Privilege, Pevita & Keinferioran Kita – Fenomena Inferiority Superiority Complex dalam Psikologi

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai Fenomena Inferiority Superiority Complex dalam Psikologi. Fenomena Inferiority atau juga Superiority Complex merupakan suatu konsep yang menurut saya ada di setiap manusia. Perasaan-perasaan inferior maupun superior biasanya muncul ketika kita mencoba membandingkan diri dengan orang lain.

Coba aja ketika kamu bandingin diri dengan Rafathar yang jadi pembicara di webinar “Sukses dan Jadi Milyader di Masa Muda, Kenapa Enggak?” bakal membuat kamu inferior ga sih. Tapi mending nonton webinar itu mending baca artikel fenomena inferiority superiority complex dalam psikologi aja hehe.

Langsung saja deh baca artikel dengan judul lengkapnya Privilege, Pevita & Keinferioran Kita – Fenomena Inferiority Superiority Complex dalam Psikologi sampai tuntas ye.

Privilege, Pevita & Keinferioran Kita – Fenomena Inferiority Superiority Complex dalam Psikologi

Seorang bijak pernah berkata, jika kamu ingin sukses maka kamu harus bangun pagi dan bekerja keras. Saya jadi termotivasi untuk bangun pagi dan bekerja keras setiap hari. Setelah melihat teman saya yang bangunnya siang dan tetap sukses, saya akhirnya berhenti percaya…

Tapi bapaknya kaya sih~

Sambil menghembuskan asap marlboro, temanku menunjukan postingan motivasi ini kepada kami. Membacanya membuat kami tertawa, seolah kita orang paham apa yang dimaksudkan. Di kolom komentar, banyak sekali yang secara tersirat menunjukan keresahan yang sama. Dengan aksen agak kejakselan temanku bilang, “gua insecure dah karena gapunya privilege tajir, jadi confuse tentang masa depan gue dan bikin overthinking tiap malem”. Kemudian kami saling bercerita tentang perasaan rendah diri yang kami rasakan dan privilege yang dimiliki orang-orang.

Berbicara tentang privilege, aku jadi ingat dengan tulisan salah satu sahabatku. Dia adalah orang yang percaya cinta dan tidak percaya dengan terma yg sedang populer tersebut. Baginya privilege itu tidak ada, sebab definisinya menjadi kabur dan tidak jelas. Meskipun dalam tulisannya ngecheat dengan membawa argumen jika Tuhan maha adil, maka konsep privilege tidak bisa diterima. Tapi kalimat setiap orang punya garis finish yang berbeda dan setiap orang berjalan di timelinenya masing-masing menarik perhatianku.

Iyaaa juga yaaa, seringkali kita suka lupa bahwa manusia yang beruntung adalah manusia yang lebih baik daripada hari kemarin, bukan lebih baik dari orang lain. Makin lama pembicaraanku makin kemana-mana. Semakin mengarah ke adu nasib. Temanku berkata “Yaa gue kan cuma lulusan SMA, kalau gue punya pendidikan yang lebih tinggi juga pasti bisa punya jabatan tinggi dan sukses”. Temanku yang lain bersahut “Dia mah enak dilahirin dari keluarga kaya, kalau gue udah kaya dari lahir gue juga bisa bikin perusahaan”.

Loh loh loh kok… memangnya kalau hanya lulusan SMA tidak bisa sukses gitu? Atau kalau lau profesor udah bisa dipastikan lau bakal jadi CEO gitu?

Pembicaraan adu nasib ini membuatku kurang tertarik, gabut, dan mulai membuka instastory. Melihat story Pevita Pearce membuatku berfikir apakah perasaan minder itu dirasakan semua orang? Tapi alangkah mustahil rasanya kalau Pevita merasa minder. Aku coba mereply storynya “kakak pernah minder?”.

Terkejut aku dibuatnyo ketika dia membalasnya “pernah”. Dengan penuh keheranan aku membalas “kok bisaa?!?!?!”.

