Memangnya Kenapa Kalau Asnawi Misuh-Misuh? – Fenomena Hawthorne Effect dalam Psikologi

Arif B Al F

27 Jun, 2022

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena hawthorne effect dalam psikologi.

Baca yuk artikelnya.

Memangnya Kenapa Kalau Asnawi Misuh-Misuh? – Fenomena Hawthorne Effect dalam Psikologi

Buat kamu yang merayakan kemenangan Indonesia atas Nepal dan berhak lolos ke ajang Piala Asia, tetapi kamu sebelumnya misuh-misuh karena bakal ga lolos, semoga harimu senin terus.

Bagi sebagian orang, mungkin sepak bola menjadi salah satu sarana entertainment yang sakral. Apalagi kalau yang bertanding itu tim kesayangan, seperti tim nasional atau klub daerah kebanggaan misalnya. Pertandingan tim kesayangan tersebut tentu sangat lah dinanti-nanti bahkan sebagian orang rela mengorbankan waktu tidurnya demi menonton laga sang terkasih. Apasih yang tidak dilakukan buat kamu. Maksudnya tim sepak bola ya!

Pengorbanan tersebut tentu bukan tanpa syarat. Ketika melihat kekasih tertunduk lesu karena kalah, selalu meningkatkan getaran jantung mu seperti genderang mau perang. Coba, kekasih mana yang tak mau melihat sang terkasihnya menderita? Tentu ingin kebahagiaan terukir di wajahnya, maksudnya menuai kemenangan.

Bagi para pembucin sejati ada slogan yang disepakati seperti, asalakan kamu bahagia aku sudah bahagia kok. Begitu pun mereka yang bucin persepak bolaan ini, ketika membiarkan sang pujangga terkulai dalam kesedihan ini tentu merupakan aib, alias perilaku durjana. Pokoknya kudu menang titik.

Baca juga: Berdamai dengan Pola Pikir Negatif Melalui Konsep Positive Psychology

Kalau tim kesayangannya kalah, pilihannya ada dua yaitu bertranformasi jadi pelatih online tersertifikasi AFC atau membabi buta medsos tim yang ngalahin. Bahkan ada yang ngamuk ke jalan sih nuntut kemenangan hehe. Dalam hal ini kita perlu belajar dari fans MU atau Liverpool yang puasa tapi begitu tabah dalam lara, dan akhirnya bisa juara. Kecuali MU hehe.

Dalam konteks ini, mungkin karena dirundung rasa jemu melihat kekalahan yang terus diderita sang terkasih, ada pebucin bola yang berubah jadi dukun. Tunggu dulu, katanya ada dua? Tenang ini mungkin varians baru yang muncul mirip cicitnya corona, omicorn. Jadi dukun ini, maksudnya bisa meramal bahwa tim kesayangannya itu ga bakal bisa lolos kompetisi yang diikuti atau sekedar ngalahin tim lawan aja ga bakal mungkin. Hebat sekali bukan? Bukan~

Ceritanya gini, ketika sang supporter pendukung tim terkasih meragukan sang pisang tersayang bisa lolos, bahkan sampe ke ngerendahin pemainnya, ada yang tidak terima dengan itu. Terus si pecinta juga tidak terima dengan tidak terimanya sang tidak menerima itu. Bingung kan lu? Sama gua juga. Ya sudah terima saja karena ceritanya begitu.

Si supporter berdalih ketika tim kesayangannya dihujat atau dikritik, harusnya menjadi mawas diri untuk berbenah. Tentu kritikan dari sang maha supporter ini sangat rasional, berdasarkan fakta, mengetahui komposisi pemain bahkan tau suasana ruang gantinya seperti apa. Kamu saja yang tidak mau menerima.

Coba saja dengerin apa masukannya, pasti kamu kaget terheran-heran wahai tim nasional. Kamu ga usah deh tak nerima dengan nulis caption direndahkan bangsanya sendiri, ini kita begini karena mencintai kalian supaya buat lebih baik!!! Jaga deh sikap kalian yah!!!

Begitulah cerita dari negara wakanda dan wkwkland, untuk negara Indonesia warganya tidak seperti itu. Baik dan benar selalu, apalagi pengurus sepak bolanya sangat berjasa sekali dalam memperjuangkan tim nasional kita, makin cinta deh.

Okee kita ke negara sendiri, lalu kenapa memangnya kalau Asnawi misuh-misuh?

Bagi sebagian orang atau bahkan siapa saja, kritikan itu jarang sekali dipersepsikan sebagai suatu hal yang menjadi bahan renungan. Sedikit banyak dipersepsikan sebagai serangan yang merendahkan. Apalagi mereka sudah bekerja keras dan memberikan segala sesuatu dengan penuh cinta.

Teringat dari perkataan pak Dahlan Iskan, ketika beliau menangani Jawa Pos edisi Surabaya Pos dalam perbincangannya bersama Wisnu Nugroho, beliau bilang ketika Persebaya ditekan dalam koran dan dikritik habis-habisan, dengan dalih supaya mereka mikir menjadi lebih baik lagi, yang ada malah sebaliknya. Klub malah melempem dan performa makin tidak karuan. Akhirnya, beliau mendapatkan kesempatan ke Inggris mempelajari teknik jurnalistik sepak bola di klub Chelsea.

Sepulang dari sana beliau mendapatkan cara pandang baru dalam mengomentari klub sepak bola supaya menjadi besar dan naikin performa. Caranya dengan memuji klub tersebut, meninggikan hati para pemain, pelatih dan lainnya. Bahkan istilah green force hasil dari beliau. Hasil dari itu, Persebaya makin melaju pesat. Para pemain bangga dan heran meski hanya duduk doang di bangku cadangan.

Salah satu tokoh juga lebih dulu mengkonstruk hal tersebut, yaitu mas Hawthorne. Dalam penjelasannya Hawthorne Effect. Mudahnya kayak seseorang akan menunjukan kinerja terbaiknya hanya karena diperhatikan dan dibuat merasa penting serta kinerja mereka juga dipengaruhi oleh tekanan sosial dan norma kelompok.

Berdasarkan risetnya, para pekerja yang menerima berbagai keistimewaan khususnya agar peneliti dapat melihat apakah suatu perubahan bakal ningkatin produktivitas atau tidak. Hasilnya setiap perubahan memengaruhi produktivitas karyawan tersebut. Begitu juga dalam konteks pesepakbolaan kita. Sudah saatnya supporter menjadi dewasa. Kalah dikit langsung seruduk sana sini. Bucin sih boleh, tapi harus bucin seperti Majnun. Tulus dan merugikan sang terkasih.

So, setiap orang tentu ingin dibuat merasa penting dan berharga. Mana ada orang yang mau menerima hujatan atau kritikan. Meski dalam beberapa gurauan kritik itu membangun. Memang membangun, tapi harus tau batasannya. Tapi kalau kritik sama tuan-tuan yang ingin dihormati dengan membuat sebwah peraturan sih itu hal yang wajib, tapi kamu siap-siap aja merantau ke jeruji besi xixixi.

Bacaan selanjutnya: Hawthorne Effect

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com