Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena bias negativitas dalam psikologi. Sering ga sih nemu orang yang hanya memandang dari hal negatif saja? atau bahkan diri sendiri? Jadi kayak menilai orang lain jahat hanya karena kamu mengetahui satu peristiwa yang melibatkan dirinya terkait suatu kejahatan saja.

Baca juga: Kenapa Orang Suka Menyukai Informasi yang Sesuai Pendapatnya Saja – Penjelasan Bias Konfirmasi dalam Psikologi

Atau juga memandang diri underestimate hanya karena mengalami satu kegagalan atau di hari yang penuh berkah mengalami satu yang negbikin badmood, lalu dikatakan mengalami hari yang buruk. Pernah ga sih? Berarti kamu bisa jadi terkena fenomena bias negativitas. Baca saja untuk alasannya di fenomena bias negativitas dalam psikologi ya.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Alasan Kenapa Orang Cenderung Memperhatikan Informasi Negatif – Fenomena Bias Negativitas dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Alasan Kenapa Orang Cenderung Memperhatikan Informasi Negatif – Fenomena Bias Negativitas dalam Psikologi

Negatif Mulu Sih

fenomena bias negativitas dalam psikologi, negativity bias dalam psikologi, bias negativitas itu apa, kenapa orang memandang negatif terus.
Bumi Psikologi – Kamu yang Nentuin Mau Positif atau Negatif. Sumber: Pixabay.com

Hujan sehari dapat menghapus kemarau dalam setahun~

Peribahasa di atas bermakna seribu kebaikan akan mudah terhapus oleh satu keburukan atau kesalahan. Ini berarti persepsi orang terhadap apa yang sudah kamu lakukan dalam ranah kebaikan, jika kamu memiliki masalah atau berbuat salah mereka akan fokus pada kesalahan kamu. Pernah ngalamin ga? Mantapps!!

Mengenai pandangan negatif, atau manusia lebih cenderung memperhatikan informasi negatif memang benar adanya. Katanya sih sudah diwariskan dari jaman dahulu kala. Sistem ini telah terbentuk karena tuntutan lingkungan yang dipenuhi oleh para predator, kalau dulu sih hewan mungkin sekarang hewan menyamar jadi manusia. Ada yang berdasi ada juga yang tidak, hiyahiya. Padahal zaman sudah berubah penduduknya yang mulai didominasi oleh manusia, tapi kan memang ada manusia yang ingin jadi hewan, pengen menang sendiri main sikat saja. Bahkan mungkin ramai-ramai dilakukan.

Bahkan Bapak Freud juga memang berteori si manusia itu motivasi dasarnya memang cuman dua saja katanya, agresi dan seksual. Fokus yang pertama saja, yang kedua biar orang yang bahas. Agresi berarti kekerasan, yang artinya bagaimana untuk mempertahankan hidupnya dengan jalan merusak atau memang ya dengan memandang dunia ini penuh kenegatifan. Jadi jangan gampang kagetan jika kamu lihat manusa-manusa yang serakah dan memandang orang negatif, karena nuraninya ga dipake. Gitu loh bukan kata saya.

Baca juga: Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Sebagai makhluk yang diistimewakan, manusia diberikan nalar dan nurani untuk mengolah beragam informasi. Baik informasi yang didatangkan dari telinga, mata, hidung dan lainnya bisa diolah menjadi sesuatu hal yang berguna. Dengan menggunakan informasi mana dalam otaknya, itulah yang akan membentuk cara pandangnya terhadap dunia, manusia dan hal-hal lain di sekitarnya. Ketika lebih banyak menggunakan informasi negatif, biasanya akan dipenuhi dengan kecurigaan, kekhawatiran dan merasa terancam baik dalam hegemoni suatu perkara atau eksistensinya.

So, secara garis kecil bias negativitas atau negativity bias merupakan kecenderungan untuk lebih memperhatikan dan belajar dari informasi negatif daripada informasi positif. Misalkan gini orang akan cenderung lebih beraksi berlebihan atau merespon dengan emosional ketika mengalami atau melihat peristiwa negatif ketimbang positif. Misalnya kamu diberi tahu akan bertemu dengan seorang utusan luar negeri yang memiliki kecerdasan luar biasa, pernah mendapatkan penghargaan, namun diberi tahu pernah membunuh seseorang. Informasi pernah membunuh seseorang cenderung akan mendominasi pikiran kamu. Secara otomatis mungkin kamu akan memperhatikan gerak-geriknya, dan sesekali waspada terhadapnya. Dan mungkin kamu akan lebih mencurigainya meskipun Ia berbuat baik kepadamu.

Seperti yang sudah saya katakan, manusia lebih suka mengingat dan memikirkan pandangan negatif terhadap dirinya ketimbang sanjungan, menanggapi secara emosional terhadap stimulus negatif, lebih banyak fokus untuk memperhatikan informasi negatif pada orang lain ketimbang positif.

Baca juga: Menilai Orang atau Kelompok Lain dengan Emosional – Prasangka dalam Psikologi

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin contohnya ketika kamu sekolah dengan rajin dan sungguh-sungguh. Namun ketika pembagian raport dan ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, biasanya orang lain, bahkan diri sendiri, cenderung berfokus pada hasil yang tidak sesuai harapan itu. Alih-alih menghargai usahanya, sekolah rajin dan sungguh-sungguh, tetapi terfokus hanya pada satu kejadian saja yang memang dianggap buruk.

fenomena bias negativitas dalam psikologi, negativity bias dalam psikologi, bias negativitas itu apa, kenapa orang memandang negatif terus.
Bumi Psikologi – Mindfulness dan meditasi siapa tahu dapet chakra. Sumber: Pixabay.com

Bahkan juga misalnya ketika hari minggu sejak pagi hari kamu bisa bernafas dan beraktivitas dengan orang lain, namun ketika siang hari kamu mendapat satu kejadian buruk, diabaikeun doi misalnya atau tulisan ditolak tim redaksi, manusia dengan bias negativitas akan cenderung melihat harinya sebagai hari yang buruk. Padahal rentetan sebelum dan sesudah mendapatkan kejadian negatif merupakan kebaikan serta hal yang positif, akan tetapi dilupakan begitu saja. Kasihan dia (hal positif) loh diabaikan, kamu rasanya diabaikan gimana? Padahal rahman dan rahim sang Maha Pencipta juga melebihi dari murkanya.

Solusinya bagaimana diri kamu sendiri mengarahkan pikiran itu, apakah diarahkan pada suatu hal negatif atau positif. Padahal manusia itu merdeka bisa menentukan dan mengarahkan pikirannya atau fokusnya kepada hal yang positif atau negatif. Misalnya sampai baper menahun karena membuat satu kesalahan saja, yang padahal sebelumnya banyak sekali mungkin hal yang bernilai positif dilakukan. Inilah kenapa perlunya mengendalikan diri untuk berfokus pada suatu hal negatif atau positif.

Baca juga: Menilai Suatu Hal dengan Pandangan Umum Namun Ternyata Keliru – Penjelasan Stereotip dalam Psikologi

Bias negativitas tidak hanya tentang orang lain saja, tapi juga memandang terhadap diri sendiri. Memandang underestimate terhadap diri sendiri hanya karena satu kegagalan dari beragam keberhasilan yang dilakukan merupakan tanda tidak menyadari dan mengenali diri sendiri. Bahkan, lebih parah lagi, dengan memiliki bias negatif yang tinggi akan cenderung mudah terkena gangguan depresi dan anxiety atau kecemasan loh (Riskind, 1997). Jadi jangan menyalahkan orang lain, tetapi lihat bagaimana diri sendiri memiliki pandangan terhadap suatu hal atau perkara.

Cara mengatasinya bisa melakukan mindfulness atau merenung dan bermeditasi, self-awareness dan berbicara kepada diri sendiri untuk menchallange hal negatif tersebut, mulai dengan memiliki cara pandang yang berbeda dan lebih positif.

Kalau keterusan memiliki bias negaitf, kamu akan kayak orang-orang yang memandang dunia ini sedang berkonspirasi menghancurkan umatnya. Atau kayak orang yang mengharamkan lagu balonku karena terkait kristenisasi, kebanyakan halu dan memandang suatu negatif sih hehe.

Atau seperti premis, karena dia berbuat kesalahan berarti ideologi dirinya, kelompoknya, orang-orangnya itu sesat dan harus dilarang. hehe.

Bacaan lanjutan: Negativity Bias, TED Negavitiy Bias

Penutup

Oke, untuk artikel mengenai fenomena bias negativitas dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Positif dong jangan negatif mulu. Semoga apa yang kamu dapatkan di sini bisa bermanfaat dan mengambil pelajarannya. Yuk bagikan juga artikel ini ke orang lain supaya mereka juga tahu apa yang kamu dapatkan di sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: fenomena bias negativitas dalam psikologi, negativity bias dalam psikologi, bias negativitas itu apa, kenapa orang memandang negatif terus.