Surat Cinta Bagi Orang yang Suka Membandingkan Diri Terus Terhadap Orang Lain – Fenomena Perbandingan Sosial Pada Manusia

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai fenomena perbandingan sosial pada manusia. Bandingin diri dengan orang lain memang pekerjaan gratis bagi manusia untuk mengevaluasi dirinya, tapi ujungnya pada insecure, tapi tetap saja mereka lakukan. Aing ga tau kenapa. Meski begitu, hal tersebut tetap perlu untuk menambah pundi-pundi insecure dan overthinking di malam hari, atau hanya sekedar membuat rebahan kamu ga tenang mungkin.

Baca juga: Kamu Insecure? Coba deh sini baca, pasti kamu nanti jadi bersyukur! – Mengubah insecure jadi bersyukur

Padahal orang tuh bisa mengarahkan energinya untuk ke hal lain, tapi tetep aja traveling ke alam itu menarik perhatian. Apapun itu, yang kamu rasakan ketika melihat orang lain dah melakukan ini dan itu, bahkan sampai kamu dapet pertanyaan tetangga dan saudara dengan pertanyaan “kapan anda lulus?” ”kapan anda jadi bos cupang?” hilih. baca aja deh fenomena perbandingan sosial pada manusia sampai tuntas.

Yuk baca artikel dengan judul lengkapnya Surat cinta bagi orang yang suka membandingkan diri terus terhadap orang lain – fenomena perbandingan sosial pada manusia dan juga bagikan biar rame!

Surat Cinta Bagi Orang yang Suka Membandingkan Diri Terus Terhadap Orang Lain – Fenomena Perbandingan Sosial Pada Manusia

Rahasia Supaya Rebahan Kamu Tidak Tenang Adalah dengan Cara Bandingin Terus Diri Sama Orang Lain

Sejatinya manusia saat ini tidak mungkin untuk hidup sendirian di dalam gua tanpa disinggung oleh orang lain. Hidup sendirian itu adalah sebuah fantasi belaka yang hanya ada jika kamu punya jurus yang sama seperti Naruto, kage bunshin. Tinggal perbanyak diri ga perlu bertemu orang lain. Selagi belum jadi Naruto, kamu pasti tidak mungkin hidup tanpa beririsan dengan orang lain. Apalagi bagi mereka yang sudah berkenalan dengan gadget dan internet, akan lebih menyakitkan lagi ketika withdrawal dari smartphone-nya. Lebih mending sama orang yang sudah sejak kecil sudah terbiasa dengan internet dan gadget. Atau yang terkena anxiety dari penggunaan gadget tersebut khususnya pada orang yang kena FoMo (Fear of Missing Out), takut bet saat ga bisa mengikuti perkembangan dunia luar. Apalaginya apalagi coba? Ayo bandingkan lagi coba. namaste.

Fenomena orang bandingin diri sama orang lain itu di era saat ini tidak sulit menemukannya. Cukup buka saja media sosial (medsos) banyak banget orang yang mengumbar keluh kesahnya di medsos. Sebenarnya sah-sah saja, karena itu akun kamu dan sepenuhnya dalam kendali kamu sendiri. Mau kamu curhat tentang peliknya hidup hari ini, tiba-tiba dapet sekarung beras dari langit atau meraih nobel orang tersibuk juga ya bodo amat. 

Ilustrasinya sih kayak misalnya ada orang yang ga ada hujan ada matahari tiba-tiba nangis di tepian jalan tol, ya orang lalu lalang doang. Paling banter cuman dapet impression lirikan doang, itu juga karena kebetulan melipir di tempat yang sama aja. Artinya kamu bebas berekspresi di medsos, karena itu tanggung jawab kamu terhadap cuitan-cuitan yang sudah dibuat.

Baca juga: Salahkah Saya Rebahan? – Psikologi, Pandemi dan Toxic Productivity

Oke balik lagi ke keluh kesah. Sejauh pengamatan yang saya amati secara amatir atau dengan penuh cinta, rerata orang berkeluh kesah karena merasa kondisi yang terjadi kurang memuaskan baginya. Sadar atau tidak, pembentukan ketidakpuasan atas kondisi yang ada terbentuk karena standar dirinya dibentuk dengan membandingkan diri terhadap kondisi orang lain. Gimana ngerti ga tuh? Intinya standar hidup kamu terbentur dengan kehidupan orang lain baik secara sadar atau tidak sama akan membuat insecure.

Misalnya timeline hidup kamu yang saat ini usia 23 tahun itu ketika belum dapat penghasilan yang konstan merasa diri tidak berdaya atau malu tak ketulungan. Perasaan yang terjadi ketika itu, biasanya sih disebut insecure, itu muncul karena kamu merasa seperti dituntut untuk sudah melakukan ini, ini dan itu pada usia sekian, dan usia sekian harus sudah dapet ini dan itu.

Fenomena Perbandingan Sosial Pada Manusia, Social comparison, upward social comparison, downward social comparison
Bumi Psikologi – Insecure terus kapan syukurnya Sumber: Unsplash

Percaya atau tidak, tapi kudu percaya, diri merasa tertuntut seperti di atas karena kamu terus terpapar informasi baik dari lingkungan kamu tinggal atau sering melihat dari internet orang yang seumuran dengan kamu sudah melakukan banyak hal. Seperti ada yang sudah jadi juragan cupang, meminang tiga pasangan, jadi abdi negara, bahkan sampai mereka yang sudah wasalam sekalipun tak lepas kamu amati.

Semua informasi yang diterima atau sengaja dimasukan ke kehidupanmu akan menjadi standar hidupmu. Alasannya coba lihat para penemu barang berharga saat ini, itu sebenernya dia ga bener-bener nemu langsung dari dalem tanah. Mereka itu saling menyempurnakan dengan orang-orang yang telah merancang hal itu sebelumnya (Baca aja di Guns Germs and Steel). Jadi bukan dari ketiadaan menciptakannya kalau bahasa filsafatnya. 

Baca juga: Siang Anxiety, Kalau Malam Overthinking – Dampak Bermedia Sosial Secara Psikis

Coba deh kamu perhatikan, standar hidup antara orang desa dengan pergaulan hidup di lingkungan itu-itu saja, ngopi di pagi hari ditemani pisang goreng merupakan kenikmatan hakiki. Ini akan berbeda dengan mereka yang berstatus pegawai kantor Jakarta yang harus sudah hilir mudik pagi dan sore hari, mereka akan menganggap ngopi pagi bukan ide yang bagus. Ditambah selera mencapai “nikmat hakiki” bukan sebatas kopi dan pisang goreng lagi, tapi ke makanan lain. Ini dikarenakan mereka mengenal lebih banyak referensi dan banyak mencoba dibanding orang yang hidup di desa tadi.

So, intinya informasi apa yang kamu konsumsi setiap hari, itu akan jadi duniamu, apalagi dibawa baper sampe insecure, dahlah nambah-nambah beban pikiran bae.

Orang yang merasa insecure karena melihat orang lain, bahkan mungkin ke doi sendiri, sudah memiliki banyak pencapaian, dibanding diri sendiri yang dianggap tidak memiliki daya dan upaya disebut social comparison bagian upward

Social Comparison atau Perbandingan Sosial

Social Comparison mudahnya yaitu proses seseorang membandingkan opini, kemampuan, karakteristik atau keadaan dirinya dengan orang lain. Jadi tidak hanya membandingkan soal nasib hidup saja, tapi bisa juga ketika beropini dalam suatu forum membandingkan argumennya dengan orang lain. Misalnya ketika di kelas, kamu urung mengemukakan pendapat karena merasa insecure bahwa opini orang lain lebih baik dari kamu.

Apapun bentuk dari perbandingan sosial yang kamu lakukan seperti mereka mah lebih baik, lebih cerdas, lebih beruntung, lebih senang, lebih produktif, lebih banyak temannya sampe dah dipanggil Yang Maha Kuasa duluan. Pikiran merasa tidak berdaya tersebut karena terus membandingkan diri terhadap orang lain itu membuat kamu melupakan potensi yang bersemayam dalam diri kamu. Ini disebabkan karena kamu sendiri yang memilih mengevaluasi diri terhadap orang yang kamu anggap merasa hidupnya lebih baik. Dalam artian lebih baik yaitu angan yang dibuat diri namun orang lain yang lebih dulu merealisasikannya.

Jenis Social Comparison atau Perbandingan Sosial

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, social comparison ini terdiri dari dua jenis yaitu upward social comparison dan downward comparison. Dalam teorinya upward berargumen bahwa orang yang melakukan perbandingan ini biasanya mengevaluasi diri terhadap orang lain yang menurutnya sebagai orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi atau angan yang dimilikinya ada pada orang tersebut. 

Secara kasat mata, hal ini bagus tentunya untuk mendorong kamu ingin mencapai hal tersebut. Namun kenyataannya insecure karena merasa gagal dalam mencapai angannya atau memiliki sifat gluckschmerz, merasa tidak senang ketika orang lain mendapatkan kebaikan atau nasib baik. Inilah syarat kalau kamu mau rebahan atau bahkan hidup tidak pernah tenang.

Sementara jenis downward social comparison, dia biasanya memilih untuk mengevaluasi diri dengan orang yang diproyeksikan sebagai yang lebih “kurang beruntung” daripada dirinya. Perasaan yang muncul ketika membandingkan dengan jenis ini yaitu merasa lega atau feeling good, like i should. Bahkan ekstrimnya kamu merasa lega atau puas ketika hal buruk, kegagalan atau kenahasan terjadi pada orang lain, apalagi langsung merasa jumawa dan bahagia. Astaga zalim banget hey Anda, intropeksi diri Anda!! – Tretan Muslim.

Begitulah kalau kata si Mas Festinger terkait Social Comparison.

Kamu yang suka bandingin diri secara tidak sadar akan menuntunmu dalam membentuk diri seperti self-belief, kepercayaan diri, motivasi sampai ke emosi negatif. Celakanya dengan mudahnya akses ke internet, dan orang-orang saling terhubung dengan media sosial, proses perbandingan sosial ini lebih banyak menghasilkan emosi negatif. Sebenernya ga langsung menimbulkan stres atau depresi, tapi sosial media seperti mengubah standar hidup atau menuntut diri untuk meraih lebih seperti dalam sosial media. 

Ya you know kali misalnya di instagram, pernah ga liat orang pasang foto profil ketika menangis atau lagi dipukul orang gila? Mana ada, namanya branding diri ya dengan momen terbaik. Dan kamu aja mungkin yang banyak angan yang tidak lain si pemilik feed cuman mengabadikan momen indahnya, mamam!!

Iya, mungkin diri lau juga ada yang bandingin dengan harapan-harapan masa depan yang harus kamu capai sesuai kehendak iya. Nih tak kasih tau solusinya.

Solusinya?

Solusinya kamu bisa refarm your view about yourself and your hope. Sumber dari segala insecure atau emosi negatif biasanya angan yang terlalu jauh dan terlalu banyak. Hasrat meraih apapun atau mendambakan duniawi lebih banyak akan mengecewakan kamu saja ketimbang membuat kamu bahagia secara esensial. Keharusan meraih angan akan membuat kamu terus tertekan, tapi ketika jatuh bukan di antara bintang-bintang malah di kubangan keinsecurean.

Lalu mengubah pandanganmu terhadap diri misalnya dengan lebih realistis memiliki harapan atau impian. Kemudian tidak membandingkannya dengan timeline hidup orang lain. Kamu tidak usah risau jika melihat teman kamu yang sudah jadi bos di usia 20 tahunan. Misalnya, ya selow aja, kan ga bakal tau kedepannya akan bernasib bagaimana, baik kamu atau orang tersebut.

Take a break from your social media. Ketika rebahan siangmu merasa anxiety dan rebahan malam terganggu overthinking, istirahat dari medsos dulu. Gunakan medsos sebagai entertainment, bukan jadi lahan baper. Penting kamu lakukan, filter teman-teman kamu di media sosial, karena sedikit banyak akan berpengaruh terhadap dunia dan cara pandang kamu. Seperti yang sudah saya katakan apa yang sering kamu lihat dan resapi itu akan menjadi duniamu.

Terakhir, bersyukur. Sudah bisa bangun pagi hari melihat matahari masih terbit di timur itu merupakan suatu nikmat tiada tara. Mereka tidur tanpa tau matahari masih terbit, taunya nanti bangun bareng-bareng doang. Bersyukur bisa juga dengan cara mengingat-ngingat setiap orang itu memiliki potensi dan rezekinya masing-masing. Konsisten saja apa yang sedang kamu lakukan saat ini, karena tidak akan tau masa depan seperti apa. Siapa tahu kamu besok jadi bos, bulan depan pergi ke eropa, atau tahun depan traveling ke alam baka. Manusia, tidak ada yang tahu. Bersabarlah.

Bacaan lanjut untuk solusi stress; Very Well Mind

Penutup

Oke untuk artikel Surat Cinta Bagi Orang yang Suka Membandingkan Diri Terus Terhadap Orang Lain. Fenomena Perbandingan Sosial Pada Manusia cukup sampai di sini saja. Semoga rebahan kamu jadi lebih tenang dengan tidak lebih banyak lagi membandingkan diri dengan orang lain. Semangat! Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya. Supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut: admin@bumipsikologi.com 

Kata kunci: Fenomena Perbandingan Sosial Pada Manusia, Social comparison, upward social comparison, downward social comparison

Arif B Al F

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: