Medsos Menjadi Jalan Ninjaku, Komentar Merupakan Kunai Celetak Celetukku – Fenomena Digital Literacy dalam Psikologi

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena digital literacy dalam psikologi atau skill literasi digital. Sebenernya saya juga kurang yakin kesesuaian judul dengan isinya, tapi tidak apalah yang penting nyambung dikit. Fenomena digital literacy yang kurang sangat tercermin di negeri antah berantah ini atau wkwkland. Kamu mungkin sudah akrab dengan ganasnya mereka yang hidup di medsos, yang kita kenal saat ini dengan sebutan netizen.

(Katanya) Mereka pandai menghakimi, tidak sopan terhadap konten orang lain bahkan menyebarkan informasi yang keliru acap kali berseliweran. Katanya sih ini kurang dalam kemampuan literasi digital, yang salah satu indikatornya mampu menghadirkan hati dan jiwa ketika bermedsos. Lalu, bagaimana dengan kamu? Mungkin bisa baca ya fenomena digital literacy dalam psikologinya.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Medsos Menjadi Jalan Ninjaku, Komentar Merupakan Kunai Celetak Celetukku – Fenomena Digital Literacy dalam Psikologi sampai tuntas ya.

Medsos Menjadi Jalan Ninjaku, Komentar Merupakan Kunai Celetak Celetukku – Fenomena Digital Literacy dalam Psikologi

Tombol Komen Sangat Mengoda Jari untuk Beraksi~

Ditinggal beberapa waktu, saya kira kondisi media sosial bakal jadi adem ayem, ternyata masih tetap sama seperti beberapa waktu yang lalu, mantaps. Bahkan ketika membaca laporan terkait warga Indonesia, khususnya yang berkamuflase sebagai netizen, mendapatkan penghargaan berupa warga paling tidak ramah. Loh loh, padahal kan katanya terkenal sebagai good child sama negara lain, tapi ini kok bisa? ~ Ya nggak tahu, kok tanya saya.

Sebagai seseorang yang menyukai selancar dalam ombak internet, saya suka sekali memperhatikan tindak tanduk saudara sesama netizen. Perilaku yang lucu, unik, sampai menggelitik otak untuk ikutan dalam riuhnya obrolan netizen datang tanpa terduga. Ya wajar saja sih karena internet merupakan tempat berkamuflase yang baik dan pas. Orang bisa saja menggandakan akun internet, terutama media sosial, untuk beragam kepentingan, ada yang buat pake stalking doi, stalking musuh, atau juga buat bikin onar.

Kata Kunci:  fenomena digital literacy dalam psikologi. Kemampuan literasi digital dalam psikologi. Apa itu literasi digital? Contoh fenomena literasi digital.
Bumi Psikologi – Fenomena Digital Literacy dalam Psikologi. Sumber: Unsplash.com

Sebenernya ga ada masalah dengan apa yang kamu lakukan di media sosial, cuman karena ya itu sebuah perkumpulan, mbok perlu dijaga juga tata kramanya. Ibaratnya kayak lagi di pasar, kamu liat ada orang-orang lagi ngomongin sesuatu, tiba-tiba kamu nyeletuk, ngapain dah gitu aja pada ribut, ga jelas atau mbok hidup itu bersyukur, gitu aja jadi masalah. Sudah tahukan reaksi orang-orang itu bagaimana? Bener banget, mereka bakal menyukaimu. Bahasa sundanya Pikareuseupeun BATU. Ya, tiba-tiba nimbrung di sebuah obrolan terus pake penuturan kata yang cukup sama ketika makan seblak level 100, siapa yang ga akan naik pitam.

Fenomena ini acapkali ditemukan ketika suatu postingan atau feed yang memang tidak disukai, setidaknya untuk dirinya. Misalnya ada salah satu tokoh yang berbuat suatu blunder berprilaku tidak sesuai tatakrama, sehingga netizen dengan mudah mencetak goal ke komenan akunnya. Padahal yang lebih tidak ada tatakrama juga yang komen tiba-tiba, buli sana sini, jari yang ringan komen negatif, sampai ke menghakimi orang lain.

Baca juga: Terkhusus Bagi Kamu yang Suka Marah–Marah dan Mudah Tersinggung – Fenomena Humility dalam Psikologi

Ada kali contohnya ketika publik figure kedapatan jadi pelakor, netizen Indonesia merasa perlu dan wajib buat singgah di akunnya buat sekadar komen negatif. Komentar yang membabi ga buta muncul tiap detik, bahkan ada yang niat sampai setiap postingan feed nya disinggahi, mbok ya buat apa.

Mbok coba kita pikir tiba-tiba orang sedang jalan yang kamu tau dia itu pernah mislanya cheating in relationship, apa kamu langsung hardik dia saat itu juga? Atau bahkan ngebacot ngatain bahwa “Dasar orang ga jelas lu . . .” kan konsepnya ga gitu juga kan? Di medsos juga sama saja, ya yang beda cuman media doang langsung dan ga langsung, tapi langsung juga sih ke orangnya tapi lewat medium internet. Sudah lah takutnya nanti jadi gosip xixixi Ngakak AbiezZZ.

