Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena orang memutuskan Komunikasi Tiba-tiba. Tentu fenomena ini lebih sering dialami oleh anak muda yang biasanya sedang terbuai kisah merah muda. Atau juga seorang sahabat yang tiba-tiba menghilang tidak karuan tanpa penjelasan sama sekali, bisa jadi juga. Yap, fenomena ini namanya ghosting, yaitu orang yang memutuskan komunikasi dengan tiba-tiba.

Baca juga: Stres dan Depresi Sama Tidak Sih? – Simak Perbedaan Stres dan Depresi dalam Psikologi Kesehatan

Menghilang kayak hantu, atau avatar. Avatar sih dibutuhin ya, kamu? Dibutuhin juga dong, dalam halu. Padahal bukan zaman orba lagi, yang biasanya orang hilang secara tiba-tiba karena sedang bersih diri dan bersih lingkungan, hiyahiya

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Saat Dibutuhkan Kok Menghilang, Situ Emang Avatar? – Fenomena Orang Memutuskan Komunikasi Tiba-tiba sampai tuntas ya!

Saat Dibutuhkan Kok Menghilang, Situ Emang Avatar? – Fenomena Orang Memutuskan Komunikasi Tiba-tiba

Fenomena Ghosting

fenomena ghosting dalam psikologi, fenomena orang yang tiba-tiba menghilang, fenomena orang memutuskan komunikasi tiba-tiba
Bumi Psikologi – Ghosting Sumber: Pexels.com

Dua bulan lamanya saya tergeletak ditempat tidur, saya kirimkan surat-surat, meratap, menghinakan diri, memohon dikasihani! Tiba-tiba kau balas surat itu dengan suatu balasan yang tersulit tak termakan di hayal! Lupakah kau siapa diantara kita yang kejam? Tidak Hayati, saya tidak kejam, saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu, supaya cinta kita itu di lupakan dan dihilangkan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal!

Sambil bercermin aku menirukan dialog Zainudin yang legendaris tersebut. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat mirip sekali dengan Herjunot Ali. Terlintas dipikiranku bagaimana bisa cowok sekeren kembaranku ini ditinggal tanpa penjelasan?! Kalo dipikir-pikir apa yang dirasain Zainudin itu sama dengan apa yang dirasain Cinta ketika ditinggal Rangga. Sampai terucap mantra fenomenal “Rangga, apa yang kamu lakuin ke saya itu, JAHAT!.

Mungkin, kamu pernah merasakan menjadi Zainudin atau menjadi Cinta dalam dunia nyata. Menjalani kisah cinta yang berubah menjadi kisah horor paling mengerikan. Seseorang yang sebelumnya paling perhatian dan peduli denganmu lenyap begitu saja tanpa penjelasan. Tidak ada lagi notifikasi, tak ada lagi ucapan selamat pagi, tak ada lagi emoticon tanda hati, atau bahkan sekedar pertanyaan ada cerita apa hari ini? Layaknya pesulap yang mengucapkan mantra melenyapkan diri, dengan satu jentikan jari, Boom. Supernova!

Baca juga: Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam

Kejadian semacam ini memang kerap terjadi di kota-kota besar. Bagi kalian yang pernah mengalaminya, mari perkuat rahang dan teriak dengan lantang, dasar setan! Kamu yang ditinggal tanpa alasan adalah korban setan, yang dalam bahasa inggrisnya korban ghosting. Secara terminologis istilah ghosting mengacu pada pemutusan semua komunikasi tanpa penjelasan. Bukan hanya sekedar hubungan pertemanan atau sayang-sayangan, tetapi juga terjadi di dunia perkantoran oleh seorang karyawan. Perilaku yang dilakukan oleh orang terdekat dianggap telah perduli, penuh perhatian dan dipercaya namun menghilang tanpa sebab dan jejak. Karena aku tidak pernah mengalami ataupun melakukan ghosting, maka aku mencari sumber bacaan terkait mengenai ghosting ini hehe.

Konon katanya, dunia ini sudah akrab dengan per ghosting-an duniawi. Dalam Journal of Social and Personal Relationship tahun 2018, dari 1.300 responden, sebanyak 25 persen mengaku pernah mengalaminya dan 20 persen mengaku pernah melakukannya. Studi lain, dalam Fortune tahun 2016 menemukan 78 persen millenial lajang mengaku pernah mengalaminya. Sebenarnya fenomena ini sudah terjadi di sepanjang peradaban manusia. Tapi menjadi trendi di era media sosial. Karena ketika kita mudah untuk saling menghubungi maka makin mudah pula kita untuk saling mengabaikan. Fenomena ini menjadi lingkaran setan yang bisa membuat korban menjadi pelaku ghosting.

Tara Collins seorang peneliti di Winthrop University di Rock Hill, South Carolina mengemukakan tentang beberapa strategi seseorang untuk mengakhiri hubungan. Pertama, konfrontasi terbuka dimana kedua pasangan bertemu secara baik-baik untuk menyudahi hubungannya.  Kedua, menghindar dimana dia akan mencoba menghindari  komunikasi dengan pasangannya. Ketiga, menyalahkan diri sendiri seperti mengatakan “aku jahat, kamu terlalu baik buat aku. Ketiga, ekskalasi biaya dimana seseorang mencoba memperburuk hubungan sehingga menciptakan kondisi yang tidak bisa lagi dikendalikan. Terakhir, komunikasi yang dimediasi dimana menyudahi hubungan dengan perantara pihak ketiga, bisa jadi melalui orang lain atau sebuah surat. Perilaku ghosting merupakan perkawinan antara taktik menghindar dan taktik komunikasi dimediasi.

Baca juga: Terapi Gestalt untuk Membangun Kesadaran Lingkungan Hidup Masa Kini – Pandangan Psikologi Terhadap Alam

Sekalipun sudah menjadi hal yang biasa, efek dari ghosting bisa destruktif kepada orang yang mengalaminya. Hukuman paling berat adalah didiamkan, sebab ketika seseorang merasa didiamkan ia berhenti merasa dipedulikan, bahkan berhenti merasa dianggap ada. Ghosting berada satu tingkat diatas mendiamkan. Menciptakan ambguitas yang menyebabkan seseorang bingung untuk bereaksi seperti apa. Bukan haya mempertanyakan validitas hubungan, tetapi mempertanyakan diri sendiri. Menciptakan rendahnya harga diri, dan lebih jauh lagi menimbulkan persepsi penolakan sosial.

fenomena ghosting dalam psikologi, fenomena orang yang tiba-tiba menghilang, fenomena orang memutuskan komunikasi tiba-tiba
Bumi Psikologi – Menghilang tanpa jejak kayak zaman orba Sumber: Pexels.com

Mengalami penolakan sosial dapat mengancam kebutuhan fundamental seperti kepemilikan, harga diri, keberadaan, dan kebermaknaan sehingga akan meningkatkan kemarahan dan kesedihan. Kalimat “sakitnya tuh disini” lebih dari sekedar metafora. Sebab rasa sakit emosional ini dapat mengaktifkan jalur rasa sakit yang sama di otak dengan rasa sakit fisik. Ghosting merupakan sebuah takti pasif-agresif yang bisa meninggalkan luka dan lebam psikologis. Sebuah tindakan yang dianggap sebagai bentuk kekejaman emosional.

Dari sudut pandang pelaku, terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi dia melakukan ghosting. Gilli Freedman berpendapat biasanya mereka yang melakukan ini merasa engga nyambung dengan pasangannya. Kerap terjadi di hubungan yang dipertemukan oleh aplikasi kencan online. Pendapat lain mengatakan bahwa seseorang yang melakukan ghosting adalah untuk menghindari ketidaknyamanan emosional mereka sendiri, namun tak memperdulikan perasaan korbannya. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa ghosting adalah cara paling netral dan sopan dalam mengakhiri hubungan.

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Ada juga kepercayaan di masyarakat tentang jodoh di tangan tuhan, sehingga dia hijrah dengan fokus pada masa depannya dan mengakhiri hubungan begitu saja. Ada juga yang melakukan ghosting untuk menghindari situasi canggung yang sepele. Semisal kamu membuat janji dengan seseorang pukul 8 pagi, tapi sialnya kamu kesiangan, biasanya seseorang ini akan menghilang tanpa penjelasan karena canggung akan kesalahannya. Atau kamu lupa membalas pesan seseorang, dan baru sadar seminggu kemudian, maka kamu akan cenderung memutuskan komunikasi dengan orang tersebut sebab tak sampai hati karena lupa membalas pesannya.

Kita harus hati-hati dalam melabeli pelaku ghosting, perilaku ini memang mengerikan namun bukan sekedar pengecut. Perilaku ini bisa dikaitkan dengan semacam perasaan tidak ingin melukai perasaan orang lain, namun yang jelas ghosting tidak bisa dianggap sebagai perilaku baik-baik saja. Perilaku ghosting menciptakan paradoks dimana seseorang tidak merasa bersalah ketika melakukan ghosting tapi merasa canggung ketika bertemu korbannya.

Kita sudah melihat dari kedua sudut pandang pelaku dan korban ghosting. Saran untuk pelaku ghosting adalah cobalah sedikit menerapkan ajaran Arthur Combs, dimana kita harus melihat dari sudut pandang orang lain. Bagi para korban ghosting fokuslah kalian pada hal-hal yang membahagiakan kalian. Mari kita berdamai untuk memutus lingkaran setan ghosting ini. Komunikasi adalah kunci dari ghosting. Sebab, the biggest communication problem is we do not listen to understand, we listen to reply.

Penutup

Oke untuk artikel fenomena orang yang memutuskan komunikasi tiba-tiba atau fenomena ghosting cukup sampai di sini saja. Semoga ini bisa bermanfaat bagi kamu yang suka menghadapi orang yang tiba-tiba hilang entah kemana. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: fenomena ghosting dalam psikologi, fenomena orang yang tiba-tiba menghilang, fenomena orang memutuskan komunikasi tiba-tiba