Identifikasi Klitih dalam Perspektif Budaya dan Psikologi

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan membahas mengenai fenomena klitik dalam perspektif psikologi. Terkhusus kamu mungkin yang tinggal di Kota Yogyakarta atau kamu yang mengikuti kasusnya, fenomena ini sedang naik daun. Fenomena klitih memang menarik banyak perhatian warga, terkhusus sampai menaikan tagar kota pendidikan ini katanya tidak aman. Apa bener begitu?

Semenjak kasus klitih viral di media sosial, banyak pro dan kontra padanya, bahwa generalisir kota jogja tidak aman saling saut sesama warga. Terlepas dari itu sih memang klitih membuat ancaman baik fisik maupun psikologis bagi setiap warga yang tinggal di sana. Mengutip dari perbincangan di the conversation sih fenomena ini memang sudah ada sejak lama, namun pasang surut. Para pakar dan peneliti pun belum menemukan benang merah dari akar permasalahan ini. Tapi kamu tau tidak gimana sih fenomena klitih ini dalam perspektif psikologi dan budaya?

Baca saja yuk artikel Identifikasi klitih dalam perspektif budaya dan psikologi sampai tuntas dan jangan lupa bagikan juga ke teman kamu yang lainnya.

Identifikasi Klitih dalam Perspektif Budaya dan Psikologi

Fenomena klitih dalam perspektif psikologi, analisis klitih dari psikologi, klitih dalam pandangan psikologi dan budaya
Bumi Psikologi – Fenomena Klitih

Tindak kejahatan jalanan menggunakan kendaraan bermotor di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) atau biasa disebut klitih kembali marak terjadi. Bahkan, tagar #DIYdaruratklitih dan #YogjaTidakAman trending di laman Twitter sejak 27 Desember 2021. Sebelumnya, tagar yang sama sempat menjadi soalan publik pada awal tahun 2020. Namun, selama setahun berjalan tindak klitih ini masih ditemui dan belum tuntas di atasi. Melansir dari CNN Indonesia (2021), berdasarkan data yang dihimpun oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah (Polda) DIY terhitung terdapat 58 kasus kejahatan jalanan atau klitih yang dilaporkan selama tahun 2021. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan laporan kasus klitih pada tahun 2020 yakni sejumlah 38 kasus. Sementara, pelaku klitih yang dilaporkan dan ditangani hukum pada tahun 2021 sebanyak 102 orang dengan 80 pelaku di antaranya merupakan pelajar. Adapun, kemungkinan kasus klitih serta pelaku di lapangan lebih banyak daripada yang telah tercatat.

Tidak dapat dipungkiri, aksi klitih kian mencemaskan masyarakat dan turut berpengaruh pada citra DIY sebagai kota budaya, dan kota pelajar. Sedangkan pada faktanya kata klitih tidaklah berkonotasi negatif, istilah “klitih” dalam bahasa Jawa berarti aktivitas mencari angin di luar rumah pada malam hari. Akan tetapi, seiring aksi ini rutin dilakukan oleh sekelompok oknum didominasi pelajar yang bersenjata tajam aksi klitih beranjak dipandang negatif. Kata klitih kini identik dengan budaya kriminal pelajar hingga menimbulkan mind set tersendiri sebagai sebuah “tradisi” yang ternyata sudah berakar selepas tahun 2000-an di DIY (Marino, 2020). Maka, berlatar belakang permasalahan tersebut, penulis menemukan bahwa, klitih dapat diidentifikasi melalui perspektif psikologi budaya.

Klitih berkaitan dengan Budaya Organisasi

Kompleksitas adanya klitih yang tidak juga terberantas bermula dari runtutnya budaya dari sekolah. Mengutip dari wawancara oleh balairungpress.com dengan seorang dosen Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Negeri Gadjah Mada (UGM) bernama Drs. Soeprapto, “Sistem rekrutmen para pelaku klitih adalah sewaktu orientasi siswa termasuk ketika mengikuti kegiatan sekolah” (balairungpress.com, 2020). Selain itu, siswa baru di sekolah-sekolah tertentu yang sangat erat dengan sistem senior maupun alumni membuat kelompok kecil atau geng dengan budaya organisasi yang menunjukkan karakteristik mereka. Hal ini kemudian membawa angkatan baru untuk turut mengikuti senior dan alumni demi memperoleh pengakuan atau sebagai bentuk pencarian jati diri.

Sudah hal lumrah jika para siswa baru memiliki dorongan untuk memasuki lingkungan tertentu agar memperoleh lingkup atau teman pergaulan. Disinilah, pergaulan menentukan langkah pelajar ke depannya. Sebab, terkadang tanpa mereka ketahui sedari akarnya terdapat permusuhan antara satu geng dengan geng di sekolah lain. Kebencian yang diteruskan dari senior ke junior, dari generasi angkatan lawas ke generasi angkatan baru (Mojok.com, 2018). Budaya organisasi yang demikian memaksa siswa baru yang tertarik arus untuk nimbrung menjadi bagian. Selanjutnya, identitas mereka pun akan terkait dengan anggota lain dalam geng termasuk dengan senior, alumni, hingga musuh-musuh dari sekolah lain. Adapun mereka yang telah tergabung akan mendeskripsikan diri secara kolektivis dan terikat satu sama lainnya.

Analisis Tindakan Klitih dengan Penelitian yang Relevan

Paul Willis melakukan penelitian terkait kasus sekelompok anak-anak dengan sebutan Hammertown Boys menunjukkan bahwa anak-anak yang terbatas pada stigma kemudian melakukan tindakan secara terus-menerus sehingga membentuk ‘budaya’ yang mereka akui. Perilaku menyimpang mereka dilakukan dengan membolos kelas, bergabung dalam kelompok ‘geng nakal’, termasuk melanggar peraturan sekolah. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa budaya terdahulu yang telah terbentuk dapat mempengaruhi para Hammertown Boys.

Penelitian ini dapat kita tarik relevansi dengan kasus tindak klitih di Yogyakarta. Di mana, para pelajar yang terlanjur menjadi bagian akan ‘tertular’ tradisi melakukan tindak kekerasan terjadi karena budaya organisasi yang telah ada sebelumnya. Stigma yang telah melekat dari angkatan sebelum-sebelumnya termasuk dari lingkungan sekitar mereka tanpa sadar berpengaruh dan memicu kenakalan remaja. Budaya organisasi menggiring pelajar dalam geng untuk melakukan hal yang sama. Bahkan, biasanya jika mampu melakukan kenakalan yang lebih, ia akan dielukan oleh anggota geng lain.

Adapun sebuah penelitian terbaru pada tahun 2018 di Mumbai, India; Victoria, Australia; dan Negara Bagian Washington (WA), Amerika Serikat menemukan tingkat kenakalan pelajar serta faktor risikonya di negara maju dan berkembang. Tingkat kenakalan pelajar yang diukur dengan survei sebanding menghasilkan perhitungan bahwa Mumbai menjadi wilayah dengan kenakalan paling rendah daripada di Victoria, Australia maupun Negara Bagian Washington (WA), Amerika Serikat. Selain itu melalui studi lintas kultural, penelitian tersebut menunjukkan jika kenakalan sekelompok geng di sekolah di Mumbai bisa kita lihat melalui faktor risiko disorganisasi masyarakat serta urbanisasi. Sedangkan di Victoria adanya kenakalan pelajar memiliki latar belakang dari faktor risiko konteks sosial-ekonomi sekolahnya. Kemudian, pada Negara Bagian Washington (WA), Amerika Serikat kenakalan berhubungan dengan mobilitas tempat tinggal ke sekolah.

Baca juga: Privilege, Pevita & Keinferioran Kita – Fenomena Inferiority Superiority Complex dalam Psikologi

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, meskipun terdapat perbedaan faktor risiko pada masing-masing wilayah, terdapat ukuran yang sama dalam menentukan faktor risiko multi-level. Peneliti menyimpulkan bahwa faktor risiko yang mencakup karakteristik individu, pengaruh teman sebaya, dan dinamika keluarga sama-sama berhubungan dengan perilaku kenakalan di Mumbai, Victoria, dan WA. Pokok simpulan penelitian tersebut relevan dengan kasus klitih di DIY. Drs. Soeprapto , seorang  Kriminolog Universitas Gadjah Mada melalui balairungpress.com pada 2020 lalu, menyampaikan jika karakteristik individu seperti permasalahan hidup dan dendam dapat berangkat menjadi motivasi tindakan klitih yang memakan korban. Berangkat dengan kesimpulan yang sama, sebuah penelitian menyebutkan: karakter individu, dinamika interaksi remaja dengan kelompok, serta masalah dalam hubungan keluarga dan orang tua sebagai faktor-faktor determinasi pelaku klitih (Fuadi dkk., 2019).

Selaras dengan relevansi kedua penelitian tersebut, seorang mantan pelaku klitih berinisial Genji yang diwawancarai oleh VICE.com menyampaikan fakta mulanya klitih. Sebelum menyasar masyarakat sebagaimana fenomena sekarang, dahulu klitih hanya satu bagian dari konstelasi permusuhan antar geng SMA di Yogyakarta (vice.com, 2020). Hal ini ditunjukkan dengan para pelaku klitih pada awal masanya tidak menyerang pengendara secara acak melainkan hanya kepada kelompok yang menjadi musuh dan dikategorikan berdasarkan identitas emblem atau seragam yang di pakai. Sayangnya, kontrol diri yang tidak stabil, pengaruh kerabat, hingga permasalahan keluarga dapat memicu pelaku untuk melampiaskan dengan cara yang salah.

Simpulan

Klitih sekilas ialah tindak kenakalan berupa aksi melukai pengendara pada malam hari yang dilakukan oleh oknum tertentu. Di baliknya, klitih bukan saja sebuah tidak acak sebab berdasar pada budaya organisasi antar geng yang saling berkonflik. Terlebih lagi, dahulu klitih terjadi tanpa senjata namun kini menjadi perilaku yang mencemaskan masyarakat. Relevansi klitih dengan penelitian oleh Parks. dkk. (2020) yaitu melalui motivasi tindak kenakalan pada penelitian oleh Fuadi dkk.. Pelaku klitih menyasar korban tanpa alasan karena karakter individu, keluarga termasuk permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Melihat bagaimana perilaku klitih bertransformasi dan menimbulkan korban dari kalangan masyarakat tidak bersalah, maka adanya perbaikan hingga akar permasalahan klitih sangat perlu. Salah satu upayanya seperti dengan memberikan hukuman bagi pelaku klitih berupa tindak pidana atau hukuman sosial. Selain itu, masyarakat, guru, orang tua termasuk pemerintah perlu menanamkan fondasi kuat pada pelajar agar tidak terjerumus di lingkungan yang salah. Langkah preventif yang releval seperti mewadahi pelajar pada bidang-bidang tertentu yang mereka minati, memberikan sosialisasi tindak kenakalan remaja yang terhitung pidana, hingga memberikan ruang konsultasi psikologis sehingga masalah yang ada dapat teratasi dengan langkah yang tepat.

Referensi

  • Fuadi, A., Mutiâ, T., & Hartosujono, H. (2019). Faktor-Faktor Determinasi Perilaku Klitih. Jurnal Spirits9(2), 88-98.
  • Indonesia, CNN. (2021, December 29). Klitih Jogja Meningkat, 58 Kasus Pada 2021. nasional. Retrieved December 30, 2021, from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211229151650-12-740152/klitih-jogja-meningkat-58-kasus-pada-2021
  • Marino, Y. (2020) Potret Klitih: Studi Penelusuran Identifikasi Subjek Lacanian Pelaku Klitih.
  • Parks, M. J., Solomon, R. J., Solomon, S., Rowland, B. C., Hemphill, S. A., Patton, G. C., & Toumbourou, J. W. (2020). Delinquency, school context, and risk factors in India, Australia, and the United States: implications for prevention. Journal of research on adolescence30, 143-157.
  • Situmorang, K., Rachmawati, N. F., & Airlangga, A. N. (2020, November 13). Miskonsepsi Masyarakat Mengenai Klitih di Yogyakarta. Balairungpress. Retrieved December 20, 2021, from https://www.balairungpress.com/2020/11/miskonsepsi-masyarakat-mengenai-klitih-di-yogyakarta/
  • Titah AW. (2020). Akar penyebab tradisi Klitih Berdarah Terus terjadi di Jalanan Yogya. Akar Penyebab Tradisi Klitih Berdarah Terus Terjadi di Jalanan Yogya. Retrieved December 20, 2021, from https://www.vice.com/id/article/4agm9m/akar-penyebab-tradisi-klitih-berdarah-terus-terjadi-di-jalanan-yogya?utm_source=viceidtw
  • Willis, P. (2017). Learning to labour: How working class kids get working class jobs. Routledge.
  • W., M. A. (2020, February 11). Bicara Klitih di Yogyakarta dari Mantan Pelakunya. Mojok.co. Retrieved December 20, 2021, from https://mojok.co/esai/bicara-klitih-di-yogyakarta-dari-mantan-pelakunya/

Penulis: Afifah Ulayya Itsnaini.

Penutup

Artikel Fenomena klitih dalam perspektif psikologi dan budaya cukup sampai di sini saja, semoga bisa memberikan gambaran dan penjelasan kepadamu. Tetep baca referensi lain supaya lebih kaya akan makna dan pandangan ya.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa kamu kirimkan ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.

Kata kunci: Fenomena klitih dalam perspektif psikologi, analisis klitih dari psikologi, klitih dalam pandangan psikologi dan budaya

Kanal kiriman artikel dari pembaca dan seluruh manusia tercinta.