Selain celetak-celetuk sana-sini di berbagai forum medsos, perilaku lain yang menggelitik yaitu ketika memilah sebuah informasi yang beredar. Di internet banyak sekali informasi yang beredar, namun karena kepentingan media untuk membuat judul yang memikat pembaca dan karakteristik pembaca yang kadung kepincut informasi tersebut, tanpa basa-basi langsung kamu sebarin tuh di grup whatsapp keluarga. Ya langsung dicoret dari kartu keluarga lah, mamam~

Pemilahan informasi yang beredar di internet perlu banget memiliki filter yang baik dari dalam diri. Filter yang saya maksud lebih ke gimana ngendaliin diri supaya nahan jari buat tidak ngeshare sembarangan atau menebar ujaran kebencian di postingan orang-orang. Kemampuan kognitif dan kematangan sosial-emosi yang baik akan mengantarkan kita jadi warga bumi manusia yang bisa ramah dalam bersosialisasi, tidak mudah termakan berita hoax, terhindar dari bias-biar berpikir yang mengundang palu godam menghajar orangsecara online sih, atau gelut online.

Baca juga: Sebuah Tulisan yang Didedikasikan untuk Mas Denny Siregar – Fenomena Bias Berpikir dalam Psikologi

Fenomena di atas mengingatkan saya pada pentingnya kemampuan literasi digital di setiap kalangan. Ada juga dalam peneitian masa remaja akhir sampai dewasa merupakan orang  yang paling rentan terkena dampak negatif dari rendahnya literasi digital. Iya juga sih masa anak-anak udah ngerti komen feednya Jerinx atau Rafathar komen tiba-tiba. Tapi eh apa Rafathar pernah insecure atau inferior juga ga tau deng, jadi kepikiran dahlah.

Kalo kata Om Eshet tahun 2004 lalu kemampuan literasi digital bukan hanya perkara kamu bisa gunain komputer, scroling medsos lewat hape saja, tapi juga tingkat kemampuan kognitif individu berjalan kelindan dengan kemajuan teknologi digital tersebut. Implikasinya ya bisa berperilaku secara tepat, etis, punya etika dan etiket, sampai bahkan mempengaruhi positif terhadap jejak langkah manusia. Om Eshet-Alkalai juga negesin bahwa setidaknya salah satu indikator orang punya literasi digital dengan punya socio-emotional literasi. Artinya gimana aspek sosial dan emosi seseorang hadir ketika online di internet, baik ketika bersosialisasi, kolaborasi atau mengonsumsi suatu konten. Jelasnya mbok ya pake itu nurani dan otaknya loh pake kalo lagi scrolling atau stalking doi.

Mudahnya sih kayak, ketika kamu melihat kajian di medsos yang ga kamu sukai atau beda jalan ninja, kamu tanpa hujan angin bahkan geledek tiba-tiba komen “dasar anda bid’ah, hilih”. Mungkin bagi kamu tujuannya komen itu buat menyadarkan orang lain dengan apa yang kamu pahami atau yakini, tapi bagi orang lain mungkin akan menganggap lain. Misalnya ada orang yang memang terkena depresi atau mayor depressive disorder kamu katain, “Lu hidup kurang bersyukur sih ege, gitu aja lebay banget dah”. Ya bagus sih, kalo kamu nasehatin buat titan tapi biar langsung mereka makan kamu. Tolong lah apa hak kamu ngatain orang lain, orang tua nya juga ga gitu amat. Kalo ga bisa kasih dukungan, diem aja.

Baca juga: Manusia Itu Tajam Mengamati Orang Lain Tapi Tumpul Pada Diri – Fenomena Bias Actor observer

Selain berperilaku, pengajaran literasi terhadap informasi di media sosial tidak kalah penting untuk diajarkan. Perilaku yang baik dan tatakrama di media sosial perlu banget jadi bahan ajar khususnya masuk dalam kurikulum pengajaran dan pendidikan. Pendidikan kan seyogyanya buat kehidupan di samping penghidupan ye kan? Pelajaran-pelajaran kuno yang terlalu banyak dan mirip bisa meleburkan diri menjadi satu. Sisanya bisa untuk pembelajaran literasi digital, kematangan emosi dan lainnya sih. Akan lebih baik manusia mendapatkannya sejak dini, biar nanti dewasa tidak grasak grusuk jadi haters hehe.

Singkatnya, skill di abad digital harus bisa berbarengan dengan tingkat kemampuan kognitif yang baik di setiap masyarakat. Kemampuan memilah informasi yang valid, terpercaya, riset dari berbagai sumber, mengedepankan budaya crosscheck dsb sangat penting untuk kita tanamkan. Internet bukan sumber kebenaran, tapi bukan berarti ga ada yang bener di internet. Menyaring daripada menjaring informasi darinya akan lebih baik. Selain mengajarkan kemampuan memilah informasi, mengajarkan skill mampu menghadirkan hati, nurani dan pikiran ketika berinternet tidak kalah penting di era ini.

Bacaan lanjutan: Digital Literacy (Psychcology Fandom); Validitas Alat Ukur Digital Literacy [Klik Sini]; Psychological Aspect Literacy [Sini juga]

Penutup

Oke untuk artikel fenomena digital literacy dalam psikologi kali ini cukup sampai di sini saja. Artikel ini memang hanya untuk ngebacot doang sih, jadi ya monmaap kalo misalkan ada yang merasa tersinggung hehe. Semoga aja bisa bermanfaat untuk kehidupan bumi manusia ini.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa kamu kirimkan ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.

Kata Kunci: fenomena digital literacy dalam psikologi. Kemampuan literasi digital dalam psikologi. Apa itu literasi digital? Contoh fenomena literasi digital.

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com