Terkhusus Bagi Kamu yang Suka Marah–Marah dan Mudah Tersinggung – Fenomena Humility dalam Psikologi

Petuahli

6 Feb, 2021

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena humility dalam psikologi. Memiliki sikap humility sepertinya bukan perkara yang mudah. Apalagi memiliki muatan kepentingan sebagai seorang orator atau penghasut. Kalau kamu punya kerjaan mengagitasi masa, untuk dapet punya humility harus sembunyi tangan dulu sepertinya. 

Tapi ya tidak menutup kemungkinan, setiap orang punya potensi untuk berbuat baik dan jahat. Baik dan jahat dalam pandangan norma masing-masing juga tentunya, atau norma universal juga bisa. Ya intinya baca saja fenomena humility dalam psikologi. 

Skuy langsung gas ke artikel terkhusus bagi kamu yang suka marah-marah dan mudah tersinggung – fenomena humility dalam psikologi di bawah ini. 

Terkhusus Bagi Kamu yang Suka Marah–Marah dan Mudah Tersinggung – Fenomena Humility dalam Psikologi 

Sebuah Pengantar 

Fenomena Humility dalam psikologi. Contoh humility dalam psikoogi. Penjelasan humility dalam psikologi. Apa itu humility.
Bumi Psikologi – Nah begitu saling dengerin Sumber: Unsplash.com

Kalau kamu orang sunda, mungkin kamu tahu baru-baru ini beredar sebuah video menggelitik di abad milenium 21. Abad di mana informasi mudah tersebar di media sosial, interaksi antar klan dan suku tanpa kenalan sama batas waktu dan jarak dulu, namun masih ada saja manusia yang kekurangan informasi. Bukan hanya kekurangan informasi, tapi merasa kesimpulan dari pengetahuannya dianggap benar. 

Dengan menggunakan pengetahuannya yang dengan penuh stereotip tersebut si Mas Pekerja Keras itu menjustifikasi sebuah klan. Meskipun itu kalau misalnya benar, tapi tidak usah diungkapkan juga. Sama seperti kamu sudah tahu bahwa kalau mengalirkan bensin ke api, api bakal semakin membesar tapi kamu tetap mencoba hal itu. 

Baca juga: Mengharapkan Kebahagiaan tapi Semu, Selebihnya Hanya Halu – Fenomena Hedonic Treadmill dalam Psikologi

Video yang saya maksud adalah orang dari klan x membandingkan dengan klan sunda, lebih ke merendahkan sih. Ya saya sih tidak ada masalah dengan itu, malah bersyukur karena bisa jadi konten artikel ini. Bahkan juga saya malah memuat artikel tentang orang yang tersinggung dengan mas pekerja keras di video itu. 

Sebagai manusia, tersinggung memang hal yang wajar, namun tidak perlu marah-marah. Santuy saja kalaupun itu salah, kamu ya ga usah bela diri. Biarin saja. Yang perlu direparasi yaitu pandangan kognisi kamu. Misalnya ketika ada orang yang semacam itu lagi, selaw saja. Kamu anggap mereka orang yang kekurangan informasi. Karena kalau kamu mengananggapi statements setiap orang itu dengan marah, artinya kamu membenarkan hal tersebut.

Jika seperti itu artinya kamu marah terhadap diri sendiri. Yang ternyata apa yang orang katakan itu ada pada diri kamu sendiri. Dengan mengurangi rasa malu atau mengelak atas kebenaran pernyataan orang, kamu kurangi dengan kemarahan diri. 

Sejatinya sih seperti itu dan secara idealis kamu harusnya mampu meredam amarah diri. Jangan marah-marah mulu cepet tua tahu. Kalau kamu mau kayak squidward yang marah-marah mulu ya silahkan. 

Humility 

Ketika kamu merasa tersinggung dengan kritikan atau bahkan hinaan orang, sebagai manusia kebanyakan akan marah kalau disinggung. Jadi di sini kamu akan diajak melebihi menjadi seorang manusia biasa, bakalan menjadi biasa di luar. Karenanya, ketika kamu berhadapan dengan seseorang yang mengkritikmu atau dalam situasi membagongkan, humility menjadi solusi bagi diri. 

Davis pernah ngopi bareng temennya bicarain humility, yang katanya, humility itu kayak kemampuan interpersonal dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Ketika ada situasi penuh tekanan, termasuk adanya konflik perbedaan dengan orang lain, orang berhumility akan lebih banyak respek dan simpatinya. Artinya bertindak tidak gegabah dan tidak mengikuti nafsu destruktifnya. 

Begitu juga Krumrei-Mancuso tahun 2016 dulu bercerita orang ber-humility berarti, manusia tahu akan kekurangan dirinya sendiri, terutama menyangkut pandangan diri terhadap suatu hal. Tidak stuck sampe sadar doang, doi bilang orang tersebut kudu punya keterbukaan terhadap perubahan meninjau pandangan diri yang keliru tersebut. Tentu juga sambil ngehargai orang yang ngasih perspektif lain terhadap suatu pandangan itu. 

Baca juga: Dongeng Singkat tentang Fenomena Anxiety Self-Fulfilling Prophecy dan Kekuatan Energi Vibrasi (Hukum Tarik Menarik) 

Contohnya gini deh. Kamu sebagai orang Sunda menganggap diri kamu sebagai seorang yang santun, kalem, baguer jeung henteu badeur. Tapi itu hanya dalam pandanganmu saja, mungkin juga validasi lain ke sesama orang Sunda, lain lagi kalau tanya ke orang Medan misalnya. Mungkin mereka ga tahu itu orang Sunda seperti itu. Bahkan mungkin akan dianggap sebagai orang lemah, pemalu dan kurang bersemangat, MISALNYA YA. 

Contoh lain mungkin dalam ranah pandangan terhadap suatu masalah. Ketika kamu beranggapan bahwa Socrates itu tidak pernah sebat ketika berada di alun-alun, tapi ada teman kamu yang bergumen Socrates suka sebat sebelum diskusi kamu harus menghargai itu. Terlepas dari argumennya benar atau salah, karena tentang benar atau salah itu lain bahasan.

Bahasannya kamu mendengarkan argumennya, bersimpati, dan mempersilahkan mereka berbicara. Tidak bertindak agresif, bahkan ke tindakan destruktif. Ketauan Cerdasnya, kalau kata Mr. Kece mah. Kalau kata Dr. Fahruddin Faiz mah kalau mau membungkam orang yang biarkan mereka berbicara, karena kalau dibredel apa yang mau dibungkam. 

Orang lain giliran bicara kok malah dimarahin, memang situ kebenaran ga mau menerima kebenaran dari perspektif lain? Bok kamu masih manusia, tapi why are you still arogan seperti begitu. Sopan kah begitu? 

Cara Memiliki Humility 

Kalau kamu ngebet ingin punya humility, ini ada beberapa dimensi yang bisa kamu ikuti. Ada 4 jalan yang bisa kamu tempuh tanpa adanya persimpangan karena saling bertautan. Berikut 4 jalan Krumrei-Mancuso terkait Humility. 

Independence of Intellect and Ego 

Dalam aspek atau jalan ini, individu kudu bisa ngilangin rasa terancam atau takut pemikiran sama pandanganmu bakal hilang. Biarkan saja mereka berpikir terkait suatu hal tanpa kamu halang-halangi. Meskipun itu berbeda dan dalam satu kasus pendapat mereka keliru, ya biarkan saja. Kalaupun memang keliru ya kamu juga ga bakal rugi, malahan kalau orang itu sadar kekeliruannya mungkin bakal tertambat hatinya juga. 

Jadi mbok katanya setiap orang punya pandangan masing-masing terhadap suatu hal. Perihal benar atau salah pandangannya itu mah di luar dari pembahasan ini. Fokusnya bagaimana Anda bersikap memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara dan berpendapat. 

Opennes to revising one’s viewpoint 

Sikap lainnya yang bisa kamu ikuti kalau ingin punya humility dengan cara keterbukaan dalam mengulas pandangan diri. Karena masih manusia pasti ada masa di mana keliru merupakan sebuah pilihan yang tak bisa dihindarkan. Ketika saat di mana pandangan kamu keliru, dan orang lain memberikan pandangan lain terhadap suatu hal, ya terima. Jangan marahi mereka. 

Respect for others’ viewpoints 

Kalau kamu sudah mengikuti jalan sebelumnya, untuk mengikuti jalan ini tidak akan sulit. Karena ketika kamu tidak merasa terancam dengan pandangan baru dari orang lain, secara implisit kamu berarti menghargai pandangan tersebut. Jalan ini otomatis akan kamu ikuti ketika sudah punya prinsip menyilahkan orang lain untuk berpendapat dan berargumen. 

Apa susahnya sih menghargai pandangan orang lain misalnya dengan cara anggukan atau bersimpati sama memperhatikan dengan seksama meskipun tidak setuju juga. 

Lack of intellectual overconfidence 

Terakhir juga sama. Kamu tidak arogan dengan pandangan yang kamu miliki. Tidak terlalu percaya diri sehingga merasa orang lain itu tidak akan mampu berargumen, atau orang lain merupakan sumber kesalahan mutlak. Selain itu, kekakuan dalam menyerap nilai-nilai baik dari pandangannya akan luntur ketika memiliki jalan humility ini. Artinya menyadari setiap pandangan dan perspektif orang pasti ada kebenaran terselubung meskipun sedikit, bahkan bisa banyak juga. 

Bacaan Lanjutan 

Penutup 

Oke untuk artikel fenomena humility dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Jangan lupa bagiin artikel ini ke teman kamu yang lainnya ya supaya kami tetap menggaji yang lain wkwk. Terima kasih. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mengirimkan artikel untuk dipublish bisa mengirimkannya ke admin@bumipsikologi.com atau ke sini. 

Kata kunci: Fenomena Humility dalam psikologi. Contoh humility dalam psikoogi. Penjelasan humility dalam psikologi. Apa itu humility. 

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com
%d blogger menyukai ini: