Manusia Itu Tajam Mengamati Orang Lain Tapi Tumpul Pada Dirinya – Fenomena Bias Actor observer

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena bias actor observer. Fenomena bias actor observer ini biasanya terjadi pada mereka yang memandang dirinya merasa hebat atau terkena juga dunning-kruger effect. Seseorang yang selalu merasa kegagalan yang terjadi pada dirinya itu bukan karena kekurangan dirinya, tapi menyalahkan faktor di luar itu. 

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi 

Sementara ketika melihat orang lain mengalami kegagalan yang serupa dengannya, tapi kebetulan mengetahui sedikit informasi “negatif”, kesimpulannya akan beda. Faktor-faktor pribadi atau kemampuan orang lain seakan menyebabkan dirinya mengalami kegagalan tersebut. Akan tetapi untuk dirinya, hanya faktor lingkungan saja atau sedang tidak beruntung kala itu. Hadeuh. Jadinya memang tajam kalau observasi orang lain ketimbang terhadap dirinya. Baca saja fenomena bias actor observer di sini. 

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya manusia itu tajam mengamati orang lain, tapi tumpul pada dirinya – fenomena bias actor observer sampai tuntas ya! 

Manusia Itu Tajam Mengamati Orang Lain Tapi Tumpul Pada Dirinya – Fenomena Bias Actor observer 

Disclaimer: Kata Kamu dalam beragam contoh bukan berarti nyalahin teman-teman pembaca ya, tapi lebih ke menghujat saja, ga deng sebagai model saja.  

Sebagai manusia yang katanya makhluk sosial itu memiliki fasilitas belajar gratis dari masyarakat, yaitu dengan cara mengamati orang lain. Banyak hal yang bisa kamu dapatkan ketika berada di tengah kehidupan masyarakat, mulai dari pelajaran hidup sampai bahan untuk kamu insecure tiap hari juga bisa. Tinggal kamu pilih sesuai kebutuhan dan orientasi hidupmu ingin seperti apa jadinya.  

fenomena bias actor behavior. penjelasan bias actor behavior dalam psikologi. actor-behavior bias. contoh bias actor behavior.
Bumi Psikologi – Coba perhatikan juga diri sendiri jangan melulu orang lain. Sumber: Unsplash

Misalnya, ketika kamu ingin tahu bagaimana sih orang lain ketika mendapatkan masalah tidak punya duit, kamu bisa lihat beragam respons orang terhadap permasalahannya. Kita taruh misal ketika mendapatkan masalah tidak punya duit karena hilang di dalam kereta, ada yang bersedih sendu sampai 7 hari 7 malam, ada yang tak bereaksi sama sekali atau bahkan ada yang sampai mencari ke dalam kereta setiap hari. Semua respons tersebut ketika berada dalam jangkauanmu bisa kamu pelajari dan saksikan. 

Kemudian misalnya dalam permasalahan lain seperti ketika teman-teman kamu gagal mengerjakan ujian mata kuliah tertentu dengan baik, kamu bisa lihat beragam respons mereka. Biasanya ketika gagal dalam meraih sesuatu seperti ketika ujian, kambing hitamnya itu ada dua. Kambing hitam internal dan eksternal. Kambing hitam internal bisa berupa orang tersebut mawas diri karena mungkin tidak belajar sebelumnya, tidak memahami materinya atau faktor pribadi lainnya.

Kalau eksternal seseorang ketika mendapatkan sebuah kegagalan dalam meraih sesuatu bisa menyalahkan lingkungannya. Fokus dalam faktor eksternal biasanya seperti suasana kelas yang cukup panas sehingga mengganggu fokus, soal ujian yang bahasanya aneh, atau misal nyalahin gegara gagal move on dari doi. 

Baca juga: Mending Nyalahin Orang Lain daripada Nyadar Diri – Self Serving Bias 

Sekali lagi bagaimanapun alasan yang orang tersebut pilih ya terserah, karena ya mereka sendiri yang jalani. Juga, kata “terserah” merupakan kata-kata yang mantap, wabil khusus bagi para bangsa alligator dan crocodile, mantap.  

Akan tetapi bagaimana jika masalah tersebut menimpa diri kamu sendiri? Sudah sendiri ditambah dapat nasib yang malang, mantap

Seperti yang sudah saya singgung di atas, sederhananya, manusia ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapannya akan mengambinghitamkan dua hal, internal atau eksternal. Mungkin kamu bertanya, memang kalau dapet sesuatu yang tidak sesuai harapan manusia itu selalu nyalah-nyalahin sesuatu? Jawabannya ya tentu saja. Lebih tepatnya mencari alasan, karena memangnya kamu pernah lihat orang hidup tanpa alasan apapun? Atau dia diem saja ga memikirkan nasib yang didapatkannya sama sekali? Mungkin ada sih yang legowo nerima saja, itu sama seperti memang punya alasan baik karena posisi dia seperti apa atau usaha apa yang sudah dilakukannya.  

Apa itu Bias Actor-Observer? 

Oke, fokus di sini sesuai judul yaitu oang kadang menjadi tajam dalam mengobservasi orang lain ketimbang terhadap dirinya. Yang ingin saya sampaikan dari ilustrasi di atas, orang akan cenderung membuat atribusi ketika berada dalam beragam situasi. Dalam bias itu, tergantung kamu bagaimana mengatribusikan sesuatu itu apakah kamu sebagai actor atau kamu sebagai observer

Singkatnya begini, bias actor-behavior merupakan tipe atribusi ketika tindakan kamu mengalami kebuntuan atau kegagalan, kamu akan lebih mengevaluasi lingkungan sekitar. Sementara ketika orang lain mendapatkan kebuntuan hal yang sama dengan kamu, atribusi yang disematkan pada orang lain disebabkan karena faktor internal. Ini memang tidak setiap orang akan seperti itu, ada juga yang mempertimbangkan keduanya, tapi hanya orang yang begini berarti terkena bias actor-observer. 

Contoh dan ilustrasi di atas memang disajikan dalam nuansa negatif, karena memang bias ini hadir ketika mendapatkan sesuatu yang biasanya dipersepsikan “negatif” seperti kegagalan mencapai harapan, memenuhi standar diri atau meraih keinginan dsb. 

Misalnya seperti ini, kamu mengikuti lomba kontes bermain biola di kampus, kamu tahu lawan yang akan dihadapi itu anak dari pemain biola terkenal. Ketika kamu gagal meraih penghargaan mungkin kamu akan menilai bahwa “ya wajar juga sih, karena doi kan punya bakat yang bagus sedangkan gua mah apaan” atau “penonton pada berisik ganggu gua bet dah” dsb. Tapi ketika kamu tahu orang tersebut gagal dan kamu tahu dia jarang latihan akan lebih nyalahin “dia jarang latihan jadi kalah” 

Contoh lainnya memang lebih pas dalam kasus ujian. Misalnya dalam satu kelas tahu orang-orang yang pernah atau suka cabut ketika pelajaran, jarang mengerjakan tugas atau jarang baca buku dsb. Ketika mereka gagal, perhatian kamu fokus pada hal-hal itu maka indikasi terkena bias actor-behavior. Apalagi ketika diri mendapatkan kegagalan dan nyalahin lingkungan, hadeuh. 

Dampaknya Apa? 

Secara sadar atau tidak ketika kamu merasa aneh melihat kok orang yang tatoan sholat dan ngaji suaranya merdu. Itu artinya sedang terkena dampak bias berpikir. Dampaknya yaitu persepsi terhadap orang lain. Secara ekstrim ketika mungkin tertanam dalam diri, orang itu pemalas, sering bolos, kinerjanya kurang baik, tidak serius dalam bekerja, ga punya skill dsb sangat berbahaya. Seakan kamu hanya menyimpulkan dari apa yang dilihat saja. Padahal mungkin orang tersebut juga punya alasan tersendiri mengenai hasil yang terjadi. Menilai orang lain ketika terjadi kegagalan dengan atribusi internal mereka itu mengundang golok untuk terbang. 

Solusinya 

Solusinya ya jangan begitu. Simpel memang, tapi ya cukup sulit kalau tanpa niat. Maksudnya, kamu juga harus bisa memperlebar pandangan baik terkai diri sendiri atau orang lain. Misalnya, apa yang kamu alami mungkin dialami juga oleh orang lain. Atau ya sadar diri, karena manusia itu pengawasan dan kemampuannya terbatas. Manusia itu bukan makhluk yang mampu mengetahui segalanya sih.  

Selanjutnya menyadari bahwa orang-orang itu unik dan memiliki makna hidup serta alasan sendiri. Setiap manusia itu menginginkan dirinya menjadi orang yang berharga. Misalnya dalam ujian tadi kamu hanya tahu dia seorang yang suka cabut saat matkul, padahal dia mau ke gramedia baca buku atau pulang ikut kursus daring. Maksudnya ada hal-hal atau usaha mereka yang luput dari pengawasan orang lain. 

Terakhir mari mawas diri dan ketika mendapatkan kegagalan berusaha untuk membuat atribusi internal. Memang dengan atribusi internal ini akan menjadimu untuk mengevaluasi diri serta meningkatkan apa saja yang kurang. Namun biasanya berakibat juga cenderung merasa diri inferior, tapi ketika mengalami sampai seperti itu, mintalah bantuan orang lain untuk menjadi pendengar gratis. 

Bacaan Lanjutan: Sage Pub Articles

Penutup 

Oke untuk artikel fenomena bias actor observer sampai di sini saja. Inget ya harus adil kalau dalam menyimpulkan sesuatu terhadap orang lain dan diri sendiri. Jangan lupa bagikan juga artikel ini kepada orang lain. Supaya mereka juga mengetahui apa yang kamu dapatkan dari sini. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com  

Kata kunci: fenomena bias actor behavior. penjelasan bias actor behavior dalam psikologi. actor-behavior bias. contoh bias actor behavior. 

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com
%d blogger menyukai ini: