Blueprint Menjadi Orang Open minded (Tidak) Seperti Warga Medsos – Makna Open minded dalam Psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai makna open minded dalam psikologi. Oit judul warga medsos bukan berarti seluruh warga yang ada di medsos, tapi dalam pandangan sempit saya saja. Mereka yang selalu mengglorifikasi arti open minded dengan arti menentang sistem baku agama, norma dan nilai dalam masyarakat. Bacotan-bacotan di medsos yang misalnya topik mempermaikan agama, seperti ngapain lu percaya agama, itu lah yang saya tuju. 

Baca juga: Manusia Itu Tajam Mengamati Orang Lain Tapi Tumpul Pada Dirinya – Fenomena Bias Actor observer 

Meskipun begitu, arti dan makna open minded sendiri sangat baik. Setiap orang seharusnya memiliki sifat ini. Terutama untuk mengakulturasi nilai dan norma serta pengetahuan supaya lebih maju. Tapi, intinya tidak merasa jengah dan tidak berprasangka buruk terhadap mereka yang ada di persimpangan jalan. Baca deh makna open minded dalam psikologi. 

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul blueprint menjadi orang open minded (tidak) seperti warga medsos – makna open minded dalam psikologi

Blueprint Menjadi Orang Open minded (Tidak) Seperti Warga Medsos – Makna Open minded dalam Psikologi 

Mari Kita Becandain Agama Supaya Dikata Menjadi Open minded  

Menjadi seorang open minded sepertinya memiliki derajat yang agak tinggi di medsos. Mereka yang dikata open minded misalnya akan mampu memahami dark jokes yang membahas isu-isu berat atau menyatir isu sakral. Misalnya orang yang open minded itu yang berani bahas seputar Is Religion still relevant, setuju dengan lgbtq dan lainnya. 

Sependek pengamatan saya, yang lagi-lagi karena penuh cinta terhadap warga medsos, biasanya open minded digambarkan sebagai orang yang mau membahas hal yang sakral. Sakral dalam konteks saya seperti keluar dari batasan norma dan agama yang berlaku di Indonesia. Meskipun saya mengakui banyak bias dalam pandangan ini, termasuk filter medsos turut andil, dan tidak semuanya seperti demikian. Banyak juga para profesor dan dosen yang saya ikuti. Mereka benar-benar berpikiran terbuka nan meneduhkan. Meskipun begitu, sekali dua kali merasa kerap menemukan bacotan warga medsos membaiat diri open minded dengan definisi itu, jadi asumsi saya kebanyakan demikian.  

Makna open minded dalam psikologi. Fenomena open minded dalam psikologi. Contoh open minded dalam psikologi. Penjelasan open minded.
Bumi Psikologi – Di dunia ini setiap orang itu saling bergerak ke segala arah, jadi bakal berbeda. Sumber: Unsplash.com

Open minded kalau kamu tanyakan ke setiap orang ya pasti jawabnya memiliki pikiran terbuka. Memang begitulah arti kata-nya yang berasal dari bahasa Inggris, ga ribet artinya kan. Dengan definisi seperti itu, sampai sini sih baik-baik saja. Karena open minded itu bagus bisa menerima hal yang baru dengan pikiran terbuka, bukan menghancurkan tradisi yang ada. 

Baca juga: Apakah ini cinta, atau kebanyakan kafein? – Sebuah fenomena misattribution of arousal dalam psikologi 

Ketika datang suatu hal baru dari luar, dirinya tidak merasa terancam. Tidak hanya menerima dengan legowo saja, tapi mencari tahu asal muasal sampai mempelajarinya. Inget ya mempelajari bukan berarti mengimani juga. Dalam konteks ini, seperti life style dan pengetahuan. Akan tetapi, masalahnya, ketika definisi open minded pada orang yang baru tahu secuil perkembangan ilmu pengetahuan berani menentang mereka yang mempertahankan gaya kolot, akan muncul gesekan. 

Misalnya dalam ekspresi beragama, ada anggapan bahwa orang yang mengekspresikan Islam dengan pola kearab-araban dinilai sebagai konservatif. Di sisi lain mereka yang tergabung dalam Islam Nusantara dianggap liberal. Yang tidak open minded itu meraka yang membenci dan menjustifikasi penganut kedua ekspresi beragama tadi. 

Bahkan biasanya netizen, yang tidak mungkin usia dewasa akhir, men-declare dan membaiat diri sebagai open minded ketika berani melanggar batasan agama dan norma yang berlaku. Sampai pada (yang pernah saya temukan) merasa open minded ketika menyerupai orang Barat, terutama dalam ranah perilaku dan pikiran. Misalnya ketika berpikir bahwa reasoning dan positivistik adalah segalanya dan merasa telah terbukti di dunia barat, merasa orang yang percaya hal ghaib itu norak banget.   

Baca juga: Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi 

Kayak do’a itu ga perlu dalam menentukan kesuksesan orang, buat apa karena faktor-faktor yang menentukan itu usaha-usaha diri saja. Padahal meskipun sudah berusaha dengan maksimal tapi hasilnya memang gagal, kudu piye? Manusia kan punya hati, fitrah, akal dan nafsu, nah semua itu tidak bisa manusia selarasin sendirian, perlu ada bantuan yang Maha Kuasa. Usaha memang perlu untuk menjemput takdir yang baik, namun ada kekuatan di luar sana yang juga menjadi penentu dalam menuntun takdir manusia. Dengan sebab itu ada fenomena-fenomena di luar nalar manusia bisa terjadi. 

Oke balik lagi ke open minded. Jadi bagaimana open minded itu? Apakah hanya sebatas menyerap gaya pemikiran orang barat, atau apakah hanya menisbatkan orang bercadar atau baju cingkrang sebagai konservatif atau kolot. Bahkan sebatas mempertanyakan apakah Tuhan itu hanya halusinasi. 

Kalau kamu tahu dan banyak referensi, pertanyaan konyol itu tidak akan kamu lontarkan. Kita hanya tinggal mengakses bahwa sudah ditanyakan di zaman dulu, dan menuai banyak pendapat. Bahkan nabi Ibrahim mempertanyakan juga, tapi dalam konteks mempertanyakan Tuhan yang dianggap masyarakat pada masanya. Ini artinya harusnya pertanyaan kayak begitu bukan dianggap sebagai orang open minded tapi tidak tahu apa-apa. 

Pernah saya mendapatkan nasehat indah dari salah satu dosen di kampus seperti ini:  

Dikatakan open-minded itu kalau kamu sudah mengetahui dan menguasai beragam ilmu, kemudian kamu membuka diri terhadap pandangan orang lain sesuai apa yang kamu baca, tujuannya untuk mendapatkan perspektif baru dari hasil bacaan kamu.  

Perspektif Psikologi 

Van der zee dan Van Oudenhoven menyatakan open minded merupakan dimensi dari variabel multicultural personality atau kepribadian multikultur. Doi jelasin orang open minded itu kayak tidak adanya prasangka terhadap suatu hal yang baru. Atau orang yang bersikap hangat terhadap orang yang memilki budaya berbeda dengan yang dimiliki Inget ya budaya itu segala yang berkaitan dengan manusia. Tidak hanya sikap hangat tapi menerima dengan tangan terbuka, kayak kalau misal ada orang baru dari eropa, ya yaudah sok mangga hidup tentrem di sini, begitu.  

Bahkan Leone menegaskan orang open minded itu tidak menolak, dalam artian bukan juga mengimani, tapi ya sok saja hidup terhadap mereka yang memiliki nilai, kepercayaan dan agama yang berbeda sekalipun. Bahkan sampai mempelajarinya, tentu supaya mendapatkan nilai-nilai yang positif. Jadi, fokusnya kepada sikap menerima perbedaan sih kalau open minded yaitu bersikap hangat ketika bertemu orang berbeda.  

Lalu Apa Masalahnya? 

Masalahnya, ketika merasa sudah mengetahui budaya luar dan menjadi bagian dari kehidupan dirinya, merasa jengah ketika melihat orang tidak seperti dirinya. Misalnya ketika tahu orang lain tidak mengamini pendapat dirinya bahwa orang mengekspresikan agama memakai jubah atau sarungan dianggap konservatif atau liberal. Pola judgement atau menilai orang lain seperti inilah yang salah. Karena mungkin mereka telah belajar lebih lama dari kamu atau juga telah menentukan sikap terhadap masalah yang kamu angkat. So, kurang-kurangin berpransangka negatif terhadap perbedaan. 

Kata open minded itu kan kata sifat jadi lebih ke sifat manusia bagaimana sih menyikapi suatu perbedaan tersebut. Nah kalau kamu open minded berarti mau belajar dan mendengarkan pandangan orang lain. Tidak menyelah dan ya silahkan kamu berbeda pendapat, kalau baik berarti bisa saling memperbaiki. 

Untuk lebih lengkap dan mendapatkan blue print open minded bisa akses ke sini: [Faktor yang mempengaruhi toleransi beragama] hehe. 

Penutup 

Oke untuk artikel makna open minded dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Silahkan mungkin bagi kamu yang berbeda pendapat bisa ngasih masukan terhadap opini ini. Jangan lupa bagiin kepada teman kamu dan komen supaya cepet dapet adsense. Terima kasih. 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com  

Kata kunci: Makna open minded dalam psikologi. Fenomena open minded dalam psikologi. Contoh open minded dalam psikologi. Penjelasan open minded. 

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau. Kunjungi: https://arifkeisuke.com