Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena gemes dalam psikologi agresi. Pernah ga sih kamu lihat perempuan berperilaku gemas terhadap suatu objek, mungkin salah satunya korbannya kamu? “mohon maaf nih akhi ana mah tidak gitu sama ukhti” Oke skip aja buat akhi mah ya. Jika kamu amati, perilaku gemas atau greget terhadap suatu hal, itu bukan tanpa alasan loh. Atau juga bukan tidak bisa dijelasin, tetapi ada penjelasannya.

Baca juga: Terapi Gestalt untuk Membangun Kesadaran Lingkungan Hidup Masa Kini – Pandangan Psikologi Terhadap Alam

Fenomena “gemes atau menggemaskan” ini umumnya memang terjadi pada perempuan, dan korbannya ya objek atau orang di sekitarnya, ga mungkin pergi sejauh 1 km hanya untuk melampiaskan kegemasannya kan. Yaudah deh baca aja langsung fenomena menggemaskan dijelasin dalam psikologi agresi kuy.

Langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Duh Gemes Banget Jadi Pengen Mukul – Fenomena Menggemaskan dalam Psikologi Agresi sampai tuntas.

Duh Gemes Banget Jadi Pengen Mukul – Fenomena Menggemaskan dalam Psikologi Agresi

Antara Pengalaman atau Penderitaan

fenomena gemes dalam psikologi agresi, perilaku gemes dalam psikologi, cute agression dalam psikologi
Bumi Psikologi – Ini salah satu yang membuatnya gemes Sumber: Pexels.com

Saya selalu percaya bahwa perempuan merupakan keajaiban dunia kedelapan. Makhluk yang konon katanya lembut ini, bisa sangat ekstrem kalo tertawa. Saya selalu menjadi korban beringasnya tawa perempuan. Pertama, saya meleleh kewalahan menghadapi senyum manis yang terukir di wajahnya. Kedua, bercanda dekat perempuan itu gaenak, kamu gaakan kuat, bisa-bisa badanmu pada kesakitan. Kenapa sih perempuan kalo ketawa suka banget mukul atau nyubit?!! Sakit tauk!

Sahabat saya lebih aneh lagi, saat melihat foto idola idamannya, spontan berteriak “pengen takk hihhhh itu hyung” *sambil menggertakan giginya. Lain lagi teman saya, rambutnya rontok dijambak pacarnya. Lebih kasihan, dia pernah dicekek setelah pacarnya kesenengan diberikan suprise di hari ulang tahunnya. Kerad dan rokes sekali ya ternyata perempuan :(.

Memukul orang saat tertawa, mengigit bayi hingga pipinya memerah, meremas boneka kesayangan, sampai meng uwel-uwel hewan peliharaan adalah perilaku kasar terhadap sesuatu hal yang dianggap sangat lucu. Perilaku-perilaku berandalan tersebut seringkali disederhanakan dengan istilah “terlalu gemas”. Suatu objek yang sangat menggemaskan memang bisa memunculkan perilaku beringas, walaupun sebenarnya tak ada niatan untuk melukainya.

Baca juga: Menumbuhkan Rasa Toleransi yang Dimulai dari Diri dan Kognisi di Tahun Politik – Toleransi Politik dalam Psikologi

Secara psikologi, fenomena ini dinamakan cute aggression. Istilah ini mengacu pada perilaku orang yang agresif terhadap sesuatu yang imut. Perilaku agresi ini hanya akan muncul jika tingkat kegemasan suatu hal mencapai #!?#$\@?π¶!~, Ya sudah tidak bisa lagi dijelaskan. Semakin cute sesuatu, maka akan semakin berpotensi munculnya perilaku agresi. Bila sekedar imut tapi tidak imut banget, maka perilaku agresi tidak akan muncul.

fenomena gemes dalam psikologi agresi, perilaku gemes dalam psikologi, cute agression dalam psikologi
Bumi Psikologi – Mungkin istilah PMS perempuan menjadi singa dari sini ya. sumber: pexels.com

Nah, stimulus yang menggemaskan ini memiliki template, bahasa populernya baby schema. Semacam template fisik dimana bayi memiliki mata belo seperti ikan, dahi lebar, wajah bulat, dan pipi tembem. Semua yang nampak memiliki template baby schema akan dianggap menggemaskan. Kereta api yang terbuat dari baja, ketika diolah menjadi Thomas and Friend akan menjadi lucu. Mobil balap yang terlihat maskulin, ketika di bentuk jadi Lightning McQueen maka akan jadi gemas. Robot yang terkesan modern, ketika diubah jadi Doraemon maka akan jadi imut syekalii~

Cute aggression ini berlaku lintas kebudayaan, sifatnya memang naluriah manusia. Mbak Aragon, si peneliti cute aggression ini menyurvey beberapa bahasa di dunia untuk mencari padanan kata “kamu cute abis, aku ingin meremasmu”. Secara umum, kalimat yang setara adalah “duh kamu gemes banget, aku ingin mencelakaimu”. Dalam bahasa Tagalog misalnya, digunakan kata “gigil” yang mengacu pada ketukan gigi dan keinginan untuk mencubit atau meremas sesuatu lucu yang tak tertahankan.

Baca juga: Gaya Kelekatan dan Pendidikan Keluarga Demokratis Untuk Penanaman Moral Anak

Lucunya, cute aggression bukan hanya tentang perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama rentan mengalami cute aggression. Fenomena cute aggression ini merupakan contoh dari dimorphous ekspresi emosi.

Dimorphous ekspresi emosi adalah usaha otak untuk membuat tubuh tetap seimbang. Saat seseorang menyaksikan tim sepakbola favoritnya juara dia akan senang bukan kepalang, dan otak akan berkata “udahlah bos senengnya jangan berlebihan”, akhirnya orang tersebut merepson emosi negatif dengan menangis. Atau saat seseorang tersenyum padahal sebenarnya dia sedang bersedih. Si otak sedang bilang ke dia “jangan terlalu sedih, senyumin aja”. Begitu juga ketika kita merasakan sensasi menggemaskan, otak kita menyeimbangkan rasa gemas yang berlebihan agar tubuh kita tidak lumpuh.

fenomena gemes dalam psikologi agresi, perilaku gemes dalam psikologi, cute agression dalam psikologi
Bumi Psikologi – Sumber penjelasannya dalam otak sih Sumber: Pexels.com

Penjelasan rumitnya, cute aggression terkait dengan aktivitas dalam hippocampus yang terletak di lobus temporal medial otak. Respon positif akan muncul ketika melihat sesuatu yang lucu. Dopamin, serotonin, dan oksitosin semuanya dilepaskan selama situasi yang menyenangkan. CTH, ACTH, Cortisol, Adrenaline, dan Noradrenaline semuanya terlibat dalam sisi agresif respons. Saat terkena rangsangan, emosi yang Anda alami mengaktifkan amigdala di otak, akhirnya mengaktifkan hipotalamus yang pada gilirannya akan melepaskan CTH yang bergerak melalui infundibulum untuk mengikat reseptor yang memungkinkan pelepasan ACTH ke dalam aliran darah yang akan berikatan dengan reseptor di kelenjar adrenal yang akan melepaskan kortisol, adrenalin, dan noradrenalin sebagai respons stres. Respon positif ini berpasangan dengan respons stres karena tubuh berusaha untuk mencapai tingkat emosi homeostatis di samping keseimbangan fisiologis lainnya.

Baca juga: Ketika Berusaha Melupakan Kenangan Meski Berusaha Tapi Tidak Lupa Juga – Memori dan Alam Bawah Sadar Manusia

Nah loh bingung kan? Memang ilmu faal kayak gini, adalah mata kuliah psikologi paling bikin saya ngos-ngosan.

Intinya, otak kita ini tidak suka sesuatu yang berlebihan. Pokoknya, segala sesuatu harus seimbang. Itu prinsip homeostatis otak kita.

Perilaku agresif ini tidak bisa dibilang salah atau benar. Karena, memang sudah naluriah manusia untuk melakukan itu. Setidaknya kita mengetahui tentang penjelasan menggigit karena terlalu gemas. Jadi bila ketemu sesuatu yang menggemaskan kita bisa bilang, Wah, kamu memiliki karakteristik baby schema sekali, aku ingin sekali melakukan cute aggression padamu. [Kamu bisa cari bukunya di sini]

Penutup

Gimana? Pasti paham kan sekarang gimana kalau ada orang yang tiba-tiba terlihat memiliki indikasi cute agression, kamu harus lari saja tinggalkan itu wkwk. Kecuali kamu rela jadi korbannya, iya kan akhir? Terima kasih dan jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman kamu yang lain ya, supaya pada tahu dan bermanfaat.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: fenomena gemes dalam psikologi agresi, perilaku gemes dalam psikologi, cute agression dalam psikologi