Kenali Toxic Parenting Agar Kita Tidak Menjadi Toxic – Memahami Toxic Parenting dalam Psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai memahami toxic parenting dalam psikologi. Sebenernya sih bukan parent yang toxic itu tapi pola asuhnya. Seperti sebuah wejangan bilang tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, yang dipersiapkan untuk mengasuh anak. Oleh karenanya menjadi orang tua itu tidaklah mudah, namun kamu bisa belajar bagaimana mengasuh anak dengan menghindari diri jadi toxic parenting. 

Baca juga: Cerita Sebagai Media Pembentuk Pribadi Anak – Metode Bercerita untuk Pengajaran Anak dalam Psikologi 

Fenomena ini muncul seiring dengan lakunya pendidikan parenting. Di samping itu, minat anak muda, terutama akhi atau ukhti yang suka berdiskusi soal nikah, biasanya kursus parenting ini diminati. Itu wajar saja, karena setiap orang tentu menginginkan untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ini juga alasannya karena usia anak awal merupakan golden age untuk masa depannya. Baca saja coba artikel memahami toxic parenting dalam psikologinya. 

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Kenali toxic parenting agar kita tidak menjadi toxic – memahami toxic parenting dalam psikologi sampai tuntas ya! 

Kenali toxic parenting agar kita tidak menjadi toxic parenting – memahami toxic parenting dalam psikologi 

Pola Parenting 

Memahami toxic parenting dalam psikologi. Toxic parents dalam psikologi. Fenomena toxic parenting dalam psikologi. Contoh toxic parenting.
Bumi Psikologi – Memahami Toxic Parenting Sumber: Unsplash.com

“Kita tidak bisa memilih orang tua kita seperti apa, tetapi kita bisa memilih untuk menjadi orang tua seperti apa.” 

Semua orang tua tidak ada yang sempurna. Setiap orang tua mempunyai kekurangan masing-masing. Tidak ada orang tua yang bisa selalu menahan emosinya setiap waktu, terkadang mereka juga tidak bisa menahan emosi dan melampiaskannya dengan memarahi anak mereka. Hal tersebut tidak menandakan mereka menjadi “toxic parent” karena itu merupakan suatu hal yang wajar. 

Akan tetapi, ada orang tua yang selalu memberi efek dan kebiasaan negatif pada anaknya, orang tua yang tidak memperlakukan mereka sebagai individu, orang tua yang tidak mampu untuk meminta maaf jika dirinya salah. hal-hal tersebut bisa menandakan mereka menjadi “toxic parent”. tidak jarang dari anak-anak yang memiliki orang tua seperti itu mengalami trauma. 

Bagaimana perilaku pola asuh toxic parent? 

Menurut Darlene (2018), ada beberapa pertanyaan yang bisa kita tanyakan pada diri sendiri tentang perilaku orang tua kita. Berikut adalah pertanyaannya : Apakah mereka cenderung bereaksi berlebihan atau membuat keributan? mereka menggunakan pemerasan emosional? Lalu, Apakah mereka membuat permintaan yang sering atau tidak masuk akal? Kemudian apakah mereka mencoba mengendalikan Anda? Terakhir, apakah mereka mengkritik atau membandingkan Anda?  

Bagaimana mereka memanipulasi, menggunakan rasa bersalah, atau mempermainkan korban? Apakah mereka menyalahkan atau menyerang Anda? Menghormati batasan fisik dan emosional Anda apakah dipertimbangkan? Apakah mereka mengabaikan perasaan dan kebutuhan Anda? Apakah mereka iri atau bersaing dengan Anda? Jika perilaku tersebut terjadi terus menerus, orang tua seperti itu bisa dianggap sebagai toxic parents. 

Baca juga: Tinjaun dan Peran Keluarga Terhadap Pemberian Smartphone dan Internet Pada Anak – Penggunaan Smartphone Pada Anak dalam Psikologi 

Menurut Deka (2020), memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadap anak merupakan bentuk dari perilaku pola asuh toxic parent. Selain itu, orang tua yang memiliki sifat egois, kurang empati, dan suka mengatur juga merupakan bentuk dari perilaku pola asuh toxic parent.   

Orang tua terkadang mematahkan semangat anak terhadap impiannya dan mengarahkan anak pada impian yang mereka inginkan. Mereka juga mengatur semua kegiatan anak tanpa mengajak anak untuk melakukan kompromi, dan akhirnya membuat anak menjadi terkekang. Ketika menjadi orang tua yang mengumbar keburukan anak juga merupakan bentuk dari perilaku pola asuh toxic parent. Selain itu, orang tua yang selalu menyalahkan anak, tidak menghargai usahanya, dan mengungkit kesalahan anak  juga merupakan bentuk dari perilaku pola asuh toxic parent. 

Bagaimana agar kita terhindar dari perilaku pola asuh toxic parents? 

Komunikasi keluarga yang baik bisa mengatasi toxic parents.  Pola komunikasi antara orang tua dan anak harus dibangun sedini mungkin. Ini karena komunikasi tidak hanya percakapan antara orang tua dan anak, tetapi juga perbuatan, seperti sentuhan, perhatian, kata-kata semangat, dan perbuatan positif lainnya. Perbuatan tersebut merupakan bentuk komunikasi secara tidak langsung. Semua aturan yang dibuat orang tua harus dibicarakan dan disepakati bersama anak mereka. Orang tua juga harus bisa konsisten terhadap semua aturan tersebut. Jika kesepakatannya tidak boleh, orang tua pun tidak boleh melakukannya. 

Menurut Putu Adi (2020), komunikasi yang berkualitas pada anak akan membuat mereka mampu mengenal dan membedakan benar salah, memudahkan dalam mengetahui akar persoalan, serta memberikan kepentingan yang terbaik untuk anak. Dengan begitu orang juga akan terhindar dari perilaku toxic parents. 

Referensi 

Penulis: Nur Azizah Robbaniyyah: nurazizahrbnyh@gmail.com (Instagram: nurazizahrbnyh) 

Penutup 

Oke artikel memahami toxic parenting dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Saya doakan semoga teman-teman mendapatkan buah hati yang terbaik dan berbakti pada orang tuanya. Jangan lupa bagikan kepada teman kamu yang lain jika kamu belajar hal baru dari sini. Terima kasih, 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com 

Kata kunci: Memahami toxic parenting dalam psikologi. Toxic parents dalam psikologi. Fenomena toxic parenting dalam psikologi. Contoh toxic parenting. 

Kanal kiriman artikel dari pembaca dan seluruh manusia tercinta.
%d blogger menyukai ini: