Tersesat di Jalan Pikiran – Contoh Fenomena Logical Fallacy dalam Psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai contoh fenomena logical fallacy dalam psikologi. Logical fallacy atau cacat dalam berpikir merupakan fenomena yang sering kita jumpa dalam kehidupan ini. Terkhusus di medsos, jalan ninja debat setiap orang terkadang membuat kotak tertawa ini terpingkal-pingkal dan mau habis. Bagaimana tidak, ketika membahas misalnya kebenaran di tingkat empiris, ada yang menjawab kebenaran di ranah intersubjektif. Ya ga bakal ketemu hehe.  

Contohnya mungkin seperti ini, Setiap manusia itu bernafas, Joni bisa bernafas. Lalu tetiba ada orang menjawab, anjing juga bisa bernafas apa anjing manusia? Nah kira-kira begitu salah satunya. Hal lain lagi mungkin banyak kamu temukan di kehidupanmu, atau bisa baca di bawah ini contoh logical fallacy dalam psikologinya. 

Yuk langsung saja baca artikel Tersesat di Jalan Pikiran – Contoh Fenomena Logical Fallacy dalam Psikologi sampai tuntas. 

Tersesat di Jalan Pikiran – Contoh Fenomena Logical Fallacy dalam Psikologi 

Contoh fenomena logical fallacy dalam psikologi. Jenis logical fallacy psikologi. Penjelasan logical fallacy. Macam-macam logical fallacy.
Bumi Psikologi – Biasanya dalam debat suka muncul Logical Fallacy. sumber: Unsplash.com

Jagad raya media sosial selalu saja menjadi ajang perlombaan debat para netizen. Setiap isu apapun selalu saja ada yang menanggapi. Memang ya media sosial memberikan kemerdekaan yang begitu luas bagi penggunanya untuk menyampaikan pendapat. Tapi sering kali dalam beradu pendapat di media sosial tidak pernah mencapai kesimpulan yang disepakati. 

Tidak bisa mencapai mufakat dalam perdebatan medsos ini mirip-mirip sama tim bubur diaduk atau tidak. Kalau masih perdebatan soal macam itu mungkin itu bercandaan, tapi bagaimana jika perdebatannya soal perkara yang lebih serius? Terkadang argumen yang disampaikan netizen yang budiman ini aneh dan menjengkelkan. Sering kali dalam menyampaikan pendapatnya netizen suka terjebak dalam logical fallacy. 

Logical Fallacy alias cacat logika merupakan kesalahpahaman akibat kesalahan penalaran, atau tipu daya atau ilusi dalam pikiran yang sering kali berhasil mengaburkan fakta / kebenaran. Nah para netizen ini sering jadi penyintas penyakit ini. Cacat logika ini sama menyebalkannya dengan penyintas Dunning-kruger effect. Iya, dunning-kruger effect itu kan too stupid to know that they stupid. Nah, cacat logika ini terkadang orangnya tidak sadar juga kalau argumen yang disampaikan ini sampah. 

Jenis Logical Fallacy 

Cacat logika secara umum terbagi menjadi dua, yaitu kekeliruan formal dan kekeliruan informal. Kekeliruan formal ini kesimpulan argumennya tidak sejalan dengan premis. Sedangkan kekeliruan informal, kesimpulan dari argumennya tidak didukung oleh premis yang kuat. Jadi sederhananya yang satu tidak sejalan dengan premis, yang satunya lagi malah tidak ada premis yang ngedukung kesimpulan argumennya. 

Kondisi logical fallacy cukup banyak jenisnya. Dari yang paling sering sampai yang paling langka dialami netizen. Mari kita mengenal beberapa jenis dari logical fallacy. Pertama, yang paling sering dialami para netizen budiman adalah Ad hominem. Ad hominem merupakan cacat logika dengan melemahkan argumen lawan dengan menyerang karakter lawan atau sifat pribadi yang tidak memiliki hubungan kausalitas dengan argumennya. 

Baca juga: Apakah Kotak Tertawa Benar-Benar Ada? – Analisis Tertawa dalam Psikologi 

Misalnya gini, ketika ada orang mengatakan “mari kita bangun desa-desa demi kemajuan bangsa”. Terus ada yang bales “apaansih cowok item penggemar blackpink, mana tahu soal kebangsaan”. Kan kan gaada urusannya antara penggemar blackpink sama kemajuan bangsa. Cacat logika ini adalah yang paling menyebalkan dan paling sering ditemui di jagad raya media sosial. 

Stawman 

Ada juga logical fallacy yang disebut dengan strawman. Strawman alias manusia jerami, yang kalau dalam bahasa jawanya bebegig. Dalam perihal berdebat antara dua orang, si penyintas ini seringkali menyerang bebegig sebagai samsak. Ini terjadi ketika seseorang salah mengartikan argumen seseorang untuk membuatnya lebih mudah diserang. Duh, kasihan betul itu manusia jerami dijadiin samsak serangan. 

Semisal ada orang yang ngetweet “korupsi itu kayaknya emang cobaan manusia deh, siapasih yang engga geter di depan komuk ada duit 10 miliar”. Terus ada yang bales “berarti kamu membenarkan perilaku korupsi dong, korupsi kan menyengsarakan rakyat”. Padahal kan tidak ada satu argumen pun yang melegitimiasi perilaku korupsi. Tapi argumennya dipelintir sehingga lebih mudah diserang. 

Burden of proof 

Kemudian ada yang namanya burden of proof. Burder of proof alias beban pembuktian ini merupakan cacat logika dimana seseorang memberikan beban pembuktian bukan pada pihak yang melakukan klaim, tetapi kepada orang yang membantah klaim tersebut. Jadi si orang ini tidak bertanggung jawab atas apa yang dia klaim, justru malah meminta orang lain untuk meminta pembuktiannya. 

Kamu ngomong ke temen kamu misalnya “nabi Sulaiman AS itu pernah loh menginjakan kakinya di Sumedang”. Terus temen kamu ngebantah “emang iya apa? Mana buktinya?”. Lalu kamu ngotot dengan berkata “lah, coba ada engga buktinya kalau dia tidak pernah datang ke Sumedang?”. Ini cacat logika yang cukup menghibur sebenarnya. Bagaimana bisa orang melakukan klaim tapi orang yang membantahnya yang harus membuktikan. 

Middle ground 

Lalu, ada logical fallacy dengan istilah middle ground. Emang ya sebagian kebenaran memang berada di tengah antara dua titik ekstrem. Tapi dalam beberapa kasus perdebatan dua titik ekstrem itu bisa jadi salah satu kutub itu benar seluruhnya dan yang lainnya salah sepenuhnya. Jadi pengambilan keputusan untuk moderat alias ditengah itu kan tidak bisa dibenarkan. Cacat logika ini menyimpulkan bahwa kompromi antara dua titik ekstrem harus dicapai untuk mencapai situasi yang memuaskan. 

Contoh paling sederhananya ketika kamu ngomong sama gebetan idaman, “Hai ca, daripada kamu milih rafi yang ganteng tapi playboy atau nadhif yang engga playboy tapi cupu, mending milih aku aja yang sedang-sedang aja”. Argumen kamu ini tuh cuman gombal aja bukan berdasarkan pemikiran yang cemerlang. Pernyataan kamu bahwa kamu lebih baik daripada nadhif dan rafi itu nda benar dengan alasan kamu berada di tengah. 

Appeal to emotion 

Terus ada logical fallacy yang nama appeal to emotion. Ini juga suka banget nih orang-orang lakuin. Suatu kondisi di mana seseorang mencoba menempatkan respon emosional sebagai argumen yang valid, logis, dan meyakinkan. Si orang ini membuat klaim berdasarkan simpati atau empati alih-alih alasan yang adil atau logis. 

Contoh kasusnya misalnya kamu ngomong ke temen kamu yang masuk jalur busway biar ga kena macet “eh itu kan ndaboleh masuk jalur situ” terus dia jawab “ya gimana gue kan buru-buru buat sampai ke tempat kerja, nanti kalau gue di pecat gimana? tanggungan gue banyak banget buat di nafkahin, bini gue juga lagi bunting”. Yaaa walaupun sesedih apapun cerita kamu, tapi kan perilaku kayak gitu ndabisa langsung sah juga. Argumen valid yaa mesti kamu bangun dengan alasan logis, jangan mencampur adukan dengan emosi juga. 

Slippery slope 

Terus juga ada logical fallacy yang bernama slippery slope. Ini adalah kesalahan di mana ketika ada suatu kejadian A, maka menganggap kejadian B akan terjadi pula, sehingga A tidak boleh terjadi. Padahal belum tentu ketika A kejadian, maka B sampai Z juga kejadian. 

Misalnya kamu ngomong kayak “pemerintah tidak boleh menjalin kerjasama dengan negara X, nanti bisa hancur bangsa ini, rakyat menjadi susah mencari pekerjaan, negara menjadi tidak percaya agama, terasuki paham sesat, negara bangkrut, dan terpecah belah”. Ini argumen yang cukup membingungkan, padahal kan belum tentu ketika bekerja sama tersebut terjalin maka kejadian selanjutnya seperti yang terucap. Negara sesat dan bangkrut itu kan banyak faktornya yaa, bukan hanya sekedar menjalin kerjasama dengan suatu negara lain. 

Special pleading 

Ada juga logical fallacy bernama special pleading. Cacat logika ini adalah kondisi di mana seseorang melakukan pembelaan khusus terhadap bagian dari argumen yang orang sampaikan. Si orang ini membuat pengecualian ketika klaim yang ia buat salah. 

Contohnya ada seorang paranormal yang meramalkan bahwa Manchester United akan menang menghadapi AC Milan. Ternyata ramalannya salah, AC Milan justru membantai Manchester united dengan skor 4-0. Si paranormal yang tahu klaimnya salah kemudian mengatakan bahwa karena cuaca sedang hujan lebat jadi suara bisikan gaib terganggu, sehingga si paranormal salah mendengar. Yaaa kalian sudah pada tahu lah kalau ini gimana si paranormal. 

Itulah beberapa kondisi logical fallacy yang seringkalipara netizen lakukan dalam ajang perdebatan di media sosial. Yah memang tabiatnya manusia rentan terjerumus ke dalam logical fallacy. Saya sendiri pernah juga mungkin mengalami beberapa kondisi di atas. Tapi semoga dengan bertambahnya pengetahuan kita soal logical fallacy ini memperkecil kemungkinan kita untuk mengalami cacat logika dalam menyampaikan pendapat. 

Mungkin baru segini saja jenis logical fallacy yang bisa tercantum dalam tulisan ini. Nanti part selanjutnya akan rekan penulis bumipsikologi lanjutkan. 

Bacaan lanjutan: 15 Logical Fallacy List of Fallacy 

Penutup 

Oke untuk artikel mengenai contoh fenomena logical fallacy dalam psikologi sampai di sini saja. Jangan lupa untuk tidak tersesat di jalan berpikir ya, juga bagiin biar orang tidak tersesat lagi. Terima kasih. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa mengirimkannya ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel. 

Kata kunci: Contoh fenomena logical fallacy dalam psikologi. Jenis logical fallacy psikologi. Penjelasan logical fallacy. Macam-macam logical fallacy. 

Shandi Fadhila

Menulis untuk merawat kewarasan berpikir. Follow Instagram: Shandi Official

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: