Halo Effect: Kecendrungan Menilai Seseorang dari Kesan Pertama – Fenomena Halo Effect dalam Psikologi

Wall of Information

3 Apr, 2021

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena halo effect dalam psikologi. Halo effect sebenernya terinspirasi dari fenomena geografis yang terjadi di dunia, yaitu cahaya bulat yang mengitari matahari. Ini menunjukkan ketika seseorang terkena halo effect cenderung akan melihat atau menilai seseorang hanya dari luaran saja dan pertemuan pertama. 

Baca juga: Mengapa Orang Bereaksi Berlebihan Pada Wawancara Siti Fadilah – Penjelasan Perspektif Psikologi 

Kebanyakan kesan pertama akan cenderung baik, maka orang akan menganggap overall kehidupan orang itu baik. Ini kayak emotikon yang ada lingkaran di atas kepala kalau di smartphone masa kini itu. Fenomena halo effect merupakan bias yang mungkin setiap orang pernah mengalaminya, dan bahkan memelihara bias ini. Baca saja yuk fenomena halo effect dalam psikologi ini.

Yuk langsung baca dan bagiin artikel Halo EffectKecendrungan Menilai Seseorang dari Kesan Pertama – Fenomena Halo Effect dalam Psikologi kepada teman kamu yang lainnya juga. 

Halo EffectKecendrungan Menilai Seseorang dari Kesan Pertama – Fenomena Halo Effect dalam Psikologi 

Fenomena Halo Effect 

fenomena halo effect dalam psikologi. Penjelasan halo effect dalam psikologi. Bagaimana mengatasi halo effect. Apa itu halo effect.
Bumi Psikologi – Penjelasan Fenomena Halo Effect dalam Psikologi. Sumber: Unsplash.com

Anda mungkin pernah bertemu dengan kawan baru di sekolah ataupun pada saat masa perkenalan budaya kampus untuk pertama kalinya. Lantas tidak lama kemudian, memberikan penilaian terhadap mereka entah dalam cara ia berpakaian ataupun sikap yang ia tunjukan pada saat pertama kali bertemu.  

Ada yang menunjukan sikap humble-nya saat pertama kali bertemu, bahkan ada yang menunjukan sikap yang begitu dingin saat pertama kali bertemu. Atau pun ketika di jalan anda bertemu pertama kali dengan seseorang yang ketika dia melihat anda. Dia seketika tersenyum dan saat itu pula anda persepsikan. Orang itu adalah orang yang ramah atau murah senyum walaupun baru saat itu bertemu pertama kalinya. Kita sering kali tertelan pada penilaian terhadap seseorang saat pertama kali berjumpa. Kemudian kerap menggeneralisir sifat-sifat seseorang yang baru kita temui walaupun hanya sepintas dari cara ia bersikap ataupun berbicara. 

Kita harus berhati-hati dalam memberikan pandangan, bahkan penilaian kita terhadap sesuatu atau seseorang. Ini karena hal tersebutlah yang akan mempengaruhi kita dalam menggambil suatu keputusan yang kita buat. Sebagaimana dalam sebuah ungkapan pribahasa “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya”. 

Mari Berkenalan dengan Halo Effect 

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh salah satu seorang psikolog terkenal yaitu Edward Thorndike dalam makalahnya pada tahun 1920 yang berjudul The Constant Error in Psychological Ratings. Ia mengungkapkan bahwa Efek Halo adalah suatu bias kognitif dalam melakukan penilaian menyeluruh pada seseorang atau objek atas kriteria pertama yang akan berpengaruh atas kriteria yang lainnya.  

Halo Effect yang di mana persepsi Anda pertama kali saat melihat seseorang yang baru anda temui. Fenomena ini juga mengarahkan persepsi kita pada kualitas tertentu pada penilaian bias dari kualitas lainnya. Halo yang diciptakan oleh persepsi tentang satu karakteristik juga akan menutupi mereka dengan cara yang sama. 

Pada kehidupan sehari-hari seringkali kita temui halo effect ini dalam berbagai dinamika kehidupan manusia. Banyak sekali pernyataan yang mencerminkan fenomena ini, misalnya saja cinta pada pandangan pertama dan masih banyak hal lainnya yang dapat kita temui dalam kehidupan Sosial kita. Halo effect memang sangat erat keterkaitannya dengan asumsi atau bias sosial kita dan berasosiasi dengan apapun yang terlihat dengan mata, tampak luar orang yang bersangkutan.  

Baca juga: Apakah tidak siap menikah sama dengan Gamophobia? Fenomena Gamophobia dalam Psikologi 

Apa yang ia lakukan saat kita melihat mereka, atau appearance nya, yang kemudian mempengaruhi pandangan kita secara keseluruhan terhadap orang itu. Karena tentu saja tidak selalu benar dan akurat, karena asumsi-asumsi yang muncul dalam diri kita terhadap orang yang kita lihat tentunya hanyalah berdasarkan apa yang kita lihat dan tanpa adanya interaksi sosial yang lebih untuk mendapatkan asumsi-asumsi tersebut. Maka dari itu, halo effect dapat memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung dengan bagaimana asumsi “instan” atau “spontan” kita terhadap siapapun. 

Perlu diketahui bahwa bias kognitif adalah wajar terjadinya karena manusia memang terlahir memiliki tendencies atau kecenderungan-kecenderungan akan keyakinan moral atau sosialnya masing-masing. Dan muncul asumsi negatif jika dihadapkan dengan sesuatu yang ‘melanggar’ atau “berbeda” dari keyakinan-keyakinan kita adalah hal wajar. Maka dari itu, belajar menjadi pribadi yang lebih open-minded dengan menghargai sesama karena setiap individu adalah unik dan berbeda, mengetahui bahwa setiap orang juga memiliki nilai-nilai pribadi dan asumsi pribadinya adalah tindak yang paling bijaksana untuk dapat hidup bermasyarakat. 

Bacaan lanjutan: VeryWellMind 

Penutup 

Oke untuk artikel fenomena halo effect dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Semoga kamu segera menyadari ketika terkena bias berpikir ini. Jangan lupa bagiin ke teman kamu juga supaya kami bisa membuka lapangan pekerjaan bagi yang lain. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa mengirimkannya ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.   

Kata kunci: fenomena halo effect dalam psikologi. Penjelasan halo effect dalam psikologi. Bagaimana mengatasi halo effect. Apa itu halo effect. 

Panggil saja Nadip
%d blogger menyukai ini: