Ketemu Jodoh Pulang KKN – Fenomena Mere Exposure Effect dalam Psikologi

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena mere exposure effect dalam psikologi. Pernah ga sih ngerasa kenapa kamu kalau pergi ke warung nasi atau tempat makan yang dipesan menunya itu-itu saja. Atau memang bahkan pergi ke warung nasi yang kita rasa sesuai dengan diri baik dari segi rasa maupun harga. Selain itu, ketika kita merasa asing dengan sesuatu yang baru dan kita cenderung menghindari sesuatu yang asing tersebut.

Misalnya gini, kamu lebih nyaman temenan atau curcol sama orang asing atau teman yang sudah akrab? Tepat, karena aneh saja sih masa baru kenal langsung blak-blakan hehe. Tapi yang pasti manusia itu tidak menyukai ketidakpastian, akan lebih memilih sesuatu yang familiar atau akrab dengan diri. Baik karena merasa nyaman maupun memang nyaman. Kira-kira begitu contoh mere exposure effect ini.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa baca lebih lanjut dalam judul artikelnya Ketemu Jodoh Pulang KKN – Fenomena Mere Exposure Effect dalam Psikologi. Jangan lupa juga bagikan ke teman kamu yang lain ya.

Ketemu Jodoh Pulang KKN – Fenomena Mere Exposure Effect dalam Psikologi

fenomena mere exposure effect dalam psikologi. Contoh mere exposure effect dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan mere exposure effect. Apa itu mere exposure effect.
Bumi Psikologi – Mere Exposure Effect. Diambil dari: Mic.com

Valentine bukan budaya kita, budaya kita adalah ketemu jodoh pulang KKN ~

Kemarin malam, saya baru saja pergi ke tempat nasi goreng ajaib. Yap, ajaib banget. Kalau biasanya di abang-abang gerobak pertigaan saya cuma punya dua pilihan menu,

“pedes nggak, neng?” atau

“telornya digabung apa dipisah, neng?”

Di tukang nasi goreng ajaib ini saya mendapat buaanyak pilihan, mulai dari nasi goreng rempah, nasi goreng kari, nasi goreng daun kemangi, nasi goreng tanpa kecap, daaann beragam perintilan dari masing-masing menu tersebut. Karena lidah saya kurang familier sama menu-menu diatas, akhirnya saya pilih nasi goreng tanpa kecap. Saya pilih menu tersebut bukan karena saya yakin rasa nasi goreng tanpa kecap adalah menu yang paling enak, tapi saya memilih menu tersebut karena hanya nasi goreng tanpa kecap yang paling familier dengan saya diantara menu-menu lainnya. Ya, begitulah lidah saya jika terlalu akrab dengan nasi goreng gerobak abang-abang dekat kos. Kurang jauh mainnya, ngab.

Baca juga: Aku Libra Maka Aku Ada? – Fenomena Barnum Effect dalam Psikologi

Sadar nggak, sih? Kita seringkali memilih sesuatu bukan karena pilihan itu yang terbaik, tapi karena memang kita paling akrab dengan pilihan itu. Misalnya, kalau kita disuguhi es teh manis dan jus terong belanda campur jeruk, mana yang akan kalian pilih? Kalau saya akan lebih memilih es teh manis untuk jadi minuman suguhan, karena rasanya sudah jelas, manis dan suegerrr, kita juga lebih familier sama es teh manis. Sudah terlalu sering kita jumpai si es teh manis ini, mulai dari abang-abang warkop kaki lima sampai restauran bintang lima. Padahal, bisa jadi si jus terong belanda + jeruk ini lebih enak.

Coba lihat hidup kamu kemarin-kemarin, apa-apa saja yang sudah kamu pilih berdasarkan familiarity atau keakraban? Jangan-jangan perihal jatuh cinta pun karena hal ini, cinlok alias jatuh cinta karena tingginya intensitas ketemu doi. Sering terjadi di himpunan mahasiswa ya, bun.

Mere Exposure Effect, itulah penjelasan dari cerita-cerita diatas, tentang kenapa kita lebih sering memilih sesuatu yang lebih akrab dengan kita. Sederhananya, efek mere-exposure ini adalah “semakin sering kita melihat sesuatu, maka semakin besar kemungkinan kita menyukai hal tersebut”. Efek ini juga sering disebut sebagai “prinsip kekaraban” atau familiarity principle. Hal ini terjadi karena kita memiliki kecenderungan untuk memilih secara simple, mudah, yakni berdasarkan apa-apa yang lebih kita kenal, familiar. Mere-exposure dikembangkan oleh seorang psikolog Amerika bernama Robert B. Zaconj di tahun 1968, teori ini semakin diperkuat dengan berbagai studi dan eksperimen yang terus dilakukannya.

Kenapa Mere Exposure bisa terjadi?

Kenapa ya kita lebih suka memilih sesuatu yang kita lebih kenal? Ada dua alasan utama yang menjelaskan pilihan kita ini; pertama, mengurangi ketidakpastian; kedua, lebih mudah dipahami saja. Gimana tuh maksudnya?

Reduces uncertainty (mengurangi ketidakpastian) 

Kita seringkali takut akan hal-hal baru, misalnya sering bertanya-tanya kayak gini,

“bahaya nggak, nih?”

 “Enak nggak, nih?”

“Mahal nggak, nih?”

“Suka ghosting nggak nih?”

 “Tukang selingkuh nggak nih?”

Daripada kenapa-kenapa, mending pilih yang udah jelas aja deh, yang biasa lu liat itu. Begitulah kira-kira otak kita memberi intruksi. Sama halnya dengan contoh es teh diatas, si es teh ini sudah jelas rasanya manis gula, segar karena es. Kalau si jus terong belanda + jeruk ini kan belum tau ya, manisnya seperti apa, asamnya sampai bikin merem melek atau tidak, lidah kita toleransi sama rasanya atau tidak, daaann berbagai ketidakpastian lainnya.

Easier to Interpreting and Understanding

Anggaplah otak kita semacam hutan belantara di gunung, apa yang kita dengar dan lihat itu adalah jalan yang kita buat untuk bisa sampai di gunung. Semakin sering kita mendapat stimulus dari melihat dan mendengar, maka semakin terbuka jalan di hutan tersebut, semakin mudah untuk bisa sampai di gunung.

Artinya, semakin sering kita mendapat stimulus (melihat, mendengar, dan merasa), maka semakin mudah kita memahami dan kenal dengan sesuatu. Misalnya, kita sedang menonton film dengan alur ruwet, akan lebih mudah mereka pahami saat kita menoton yang kedua atau ketiga kalinya daripada yang pertama. Karena saat menonton kedua dan ketiga kali, otak kita sudah kenal dengan latar, pemain, alur, dan sebagainya.

Strategi dengan Mere-Exposure Effect

fenomena mere exposure effect dalam psikologi. Contoh mere exposure effect dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan mere exposure effect. Apa itu mere exposure effect.
Bumi Psikologi – Memilih sesuatu. Sumber: Emaze.com

Buat kalian penggemar mas Al dan mba Andin, suka bosen nggak liat iklannya di setiap jeda sinetron? Salah satu akun di Twitter ada yang dengan rajiinnya menghitung jumlah iklan dalam satu episode yang terbagi kedalam empat bagian, rata-rata iklan yang tayang dalam satu part Ikatan Cinta berjumlah 30 produk. Sebagian dari kita seringkali berpikir tentang “apa fungsinya iklan-iklan yang seliweran di tv?

Toh, saya seringkali tidak memperhatikan”. Itu dia tujuan para pemilik produk yang rela membayar mahal-mahal untuk strategi marketing mereka, karena menurut mere-exposure effect ini, stimulus akan lebih mudah diterima gelombang otak ketika manusia menerimanya secara tidak sadar, bukan dalam keadaan sadar sepenuhnya. Dengan banyaknya iklan-iklan yang kita sakiskan di televisi, Instagram, Youtube, dan berbagai media lainnya, maka kita akan merasa akrab dengan produk tesebut, dan sejurus kemudian, kita akan merasa bahwa produk mereka lah yang kita kenal dan patut digunakan.

Bias Kognitif dalam Mere-Exposure

fenomena mere exposure effect dalam psikologi. Contoh mere exposure effect dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan mere exposure effect. Apa itu mere exposure effect.
Bumi Psikologi – Dalam pemilu rentan bias ini. Sumber: Npr.org

Perlukah mere-exposure ini kita hindari ketika akan memilih sesuatu? Dalam beberapa hal, bisa jadi kita perlu menghindari ini. Lho, kenapa perlu kita hindari? Ketika kita memilih sesuatu karena merasa akrab dengan objek tersebut, maka kita akan menggeser sedikit fungsi kognitif kita dalam hal mempertimbangan baik-buruk secara objektif. Singkatnya, kita hanya mengandalkan afeksi dan keputusan kilat.

Kalau kita memutuskan cepat perihal makanan, yang bermasalah yaa paling ga jauh dari perut sendiri. Kalau kita terkena efek ini di ajang pilkada, memilih calon kepala daerah karena spanduk doi yang paling banyak nempel di tiang listrik, atau baju partainya yang paling sering kita jumpai di bapak-bapak pos ronda, bagaimana? Efeknya bisa sampai empat tahun kehidupan daerah kamu kedepannya.

Jadi, buat kamu yang merasa kena cinta lokasi sama temen seperhimpunan, atau dapet doi  pulang dari KKN, coba kenali lebih jauh lagi yaa, apakah benar ini cinta atau hanya efek mere-exposure semata? Kalau jodoh alhamdulillah, kalo nggak ya sudahlah.

Bacaan Lanjutan: Mere Exposure Effect

Penutup

Oke untuk artikel mengenai fenomena mere exposure effect dan contoh nya dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Semoga bisa bermanfaat bagi kamu yang biasa terkena fenomena ini. Jangan lupa bagikan juga ke teman kamu yang lainnya ya supaya kami bisa menggaji temen-temen yang nulis di sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mengirimkan artikel bisa mengirimkannya ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.

Kata kunci: fenomena mere exposure effect dalam psikologi. Contoh mere exposure effect dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan mere exposure effect. Apa itu mere exposure effect.

Jihan Nabilah Arifin
%d blogger menyukai ini: