Tuhan, Kenapa Aku Latah? Sebuah kajian Fenomena Hyperekplexia atau Latah dalam Psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel fenomena hyperekplexia atau latah dalam psikologi. Di sini siapa yang suka latah coba? Jangan-jangan kamu ya. Apalagi biasanya orang yang sedang tampil di depan publik. Tapi, tahu ga sih kamu latah itu apa? Lalu kenapa ada orang di dunia ini bisa menjadi latah?

Baca juga: Apakah ini cintaatau kebanyakan kafein? – Sebuah fenomena misattribution of arousal dalam psikologi 

Kalau kamu penasaran dengan itu bisa baca artikel fenomena hyperekplexia atau latah dalam psikologi ini. Tapi kalau kamu tidak penasaran ya baca saja sih hehe biar tahu juga. Baca artikel di sini tidak ada salahnya juga sih kan, mungkin kamu telah berkontribusi pada kemajuan blog ini hehe.

Yuk baca artikel dengan judul lengkapnya Tuhan, kenapa aku latahSebuah kajian fenomena hyperekplexia atau latah dalam psikologi sampai tuntas. 

Tuhan, Kenapa Aku Latah? Sebuah kajian Fenomena Hyperekplexia atau Latah dalam Psikologi 

fenomena hyperekplexia atau latah dalam psikologi, kenapa bisa menjadi latah. penjelasan latah dalam psikologi. Penjelasan hyperekplexia dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Fenomena Latah atau Hyperekplexsia. Sumber: Unsplash.com

Liburan semester ini adalah liburan yang selalu saja menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepalaku. Salah satunya adalah saat di dimana aku secara tidak sengaja menggerakkan jempolku untuk menyentuh salah satu drama lenong di Youtube. Asik, lucu, dan menggemaskan. Aku pun dibuatnya masuk dalam suatu adegan film saat di mana salah satu pemerannya, sebut saja mpok mincu namanya, pada suatu adegan lucu tapi membuat tanda tanya besar dalam kepalaku.

  • X : Mpok siapa tu sebelah luu, kenalin dong 
  • Mpok Mincu : ini gua kemarih ame mantu 
  • X : Siapa? 
  • Mpok Mincu : Eh kodok. Mantu gua kodok namanya. Eh itu anu gue kodok. Eh maaf-maaf. Mantu gua kodok namanya nih. Mantu gua..eh.. Name lu siape? 

Aku pun tersadar atas kelatahan mpok mincu dalam adengan tersebut bahwa aku pun demikian latahnya. Aku dibuatnya bingung bukan karna alur dan maksud dari drama lenong tersebut. Tapi kelatahan mpok mincu yang juga serupa dengan ku. Lantas aku merenung dan bertanya “Tuhan Kenapa aku Latah?”

Merenung membuat kepalaku pusing sampai sampai overthinking. Untung saja sahabat baikku yang bernama GOOGLE SCHOLAR memberi wejangan ilmu pengetahuan tentang orang yang latah dan juga berdialek dengannya. Aku pun memulainya dengan satu pertanyaan:

Ada apa dengan orang LATAH? 

Hyperekplexia atau yang lebih dikenal dengan latah memang mengundang tawa bagi mereka yang menyaksikannya karena memang orang latah itu terlihat lucu dan konyol. Namun latah bukanlah hal yang pantas untuk ditertawakan, latah merupakan sebuah sindrom yang berkaitan dengan mental dan otak manusia.  

Kalo katanya bapak Dardjowidjojo (2003), latah adalah suatu reaksi yang terjadi pada saat seseorang pada saat terkejut sehingga mengeluarkan kata-kata secara spontan tanpa menyadari apa yang ia ucapkan. Ketika orang latah dikejutkan, mereka cenderung mengucapkan kata-kata atau melakukan sebuah tindakan. 

