Emangnya Berpikir Negatif Bisa Buat Kita Bersyukur? – Premeditatio Malorum

Iis

15 Jan, 2023

Premeditatio Malorum: Seni berpikir negatif dapat meningkatkan rasa syukur? Masa sih? – Bersyukur dengan berpikir negatif

Bumipsikologi.com – Mau bersyukur tapi bingung caranya bagaimana, bisa kok dengan cara kamu berpikir negatif. Namanya premeditatio malorum. Serius deh coba saja! Yuk simak bersyukur dengan berpikir negatif.

Pernahkah suatu pagi kalian bangun dengan perasaan sangat bersemangat karena hari ini akan ada presentasi dari mata kuliah yang sangat kalian kuasai? Sangat kalian sukai. Semangat itu muncul karena selain mata kuliah tersebut merupakan salah satu yang menjadi favorit, materi yang dipersiapkan juga sudah sangat matang.

Kalian bahkan sudah mempersiapkan baju kesayangan untuk meningkatkan mood, buku yang dipenuhi tempelan post-it, pulpen lucu untuk mencatat berbagai pertanyaan yang akan muncul, pokoknya kalian siap tempur! Bahkan kalian memberikan senyum terbaik pada pantulan sosok yang sangat cantik di cermin, diri kalian!

Dengan bangga kalian mengatakan, “Hari ini aku siap dan pasti bakalan keren banget hasilnya!”. Pemikiran tersebut salah? Nggak dong! Apakah boleh? Sangat boleh! Mengapa pikiran tersebut muncul? Tentu saja karena keyakinan bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat super. Sekali lagi, super! Kalianpun keluar rumah dengan perasaan yang begitu positif. 

Ups! tidak sampai dua jam kemudian, perasaan positif tersebut hilang! Terhempas entah ke mana dan berubah menjadi rentetan rutukan. Bahagia yang membuncah sejak pagi hilang berganti cacian terhadap keadaan, pada situasi yang ternyata tidak sesuai dengan perkiraan. Kok bisa? Ada apa? 

Ternyata hal di luar dugaan terjadi sejak awal kalian melangkah keluar rumah. Driver ojek online mengabarkan kalau motornya pecah ban, trans Jakarta yang kalian tunggu tidak kunjung datang. Kereta yang kalian tumpangi ternyata berhenti hampir 30 menit lamanya. Rute yang biasa kalian lalui dengan menggunakan mobil yang seharusnya hanya memerlukan jarak tempuh selama 20 menit. Hari ini butuh satu jam untuk sampai karena ada mobil mogok sehingga menyebabkan kemacetan panjang.

Baca juga: Mengapa Kita Membicarakan Perselingkuhan?

Di ruang presentasi, mood dosen berubah drastis karena AC kelas tiba-tiba rusak, seketika ruangan menjadi panas dan tidak mudah menemukan kelas pengganti. Karena lelah, kalian memutuskan untuk naik taksi sampai rumah, berharap bisa tidur dengan tenang dan beristirahat sepanjang perjalanan, eh ternyata bertemu driver yang kurang ramah. 

Sesampainya di rumah, kalian hanya bisa memandangi sosok menyedihkan di kaca sambil terus menyalahkan diri sendiri dengan terus menerus berpikir “Coba kalau,” Atau, “Seharusnya…”, “Mustinya tadi tuh….” dan seterusnya. Salahkah berpikir positif untuk memulai hari? Tentu tidak salah, tetapi, pernahkah kalian mendengar kata premeditation malorum? Apa ya kira-kira? 

Premeditation malorum oleh Marcus Aurelius dalam filsafat teras disebut sebagai “Premeditate evil” atau persiapan terhadap berbagai hal buruk yang bisa saja terjadi. Contoh dengan kejadian yang telah disebutkan sebelumnya, mari kita coba mengubah pemikiran di atas dengan teknik premedatition malorum. Ketika bangun pagi dan sudah bersiap, cobalah untuk membisikkan kalimat ini pada sosok menarik di dalam cermin “Hari ini saya akan melakukan presentasi.

Di perjalanan nanti mungkin saya akan menemukan kemacetan, dosen yang mood nya jelek, teman-teman yang kurang menyenangkan, driver taksi atau driver ojol yang harinya sedang buruk, hujan deras, cuaca yang terlalu panas, tetapi apa pun itu, saya siap!” dan melangkahlah. Ketika semua hal kurang menyenangkan yang kita pikirkan di depan cermin tersebut terjadi, kita sudah mengupayakan pencegahan untuk kecewa atau istilah lainnya antisipasi mental.

Antisipasi mental membuat kita sedikit demi sedikit mampu mengasah rasa syukur dan meminimalisir perasaan stres.  Kemudian, apabila hal negatif yang kita pikirkan tidak terjadi, kita akan sampai di rumah dengan rasa syukur kepada Tuhan karena dapat menjalani hari ini dengan cukup baik. Dengan premedatatio malorum, kita mengamini bahwa berbagai hal negatif yang terjadi adalah sesuatu di luar kendali kita, sementara sikap dan pikiran kita sepenuhnya ada di bawah kendali kita. Semudah itu? Tentu tidak. Ini perlu adanya pembiasaan dan juga pemikiran untuk percaya bahwa tidak selamanya memikirkan hal negatif adalah sesuatu yang salah. 

So, ada keinginan untuk mencoba premeditation malorum? 

Sumber:

Manampiring, H. (2019). Filosofi Teras: filsafat Yunani-Romawi kuno untuk mental tangguh masa kini. Jakarta: KOMPAS. [Bukunya]

Penutup

Benerkan bisa. Kamu berpikir negatif atau overthinking juga bisa jadi bahan buat bersyukur. Jadi ga ada lagi alasan buat kita untuk tidak lagi bersyukur ya!

Penulis: Iis Anego

Keterangan: Artikel ini merupakan kiriman dari penulis bumi psikologi. Bagi kamu yang memiliki artikel untuk dibagikan kepada para pembaca melalui kanal kami, kamu bisa kirim ke lama ini ya, Masukan dan Submit Artikel atau ke email kami di bumipsikologi@gmail.com