Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena burnout dalam psikologi. Pernah denger apa itu burnout? Mereka yang kelelahan secara fisik, emosi dan psikis akibat stres yang berkepanjangan, atau juga karena rasa bosan terhadap pekerjaannya. Contohnya nih kamu kuliah terus sehari dikasih 8 tugas yang harus dikerjakan dalam dua hari, gimana rasanya? Ya ga ngerasa apa-apa, buat apa ngorbanin diri ye kan?~

Baca juga: Sedikit Nasihat Bagi Influencer yang Agak Keblinger dan Terbitlah Cancel Culture – Penjelasan Cancel Culture dalam Psikologi

Tapi memang benar, burnout lebih kepada orang yang bekerja berlebihan dan, mengakibatkan dirinya dikorbankan. Bahkan di Jepang sendiri ada yang namanya karoshi atau kematian yang disebabkan kelelahan dalam bekerja. Baca saja yuk fenomena burnout dalam psikologi nya.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Kelelahan Bekerja, Pilih Karoshi atau Deadwood? – Fenomena Burnout dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Kelelahan Bekerja, Pilih Karoshi atau Deadwood? – Fenomena Burnout dalam Psikologi

Fenomena Burnout

fenomena burnout dalam psikologi, apa itu burnout, contoh burnout dalam psikologi, mengatasi burnout dalam psikologi
Bumi Psikologi – Stres berkepanjangan mungkin akan terjadinya burnout. Sumber: Pixabay.com

Di Jepang terkenal dengan etos kerja yang sangat tinggi, bahkan mungkin desas-desus etos kerja mereka sudah sampai ke orang desa. Memang sih merujuk kepada pemberitaan pelbagai media Indonesia, karyawan di Jepang dikarakterkan orang yang bekerja keras, berdedikasi tinggi dan gila kerja. Daripada kudu membuktikan dengan langsung pergi ke sana mendingan percaya aja kan, apalagi bagi deadwood percaya aja deh.

Fenomena gila kerja di Jepang menjadi tamparan keras bagi kaum deadwood. Pasalnya mereka memiliki sikap yang welas asih dan peduli kepada orang lain. Memberikan kesempatan kerja bagi orang lain dan menyimpan energinya untuk aktivitas lainnya dong. Mungkin juga selain menjadi tamparan keras, deadwood belajar dari karoshi karena buat apa mati ketika bekerja kalau bisa sambil rebahan yang ujungnya bakal rebahan juga hehe.

Terma deadwood dan karoshi memang lazim digunakan menggambarkan keadaan orang ketika dalam lingkup pekerjaan. Misalnya karoshi yaitu orang yang meninggal karena kelebihan jam kerja atau bekerja terlalu keras dengan penuh tekanan dan berujung kematian. Sementara deadwood merupakan orang yang hanya sebagai parasit di lingkungan kerja, mereka tidak termotivasi untuk bekerja. Bahkan dalam kamus cambridge diartikan secara ekstrim bagi deadwood, yaitu orang yang sama sekali tidak berguna.

Kedua fenomena itu tentu beralasan terjadi, tak mungkin kan deadwood itu rebahan dari pagi hari dengan colokan terpatenkan, charger hp, snack dan kipas angin karakteristiknya. Lagian siapa juga yang mau jadi orang begituan, ye kan?

Baca juga: Siang Anxiety, Kalau Malam Overthinking – Dampak Bermedia Sosial Secara Psikis

Menjadi karoshi, atau mungkin menjadi deadwood bisa dijelaskan salah satunya dengan burnout. Sulitnya, burnout diartikan sebagai keadaan individu yang sangat kelelahan atau merasa tidak bisa lagi mengerjakan apapun dikarenakan bekerja terlalu keras. Bekerja terlalu keras baik karena jam kerja yang berlebihan, tuntutan kerja tidak sesuai kemampuan diri, atau bekerja yang tidak sesuai kehendak diri. Ketika orang mengalami burnout, mereka akan merasakan kehilangan sangat banyak energi atau sangat kelelahan, kehilangan gairah kerja bahkan berpikiran negatif atau ekstrimnya hingga kematian.

Bagi seorang karoshi mungkin burnout merupakan sebuah tahapan awal menuju kepadanya karena karoshi itu ya kematian karena kerja berlebihan. Seseorang yang mengalami burnout itu merespon kepada otaknya karena tekanan (stres) kerja yang begitu besar dan konsisten. Keadaan orang ketika stres melanda, otaknya akan mengintruksikan untuk memproduksi hormon cortisol, norepineprin yang bertugas sebagai ekhibitor. Contohnya meningkatkan detak jantung, cepat lelah dsb. Inilah kenapa karoshi ada yang ditemukan karena gagal jantung. Bisa dikatakan dampak akhir dari burnout yaitu karoshi, tapi ada juga mungkin yang jadi deadwood. Mereka yang menjadi deadwood berarti mereka yang menyerah atau kapok karena terlalu keras bekerja dan kelelahan secara fisik, emosi dan mental.

Baca juga: Stres dan Depresi Sama Tidak Sih? – Simak Perbedaan Stres dan Depresi dalam Psikologi Kesehatan

Deadwood sebenarnya sadar diri dan mampu mengenali diri sendiri. Tidak ada yang mengenal diri lebih baik sebaik deadwood, hasrat ingin rebahan dan lenyeh-lenyeh dimana-mana membuat mereka welas asih kepada orang lain. Mereka di tempat kerja mempersilahkan orang lain mengambil jatah kerjaannya karena percaya, bukan menyuruh karoshi tapi ya, bukan!! Jangan salah paham!! “Daripada saya karoshi, mending buat orang lain saja yang ingin bekerja keras, dan saya bisa menyalurkan passion sendiri, karenakan bekerja harus sesuai passion kan.

Burnout juga bisa diartikan sebagai rasa bosan terhadap kerja tersebut, jadi dua kutub ekstrim yang berlebihan. Jadi selain menyerahkan karena ga ingin bekerja, deadwood menyerahkannya bagi orang lain biar lebih kompeten dan menaikan levelnya. Baik sekali bukan?

Gimana masok atau ramasook?

fenomena burnout dalam psikologi, apa itu burnout, contoh burnout dalam psikologi, mengatasi burnout dalam psikologi
Bumi Psikologi – Perbanyak hiburan. Sumber: Pixabay.com

Burnout tidak hanya terjadi di lingkungan kerja karyawan saja, tetapi bisa juga terjadi pada para dokter, polisi, keluarga, pelajar, dosen dan dimanapun. Karena burnout didasari oleh stres yang berkepanjangan, jadi setiap lingkungan memiliki kerentanan yang sama tergantung individu mengatasi hal itu.

Ciri dari orang yang merasa burnout itu hampir sama dengan bias negativity atau orang yang fokus pada hal negatif saja. Tanda orang yang akan mengalami burnout mungkin seperti: merasa setiap hari adalah bad day, kelelahan sepanjang waktu, merasa tidak melakukan perubahan atau merasa seperti tidak dihargai, merasa melakukan kerjaan yang sangat menjemukan setiap hari, helpless dan hopeless, sakit kepala atau otot karena kelelahan dan negatif lainnya.

Akibat dari ini semua akan cenderung membuat orang menjadi depresi, bahkan mungkin kematian ekstrimnya. Orang yang mengalami burnout lebih sering diakibatkan oleh kurangnya sosialisasi atau kurang piknik, tidak punya temen atau doi, gadang teros, pesimis, berada di lingkungan kerja yang penuh tekanan atau kompetitif, monoton dsb.

Baca juga: Mengenal Dissociative Disorder; Kepribadian Ganda, Depersonalisasi, dan Amnesia Dissosiative – Serial Mengenal Stress

Untuk mengatasi hal ini kamu bisa berteman dengan orang yang bukan deadwood salah satunya karena mereka akan menambah motivasi kamu terus turun untuk bekerja. Perjauh dan perbanyak piknik di sela liburan, karena biasanya orang yang kurang piknik atau kurang jauh cenderung tidak santuy. Tidur jangan gadang teros.

Perbanyak humor, bukan malah humoris diserang atau dipenjarakan, padahal orang macam sunda empire itu merupakan komedian yang tidak bisa kamu dapatkan di Timur Tengah loh!! Indonesia itu negaranya orang yang lucu-lucu kayak orang DPR yang tiba-tiba nabrak tiang, atau dipenjara malah beli nasi padang, mana ada orang yang burnout ye kan?

Bacaan Lanjutan: Psychology Today, Help Guide, Psychological Science

Penutup

Oke untuk artikel fenomena burnout dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Santuy aja sih hidup mah, gitu aja kok repot hehe. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: fenomena burnout dalam psikologi, apa itu burnout, contoh burnout dalam psikologi, mengatasi burnout dalam psikologi