Baca juga: Dark Jokes: Melumrahkan Hal Tabu dengan Humor – Dark Jokes dalam Pandangan Psikolog 

Sastra pada tahun 2011 berpendapat juga bahwa setiap bagian yang ada dalam otak manusia pada dasarnya memiliki fungsi yang sangat penting, contohnya thalamus, hypothalamus, dan ganglia basal. Kerusakan bagian talamus sebelah kiri pada otak manusia menyebabkan tidak berfungsinya linguistik seperti pengulangan yang tidak disengaja dan kesulitan dalam memberikan penamaan.

Kerusakan pada bagian thalamus, hypothalamus, dan ganglia basal pada otak manusia menyebabkan timbulnya gangguan bicara seperti tidak bisa mengalihkan pandangan (perseverasi), mengatakan sesuatu secara otomatis (otomatisme), koprolalia, palilalia, atau produksi bicara otomatis yang terganggu. Dapat disimpulkan bahwa hyperekplexia dapat disebabkan oleh kerusakan pada hemisfer kiri khususnya thalamus kiri, hypothalamus, dan ganglia basal, begitu kalau katanya Code pada tahun 1991.

Selain Faktor internal, latah juga bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal. seseorang mengidap latah karena bisa dipengaruhi oleh lingkungannya, misalnya ia akan diperhatikan oleh orang-orang sekelilingnya ketiaka ia berperilaku latah dan mengundang gelak tawa bagi orang sekitarnya. Tetapi sindrom ini bisa saja membawa keberkahan seperti mpok mincu yang diberi panggung lenong untuk menghibur masyarakat yang menyaksikannya.

Begitulah jawaban sahabatku, GOOGLE SCHOLAR. Tak puas aku melontarkan pertanyaan ke dua kepadanya.

Apa Saja Jenis-Jenis LATAH? 

Ekolalia

Reaksi latah dengan mengulangi perkataan orang lain disebut juga dengan ekolalia. Penyebab terjadinya ekolalia adalah karena sistem indera yang dimiliki pengidap latah, terutama mata, mulut, dan telinganya mengalami gangguan. Biasanya pengidap tidak bisa mengontrol reaksinya tersebut.

Ekopraksia

Jika ekolalia mengulangi perkataan orang lain, ekopraksia adalah reaksi latah yang menirukan gerakan orang lain. Latah jenis ekopraksia katanya lebih parah dari ekolalia karena sudah melibatkan perilaku orang yang memiliki latah tersebut.

Koprolalia

Koprolalia adalah kondisi di mana pengidap akan mengeluarkan kata-kata yang tabu atau kotor sebagai reaksi latahnya. Faktor lingkungan biasanya mempengaruhi jenis latah ini. Sebagian orang juga menjadikan latah koprolalia sebagai bahan candaan.

Automoatic Obedience

Kondisi latah automatic obedience ini bisa kita bilang cukup berbahaya. Orang yang memiliki latah jenis tersebut dapat melaksanakan perintah apa yang orang lain sampaikan secara spontan. Meskipun perintah yang ada itu berbahaya, bukan tidak mungkin dia akan tetap melakukan perintah tersebut.

Di tengah asyiknya ngorbol santay dengan sahabatku GOOGLE SCHOLAR, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB dan saraf mataku tidak sanggup lagi menahan beratnya kelopak mataku. Ku sudahi obrolan dengan sahabatku dan kepalaku sudah terasa plong setelah ngobrol asyik bersama sahabatku. Semoga ceritaku bermanfaat, terimakasih.

Bacaan Lanjutan: Hyperekplexia

Penutup

Oke untuk artikel fenomena hyperekplexia atau latah dalam psikologi sampai di sini saja. Jangan lupa bagiin artikel ini kepada temanmu yang lain, supaya kami dapet adsense. Terima kasih.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: fenomena hyperekplexia atau latah dalam psikologi, kenapa bisa menjadi latah. penjelasan latah dalam psikologi. Penjelasan hyperekplexia dalam psikologi.

M. Nadhif Amrillah Syams

Panggil saja Nadip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: