Meneladani Sikap Forgiveness Nabi Saw

Kesehatan Mental

4 Jan, 2021

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai meneladani sikap forgiveness Nabi Saw. Dalam artikel ini, ruh-ruh Islam tidak kami lupakan menghiasi artikel di sini hehe. Sebagaimana kita tahu semua, Nabi Muhammad Saw. merupakan idola terbaik yang harus dinomor wahidkan. Kamu bisa menelaah sejarah Nabi, atau bahasa lainnya Sirah Nabawi, sikap Rasul Saw. sangat penting untuk kita tiru. Salah satunya meneladani sikap forgiveness Nabi Saw ini

Baca juga: Menakar Ulang Semangat Ibadah di Bulan Ramadhan dengan Alat Ukur Psikologi – Renungan Ibadah dengan Alat Ukur Psikologi 

Sadar atau tidak, sikap forgiveness ini sangat penting untuk kamu miliki. Bahkan ada sahabat nabi yang kata nabi akan masuk surga karena dia punya amalan memaafkan orang sebelum tidur. Secara psikologis dengan sikap forgiveness, kamu akan merasa lega tidak marah durjana terhadap dunia. Perasaan lega dan firendly, bahkan mental yang sehat akan mudah kamu dapatkan. Baca skuy meneladani sikap forgiveness Nabi Saw  

Yuk baca artikel lengkapnya dengan judul meneladani sikap forgiveness Nabi Saw sampai tuntas. Jangan lupa juga bagiin artikelnya! 

Meneladani Sikap Forgiveness Nabi Saw 

Sikap Forgivness itu Penting 

meneladani sikap forgiveness Nabi Saw. Memahami forgiveness dalam psikologi. Psikologi islam forgiveness. Sikap memaafkan Nabi Saw.
Bumi Psikologi – Sikap memaafkan diperintahkan Allah dalam Al-Quran. Sumber: Unsplash.com

Masalah kerap kali membuat suasana hati seseorang tidak menentu. Ada yang merespon dengan marah-marah, bersikap bodo amat, atau berusaha memaafkan. Sampai saat ini, memaafkan merupakan barang langka yang sulit kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, menurut Andrew Matthews seorang penulis buku Being Happy yang perlu kamu perhatikan adalah satu-satunya orang yang merasa rugi saat kita tidak bisa memaafkan orang yang menyakiti kita adalah diri kita sendiri. 

Dengan kita tidak memaafkan akan menyita banyak waktu, tenaga hingga pikiran untuk apa yang kita anggap masalah. Bahkan, sebagian besar permasalahan datang ditimbulkan dari ketidak mampuan kita untuk memaafkan. Seorang dokter di Amerika, Gerald Jampolsky sampai mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka dengan menggunakan satu metode tunggal, yaitu rela memaafkan. 

Forgiveness atau memaafkan menurut McCullough berarti Avoidance Motivation; meredam kebencian terhadap pihak yang menyakiti, Revenge Motivation; penurunan motivasi untuk membalas dendam, serta Benevolence Motivation; meningkatkan dorongan untuk memperbaiki hubungan dengan pihak yang menyakiti. 

Dalam banyak penelitian, memaafkan mempunyai hubungan positif dengan kebahagiaan. Ini artinya, semakin seseorang bisa memaafkan semakin ia merasa bahagia. Seseorang yang mudah memaafkan bisa merasa lebih lega, menurunkan perasaan emosi negatif, hingga menurunkan tekanan darah, detak jantung, dan tubuh yang rentan terhadap stress. 

Baca juga: Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam 

Nabi Saw sebagai role model terbaik juga adalah seorang yang kita tahu sebagai pemaaf. Bagaimana tidak, cacian, tuduhan hingga tindakan seperti meludahi terlontar kepada Nabi Saw. Namun, Nabi Saw. bisa memaafkan dan menjadi uswah yang baik untuk kita umatnya. 

Allah Swt. menganjurkan dan memerintahkan setiap orang memiliki sikap pemaaf yaitu dalam Al-Qur’an: 

 
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.

QS. al-A’raf [7]: 199

Pernah pada satu ketika, seorang lelaki asal Yamamah bernama Tsumamah bin Itsal pergi ke Madinah untuk membunuh Nabi Saw. Semua persenjataan sudah siap dengan matang. Melihat gelagat yang mencurigakan, Umar bin Khaththab menghadangnya. Dengan perasaan benci dan tidak gentar, saat ditanya maksud kedatangannya, Tsumamah memberitahukan maksudnya, yaitu untuk membunuh Nabi Saw. 

Seketika, Umar yang dikenal sebagai pegulat tangguhpun meringkusnya dan melaporkan kepada Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. menghampiri dengan tenang dan memandang wajah lelaki yang bermaksud mengancam nyawanya itu. Tidak terlihat kebencian atau bahkan keinginan untuk memerintahkan para sahabat agar mengeksekusinya. Bahkan, Nabi Saw. justru menanyakan apakah lelaki itu sudah diberikan makan oleh sahabat. Pertanyaan yang janggal yang keluar walaupun posisi nyawa telah terancam. 

Baca juga: Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda – Mengukur Kebahagiaan dalam Psikologi 

Para sahabatpun terheran-heran. Nabi Saw. justru memerintahkan pada para sahabat untuk membuka tali ikatnya dan memberikannya segelas susu. Lalu Nabi Saw. memintanya untuk mengucapkan la ilaha illa Allah. Dengan ketus Tsumamah menjawab “saya tidak sudi mengucapkannya”. Beberapa kali permintaan itu dilontatkan dan berhujung penolakan. 

Tidak berhenti sampai situ, Nabi Saw. membuat para sahabat geleng-geleng terheran dan tidak habis pikir dengan meminta Tsumamah dilepas bebaskan. Namun tidak disangka, saat Tsumamah baru beberapa langkah meninggalkan Madinah, ia bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah. Semua kaget. Nabi Saw tersenyum dan bertanya “mengapa kamu baru mengucapkannya?”. “Apabila saya mengucapkannya saat posisi belum dibebaskan, khawatir dianggap masuk islam karena takut. Saya mengucapkan setelah bebas menunjukan semata-mata masuk islam karena Allah Swt” jelasnya. 

Dari sini, terlihat memaafkan selalu berbuah manis. Baik terhindar dari akibat negatif tidak memaafkan, meningkatnya kebahagiaan atau berbuah manis saat kamu menjadikannya sebagai pendekatan komunikasi. 
 
Penulis: Muhammad Nurrifqi Fuadi (Instagram: @rifqifuadi_1001), email: m.nurrifqifuadi1001@gmail.com 

Bacaan lanjutan mengenai forgiveness: Strategies for seeking way How to Frogiveforgiveness can improve our mental health 

Penutup 

Oke untuk artikel meneladani sikap forgiveness Nabi Saw cukup sampai di sini saja. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kamu ya. Jangan lupa bagikan juga kepada orang lain jika kamu merasa belajar hal baru dari sini. Terima kasih! 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com  

Kata kunci: meneladani sikap forgiveness Nabi Saw. Memahami forgiveness dalam psikologi. Psikologi islam forgiveness. Sikap memaafkan Nabi Saw. 

Kunjungi: http://mnurrifqifuadi1001.blogspot.com/