Kemudian dia membalasnya panjang seperti kuliah 4 sks, katanya….

“Perasaan rendah diri alias minder, atau yang disebut oleh Adler perasaan Inferior ini sebenernya hal yang manusiawi. Minder itu sendiri berasal dari bahasa Jerman Minderwertigkeitsgefuhl yaitu rasa rendah diri. Artinya bangsa Jerman saja yang menjunjung supremasi ras Aria tetap bisa merasa minder. Jelas bahwa perasaan inferior ini tak mengenal agama, ras, maupun golongan. Toh, setiap manusia memang dilahirkan dalam keadaan inferior dan terus berusaha untuk mencapai keadaan superior. Setiap perilaku manusia merupakan kompensasi atas perasaan inferiornya.”

“Tidak masalah sama sekali kalau kita punya perasaan inferior, yang jadi masalah kalau perasaan inferiornya bertransformasi dalam bentuk yang tidak sehat. Perasaan inferior yang sehat dan sah adalah membandingkan diri yang saat ini dimiliki (actual-self) dengan diri ideal yang seharusnya dimiliki (ideal-self). Bukan membandingkan diri dengan orang lain. Untuk mengatasi perasaan inferior ini kita berjuang untuk menghapus atau memperkecil kesenjangan antara actual dan ideal self. Bukan dengan menerimanya begitu saja tanpa melakukan apa-apa.”

“Perasaan inferior yang berlebihan dan tidak dikelola dengan baik menciptakan suatu kondisi seperti inferiority complex dan superiority complex. Suatu keadaan dimana seseorang menerima dirinya lebih rendah dari orang lain dan merasa tidak cukup suatu standar dalam sebuah sistem. Seperti complex-complex yang lain, layaknya oedipus dan electra complexnya Freud, perasaan tersebut tertanam dalam benak pikiran dan sulit untuk dihilangkan. Menimbulkan dampak besar terhadap cara seseorang bergaul, cara ia hidup, dan cara seseorang mengambil keputusan. Kondisi kejiwaan ini biasanya berujung kepada pemujaan yang berlebihan pada suatu pencapaian atau tendensi untuk mencari pengakuan dari suatu pihak.”

Sejenak aku berfikir tentang kalimat temanku

Kalimat seperti “gua cuma lulusan SMA, gapunya pendidikan yang tinggi, gaakan bisa sukses” ini adalah bentuk inferiority complex dong.

Kemudian aku membaca lanjutannya

Inferiority complex menjadikan perasaan inferior sebagai katup yang menghalangi. Membuat kita tidak melakukan apa-apa, dan berdiam diri di tempat menunggu Robin Hood datang. Seandainya saat kecil kita tidak berjuang menancapkan kaki kita di tanah dan berusaha menopang beban tubuh, sampai kapanpun kita tidak akan bisa berjalan. Terlepas dari penilaian subjektif setiap orang tentang kesuksesan, artinya bukan kita tidak bisa sukses, tapi memang tidak mau sukses aja.”

“Perasaan inferior juga bisa berubah menjadi superiority complex. Kompleks inferior dan superior tidaklah berkebalikan, melainkan suatu komplementer yang saling melengkapi. Untuk mengatasi perasaan inferior, orang ini menciptakan citra diri yang palsu. Terobsesi dengan kebanggaan diri yang semu.”

Wah keren banget kak Pevita, aku jadi berfikir apakah temanku ini berusaha mengatakan bahwa kalau dia punya pendidikan yang tinggi, dia bisa aja sukses. Mengharapkan pengakuan orang lain untuk mengatasi keinferiorannya. Sekan mengatakan gua juga superior sebenernya, tapi pendidikan gua engga tinggi aja.

Atau jangan-jangan malah inferiority dan superiority complex ini memang sering terjadi di masyarakat kita?

Kalau kita buka Youtube, nonton vlog bule lagi travelling ke Indonesia, pasti ada aja tuh orang Indonesia yang komen “Indonesia is beautiful, I’m proud to be Indonesia“. Engga ada yang salah sih sebenernya dari bangga jadi Indonesia, malah fardhu a’in hukumnya. Tapi se-inferior itu kah diri kita sehingga memanfaatkan indahnya alam Indonesia untuk mencari pengakuan orang lain. Bangga berlebihan foto dengan orang bule kemudian mempostingnya. Rasanya seperti dengan bule yang satu frame itu akan mengangkat derajatnya menjadi lebih superior.

Padahal orang yang “katanya” bangga jadi Indonesia ini suka banget tuh melakukan diskriminasi etnis, ras, suku, bahkan gender. Perasaan inferiornya berlebih aja dan engga bisa dikelola dengan baik. Hasilnya menggusur rumah ibadah minoritas, melakukan bullying, pemerkosaan, merendahkan kulit hitam. Perilaku-perilaku yang merupakan cerminan kesuperioran yang semu. Bahwa aku superior dengan membuat orang lain tidak berdaya alias inferior.

Baca juga: Lu Jual Gue Beli, Lu Tawar Gue Kasih Promo – Penjelasan Illusion of Control dalam Jual Beli

Boleh jadi seseorang yang melakukan bullying, adalah orang yang merasa sangat inferior sehingga harus ada orang lain yang lebih inferior dari dirinya agar dia terlihat superior. Berjalan menuju superioritas kan bukan berarti harus menjatuhkan orang lain. Begitu juga pemerkosaan, merasa bahwa aku laki-laki, aku superior dan bisa melakukan apa saja terhadap perempuan yang inferior. Sama juga kayak diskriminasi ras, aku kulit putih aku lebih superior, dia kulit hitam jelek dan inferior.

Belum lagi kalau di media sosial, waswiswus fafifu dengan menyampaikan pendapat seolah ahli dalam segala bidang. Ini kan juga termasuk kompleks inferioritas. Dia merasa rendah dibandingkan dengan yang lain dan berusaha mengungkapkan pendapatnya agar terlihat superior. Mengharapkan pengakuan bahwa “aku cerdas”, “aku mengerti dalam bidang ini”, “aku keren”, dan ke akuan lainnya.

Waduhhh… kok kemanakemana sih aku mikirnya~

Tiba-tiba suara temanku membentak “San, ngelamun mulu lu! kopi lu noh adem.” Haaaaaa…. Ternyata daritadi aku cuma melamun berbalas pesan dengan Pevita huft..

Kemudian temanku melirik HP-ku dan berkata “ye ngeliatin Pevita, ngelamun jorok ye lu”. Aku pun membalasnya “bangsat, ya kagaklah”

Temanku menyahut “udahlah ngaku aja”

Kemudian semua yang ada disana mulai meledekku bersama-sama karena katanya melamun jorok.

Aku tertawa sajalah. Toh dunia ini ada pembagian peran. Berkhayal berbalas pesan tentang inferior-superior adalah peranku. Pendapat mereka tentangku, biarlah itu peran mereka.

Setidaknya lamunanku menggemaskan berdiskusi dengan Pevita tentang minder~

Bacaan lanjutan: What is inferiority complex? Superiority Complex

Penutup

Oke untuk artikel mengenai fenomena inferiority superiority complex dalam psikologi sampai di sini saja. Semoga jelas sih buat kamu yang pengen tahu apakah Pevita pernah merasa tertekan atau Rafathar inferior lihat orang lain dsb bisa terjawab dari sini.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa kamu kirimkan ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.

Kata Kunci: fenomena inferiority superiority complex dalam psikologi. Contoh inferiority dalam psikologi. Contoh superiority complex dalam psikologi. Apakah Pevita pernah inferior?

Menulis untuk merawat kewarasan berpikir. Follow Instagram: Shandifofficial