Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai dampak bermedia sosial (berlebihan) secara psikis. Tentunya tren bermedia sosial di kala orang-orang diharuskan untuk berdiam di rumah cukup sentral perannya. Baik untuk memenuhi kebutuhan saling terhubung dengan keluarga, mencari informasi terkini, stalking doi, atau hanya sekadar cek notifikasi yang tidak ada notif sama sekali dan lainnya. Tentunya juga bermedia sosial sah-sah saja, wong tidak ada yang melarang kok, tapi kamu perlu tahu batasannya dan dampak yang akan membelenggu ketika di luar batasan.

Baca juga: Ikut-Ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi

Acap kali media sosial menjadi sumber gangguan mental atau psikis, di sana standar hidup dipatok tinggi. Alhasil kamu beranggapan kok semua orang hidupnya terlihat fine – fine aja. Begitu deh pokoknya, dampak bermedia sosial scara psikis sih bisa siang anxiety, kalau malam overthinking jadinya.

Yuk baca saja artikel dengan judul aslinya Siang Anxiety, Kalau Malam Overthinking – Dampak Bermedia Sosial Secara Psikis sampai tuntas ya!

Siang Anxiety, Kalau Malam Overthinking – Dampak Bermedia Sosial Secara Psikis

Pok ame ame belalang kupu-kupu, siang anxiety kalo malam overthinking.

Coba deh bayangin kamu lagi rebahan di kasur, pas banget di luar hujan, dan kebetulan kamu udah sholat isya… kamu merasakan syahdu paling serius, aseli. Kamu usap-usap smartphone, bolak-balik whatsapp, twitter, instagram. Lama-lama rasa kantuk sudah tidak bisa lagi dibendung, kamu buka spotify putar playlist favorit, dan selanjutnya agenda paling dinanti dalam rundown sehari-hari, Tidur…

dampak bermedia sosial secara psikis, dampak media sosial terhadap mental dan psikologis, media sosial pengaruhnya terhadap psikologis
Bumi Psikologi – Cemas Teross. Sumber: Pexels.com

Perlahan tapi pasti mata kamu mulai terpejam, tiba-tiba terlintas di pikiran postingan temanmu di media sosial, kamu malah jadi mikirin skripsi, mikirin masa depan, mikirin kenapa majapahit bisa runtuh. Dengan sekuat tenaga kamu berusaha untuk kembali tenang, mencoba terlelap. Tapi pikiran kamu kebanyakan atraksi, segala hal bergentayangan dalam pikiran. Apa yang saya lewatin ya hari ini? Kok si dia belum liat instastoryku, tapi nge-like tweet Jerome Polin? Kira-kira tanah liat pernah salah liat ga ya?

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Ah elah, cintaku pada tidur pulas lagi-lagi bertepuk sebelah tangan. Hiks~

Besoknya, kamu buka instagram… habis ngecek instastory terbitlah anxiety. Kamu scroll feeds, “Buset, orang-orang pada cakep banget yak, kok gue kayak oyong”, terus insecure. Karena frustasi kamu pindah ke twitter, mau ngetweet kalo kamu bosen tapi takut dibilang caper, akhirnya engga jadi. Abis itu gelisah, refresh-refresh notif tapi tweet kamu belum juga di reply sama temen yang kamu mention.

Astaga, lama kelamaan media sosial ini membuat mentalku terganggu…

Aku stalking, maka aku satisfying.

Dengan #dirumahaja, mau tidak mau, suka tidak suka, internet, khususnya media sosial merupakan kebutuhan yang penting. Memanfaatkan media sosial, agar tetap menjaga ikatan sosiologis dengan teman-teman kita. Saling kuat-menguatkan satu sama lain, berbagi kisah, berbagi afeksi dalam berjuang menghadapi pandemi. Entah bagaimana rasanya bila melewati pandemi tanpa bantuan teknologi. Tapi eh tapi, selain menciptakan kemudahan, media sosial juga bisa menimbulkan kecemasan.

Kecemasan atas dasar ke-kepoan dan rasa penasaran yang tinggi, hingga harus selalu memantau media sosial. Memperhatikan instastory, sedang apakah temanku hari ini? Melihat tweet activity, ada cerita apa yang baru saja terjadi? Mengecek notifikasi, apakah ada pesan dari yang kunanti? Apabila rasa ingin tahu dan penasaran tak terpenuhi, bisa menimbulkan anxiety dan ketakutan ketinggalan informasi.

Kecemasan dan ketakutan ini merupakan manifestasi dari gangguan obsesif kompulsif. Ini ditandai dengan adanya obsesi dan perilaku kompulsif. Terobsesi untuk harus banget tahu sepatu baru merk apa yang dipakai Rafathar, apa makanan favorit Lee Min Ho, atau apa alasan putusnya Maudy Ayunda. Kemudian munculnya perilaku berulang, seperti terus menerus buka tutup aplikasi, scroll sana sini, pokoknya jangan sampai ada satupun informasi yang tak diketahui.

Ketakutan ketinggalan informasi ini populer dikenal dengan istilah FoMO (fear of missing out).

Habis FoMO, Terbitlah FoMoMO, MoMO, FoJI, BROMO, SLOMO, dan JoMO

Semakin berkembangnya media sosial, maka semakin bertambah pula fenomena yang berkaitan dengan penggunaan media sosial. Berdasarkan literatur dari Himpsi yang saya baca, ada beberapa istilah yang mewakili fenomena penggunaan media sosial. Langsung saja, tanpa basa-basi, mari kita bahas tipis-tipis apa-apa saja. Siapa tau kamu pernah ngalaminnya, hoho~

dampak bermedia sosial secara psikis, dampak media sosial terhadap mental dan psikologis, media sosial pengaruhnya terhadap psikologis
Bumi Psikologi – Mabar Medsos. Sumber: Pexels.com

MoMO (Mystery of Missing Out), sebuah kecemasan yang terjadi akibat tidak adanya postingan dari teman. Merupakan tingkatan lain dari FoMO, dimana ketika kamu menyadari teman kamu tidak posting apapun di media sosialnya, malah bikin kamu bertanya-tanya. “kok si Ridwan Hambali engga bikin ask me question lagi ya?”. Abis itu, kamu stalking semua akun medsosnya sampai kamu tahu apa yang dia lakuin.

FoMoMO (Fear of the Mystery of Missing Out), ini gangguan kecemasan yang unik. Kecemasan terjadi bukan karena mengetahui apa yang terjadi, tapi karena pikirannya sendiri. Sederhananya, ini adalah ketakutan dari MoMO, dimana ketika kamu berpikiran liar tentang apa yang dilakukan teman kamu. “Jangan-jangan si Aya, Adit, sama Andi lagi seru-seruan nongkrong di cafe tapi ga ngajak gue”. Kecemasan tak dilibatkan atas sesuatu yang seru bersama teman, padahal kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

FoJI (Fear of Joining In), ini adalah lawan dari MoMO. Bukan temen kamu yang tidak posting apapun, melainkan kamu sendiri. Pengen upload foto di instagram, tapi takut nanti yang like sedikit, akhinya engga jadi. Mau nimbrung di reply-replyan tweet teman, tapi takut tidak ditanggepin, akhirnya engga jadi, insecure abis. Kecemasan untuk ikut terlibat karena takut tidak menerima tanggapan.

Baca juga: Kesalahan Memahami Kepribadian Introvert dan Ekstrovert – Introvert dan Ekstrovert dalam Psikologi Kepribadian

BRoMO (When your Bros {friends} protect you from Missing Out), ini adalah ketika teman kamu tidak posting apapun tentang keseruannya. Semisal, teman-teman kamu sedang liburan bersama ke Bali, tapi kamu tak ikut. Maka, mereka yang ikut berkonsensus untuk tidak memposting keseruannya agar tidak menimbulkan perasaan tidak diajak bagi mereka yang tidak ikut.

SLOMO (Slow to Missing Out), mana sempat keburu telat. Teman-teman kamu bikin video call via zoom, sayangnya kamu ketiduran. Besok paginya kamu baru ngecek hp dan sadar kamu melewati video call bersama teman kamu. “Ah elah, gua pake acara ketiduran segala lagi deh, gaikut seru-seruan kan”.

JoMO (The Joy of Missing Out), ini adalah perasaan yang justru harus dirasakan setiap orang. Walaupun kita tidak update tentang postingan teman, kita sama sekali tidak merasakan kecemasan, biasa aja. Mau kita tahu postingan teman kek, mau tidak tahu kek, kita tetep saja nyaman. Tetap senang dan bahagia sekalipun tidak tehubung dengan media sosial.

Konon dikisahkan, setiap orang pasti mengalami setidaknya salah satu dari contoh diatas lhoooo~ kamu yang mana?

Reflektif

dampak bermedia sosial secara psikis, dampak media sosial terhadap mental dan psikologis, media sosial pengaruhnya terhadap psikologis
Bumi Psikologi Masih ada kehidupan yang perlu kamu jelajahi-Sumber: Pexels.com

Pertama-tama, semua yang berlebihan itu tidak baik. Kewajiban kita adalah berbuat baik kepada sesama, bukan mengetahui segala yang ada di media sosial. Stalking secukupnya, searching seperlunya, posting sewajarnya. Online dalam jangka waktu yang lama itu boleh saja, tapi jangan sampai menimbulkan obsesi tentang hal tertentu. Kurang-kurangin lah buka tutup aplikasi hanya untuk tahu informasi, biasa aja, santai aja.

Baca juga: Sesat Pikir Konspirasi Corona Narasi Ala JRX – Penjelasan Konspirasi dalam Psikologi

Media sosial ibaratnya adalah ruang tamu rumah, didesain sesuai dengan yang ingin dilihat seperti apa kamu oleh orang lain. Ketika kamu masuk ruang tamu, pasti kamu akan melihat foto keluarga, piagam penghargaan, atau karya seni yang indah. Hampir mustahil menemukan baju kotor berserakan di ruang tamu. Begitu pula media sosial, yang nampak adalah bagian berharga dari pemiliknya. Tak usah insecure, semua orang punya pencapaiannya masing-masing sesuai dengan jalan ninjanya. Terlebih lagi, kamu adalah individu yang unik, yang tidak mungkin mirip dengan orang lain, karena kamu memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri, percayalah kamu akan menemukannya.

Di media sosial tidak harus selalu ada, di media sosial bukan segala-galanya, di media sosial hanya mesti secukupnya. Secukupnya berarti kamu tidak menjadikan ruangan media sosial sebagai kehidupan premier kamu, masih ada realita di luar sana yang menunggu untuk dijelajahi.

Penutup

Udah ga ada penutup, cukup jelas kan apa yang kamu baca. Jangan lupa untuk dibagikan kepada temenmu ya, jika kamu mendapatkan suatu informasi di sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: dampak bermedia sosial secara psikis, dampak media sosial terhadap mental dan psikologis, media sosial pengaruhnya terhadap psikologis