Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai kebermaknaan hidup. Kali-kali saya menulis dengan gaya bahasa yang santun dan serius hehe. Bagi kamu yang ingin mengetahui apa sih kebermaknaan hidup terutama dalam psikologi dan psikologi islam bisa membaca ini. Dalam artikel kebermaknaan hidup ini akan dijelaskan pandangan tokoh mengenai kehidupan yang bermakna itu seperti apa.

Barang kali kamu hidupnya tidak memiliki makna atau kekurangan makna bisa baca dulu artikel kebermaknaan hidup dalam teori psikologi dan psikologi islam ini. Meskipun pandangan psikologi islamnya ga banyak disinggung hehe.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Kebermaknaan Hidup dalam Teori Psikologi dan Psikologi Islam sampai tuntas ya!

Kebermaknaan Hidup dalam Teori Psikologi dan Psikologi Islam

Makna Hidup

kebermaknaan hidup dalam psikologi, makna hidup, kebermaknaan hidup dalam psikologi islam
Bumi Psikologi – Bagaimana sih kebermakanaan hidup itu. Sumber: Pixabay.com

Kebermaknaan hidup atau hidup bermakna dalam bahasa Inggrisnya yaitu meaningful life atau meaning of life, merupakan suatu perasaan subjektif yang tentunya berbeda makna setiap orangnya. Ini didasarkan pada penjelasan yang diajukan oleh Nasr yang menyebutkan makna berasal dari kata Persia yakni ma`nawiyah, yang artinya kebatinan atau sesuatu “yang hakiki” dan berbeda dari “kasat mata atau dzahir[1].

Ini berarti segala sesuatu yang menyangkut kebatinan akan memiliki sifat yang subjektif antar individu yang satu dengan yang lainnya. Maksudnya ketika individu memandang suatu hal dengan penuh makna, ini bisa jadi tidak memiliki makna sama sekali atau memiliki makna yang berbeda bagi individu lainnya. Sehingga hanya bisa dirasakan oleh seorang diri dan individu harus berusaha mencarinya.

Frankl juga menyatakan bahwa  setiap makna hidup merupakan persepsi manusia. Setiap manusia bahkan setiap momen ke momen lainnya akan memiliki makna hidup yang berbeda. Karena kehidupan merupakan suatu hal yang nyata, sehingga setiap orang memiliki tujuan masing-masing. Di sana tidak ada pengulangan situasi, meskipun kejadian terulang tetapi momen dan makna yang dirasakan akan berbeda.

Baca juga: Menanti Kehidupan Pasca Pandemi – Harapan Akan Selalu Ada Meski dalam Kondisi Terburuk Sekalipun

Kemudian Frankl menyebutkan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan di luar diri manusia daripada dalam dirinya[2]. Ini mengisyaratkan bahwa manusia selalu diarahkan pada pemenuhan sesuatu ataupun makna itu berasal dari perbuatannya pada orang lain atau sesuatu yang berada di luar dirinya.

Dari pernyataan Frankl tersebut, manusia tentunya harus berusaha dan mencari maknanya, karena ini sebagai alasan mengapa seseorang hidup atau bersemangat ketika melakukan suatu hal. Hal yang dimaksud yaitu seperti yang diutarakan oleh Martin E. Seligman yang menyatakan bahawa kehiduupan bermakna atau makna hidup yaitu dalam hal melayani sesuatu yang dipercayai lebih daripada menghargai diri sendiri, hal tersebut di antaranya yaitu agama termasuk praktik-praktik ibadah di dalamnya, partai politik, mencintai sesuatu yang hijau, menjadi seorang Pramuka atau keluarga[3]. Sehingga akan memunculkan kepuasan dalam hidup.

kebermaknaan hidup dalam psikologi, makna hidup, kebermaknaan hidup dalam psikologi islam
Bumi Psikologi – Mensyukuri hidup. sumber: Pixabay.com

Seligman dan Frankl menedeskripsikan untuk mengalami perasaan yang mendalam tentang kepuasan hidup memerlukan arahan rasa kepada kebahagiaan. Perasaan tersebut sejalan dengan pernyataan di atas bahwa diperlukan hubungan otentik dengan sesuatu yang berada di luar diri manusia seperti dengan orang yang dicintai, atau realisasi proyek untuk mewujudkan makna yang unik dan biasanya dicari oleh orang lain.

Baca juga: Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam

Adapun dalam Islam, manusia bisa berhubungan dengan Allah, dirinya sendiri, manusia lainnya, hewan bahkan dengan lingkungan dan alam sekitarnya yang mana bisa mengarahkan pada pencarian makna hidup[4].

Karena manusia harus mencari maknanya sendiri dan keberadaan makna tersebut merupakan suatu interaksi dengan dunia luar dari dirinya, manusia harus mampu bertahan dalam hidupnya. Mereka harus bisa mentaati apa yang ada dalam lingkungan. Frankl menyebtukan pula bahwa kecenderungan manusia untuk mencari makna hidup sebagai sebuah kebutuhan utama, motivasi yang sangat energik dan bertahan hidup pada manusia[5].

Frankl dan Seligman juga menyatakan pertanyaan dan pencarian terhadap makna hidup merupakan motivasi utama dalam bertindak[6]. Menurutnya hal tersebut bisa meningkatkan gairah hidup seseorang, jika ditinjau dari tingkatan kebutuhan Abraham Maslow, kebermaknaan hidup merupakan kebutuhan paling tinggi.

Baca juga: Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda – Mengukur Kebahagiaan dalam Psikologi

Teori kebutuhan Maslow dideskripsikan dengan sebuah piramida, yang mana semakin menjulang ke atas semakin sedikit orang yang bisa memenuhinya. Kebutuhan tersebut dimulai dari bawah yaitu kebutuhan Fisiologis (Physyology), Rasa aman (Safety), Cinta dan Penerimaan (Love belonging), Harga diri (Self-Esteem) dan Aktualisasi diri (Self-Actualization)[7]. Kebutuhan mengenai aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi menurutnya. Aktualisasi diri berarti seseorang bisa mengoptimalkan hidupnya dan masuk ke dalam ranah pencarian makna hidup lewat potensi diri.

Kemudian ketika seseorang sudah bisa mengaktualisasikan dirinya, mereka akan cenderung memiliki minat pada sesuatu yang transedental. Artinya kebutuhannya bukan lagi tentang diri, namun hubungannya dengan sesuatu di luar dirinya misalkan Agama dsb.

Baca juga: Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita, Sudahkah Kita Bahagia? – Bahagia Menurut Psikologi

Meskipun begitu, bukan berarti ini hanya eksklusif untuk mereka yang telah mengaktualisasikan diri, tapi setiap orang memiliki potensi untuk mencapainya. Selain itu, aktualisasi yang dimaksudkan dalam Islam yaitu individu bisa mengoptimalkan potensi dirinya, mencapai tugas yang diembannya yaitu menjadi seorang hamba dan pemimpin di muka bumi ini.

Jadi kebermaknaan hidup merupakan sesuatu yang dirasakan oleh setiap individu dengan rasa yang berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, bahkan akan berbeda di setiap momennya. Kemudian pencarian makna merupakan usaha yang dilakukan manusia melalui sesuatu yang ada di luar dirinya baik hubungannya dengan dirinya, manusia lain, alam sekitar dan Allah.

Hubungan tersebut bisa berbentuk sebuah ketaatan atau menyadari bagaimana posisi dirinya dalam hubungan dengan seluruh hal yang telah dicantumkan. Sehingga individu akan merasa bermakna hidupnya dan lebih optimal dalam menjalani hidup.

Penutup

Oke untuk artikel kebermaknaan hidup dalam psikologi cukup sampai di sini saja ya. Cari coba makna hidup kamu seperti apa. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: kebermaknaan hidup dalam psikologi, makna hidup, kebermaknaan hidup dalam psikologi islam


Daftar Pustaka

  • [1] Nasr, 2002, dalam Riyan Sunandar, “Konsep Kebermaknaan Hidup (Meaning of Life) Pengamal Thoriqoh (Studi Kasus Pada Pengamal Thoriqoh Di Pondok Pesantren Sabilurrosyah, Gasek, Karangbesuki, Sukun, Malang”, Skripsi UIN Malang, 2016.
  • [2] Viktor E. Frankl, Man`s Search for Meaning; An Introduction to Logotherapy, Boston: Beacon Press, 1959. p. 114.
  • [3] Martin Seligman, Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, Australia: William Heinemann.
  • [4] Sesuai dengan apa yang ditulis oleh Hanna Bastaman bahwa hubungan manusia dengan dirinya sendiri ditandai dengan melakukan `amal ma`ruf nahi munkar atau menjalankan tugasnya menjadi seorang `abid dan khalifah, dengan orang lain yaitu membina silaturahim atau kasih sayang dan berinteraksi secara sosial, dengan Allah yaitu berwujud ketaatan dalam menjalankan kewajiban, sedangkan dengan alam sekitar terwujud dengan pelestarian dan pemanfaatan alam degnan sebaik mungkin tanpa merusak kehidupan mereka. Hanna D. Bastaman, Integrasi Psikologi Dengan Islam; Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil, 2005.p. 54.
  • [5] Frankl, 1963 dalam Ofra Mayseless dan Einat Keren, “Finding a Meaningful Life as a Developmental Task in Emerging Adulthood: The Domains of Love and Work Across Cultures”, Emerging Adulthood Sage Publications, 2014, Vol. 2(I) 63-73.
  • [6] Leo Michel Abrami, “The Importance of Meaning in Positive Psychology and Logotherapy”, Logotherapy and Existential Analysis, Vienna: Springer, Vol. 1, 2016. p. 303.
  • [7] Meskipun teori ini menuai banyak kritik seperti tidak dapat menjelaskan bagaimana seseorang ketika sudah kenyang atau terpenuhinya kebutuhan perut namun masih makan, kemudian kritik lainnya seperti manusia tidak bisa tersegregasi ke dalam tingkatan kebutuhan dan ketika tidak terpenuhi yang di bawah tidak bisa mencapai yang atas, padahal banyak sekali di luar sana yang meskipun menderita tidak bisa makan tapi masih bisa untuk saling berbagi. Sehingga di sini hanya menjelaskan bahwa kebutuhan aktualisasi diri merupakan suatu tingkatan yang tinggi, karena manusia sudah memikirkan dan mencari makna hidupnya serta pengoptimalan potensi diri di samping dorongan rendah.