Memahami Cinta Qois untuk Layla dengan Teori The Art of Loving dari Erich Fromm – Makna Cinta dalam Psikologi

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai makna cinta dalam psikologi. Siapa sih yang tidak mengenal kata yang satu ini. Mau tanya ke anak SD sampai orang tua pun pasti tidak asing dengan istilah “cinta”. Namun apakah kamu sudah mengetahui makna lain dari cinta selain apa yang kamu pahami saat ini? 

Memang, perasaan cinta merupakan hal yang subjektif. Artinya bagi setiap orang indikatornya bisa berbeda-beda, tapi bunga dari cinta adalah perjalinan kasih antara pecinta. Begitu juga apa yang dikatakan Erich Fromm tentang jenis cinta yang cukup banyak ia sabdakan. Makna filosofis cinta darinya, membuat orang menyadari bahwa cinta itu bukan menunggu secara pasif, tapi perilaku aktif. Seperti dalam kisah Layla dan Qois atau Majnun ini. 

Mending baca saja yuk artikel memahami cinta Qois untuk Layla dengan teori the art of loving dari Erich Fromm – Makna cinta dalam psikologi sampai tuntas. 

Memahami Cinta Qois untuk Layla dengan Teori The Art of Loving dari Erich Fromm – Makna Cinta dalam Psikologi 

Makna Cinta dalam Psikologi

Makna cinta dalam psikologi. Makna cinta Erich Fromm. Fenomena teori cinta erich fromm. Kisah Layla dan Majnun dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Makna Cinta Majnun dalam Psikologi Erich Fromm. Sumber: Unsplash.com

Setiap insan yang bernafas dan hidup di dunia yang fana ini, tidak mungkin bisa hidup dalam kesendirian. Mereka membutuhkan tempat untuk bernaung dan berbagi. Bahkan yang jomblo sekalipun pasti butuh orang lain. So, kalau ada orang yang masih sendirian hidup terisolir tanpa sekawan kelompoknya bisa kamu pastikan dia nolep akut. 

Balik lagi ke tema tulisan ini yaitu tentang cinta. Bagi sebagian orang, penafsiran terkait cinta lebih merujuk pada manifestasi ikatan dua insan yang berbagi kasih. Terutama bagi kawula muda awal lebih mengartikan cinta terhadap ikatan tidak resmi antara laki-laki dan perempuan.  

Jelasnya gini kali, lebih mengartikan “cinta” pada perilaku saling berbagi perhatian dan kebaikan antara laki-laki dan perempuan. Baik melalui menyediakan waktu untuk orang terkasih maupun saling support dalam kondisi memilukan. Namun, merasa lara ketika salah satu dari mereka tidak membalas perilaku yang diharapkan, minimalnya sama apa yang dilakukan oleh salah satu pasangan tadi. 

Mengartikan cinta dengan manifestasi tersebut memang tidak salah, bahkan salah satunya merupakan indikator dari teori Erich Fromm. Tapi di luar hal kisah merah jambu pada masa sekolah, ada makna lain yang lebih dalam mengenai cinta. Salah satunya, kamu bisa belajar dari perjalanan kisah hidup pecinta sejati, dari Qois yang jatuh hati dan jiwa kepada Layla. 

Kisah Romansa Cinta Qois untuk Layla 

Kisah cinta Qois atau lebih dikenal sebagai Majnun terhadap Layla merupakan sebuah folklor dari timur tengah. Cerita ini masyhur di bumi padang pasir tersebut. Karena merupakan sebuah folklor kebenaran dan jenis dari cerita ini sangat beragam versinya. Tuturan cerita yang masyhur yaitu tulisan dari Nizami Ganjavi. Ia menuliskan cerita cinta Qois dengan sangat apik. 

Dalam ceritanya, Qois jatuh hati dan jiwa terhadap Layla melalui pandangan pertama. Kecantikan dan keindahan Layla membuat Qois langsung mencintainya, begitu juga Layla terhadap Qois. Rasa cinta yang begitu mendalam dari Qois untuk Layla membuatnya memberikan seluruh raga, jiwa dan akalnya untuk Layla. Hal ini menjadikannya sebagai pecinta sejati. Seorang pecinta tidak memedulikan hal lain selain sang Terkasih. 

Baca juga: Ruang Rindu dan Lubang di Hati – Makna Psikologi Sufistik Lagu Neo Letto 

Namun takdir mereka untuk berbagi cawan tidak pernah bertemu, mereka harus melintasi takdir berduri masing-masing. Layla dengan kisah terpenjara di rumah namun tetap menjaga cintanya untuk Qois, sedang Qois mengekspresikan kesedihannya dengan bebas di luar sana. Fokus pada Qois, Ia mengekspresikan cinta dan kecantikan Layla pada setiap orang yang ditemuinya. Akan tetapi Qois tetap tidak bisa bertemu dengan harta dan mutiara jiwanya. Sampai pada cinta yang menjadikan bahan bakar hidupnya menyelimuti seluruh jiwa, hati dan akalnya. 

Satu nama saja cukup bagi pecinta sejati. Sederhananya, kerang bisa semua orang lihat namun mereka tidak bisa melihat mutiara di dalamnya. Mereka tidak tahu apa yang tersembunyi di balik kerang itu, dan apa yang di baliknya merupakan yang terpenting. 

Qois

Majnun berubah menjadi seorang pecinta yang mencintai semua makhluk hidup. Ketika ia melihat pemburu yang hendak menjerat rusa, Ia meminta pemburu itu dengan anggun untuk melepaskan rusa tersebut. Di lain cerita, Qois melihat seorang perempuan menyiksa laki-laki sebagai pekerjannya untuk mendapatkan uang dari orang lain. Qois meminta perempuan tersebut berhenti menyiksa laki-laki itu, dan menjadikan dirinya sebagai pengganti laki-laki tersebut. 

Pada kelanjutannya, Qois hidup bersama hewan buas dan liar. Hewan-hewan tersebut seperti kehilangan sifat dasar mereka. Mereka seakan tersihir oleh aura cinta yang terpancar dari diri Qois. Qois benar-benar seorang yang dirasuki kebaikan dan cinta sehingga makhluk yang ada di dekatnya tidak merasa terancam. Cinta yang merasukinya menyebar juga kepada makhluk lain. [Baca: Resensi buku Layla dan Majnun

Teori Erich Fromm The Art of Loving 

Erich Fromm memandang cinta dari segi manusia terlebih dulu. Menurutnya, manusia merupakan makhluk yang teralienasi atau terasingkan. Perasaan terasingkan itu muncul dengan sebab kesadaran manusia yang mampu merasakan dirinya terpisah dengan alam dan berbeda dengan yang lainnya. Gampangnya gini, kesadaran terkait diri kamu, hanya kamu sendiri yang merasakan, jadinya orang lain itu punya kesadaran diri masing-masing yang kamu juga ga bisa merasakan dan memahami kesadaran orang lain. 

Lu ga bakalan tahu apa yang gue rasain, coba lu jadi diri gue pasti bakalan ngerti

Kesadaran yang dimiliki manusia menghantarkannya pada kesendirian. Maksudnya manusia memiliki rasio untuk menyadari bahwa dirinya itu hidup, tidak berdaya hidup sendiri, penyesalan terhadap masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan. Atas kesadaran tersebut manusia berusaha untuk terbebas dari belenggu ketidakberdayaannya. Salah satu cara yang mereka tempuh dengan cara berbagi dengan sesuatu hal, manusia lain dan dunia luar. 

Erich Fromm ngasih tips pada kamu, cinta itu kudu ada 4 elemen dasar yang harus kamu punya seperti Care, Responsibility, Respect, and Knowledge terhadap orang atau hal yang kamu cintai. Satu lagi pesen doi yaitu cinta merupakan perilaku aktif, bukan pasif. Harus mampu menunjukkan perilaku yang mengarah pada hal itu. Jadi bagi kamu yang mencintai dalam diam, tolong dikondisikan.

Makna Cerita dan Cinta 

Dalam cerita Qois, beberapa teori cinta yang pernah Erich Fromm bilang, misalnya Qois menyadari ketidakberdayaan dirinya tanpa seorang Layla. Ia kehilangan akal dan jiwanya karena cinta. Hidupnya hanya untuk cinta kepada Layla. Karena cintanya itu ia menjadi orang yang terpisah dari segala hal.

Keterpisahan dari segala hal, menjadikan manusia ingin memiliki cinta. Rasa sakit yang diderita karena keterpisahan akan orang yang dicintai membuat Qois menyepi dan terisolir dalam kesendirian. Dalam kesendiriannya itu, Qois bertahan karena keyakinan cinta kepada Layla.

Love is an active act, not a passive effect. It is a continual being, not a sudden brust. 

Dalam perjalanannya pula, Layla aktif bertanggung jawab akan cintanya untuk Qois. Bahkan, ketika Layla menikah dengan Ibn Salam, Layla tidak pernah mengizinkan Ibn Salam mengambil permata darinya. Ia tetap memperjuangkan cinta terhadap Qois. Begitu juga dengan Qois, dengan berdarah-darah dan pengorbanannya akan cinta sejati untuk Layla, membuatnya yakin tentang kekuatan cinta. 

Baca juga: Ketemu Jodoh Pulang KKN – Fenomena Mere Exposure Effect dalam Psikologi 

Cinta juga adalah seni. Seni keindahan yang bisa membuat orang menjadi mabuk. Mabuk cinta bisa dilihat dari beragam manifestasi. Dalam kisah Qois, Ia memang berbakat menjadi penyair indah, namun dipadukan dengan mabuk cinta kepada Layla membuat syairnya menjadi lebih hidup. Orang-orang bahkan menunggu Qois melantunkan syair yang indah memuji keindahan Layla maupun tentang kisah hidupnya, yaitu kisah derita karena cinta. 

Satu nuansa dengan pandangan yang Erich Fromm kemukakan bahwa orang yang mencintai misalnya seseorang, berarti mencintai semua manusia dan makhluk hidup lainnya. Kalau Ia hanya mencintai satu orang saja, tapi kasar terhadap orang atau makhluk lain, itu bukanlah cinta namun lebih ke nafsu, mutualisme dan ego. Kalau kamu mencintai sesuatu, seharusnya jiwa kamu juga harus penuh dengan cinta. Sama seperti Qois, seorang pecinta sejati tidak akan sengsara bersama makhluk liar pun. Artinya ketika berbuat baik dan mencintai semua orang, itu adalah jiwa pecinta sejati. 

Namun memang, ada beberapa kisah Majnun atau Qois yang tidak dipahami dari teori Erich Fromm. Misalnya, Qois tetap mempertahankan cinta untuk Layla sampai melupakan kehidupannya. Yang hanya tersisa dari hidupnya hanya cinta kepada Layla. Cinta yang tertanam dalam jiwa Qois, bukan karena keterasingan dari eksistensi apa pun. Ia lahir karena sesuatu yang irasional. Cinta mereka lahir dari pandangan pertama, dan itu merupakan cinta pertama mereka. Penderitaan tidak ada bedanya dengan kebahagiaan bagi Qois, seorang pecinta sejati. Keduanya merupakan kebahagiaan baginya. Bahkan Ia menyebut eksistensinya tidak penting, hanya satu nama yang ada, yaitu Layla. 

Referensi: 

Penutup 

Oke untuk artikel mengenai makna cinta dalam psikologi berdasarkan teori the art of loving Erich Fromm dari kisah cinta Layla dan Majnun atau Qois. Jangan lupa bagikan juga artikel ini ke teman kamu yang lainnya ya, biar kami dapet adsense lagi hehe. Terima kasih.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa mengirimkannya ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel. 

Kata kunci: Makna cinta dalam psikologi. Makna cinta Erich Fromm. Fenomena teori cinta erich fromm. Kisah Layla dan Majnun dalam psikologi. 

Arif B Al F

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: