Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan membahas artikel memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi. Sebelumnya ada yang sudah mendengar mengenai Dunning-Kruger Effect ini? Barang kali ada yang sudah dan belum. Tapi kalau saya bertanya, pernah melihat orang yang merasa serba tahu segala hal dan merasa dirinya hebat? Tentunya pernah dong jika sudah malang melintang di dunia internet atau medsos. Arogansi tanpa isi banyak sekali dipertontonkan di sana.

Baca juga: Kesalahan Memahami Kepribadian Introvert dan Ekstrovert – Introvert dan Ekstrovert dalam Psikologi Kepribadian

Barang kali kamu juga merasa greget dengan orang semacam itu, atau korban atau jangan-jangan pelaku juga, semoga saja tidak ya, bisa memahami dunning-kruger effect untuk menjelaskan fenomena tersebut. Memang sih, menurut saya, medsos itu merupakan tempat yang egaliter, dan jubah kebanggaan, gelar itu tidak berarti untuk warganet. Satu kali keliru, kamu akan dipukul kata-kata bombastisnya.

Yuk simak aja langsung artikel dengan judul lengkapnya Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Fenomena Masa Kini

memahami dunning-kruger effect dalam psikologi, memahami teori dunning-kruger effect, apasih dunning-kruger effect itu, penjelasan dunning-kruger effect, dunning-kruger effect.
Bumi Psikologi – Bagaimana debat itu sih harusnya. Sumber: Pexels.com

Kebijaksaan sejati adalah mengetahui bahwa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa. Keagungan kalimat Sokrates ribuan tahun lalu itu, ternyata merupakan solusi permasalahan sosial di masa sekarang. Masyarakat sekarang memiliki kecenderungan bahwa mereka yang memiliki sedikit pengetahuan justru merasa dirinya paling hebat. Berkomentar di media sosial tentang suatu  fenomena seakan paling kompeten dalam bidang tersebut. Memberikan nasehat kepada orang lain tentang suatu perkara, seolah dirinya maha tahu dari yang paling tahu. Lebih parah lagi, mereka tak segan-segan untuk membantah bahkan menghujat semua argumen yang berbeda.

Siapapun orangnya, termasuk para ahli sekalipun tetap dibantah bila memiliki pendapat yang berbeda. Budiman Sudjatmiko pasti setuju ketika saya bilang bahwa kita hidup pada masa dimana perbedaan antara ahli dan orang awam terlihat samar-samar. Sebab, media sosial memberikan kemerdekaan seluas-luasnya kepada orang untuk berpendapat. Jika tidak hati-hati, bisa saja kita terperangkap dengan argumen si maha tahu netizen dengan segala bacotnya. Lantas sebenarnya apasih yang membuat orang bisa menjadi sangat sok tahu?

Debat di medsos lebih terbuka, inklusif, egalitarian, interaktif, tidak pastinya jalan debat, siapa saja yang terlibat tidak terprediksi, bahkan berapa lama debat di medsos berakhir sulit untuk dilihat, apalagi hasil akhirnya.

Prof. Ariel Heryanto – Disadur dari  https://tirto.id/mutu-debat-publik-kita-esM6

Fenomena dimana seseorang yang tidak memiliki kemampuan tapi merasa dirinya hebat dinamakan Dunning-Kruger effect. Istilah ini pertama kali muncul dari hasil penelitian David Dunning dan Justin Kruger yang dilakukan dalam bidang humor, grammar, dan tes logika. Hasilnya menemukan bahwa orang yang memiliki skor test pada kelompok tinggi cenderung memiliki persepsi yang akurat terhadap kemampuannya, pada kelompok rata-rata memliki persepsi yang hampir akurat, sedangkan pada kelompok rendah memiliki persepsi yang tidak akurat dan kepedean akan mendapatkan skor yang tinggi.

Baca juga: Stres dan Depresi Sama Tidak Sih? – Simak Perbedaan Stres dan Depresi dalam Psikologi Kesehatan

Kesimpulan dari studi ini adalah seseorang dengan tingkat keahlian rendah cenderung menilai dirinya melebihi kenyataan, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan membentuk khayalan bahwa dirinya hebat (illusory superiority). Dunning-Kurger effect merupakan kebalikan dari impostor syndrome, dimana seseorang yang sesungguhnya kompeten justru selalu meragukan kemampuannya sendiri dan selalu merasa kurang cakap.

Jika dicermati lebih lanjut, salah satu determinan paling dominan mengapa seseorang mengalami Dunning-Kruger effect adalah ketidakmampuan seseorang mengenali dirinya sendiri. Seseorang biasanya terjebak karena memiliki kemampuan metakognisi yang rendah dan selalu berusaha menampilkan persona terbaiknya agar dipandang superior. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menilai berlebihan kemampuan yang dimilikinya dan mengabaikan kelemahan dan kekurangannya.

Solusi paling canggih untuk tidak terperangkap kedalam bias kognitif ini adalah dengan cara memahami diri sendiri, mengetahui batas kemampuan, dan menerima segala kekurangan. Kemudian, meminta pendapat orang lain tentang baik atau buruknya kemampuan kita. Kritik dan saran dari orang lain sangatlah membantu, sebab ada area diri yang tidak bisa kita lihat namun bisa dilihat orang lain.

Baca juga: Menjadi Pribadi yang Selalu Memaafkan – Mengenal Konsep Pemaaf dalam Psikologi Islam

Kemampuan metakognisi sangat berkaitan dengan Dunning-Kruger effect. Metakognisi adalah seni berfikir tingkat tinggi yang melibatkan kesadaran seseorang untuk berfikir dan bertindak mana yang benar dan salah. Sederhananya, metakognisi merupakan berfikir tentang proses kognisinya, meliputi apa yang belum dipahami, cukup dipahami, dan yang sudah dipahami. Melatih kemampuan metakognisi sangatlah diperlukan agar tidak terjebak dalam bias kognitif ini.

memahami dunning-kruger effect dalam psikologi, memahami teori dunning-kruger effect, apasih dunning-kruger effect itu, penjelasan dunning-kruger effect, dunning-kruger effect.
Bumi Psikologi – Akhirnya saling jontos-jontosan. Sumber: Pexels.com

Seseorang yang memiliki kemampuan metakognisi yang rendah cenderung tidak sadar kemampuan dan terjebak dalam Dunning-Kruger effect. Sebaliknya, yang memiliki kemampuan metakognisi tinggi cenderung akurat dalam menilai kemampuannya. Bahkan, terkadang seseorang yang memiliki pengetahuan yang lebih baik atas batas dari kemampuan dirinya, pada titik tertentu bisa mengalami impostor syndrome.

Dunning-Kruger effect memang penyakit alami para pembelajar, sebagaimana Umar bin Khattab yang bilang tahapan awal seseorang yang menuntut ilmu akan sombong. Tetaplah jadi pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan dan tidak sombong, seperti kata pepatah indonesia “jadilah padi, semakin berisi semakin merunduk”. Beranilah menjadi tidak tahu daripada sok tahu, seseorang tidak boleh dihukum atas ketidaktahuannya, bukan kesoktahuannya. Berhentilah menciptakan narasi tentang suatu perkara yang bukan keahlianmu. Janganlah mengutuk orang lain bodoh karena tidak mengerti tentang apa yang kamu jelaskan. Sebenarnya siapa yang bodoh? Orang yang tidak mengerti apa yang kamu jelaskan, atau jangan-jangan dirimu sendiri?

Penutup

memahami dunning-kruger effect dalam psikologi, memahami teori dunning-kruger effect, apasih dunning-kruger effect itu, penjelasan dunning-kruger effect, dunning-kruger effect.
Bumi Psikologi – Biasakanlah Ngopi Santuy dan Tidak sok Tahu. Sumber: Pexels.com

Oke untuk artikel memahami Dunning-Kruger effect dalam pandangan psikologi hanya cukup sampai di sini saja ya. Semoga kamu bisa memahami diri sendiri, mengukur kemapuan dan pengetahuan diri sampai sejauh mana, dan mawas diri. Karena memang ada hal yang harus legowo ketika melihat orang ahlinya bersanding dengan diri yang tidak ekspertis di dalamnya. Jangan lupa bagikan artikel ini apabila kamu mendapatkan suatu inspirasi atau pengetahuan, supaya bisa berbagi satu sama lain. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: memahami dunning-kruger effect dalam psikologi, memahami teori dunning-kruger effect, apasih dunning-kruger effect itu, penjelasan dunning-kruger effect, dunning-kruger effect.