Restui Tibanya “Kehilangan” Demi Tenang yang Mendatang – Memahami Makna Kehilangan untuk Kesehatan Mental

Kesehatan Mental

12 Jan, 2021

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai memahami makna kehilangan untuk kesehatan mental. Kamu tau ga sih apa dan bagaimana makna kehilangan yang sesungguhnya? Kalau belum sini simak baik-baik. Dengan memahami makna kehilangan, kamu akan lebih bisa mengerti sedikit tentang kehidupan. Di mana ada kehidupan di sana ada kehilangan.

Baca juga: Menyingkap Makna Bertemu dengan Orang Lain. Hanya Kebetulan atau Penuh Makna?

Selain itu juga, dengan memahami makna kehilangan, kamu akan lebih siap menghadapinya. Oleh karenanya kamu akan cenderung memiliki kesehatan mental yang kuat. Mental yang kuat karena memahami hakikat apa itu makna dari kehilangan. Baca saja deh memahami makna kehilangan untuk kesehatan mental lebih jauhnya.

Yuk simak artikel dengan judul lengkapnya restui tibanya “kehilangan” demi tenang yang mendatang – memahami makna kehilangan untuk kesehatan mental dan bagiin juga.

Restui Tibanya “Kehilangan” Demi Tenang yang Mendatang – Memahami Makna Kehilangan untuk Kesehatan Mental

Kehilangan

Kehilangan mempunyai makna yakni hilangnya sesuatu, menjadi lenyap, tidak tampak dan tiada. Pernah terlintas pertanyaan bahwa siapakah orang di dunia ini yang tak pernah mengalami kehilangan? Biar kutebak, jawabannya tidak ada.

memahami makna kehilangan untuk kesehatan mental. Apa makna kehilangan yang sesungguhnya. Makna kehilangan dalam psikologi. Hakikat kehilangan dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Memahami makna kehilangan untuk meningkatkan kesehatan mental diri. Sumber: Unsplash.com

Kamu boleh memaknai arti “kehilangan” versi dirimu. Kehilangan benda mati, benda hidup, kehilangan seseorang yang masih mampu kau temui, kehilangan “dia”, atau hilangnya sosok, raga serta jiwa yang tak pernah lagi ada. Tetapi, apa mungkin bagi seseorang mengalami kehilangan terhadap manusia bernyawa dan manusia yang sudah tidak, secara bersamaan? Menurutku, jawabannya iya. Sangat mungkin sebab aku mengalaminya, sendiri. Hargai mereka, selagi ada.

Aku tak hendak membawamu pada cerita-cerita klise ku perihal kehilangan. Aku ingin menyampaikan banyak hal yang sekiranya harus ku tuangkan untuk mereka yang sedang merasakan hal yang sama denganku, atau mereka yang akan merasakan itu sebab aku yakin, kita semua akan menghadapinya; Kehilangan.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Kehilangan adalah satu dari banyaknya kepelikan masalah hidup di dunia fana ini. Perjalanan, takdir, dan kenangan yang berselimut doa hangatnya akan terjaga dan selalu ada menemani sampai kita dihapus waktu.

“Only know you love her when you let her go”.

The Passengers – Let Her Go.

Kupikir, kita sama-sama setuju bahwa kehilangan tidak jauh dari penyesalan, bukan? Jika dikutip dari penggalan lirik lagu Let Her Go di atas, singkatnya, mereka bermakna bahwa seseorang dapat dengan mudah menyadari kalau sesuatu amat penting dan berharga, jika sesuatu itu sudah hilang.

Hal ini kebanyakan terjadi pada kita saat mengalami kehilangan. Kehilangan “dia” yang kamu sayangi, misalnya. Kenapa ya, kita cenderung sedih yang amat mendalam ketika si “dia” sudah pergi atau membuat keputusan untuk meninggalkan kita? Padahal saat masih bersama, semua rasanya biasa aja.

Mengapa demikian?

Manusia akan tetap menjadi manusia dengan sifat dan kodratnya. Egois, egosentris, careless. Mungkin ketiga kata sifat itu yang dapat menjadi penyebab keselarasan antara penyesalan dan kehilangan.

Manusia cenderung merasa bahwa dunia berpusat untuknya, manusia fokus hanya untuk dirinya saja. Maka ketika seseorang yang ia anggap penting menjadi hilang, manusia baru menyadarinya saat itu juga sebab pada waktu-waktu sebelumnya, yang hanya ia pikirkan hanyalah kepentingan manusia itu sendiri.

Menjadi hilang di atas bermakna pergi meninggalkan kita dan juga pergi menghadapi kematian. Tentu, pada kebanyakan orang, kematian bukanlah keputusannya sendiri melainkan bagian dari takdir Tuhan.

Lantas, apa yang dibutuhkan oleh mereka yang sedang kehilangan?

Mudah sekali mulut mengucap banyak nasihat untuk orang-orang yang sekiranya perlu menerima itu semua, seperti mereka yang sedang kehilangan. Mereka terlihat mendengarkan, tetapi nyatanya tidak. Telinganya mendengarmu, namun hati dan pikirannya entah kemana.

Ketika manusia berada pada titik terendah terutama sedang mengalami kehilangan atas manusia lain yang tak lagi bernyawa, hal pertama yang harus dilakukan sebagai pendengar adalah tunjukkan rasa dan emosi yang sama dengan mereka. Serta, validasi emosinya yang sedang tak stabil dan meluap-luap. Sebisa mungkin posisikan diri kita sebagai mereka, agar emosi dan kalimat-kalimat yang akan kita ucapkan tertuang dengan tulus untuk diterima. Beri dukungan moral, sosial, secara fisik ataupun tidak.

Hal-hal yang kusebutkan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan aku sangat terbantu oleh semua itu.

Bagaimana agar dengan lapang merestui tibanya “Kehilangan” demi tenang yang mendatang?

Sesuai dengan prinsip psikologi, jika pikiran dapat dengan lapang menerima, mengikhlaskan hal yang amat menyakitkan agar damai dan singgah pada jiwa kita, maka itulah yang akan terjadi, sebab pikiran manusia adalah hal terkuat dan terpenting yang menyebabkan terjadinya perilaku.

“Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”

QS Ar-Raa’d: 24 

Ayat di atas dapat menjadi pengingat sekaligus penenang atas sebesar apapun rasa sakit yang kita lalui. Ayat ini juga mengingatkan seberapa sakitnya sakit hati, itu tak akan berlangsung selamanya. Selalu ada cahaya harapan di ujung penderitaan.

“Menaruh harapan pada manusia adalah seni paling sederhana dalam menderita dan menuju kecewa”.

Aku sangat yakin dan setuju bahwa manusia bukanlah tempat bergantung atas hal apapun itu. Kebahagiaan, kekecewaan, kepelikan masalah-masalah, dan sebagainya. Apapun dan seberat apapun masalah yang kita hadapi, gantungkan dan hanya memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Satu, Allah SWT. Manusia tak dapat berbuat apa-apa sekalipun mereka saudara sedarahmu.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Kehilangan adalah satu dari banyaknya kepelikan masalah hidup di dunia fana ini. Perjalanan, takdir, dan kenangan yang berselimut doa hangatnya akan terjaga dan selalu ada menemani sampai kita dihapus waktu. Begitulah penggalan lirik-lirik lagu dari banyaknya lagu favoritku.

Baca juga: Kebermaknaan Hidup dalam Teori Psikologi dan Psikologi Islam

Untukmu yang sedang mengalami kehilangan, kumohon pasrahkan semuanya kepada satu-satunya Tuhanmu. Memang terdengar sangat klasik, namun begitulah nyatanya. Tabur rasa percaya akan tibanya ketenangan yang luar biasa setelah kita merestui dan memvalidasi berbagai variasi  emosi-emosi yang terus berdatangan. Jangan tolak apapun emosi negatif itu. 

Sadari, kenali dan terima mereka masuk. Untukmu yang sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tak pernah kamu bagikan kepada siapapun, terus bertahan ya. Terus ingat bahwa tiada kesedihan dan kedukaan yang bertahan selamanya.

Penulis: Amarylis Puan Nabila (Instagram: Amarylis Puan S)

Penutup

Oke untuk artikel memahami makna kehilangan untuk kesehatan mental sampai di sini saja. Jangan lupa bagiin juga artikel ini ke teman kamu yang lain, supaya kami cepat mendapatkan adsense. Terima kasih.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: memahami makna kehilangan untuk kesehatan mental. Apa makna kehilangan yang sesungguhnya. Makna kehilangan dalam psikologi. Hakikat kehilangan dalam psikologi.

Kanal kiriman artikel dari pembaca dan seluruh manusia tercinta.
%d blogger menyukai ini: