Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai in-group favoritism bias dalam psikologi. Mungkin sebagian kamu pernah denger mengenai bias ini dalam diri manusia, atau langsung tahu artinya dari kata di atas. Bener sekali, bisa juga salah sekali, in-group favoritism bias merupakan fenomena yang menghampar di media sosial, ada juga di kenyataan. Dengan mengetahui bias ini, kamu bisa melihat salah satu sudut pandang kenapa bisa terjadi konflik antar kelompok yang begitu sulit sekali dilerai, misalnya ceb**g dan kam***t atau antar kelompok lainnya.

Baca juga: Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Ini merupakan sebuah masalah yang memang perlu usaha yang cukup melelahkan untuk menangani hal tersebut. Celah-celah di masyarakat sangat terbuka karena difasilitasi tingkat literasi yang bagus dari bawah, atau tuntunan kerjaan menjadi buzzerp menjadikan itu semakin jauh dari titik terang. Yuk langsung saja simak ingroup favoritism bias nya.

Oke langsung baca artikel dengan judul lengkapnya Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi

Sebuah Fenomena dan Pengalaman

penjelasan in-group favoritism bias dalam psikologi, ingroup favoritism dalam psikologi, penjelasan konflik dalam psikologi
Bumi Psikologi – Santuy aja kali gaes. Sumber: Pexels.com

Beberapa waktu lalu ketika saya ngalor di twitter dan mengomentari sebuah utas mengenai sambutan ribuan orang terkait bebasnya salah satu alumnus ormas, saya mendapatkan sebuah gelar dari netizen. Gelarnya klasik memang, sebutan netizen kala itu ceb**g bagi saya. Padahal saya hanya menyarankan sebagai masyarakat baiknya menanyakan kepada diri sendiri kenapa bisa berkumpul di tengah adanya pandemi.

Saya pikir akan mendapatkan respon positif, ternyata eh beberapa akun mulai menuduh-nuduh saya pro pemerintah alias rezim yang plin plan dalam membuat aturan katanya, “Mall, bandara, pasar, transportasi dibuka. Klo ujung2nya kena, nyalahin siapa? Habib bahar?!!!!!!!” atau komentar lainnya “Protes dong sama pemerintah kenapa ga bisa tegas bikin aturan PSBB sekarang rakyat banyak yg keliaran lu sok jadi pahlawan yg mendem dirumah, dokter sbg garda terdepan aje udh muak sama aturan gaje ala istana, bilang aje lu gedeg ngeliat umat Islam bersatu padu, yekaaaaannn???!!!!!!” dan lainnya tidak disebutin, karena ini bukan sesi nanggepin komentar.

Dari komentar-komentar tersebut saya teringat kata Cania Citta kalau berbeda di medsos itu bukan mendeklarasikan berdebat, tapi kamu dianggap mendeklarasikan perang. Lihat aja dari komentar saya yang begitu saja sudah dianggap gedeg ngeliat umat islam bersatu!!! Apalagi untuk akun-akun kenamaan yang memang digandrungi para buzzerrp.

Baca juga: Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam

Oke, fokus dalam artikel ini bukan tentang itu, tapi mengenai bagaimana orang bisa tergerak hatinya menghardik atau menyumpah serapahi orang yang berbeda dengannya. Dalam kontek ini, saya beberapa kali melirik akun-akun besar yang diidentikan oleh orang lain sebagai “mereka” atau berbeda dengan “kita”. Misalnya akun Gus Nadir, yang menurut jemaah medosisiyah itu, musuh dari pendukung khilafah. Beliau bisa dilabeli liberal, anti-islam, bahkan lebih jauh lagi. Sekaliber ulama kenamaan aja digituin kan.

penjelasan in-group favoritism bias dalam psikologi, ingroup favoritism dalam psikologi, penjelasan konflik dalam psikologi
Bumi Psikologi – Gelud yo gelud. Sumber: Pexels.com

Apalagi fenomena ini renyah dan mendidih ketika pilpres lalu. Kutub-kutub kelompok seperti sengaja dibuat untuk memisahkan antara  Kami dan Mereka. Bahkan sampai kepada permusuhan antar kerabat, sahabat sampai kepada keluarga. Alurnya sih mudah saja, beberapa orang menyitir suatu isu misalnya sekarang ini, Masjid ditutup, tapi kok mall, pasar, bandara dibuka. Sejurus kemudian dibarengi komentar yang memulai bias ini, misalnya “Memang ini tanda-tanda kiamat, rezim ga bener nih”. Lantar orang atau masyarakat yang merasa dirinya terpanggil karena memiliki kesamaan persepsi mengenai ini mulai mengamini hal tersebut. Alasan lainnya mungkin karena konformitas atau juga kerahasiaan identitas di medsos yang tertutup rapih. Sampai seterusnya dibagikan kepada group whatsapp keluarga atau ke kanal lainnya.

Baca juga: Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi

Namun ketika ada yang berkomentar misalnya seperti “itu beda urusannya, karena pemerintah sudah menganjurkan aturan  kenapa anda bebal tidak diam di rumah . . . ” yang intinya membela dan meluruskan isu tersebut. Mungkin seperti pribahasa masuk ke kandang singa, yang menyulut komentar orang lain. Karena tadi, berbeda bukan mendeklarasikan berdebat, tapi berperangyang bakal nyerang identitas personal. Celakanya, siklus ini terus berlanjut dan, mungkin, sengaja dipelihara untuk memperjelas antara kelompok kami dan mereka.

Nah, ilustrasi itu mungkin menggambarkan sedikit dari contoh fenomena in-group favoritism bias. Apa sih itu? Susahnya sih gini, tendensi atau kecenderungan yang secara sistematis mengenai penilaian yang baik terhadap kelompoknya dibanding kelompok lain atau di luar kelompoknya. Meski kelompok yang dimaksud tidak diartikal secara leksikal atau harfiah, kelompok yang memang tidak musti ada secara realita, tapi individu menciptakan kelompoknya dalam pikiran mereka. Kelompok itu tercipta karena individu mempersepsikan kesamaan identitas, ciri atau lainnya. Identitas yang sering menonjol yaitu kesamaan agama, ras, nasionaliti, pemikiran, gagasan atau kebencian. So, orang yang memiliki perbedaan dalam hal itu merupakan bukan bagian dari kami/kita.

Kenapa sih bisa begitu? Karena memang manusia adalah tempatnya membuat persepsi, penilaian dan pembuat kesimpulan yang ulung, tapi tidak ulung-ulung amat sih. Meminjam istilah Kahneman, manusia punya dua sistem yaitu Sistem 1 yang terburu-buru mengambil kesimpulan, dan Sisitem 2 yang memikirkannya secara mendalam. Kedua sistem ini ada di dalam otak kita semua loh loh. Dalam istilah lain mungkin kamu denger  sistem BIS dan BAS [baca buku Walter Mischel mengenai ini].

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Alasan lainnya yaitu mendorong orang membuat begitu karena mere categorization effect. Artinya seperti tadi, individu secara sukarela dan otomatis membuat persepsi yang memisahkan antara mereka dan kita. Hal ini mendorong orang akan berperilaku dan bersikap cukup berbeda terhadap mereka (out-group) dan kita (In-group).

penjelasan in-group favoritism bias dalam psikologi, ingroup favoritism dalam psikologi, penjelasan konflik dalam psikologi
Bumi Psikologi – Jalan ninja kita sama kok,Sumber: Pexels.com

Dalam kasus ekstream, in-group favoritism bisa sampai memandang buruk dan rendah kelompok lain. Intinya sih kayak fanatik, yang membutakan pandangan diri terhadap kelompoknya. Hal ini yang mendorong terjadinya konflik, baik di media sosial atau juga di dunia nyata.

Jadi kamu janga heran ketika ada suatu akun hanya diisi oleh pendukung nya saja, dan ketika ada orang yang berani masuk ke sana akan dibully habis-habisan. Misalnya kamu seorang yang tidak setuju dengan khilafah masuk ke akun pro-khilafah ala HTI, jangan harap tidak disumpahserapahi. Tetep santuy aja kali, ga usah paranoid begitu.

Bacaan Lanjutan

Van Lange, Handbook of Theories of Social Psychology [Unduh]

Penutup

Oke untuk artikel in-group favoritism bias hanya cukup sampai di sini saja. Saya hanya ingin mengajak temen-temen untuk menjadi netizen yang selalu santuy dan tidak membuat kesimpulan yang serampangan terhadap seseorang. Karena mirisnya ini tidak pandang orang. Terima kasih, jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada temen-temen mu juga, supaya mereka mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan in-group favoritism bias dalam psikologi, ingroup favoritism dalam psikologi, penjelasan konflik dalam psikologi