Sebuah Tulisan yang Didedikasikan untuk Mas Denny Siregar – Fenomena Bias Berpikir dalam Psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena bias berpikir dalam psikologi. Fenomena julid ini memang cukup rame akhir-akhir ini, meskipun saya tulis agak telat juga sih. Tapi saya akan mencoba membuat tulisan yang khusus saya dedikasikan untuk Denny Siregar.  

Baca juga: Blueprint Menjadi Orang Open minded (Tidak) Seperti Warga Medsos – Makna Open minded dalam Psikologi 

Fenomena biar berpikir memang fokus dalam blog ini sebelum-sebelumnya. Dan contoh yang terjadi di media sosial memang ada, salah satunya ya ini. Jangan sampe kamu juga demikian ya setelah baca artikel dari bumi psikologi hehe. Baca skuy fenomena bias berpikir dalam psikologi. 

Langsung saja baca dan bagiin artikel dengan judul resminya sebuah tulisan yang didedikasikan untuk Mas Denny Siregar – fenomena bias berpikir dalam psikologi

Sebuah Tulisan yang Didedikasikan untuk Mas Denny Siregar – Fenomena Bias Berpikir dalam Psikologi 

Sebuah Fenomena Duniawi 

Entah muncul dari mana pernyataan belio tentang asosiasi model baju yang hanya dimiliki oleh salah satu kelompok saja. Bahkan menurutnya, ini merupakan bagian dari propaganda terselubung. Pernyataan yang menjurus kepada tuduhan tendensius ini menuai banyak reaksi. Tentunya juga menuai kontroversi. Bagaimana tidak, tuduhan atau justifikasi hanya berdasarkan dari model baju saja merupakan pengambilan keputusan yang cukup riskan. 

Pasalnya, banyak sekali fakta-fakta suatu hal di luar dari seputar ciri dan model baju saja yang terlupakan. Misalnya setiap manusia tidak tahu apa yang ada dalam diri orang lain, masa lalu seseorang atau juga fakta lain yang luput dari si penilai. Orang semacam ini terkena bias heuristik keterwakilan. Singkatnya, menilai seseorang hanya dari satu ciri saja dan mengasosiasikan ciri tersebut dengan suatu kelompok yang memiliki kemiripan dengan ciri tersebut. 

Coba kamu baca tweetnya di bawah ini deh. 

Saya yang kebetulan saat ini bekerja di salah satu perusahaan garmen dengan produk jubah merasa terpanggil dong. Sesepuh pemilik sampai ke pekerjanya orang-orang NU. Bahkan ketika pengajian mingguan hari Jum’at yang ngisi tetap dari NU, dan tidak protes soal baju gamis. Bahkan penceramahnya juga mengenakan gamis. Apakah saya harus teriakin radikal karena pakai gamis? 

Oh iya kita sepakatin bahwa dari tweet itu asosiasinya orang bersarung itu sebagai “kita”, dan orang berjubah atau gamis itu sebagai “mereka”. Bahasa lainnya in group dan out group

Jadi busana itu milik siapa? Karena merasa bahwa keidentikan suatu busana sering dilihat pada seseorang kelompok, dalam hal ini out group bagi sang Lord, maka orang yang memakai hal tersebut doi mengasosiasikannya bagian dari kelompok mereka. 

Baca juga: Masalahku Berat, kamu Ga Akan Kuat, biar Aku Saja – Memahami Fenomena Snowflake Syndrome 

Meskipun misalkan nih apa yang doi katakan itu benar, tapi itu tidak memiliki wisdom atau kebajikan. Kalau kata Dr. Fahruddin Faiz, ketika bertemu dengan orang berbadan besar misalnya, kamu memanggil dia gendut apa kabar? Panggilan gendut atau label gendut itu secara kebenaran memang benar, tapi tidak elok dan tidak bijak. Begitu juga dalam hal ini. Sebagai seorang pegiat media sosial, membuat gaduh dan memperjelas batasan in group dan out grup sangat destruktif. Risiko ketika batasan itu jelas, konflik horizontal antar kelompok akan timbul. Karena setiap anggota merasa “mereka” berbeda dengan “kita”. 

Fenomena bias berpikir dalam psikologi. Contoh bias berpikir dalam psikologi. Macam-macam bias berpikir dalam psikologi. Denny siregar film Nussa dan Rara.
Bumi Psikologi – Lord pasti memikirkan tweet ini dengan data. Sumber: Unsplash.com

Tapi saya yakin, sekelas Lord Denny Siregar dengan data-data surveinya sudah memikirkan dengan matang tweet ini. Bagaimana tidak, sebelumnya, saya yang termasuk orang awam tidak kepikiran film Nussa dan Rara bagian dari propaganda. Kalian saja mungkin yang tidak tahu data-data masyarakat Indonesia. Terutama mengenai data toleransi dan radikalisme. Doi sudah barang tentu mahir dalam bidang ini, data-datanya bejibun. 

Husnudzan saya, Mas Denny Siregar ini punya data sekelas CIA atau data riset komprehensif tentang data toleransi di Indonesia. Terutama yang mengasosiasikan seluruh kelompok radikal adalah mereka yang berjubah dan bercelana cingkrang. Dan yang toleran adalah mereka yang bersarung. Bagaimanapun isi pikiran dan sikapnya itu tidak penting, yang penting model bajunya. Data tersebut pastinya bersifat rahasia, mana ada kalian tahu data seperti itu. Hasilnya, tweet ini muncul dari doi bukan kalian. Karena doi pasti punya data tersebut. 

Baca juga: Why do people like Bakugou? A Psychology Student Analysis – Analisis Karakter Bakugou Katsuki dalam Psikologi 

Dengan kesimpulan seperti itu, saya yakin Lord punya data banyak. Tidak mungkin sekaliber pegiat media sosial mencuit hal-hal awam tanpa dasar. Apalagi Lord fokus pada isu ini, sudah moncer isi kepala dengan data pastinya. Salam biasa di luar dari penulis awam seperti saya ini ya Lord. 

Mengenai model baju dan radikalisme, saya jadi teringat perkataan Prof. Dr. Achmad Syahid, MA. ketika saya sidang skripsi. Beliau bilang, bagaimanapun kalau menggunakan istilah radikal dalam definisi orang luar, muslimah yang masih menggunakan kerudung juga radikal. Orang yang masih shalat sunnah atau lima waktu juga bakal dianggap radikal. Karena mereka beranggapan mengekang hak asasi atau (re:hawa nafsu) manusia. 

Kesimpulannya mungkin bagi kita yang awam tidak seperti sang Lord harus mampu mendefinisikan sesuatu itu dengan jelas. Kalau kata pak Dr. Fahruddin Faiz lagi beliau menyarankan ketika membuat suatu definisi setidaknya harus secara radikal dan komprehensif. Komprehensif artinya seluruh variabel yang menggambarkan suatu hal tersebut harus ada. Sementara radikal berarti definisi tersebut mendalam. 

Misalnya ketika menjustifikasi suatu kelompok itu bagian dari gerakan radikal, harus pasti dulu makna pastinya apa dan siapa yang bilangnya. Hasilnya bakal tidak mungkin menilai suatu kelompok beraliran sesat hanya karena memakai satu model baju saja. Tapi sekali lagi Lord Denny Siregar pasti sudah memikirkan hal tersebut dengan matang berdasarkan data-data sahih. 

Macam-macam bias berpikir 

Heuristik keterwakilan 

Heuristik ketersediaan singkatnya heuristik keterwakilan berarti kemampuan dalam mengambil kesimpulan atau penilaian dengan cara melihat tingkat kemiripan antara suatu simulus dengan peristiwa atau stimulus lainnya. Mudahnya, mengkaitkan suatu karakteristik dengan karakteritik lain yang telah diketahui orang tersebut. Baca lengkapnya [Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi] 

Heuristik ketersediaan 

Secara definitif, heuristik ketersediaan berarti suatu cara mengambil kesimpulan atau keputusan karena kemudahan mengambil gambaran informasi mengenai suatu gambaran objek atau kejadian dalam pikiran kamu. Baca lengkapnya [Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi] 

Bias konfirmasi 

Bias konfirmasi definisi susahnya gini, suatu sistem atau cara berpikir seseorang yang bersifat induktif, dimana orang tersebut mengambil kesimpulan hanya dengan memperhatikan informasi yang mendukung dengan apa yang ia percayai saja atau mengabaikan informasi lain yang berkebalikan dengan yang dipercayainya. Baca selengkapnya [Kenapa Orang Suka Menyukai Informasi yang Sesuai Pendapatnya Saja – Penjelasan Bias Konfirmasi dalam Psikologi] 

In group favoritism bias 

Secara definisi in group favoritism bias berarti tendensi atau kecenderungan yang secara sistematis mengenai penilaian yang baik terhadap kelompoknya dibanding kelompok lain atau di luar kelompoknya. Baca selengkapnya [Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi] 

Halo effect 

Menilai orang lain atau seseorang, cenderung positif, dengan cara mengeneralisasikan secara menyeluruh dari salah satu karakteristiknya saja merupakan definisi halo efek. Baca selengkapnya [Mengapa Orang Bereaksi Berlebihan Pada Wawancara Siti Fadilah – Penjelasan Perspektif Psikologi] 

Macam bias berpikir lainnya bisa baca di sini [Bias Berpikir] 

Referensi: The Conversation 

Penutup 

Oke untuk artikel mengenai fenomena bias berpikir dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Jangan lupa bagiin juga artikel ini, supaya segera dapet adsenseTerima kasih. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com    

Kata kunci: Fenomena bias berpikir dalam psikologi. Contoh bias berpikir dalam psikologi. Macam-macam bias berpikir dalam psikologi. Denny siregar film Nussa dan Rara. 

Arif B Al F

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com

2 thoughts on “Sebuah Tulisan yang Didedikasikan untuk Mas Denny Siregar – Fenomena Bias Berpikir dalam Psikologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: