Bisik-bisik

Shabrin Risti Aulia

26 Jan, 2023

Bumipskologi.com – Sebuah cerpen bisik-bisik, tapi bukan bisik-bisik tetangga yang suka begosip kek kamu xixixi

Bisik-bisik

            Fajar belum genap bersiap mengingat waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Di belakang panggung, mentari sedang bersolek, mempersiapkan warna jingga terbaik untuk menyambut pagi. Cuaca cerah sudah diramalkan sejak tadi malam. Tidak akan ada interupsi dari awan mendung yang menghalangi aksi pamer wibawa sang surya.  Sementara itu, bulan sabit yang tidak terlalu dihiraukan bersiap undur diri. Kehadirannya yang tak penuh membuat orang-orang enggan melemparkan pandang kepadanya. Sama sepertiku, hadir dengan secangkir kopi di tangan tetapi merasa hanya sebagai penghias ruangan.

            Rumah kami kecil, kamar tamu ini hanya berisi tiga kursi rotan yang sudah terkoyak dimakan usia. Tidak ada meja. Sebagai ganti, rak kayu bekas digunakan untuk menaruh apa pun yang tampak butuh tatakan. Di antara kesesakan ini, menempel seperti seekor cicak di dinding, Bambang, suamiku. Ia tidak sedang berusaha menyaru menjadi manusia laba-laba. Akan tetapi, tampaknya, suara berisik dari rumah tetangga terlalu menarik untuk ia abaikan begitu saja.

            Tetangga yang sedang menjadi pusat perhatian Bambang bernama Pak Kus. Konon, tiga bulan lalu, keluarga mereka kena tulah karena anak wanita pertamanya, Widuri, tiba-tiba kesurupan dan berteriak setiap malam. Bapak-bapak yang meronda sampai dikerahkan untuk menenangkan anak itu dan membawanya ke dukun kampung seberang. Kata dukun, setan di dalam diri Widuri terlalu kuat hingga mereka harus mengurungnya di kandang sapi belakang rumah. Entah logika apa yang mendasarinya. Barangkali, setan pun enggan mencium bau jerami yang bercampur dengan kotoran. Sampai beberapa waktu lalu, datang seorang pria dengan jas putih mengaku sebagai dokter. Ia menyatakan widuri sakit jiwa. Gila. Begitu kata Bambang padaku.

            Sejak itu, Widuri dibawa pergi. Kudengar ke sebuah rumah sakit khusus orang-orang yang hilang akalnya. Namun, keluarga Pak Kus menolak percaya. Mereka meyakini dokter itu adalah jemaat setan yang berusaha menjerumuskan anak mereka. Karena itulah, sejak pulang kemarin lusa, Pak Kus tidak henti memaksa Widuri kembali ke kandang sapinya yang bau. Widuri tidak mau dan mengamuk. Awalnya, yang kudengar hanya suara barang-barang yang dilemparkan. Subuh ini, tampaknya peristiwa yang lebih dahsyat terjadi, suara pecahan kaca membaur dengan dentuman sebuah benda tumpul ke tembok. Aku bisa membayangkannya, sebuah kepala. Widuri tidak lagi marah, ia sudah sangat frustrasi.

            Hatiku gundah. Tidak saja karena seorang anak perempuan mungkin sedang membahayakan nyawanya di seberang sana, tapi karena lelaki cicakku tampak antusias dan merencanakan sesuatu.

            “ Sebaiknya aku ke sana membantu menenangkan dia,” aku berujar sambil meletakkan kopi hitam milik bambang di atas rak kayu.

            “ Jangan! Untuk apa? Bukan urusan kita,” Bambang menghentikan aksi mengupingnya dan menatapku dengan kening berkerut.

            “ Dia bisa mati.”

            “ Tidak mungkin. Santai saja lah. Ini justru bagus. Kita hanya perlu menunggu sampai selesai dan besok pagi ibu-ibu akan berkerumun memintaku mengisahkannya sambil membeli banyak bahan dari gerobak sayur itu,” Ia menunjuk keluar di mana terparkir sebuah gerobak yang sudah memuat berbagai bahan makanan harian. Itulah sumber pekerjaan suamiku yang halal, membantu para ibu menyiapkan hidangan di meja makan. Sayangnya, bukan hanya bumbu dapur yang diperjualbelikan tapi juga cerita-cerita penuh rahasia dari balik pintu tetangga. Strategi pemasaran ini tidak pernah gagal. Pertukaran uang, bahan makan, dan gunjingan adalah paket lengkap yang membuat suamiku menjadi tukang sayur kesayangan.

            Teriakan Widuri semakin menjadi. Terdengar seperti suara A panjang yang naik dan turun seiring dengan usaha untuk terus menyuarakan kemarahan. Pada beberapa titik, terdengar sangat kencang merobek gendang telinga beberapa detik kemudian berubah menyerupai desis ular sanca. Melemah tapi tidak hilang. Widuri tidak pernah berhenti.

            “ Kamu tahu? Bu Joko pasti senang mendengar kabar ini,” Bambang akhirnya menghentikan aksi mengupingnya dan menyesap kopi hitam yang sudah tidak terlalu panas lagi. “ Dia tidak suka dengan Widuri. Anaknya si siapa itu? Heru? Herman? Katanya digoda dengan kecentilannya.”

            Aku menghela napas. Ingin kurebut gelas belimbing di tangan Bambang untuk kulempar tepat mengenai dahinya yang lebar itu. Si Tukang Gosip ini benar-benar menyimak setiap kata yang diungkapkan wanita-wanita pelanggannya. Satu-satunya perempuan yang tidak ia dengarkan barangkali hanya aku, istrinya sendiri. Sudah pernah kuceritakan kepadanya, tentang Widuri yang suatu hari pulang sekolah dalam kondisi menangis dan baju kotor penuh debu. Ia tidak berani pulang ke rumah jadi kutawarkan mampir sebentar. Dalam tangisnya, Widuri menceritakan ia baru saja dipaksa melakukan hubungan badan oleh Hendra, anak Bu Joko. Kejadiannya begitu cepat, Widuri dihadang saat turun dari angkot dan ditarik ke rumah kosong di ujung gang. Aku geram. Sudah hampir kuajak ia ke kantor polisi tapi Widuri menolak dengan genangan air mata, memaksaku untuk tidak bilang pada siapa-siapa. Katanya ia tidak mau keluarganya malu. Lagi pula sudah jadi rahasia umum bahwa Pak Joko akan maju untuk pemilihan lurah tahun ini, Widuri tahu ia kalah kuasa dengan keluarga itu.

            Aku melanggar janjiku. Di malam hari, kuceritakan pada Bambang apa yang Widuri alami, berharap ia punya cukup kebijaksanaan untuk membantu. Angan-anganku jadi abu. Alih-alih mendengarkan Bambang sibuk dengan aplikasi pesan di telepon genggamnya. Saat aku kesal, ia mengatakan ia sedang bekerja. Merekap pesanan sayuran dari grup WA ibu-ibu tetangga. Rupanya ia tidak tahu bahwa aku selalu menengok ponselnya setiap malam, mengetahui dengan pasti tidak hanya pesanan yang ia catat tapi juga kabar-kabar terkini dari berbagai sumber informasi gadungan.

            Bunyi dari  seberang makin menjadi. Kali ini ada beberapa kata yang seolah diulang berkali-berkali oleh kaset yang sudah rusak. Aku, tidak mau, pergi,  dan jahat. Kusadari hanya satu bunyi yang terus mendominasi. Suara Widuri. Jika aku berada lebih jauh dari gubuk ini, aku akan mengira ia sedang bermonolog. Perlu jarak dekat dan dinding tipis yang hampir roboh untuk mendengar ada bisikan-bisikan lain yang saling menyahut di antara nada tinggi utama miliknya. Pak Kus dan istri tampaknya berusaha sebisa mungkin mencegah keributan dari rumah mereka didengar tetangga.

            “Aku berani bertaruh suami istri itu akan memasukkannya ke kandang sapi lagi,” Bambang menyesap kembali kopi hitamnya. Aku tidak tahu apa gunanya karena jelas tanpa kafein pun ia bisa saja tetap terjaga hanya dengan semangat menyebarkan desas-desus hangat.

            “ Bertaruh itu haram.”

            “ Kayak kamu rajin shalat saja,” Bambang menjawab enteng.

            “ Sebaiknya aku ke sana, kan?” Bisikan-bisikan suami istri Kus tidak lagi terdengar. Teriakan Widuri sudah tidak lagi naik turun tapi menjadi konstan penuh tekanan. Ia benar-benar seperti berusaha menyobek tenggorokannya sendiri.

            “ Sudah kubilang tidak usah. Sebentar lagi ia juga lelah.”

            Entah apakah Bambang punya ilmu kanuragan atau kebetulan tapi tiba-tiba suara di seberang berhenti. Diam yang ganjil karena terjadi dalam sekejap.

            “ Tuh kan? Apa aku bilang,” Bambang sudah hendak memperpanjang kesombongannya saat tiba-tiba hening terbelah dengan sebuah pekik memilukan. Bulu kudukku meremang. Ada yang tak beres. Yang menjerit jelas bukan Widuri tapi Ibu Kus. Selanjutnya aku kembali mendengar seruan. Kali ini tak ada kuasa Bambang yang dapat menghentikan siapa pun datang mendekat ke rumah mereka, jelas sekali yang diserukan memang mengundang. Kata ‘tolong’ yang bertalu-talu seperti genderang di medan perang.

            Tak perlu komando kami berdua bergegas berlari datang. Gang sempit yang tadinya sepi mendadak penuh karena semua orang berlarian ke arah rumah keluarga Pak Kus. Rupanya bukan hanya kami yang jadi pendengar setia kegaduhan yang terjadi pagi ini. Semua orang tergopoh-gopoh, sepakat bahwa sudah saatnya warga bertindak, tahu dalam hati bahwa yang menanti di sana pasti sesuatu yang berbalut duka.

            Benar saja. Aku orang pertama yang berhasil membuka pintu dan masuk. Dalam ruang 3 kali 3 di depanku, ada dua manusia. Salah satunya berdiri mematung, wajahnya pias, pucat seperti orang terkena sakit tahunan. Tangannya gemetar dan seluruh tubuhnya bersimbah darah. Ia tidak bergerak, mungkin bahkan tidak bernafas. Hanya bola mata yang terus bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan dapat menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Orang yang satu  lagi, meringkuk di sudut, menjambak rambut. Kepalanya menunduk menolak melihat apa pun pemandangan yang tersaji di depan. Ia lah sumber suara terakhir yang kudengar. Melihat kami berbondong-bondong pun tak membuatnya mengecilkan seruang tolong yang melolong dari mulutnya.

            Barangkali, ia memang tidak meminta bantuan pada kami. Entah ia bicara dengan siapa karena permintaannya tampak akan sulit dikabulkan kalaupun oleh Tuhan. Para lelaki tangkas merengkuh Widuri. Menahannya supaya ketika sadar dari keterkejutan, ia tidak kembali menyerang siapa-siapa. Yang lainnya sibuk. Menelepon rumah sakit dan menghubungi polisi. Bambang, di sebelahku menghela napas. Ia tidak ikut dalam pergulatan kecil yang terjadi, alih-alih ia malah berbicara dengan Pak RW merencanakan penggalian kuburan dan pendirian tenda duka cita. Kali ini aku setuju dengannya.

            Di hadapan kami terbaring sesosok ayah dan suami yang tadi malam masih sibuk meributkan kenapa anaknya tak henti diganggu setan. Ia sudah tidak bernyawa. Sebuah clurit yang biasa ia bawa untuk mencari pakan ternak tertancap tepat di dadanya, menghasilkan luka dan sungai darah yang terus memanjang. Kedua matanya membola, belum ada yang berani mendekat untuk menutupnya. Roh Pak Kus telah pergi dan sebentar lagi tubuhnya akan ditinggalkan sendiri. Barangkali dari alam arwah, ia bisa membantu mengeluarkan jin yang mengganggu Widuri.

            Pagi itu mentari harus mengakui bahwa manusia-manusia dalam gang ini tidak akan ada yang peduli dengan pesonanya. Entah ia jingga atau merona, tak satu pun yang sempat menengok dan mengagumi. Tidak juga ada berita yang dijual di gerobak sayuran. Semua kenyataan sudah dipertontonkan sejak dini hari. Dihidangkan sebagai cerita yang memilukan, bahkan bagi orang-orang seperti Bambang.

Lihat artikel lain dari kategori Fiksi!
Lihat Artikel Lainnya dari Shabrin Risti Aulia!