Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai identitas sosial dalam psikologi. Dalam artikel ini kamu akan diajak berpikir ulang mengenai pencarian identitsa diri dalam sebuah kelompok. Pernah kan ada tuh orang yang memang begitu fanatik terhadap kelompoknya atau masuk ke berbagai kelompok, namun ternyata tidak bisa menemukan jati dirinya. Bahkan oleh orang lain dipandang bukan sebagai individu yang unik, tapi sebagai bagian dari kelompok A, B dsb.

Baca juga: Alasan Kenapa Orang Cenderung Memperhatikan Informasi Negatif – Fenomena Bias Negativitas dalam Psikologi

Puncaknya sih pas pemilu kemaren, kamu tidak dilihat sebagai ibu rumah tangga, mahasiswa, pekerja lepas, pemikir, tapi yang menonjol kamu dilihat memihak ke kubu mana. Masuk ke cebon*, kamv*vret, gurandil, kupu-kupu atau apalah itu. Baca saja lah ya identitas sosial dalam psikologi di sini.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Mencari Identitas dalam Kelompok, Malah Hilang Identitas Diri Sendiri – Identitas Sosial dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Mencari Identitas dalam Kelompok, Malah Hilang Identitas Diri Sendiri – Identitas Sosial dalam Psikologi

Mangkanya Kenalan Juga sama Diri~

identitas sosial dalam psikologi, contoh teori identitas sosial, socia identity teori psikologi
Bumi Psikologi – Menyadari keunikan diri sendiri. Sumber: Pixabay.com

Masa remaja itu masa yang labil, penuh pencarian, mengenal diri sendiri dan bla bla bla lainnya. Emang kamu ga kenal diri sendiri yach?

Terkadang fenomena pencarian jati diri membuat orang lupa akan keunikan dirinya sendiri. Grasak-grusuk masuk ke berbagai organisasi atau kelompok sepermainan dianggap akan mampu menemukan jati diri sebagai manusia sejati. Hasilnya, ada orang yang memang berafiliasi dengan beragam organisasi, namun tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Ada juga mereka yang memang fokus pada hanya ikut kelompok tertentu, dan enggan keluar darinya. Pendek kata namanya fanatik. Alih-alih menemukan jati diri, tetapi yang didapat jati kelompok menjadi bagian dari diri sendiri.

Misalnya begini, si Ucok merupakan maba salah satu kampus UIN di Jakarta. Karena punya paham bergabung dengan suatu kelompok akan menemukan jati diri dan menambah relasi maka Ucok bergabung ke Akatsuki misalnya. Sebagai individu yang tidak mengenal dirinya sendiri, Ucok berusaha menyerap apa yang dimiliki oleh kelompoknya, mulai dari atribut, persepsi terhadap kelompok lain bahkan sampai rela mati demi kelompoknya itu.

Karena Ucok masuk Akatsuki, identitas dirinya oleh orang lain dianggap seragam baik dalam hal apapun, apalagi dari kalangan sumbu pendek hiyahiya. Coba saja kamu lihat di Naruto, ketika ada shinobi yang memakai jubah hitam dengan awan merah, pasti mereka dianggap bagian dari Akatsuki dan membawa rencana-rencana jahatnya. Padahal mungkin siapa tahu shinobi itu membeli tidak sengaja bajunya di Cirebon, kan keburu otomatis dinilai bagian dari kelompok Akatsuki. Dengan konsekuensi segala bentuk aktivitas, atribut dan paham kelompok menjadi bagian dari individu.

Baca juga: Menilai Orang atau Kelompok Lain dengan Emosional – Prasangka dalam Psikologi

Begitu juga dengan Ucok, persepsi kelompoknya terhadap kelompok lain yang berada di luar Akatsuki akan sama dengan apa yang dimiliki kelompoknya itu. Ini disebabkan Ucok telah membuat kategori, dimana dirinya dan anggota kelompok lain sebagai “kami”, sedangkan orang luar dianggap “mereka.” Ini mengaburkan identitas individu pribadi Ucok karena telah melebur kepada kelompok itu. Peleburan identitas dirinya akan semakin mendalam ketika Ucok menemukan atribut, pandangan dan slogan kelompok luar berbeda dengan kelompoknya.

Misalnya, suatu sore diiringi senja dan kopi, Ucok diberi mandat untuk pergi ke Desa Suna dalam rangka berdiskusi tentang Islam. Di sana Ucok berdebat dengan kelompok yang memakai ikat kepala palu arit, dan seragam jubah merah. Adu debat dan argumen tidak terelakan dan tidak mencapai titik temu, karena memiliki paham berseberangan.

Disadari atau tidak, sepulang dari sana Ucok secara otomatis akan membuat kategori dalam pikirannya “orang dengan ikat kepala palu arit dan seragam merah itu kafeer.” Lebih jauh lagi mungkin untuk seluruh warga Desa Suna nya. Ucok akan merasa dirinya adalah bagian dari Akatsuki karena merasa jiwanya ada di dalam kelompok itu. Ini dipengaruhi juga oleh similarity effect, karena kesamaan yang dirasa terhadap sesama anggotanya.

identitas sosial dalam psikologi, contoh teori identitas sosial, socia identity teori psikologi
Bumi Psikologi – Ga kenal diri sendiri sih. Sumber: Pixabay.com

Contoh lainnya, bagi para wibu naruto lovers sudah tahu dong bagaimana Kabuto mencari jati dirinya dengan meleburkan dirinya ke dalam kelompok Orochimaru. Kabuto berusaha untuk mengungkap siapa dirinya dan bagaimana potensi yang dimilikinya. Diceritakeun Kabuto yang kian hari belum mampu mencapai itu semua, kemudian Ia memasukan seluruh kehidupan Orochimaru, Kimimaro, dan pasukan lainnya. Bahkan, Kabuto sampai meniru hidupnya Orochimaru sebagai pawang ular. Hingga akhirnya Kabuto merasa dirinya telah menemukan diri yang sebenarnya, padahal Ia hanya meniru cara hidup orang lain dan memasukan orang lain ke dalam dirinya sendiri.

Cukup jelas? Saya harap tidak~

Baca juga: Itachi: Puisi Paling Sedih dalam Dunia Shinobi – Belajar Mengenal Diri Sendiri dari Uchiha Itachi

Dalam psikologi, ini dinamakan social identity theory. Orang yang mengemukakan teori ini Mas Tajfel. Latar belakang tercetusnya teori ini atas keresahannya kenapa manusia bisa menganggap teman, tetangga, atau kolega nya yang telah hidup bersama-sama sebagai musuh yang setiap saat bisa menghancurkan kehidupannya meskipun tidak ada landasan alasan yang rasional dan objektif.

Dengan alasan itu, Tajfel kemudian melakukan sebuah eksperimen pada orang-orang. Eksperimen yang dilakukannya dengan cara membagi setiap orang ke dalam dua kelompok tanpa mengetahui satu sama lain dan tidak saling berinteraksi. Kemudian orang-orang tersebut disuruh untuk memberikan poin terhadap sesama anggotanya dan anggota lainnya.

Hasil yang diharapkan setiap orang seharusnya menilai setiap orang baik dari kelompoknya dan kelompok lain secara seimbang, karena saling tidak mengetahui. Namun ternyata tidak demikian, orang cenderung menilai lebih positif dan lebih banyak merasa memiliki kemiripan dengan sesama anggota dari kelompoknya.

Dari kasus Ucok, Kabuto atau penelitian ini, sebagai humankind tidak perlu terlalu tenggelam dan meleburkan diri ke dalam sebuah kelompok. Kamu merupakan individu yang unik memiliki kualitas, pemandangan, pengetahuan dan bisa mengeklorasi beragam hal tanpa sekat atribut kelompok tertentu. Selain itu juga kamu tidak akan terlalu berprasangka terhadap perbedaan dengan orang lain, namun menerima sebagai sebuah keunikan dan kekhasan masing-masing.

Bacaan Lanjutan: Handbook of Theories of Social Psychology

Penutup

Oke untuk artikel identitas sosial dalam psikologi cukup sampai di sini saja ya. Semoga kamu tahu siapa diri kamu wkwk. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: identitas sosial dalam psikologi, contoh teori identitas sosial, socia identity teori psikologi