mengaku, si doinya malah dengan santuinya menjawab, “Nah, terus, gimana dengan lo sendiri? Lu juga sering bohongin gue! Ngaca lo!”

Contoh 2 (perdebatan kecil orang yang anti-rokok vs pembela rokok)

Dua pihak yang mungkin pernah terlibat dalam obrolan ringan tentang rokok, kemudian malah mengarah pada perdebatan kecil antar pihak pembela rokok vs anti-rokok, yang mungkin dialognya terdengar seperti ini, “Eh, harusnya tuh, ya, rokok dilarang oleh pemerintah. Soalnya kan rokok itu hukumnya makruh, plus kita semua juga kan tahu kalo rokok itu ga baik buat kesehatan.” (pihak anti-rokok).

Eh, si pihak pembela rokok malah jawab, “Ye, kalo gitu gimana dengan gula? Kenapa gula ga dilarang? Padahal kan gula juga ga baik buat kesehatan, bisa menyebabkan diabetes.” Nah, padahal jika dilihat-lihat, tuduhan balasan itu tidak relevan dengan topik yang sedang dibahas. Yang sedang dibahas rokok, eh, malah membelokkan ke topik gula. Rokok ya rokok, sek toh, bahas gula ne nanti aja.

Contoh 3

Contoh terakhir ini sedang hangat-hangat terjadi di dunia, ya, jadi isu internasional yang ramai. Mungkin, sebagian orang memaklumi invasi Rusia ke Ukraina, walaupun telah menjatuhkan banyak korban. Ketika seseorang berkata, “ Ih, kasihan, yaa, Ukraina. Banyak banget korban yang berjatuhan, ibu-ibu, anak-anak,…”

Kemudian, seseorang yang menggunakan whataboutisme akan membalasnya dengan jawaban, “Lha, bagaimana dengan Amerika? Berapa banyak korban yang berjatuhan akibat kekejian AS di Irak, Afganistan, Suriah. Ini mah baru juga beberapa waktu, belum ada apa-apanya kalo kita lihat AS.”

Bentuk logical fallacy yang satu ini—whataboutisme—memang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari perdebatan receh dengan teman sendiri atau mungkin pasangan kita, hingga tak jarang kita jumpai dalam dunia politik pun pertengkaran antar bangsa.

Lucunya, pada akhirnya yang diperoleh dari taktik whataboutisme ini ialah menunjukkan bahwa kedua belah pihak sama buruknya. Haha. Meskipun terlihat munafik, tapi bukan berarti bahwa tuduhan balasan yang dilontarkan itu salah. Tidak. Sama sekali tidak.

Asal Usul Istilah ‘Whataboutism’

Konon, istilah ‘whataboutism’ ini muncul pertama kali saat terjadinya perang dingin antara Blok Timur dan Blok Barat. Teknik ini sering digunakan oleh Uni Soviet pada negara blok Barat, khususnya Amerika Serikat.

Istilah ini pun meluas saat membahas mengenai HAM di Rusia pasca-Soviet, dan tak sedikit pula pemimpin atau tokoh di Rusia mengadopsi teknik retorika Soviet ini. Oleh karenanya, whataboutisme juga dikenal sebagai gaya argumentasi Rusia.

Bahkan sebetulnya jauh sebelum itu, sejak era filsuf Plato. Dalam karyanya, yakni Gorgias dialogue, menunjukkan bahwasanya  ketika Socrates dan Callicles berdebat, whataboutisme pun ditemukan.

Socrates: You’re breaking your original promise, Callicles. If what you say contradicts what you really think, your value as my partner in searching for the truth will be at an end.  (Kamu melanggar janji awalmu, Callicles. Jika apa yang kamu katakan bertentangan dengan apa yang sebenarnya kamu pikirkan, nilaimu sebagai rekanku dalam pencarian kebenaran akan berakhir)

Callicles: You don’t always say what you think either, Socrates. (kamu juga ga selalu mengatakan apa yang kamu pikirkan, Socrates)

Socrates: Well, if that’s true, it only makes me just as bad as you … (Nah, jika itu benar, itu hanya membuatku sama buruknya denganmu)

Mengapa ‘Whataboutism’ Bisa Popular dan Cenderung Nyaman Digunakan?

Mungkin alasan mendasar yang menjadikan whataboutisme ini begitu popular dan banyak orang sukai ialah merasa nyaman ketika tahu bahwa ada orang lain yang sama buruknya dengan kita. Hal ini selaras dengan seorang filosof bernama Merold Westphal, ia mengemukakan bahwasanya seseorang akan mendapatkan kenyamanan ketika menemukan pihak lain yang sama buruknya dengan diri nya—atau bahkan lebih buruk.

Mungkin, apa yang Mochtar Lubis sampaikan dalam pidatonya kelak nanti menjadi sebuah buku, yakni “Manusia Indonesia—Sebuah Petanggungan Jawab”, bisa menjadi refleksi pada whataboutisme yang agaknya masyarakat Indonesia gandrungi. Barangkali dari enam sifat berdasar pada pendapat Mochtar Lubis pada pidatonya, dua di antaranya (hipokrit dan berkarakter lemah) mungkin yang mendasari mengapa orang kita ini sering menggunakan whataboutisme, bahkan doyan.

Ya, bagaimana tidak, tidak sedikit orang kita yang bersifat hipokrit. Misalnya saja para politisi yang pada masa kampanyenya gemar sekali memamerkan kesalihan pribadi mereka, seperti menggaungkan visi misi yang begitu ciamik. Mungkin kita juga tak jarang mendengar kalimat, “Katakan tidak pada korupsi!”  tertutur kata dengan lantang oleh para pemangku jabatan. Tapi bagaimana realitasnya? Dusta. Pada akhirnya, kita pun menyaksikan mereka yang korup, dan tentu tidak hanya satu-dua politisi saja. Duh, ngelus dodo.

Kemudian, berkarakter lemah. Ya, tidak sedikit masyarakat kita yang gampang sekali termakan arus dan terprovokasi, tanpa mencari dahulu persoalan hingga ke akarnya. Inilah yang menyebabkan cenderung tidak berpikir jernih. Kalau tidak percaya, buka aja akun TikTok, Twitter, ataupun akun media sosialmu lainnya yang ada di gadget, kamu akan mudah menemukan bukti yang bertebaran.

So, WHAT ABOUT YOU?

Referensi

Penutup

Jadi bagaimana masih ngeles nyalahin yang nyalahin pas doi tanya? Ga asyik lu yee.