Berdamai dengan Pola Pikir Negatif Melalui Konsep Positive Psychology

Redaktur

25 Jun, 2022

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai mengatasi overthinking dalam psikologi positif. Pikiran negatif atau negative thinking memang selalu membuat diri ini pusing tak karuan. Bahasa saat ini mungkin kebanyakan yang dipake lebih ke overthinking. Pikiran-pikiran ini biasanya selalu muncul tanpa kita undang, kayak kamu yang tiba-tiba menghilang hehe.

Mengatasi overthinking atau asosiasinya pikiran negatif banyak sekali cara yang bisa kamu lakukan. Salah satunya yaitu berdamai dengan pikiran tersebut. Menerima pikiran itu menjadi bagian dari diri sendiri merupakan jalan pertama untuk membebaskanmu dari dampak lain. Mau tau caranya? Baca aja skuy mengatasi pikiran negatif dalam psikologi ini.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Berdamai dengan Pola Pikir Negatif Melalui Konsep Positive Psychology sampai tuntas ya!

Berdamai dengan Pola Pikir Negatif Melalui Konsep Positive Psychology

            Negative thinking’ menggambarkan tanggapan negatif seseorang terhadap sesuatu hal. Berdasarkan definisi dari Beck (1995), pola pikir negatif atau negative thinking berarti cara seseorang memandang hidup yang tertuju pada anggapan tidak realistis dan tidak didasarkan pada hal yang benar. Berpikir negatif tentu tidak asing dialami oleh setiap orang, tetapi pikiran negatif memberikan pengaruh yang berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya dan antara suatu kondisi dengan kondisi lainnya. Reaksi dari pikiran negatif dapat berupa dampak yang positif seperti semangat untuk melakukan sesuatu dengan baik, menghindari kegiatan yang non-productive, aware terhadap ancaman dan lain-lain. Meski begitu, pemikiran negatif cenderung menyebabkan seseorang menjadi enggan membuka pikirannya pada hal baik.

Respons yang demikian dapat berdampak buruk pada gangguan mental dan apabila berkelanjutan maka menjadi sulit diatasi. Pemisalan yang dapat terjadi: seseorang yang negative thinking terhadap masalah sangat mungkin mengalami depresi, gangguan tidur hingga gangguan kesehatan akibat ‘pemikiran buruk’ yang berlarut. Oleh karena itu, persepsi negatif perlu diatasi dan salah satu langkahnya melalui pendekatan positive psychology.

Mengenal Konsepsi Positive Psychology

Positive psychology merupakan ilmu psikologi yang membahas mengenai emosi-emosi positif dan berfokus pada upaya mendukung kualitas hidup yang baik dan bahagia. Terdapat beberapa pilar yang disampaikan oleh tokoh pengantar psikologi positif yaitu Martin E. P. Seligman antara lain pleasant life, good life, dan meaningful life. Pleasant life berarti kehidupan yang membuat sebanyak mungkin kesenangan, menjaga dan mengintensifkan perasaan positif. Sedangkan good life didefinisikan sebagai kehidupan mencapai keadaan puas. Lalu meaningful life diartikan oleh Seligman (2002) sebagai kemampuan diri untuk melayani hal yang lebih besar dari diri sendiri. Konsepsi ini juga berangkat dari pemikiran Aristoteles mengenai eudamonia dan hedonic.

Eudamonia adalah sesuatu karena hal dari dalam sesuatu terebut—misalnya, seseorang melakukan perbuatan baik karena menikmati perbuatan baik dan senang melakukannya. Kemudian kehidupan yang baik turut timbul dari emosi positif seperti mencintai, memiliki kekaguman, dan rasa syukur. Selanjutnya perkembangan positive psychology dimulai oleh Martin E. P. Seligman yang mengenalkan pendekatan psikologi positif pada 1998. Seligman mengubah sudut pandang terhadap psikologi yang pada saat itu hanya dianggap sebagai metode pengobatan bagi orang yang mengalami ‘gangguan jiwa’. Melalui pendekatan yang dibawa oleh Seligman, psikologi menjadi metode untuk membuat orang yang normal maupun gangguan jiwa menjadi bahagia.

Baca juga: Privilege, Pevita & Keinferioran Kita – Fenomena Inferiority Superiority Complex dalam Psikologi

Martin E. P. Seligman merumuskan komponen kebahagiaan untuk membangun kehidupan yang baik berupa PERMA. ‘P’ merupakan perwakilan dari positive emotion yang berarti seseorang bahagia karena emosi yang positif meliputi kedamaian, rasa syukur, kepuasan, kesenangan, inspirasi, harapan, keingintahuan, kekaguman dan cinta. ‘E’ mewakili komponen engagement atau keterikatan terhadap aktivitas dari segi yang positive. Engagement berarti menikmati kegiatan yang dilakukan hingga mengalami keadaan flow. ‘R’ adalah komponen relationship sehingga seseorang menjadi lebih mudah bahagia jika terlibat dalam hubungan sosial yang bermakna dan memiliki orang-orang yang dicintai atau berharga. ‘M’ merujuk pada komponen meaning atau kebermaknaan. Menjadi seseorang yang terlibat dan menyalurkan kebermaknaan dengan melayani sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Terakhir, ‘A’ ialah komponen accomplishment yang diartikan sebagai adanya kemajuan  dalam hidup. Kebahagiaan dapat timbul dengan sesederhana semakin bijak, menjadi lebih menerima dan memeroleh pencapaian tertentu.

Implementasi Konsep PERMA pada negative thinking

            Mengelola pola pikir negatif dapat dilakukan melalui implementasi konsep positive psychology. Langkah implementasi dapat dilakukan dengan menerapkan komponen scientific  kebahagiaan ini yang sempat penulis paparkan sebelumnya tidak lain adalah PERMA. Menjalani hidup untuk mencapai indikator PERMA berarti memandang dengan emosi yang positif, terikat pada tiap aktivitas, bahagia atas relasi pada sesama, membentuk makna dan mencapai suatu progres atau kemajuan. Mendefinisikan sesuatu memanglah mudah, tetapi melaksanakan pun bisa jadi semudah itu.

            Pertama, implementasi untuk memanage pola pikir negatif dapat dilakukan dengan memperhatikan lawan dari kondisi negatif tersebut. Apabila sedang dilanda risau atas hal-hal yang tidak kita miliki dalam hidup maka kita perlu mengendalikan pemikiran tersebut dengan hal-hal yang telah kita miliki. Langkah paling dekat ialah dengan bersyukur untuk mencapai emosi yang positif pada diri sendiri. Bersyukur bisa dicoba dengan membuat jurnal kebersyukuran, menuliskan aspek dalam diri yang telah dimiliki, komponen dari kehidupan yang paling dimaknai atau tidak ternilai dan sejenisnya adalah solusi yang dapat dicoba. Menuliskan ungkapan bersyukur dapat membantu diri agar melihat bahwa “saya memiliki hal lain yang sebenarnya cukup.” Hal tersebut akan lebih terasa jika dilaksanakan secara rutin pula.

            Kedua, menikmati aktivitas yang mesti dilakukan sehari-hari. Setiap orang akan memiliki rutinitas mereka masing-masing dan memikirkan rutinitas itu mungkin bisa membuat diri kita bosan, tersama jenuh, monoton dan seterusnya dan seterusnya. Awal dari pikiran ini lalu membawa diri kita untuk mengharapkan yang lebih atau mudahnya mengira bahwa aktivitas kita serba kurang dan tidak menarik. Maka mengatasinya dapat dilakukan dengan membuat variasi. Aktivitas rutin seperti melaksanakan tugas bisa dikerjakan di suasana yang berbeda tetapi menyesuaikan preferensi yang kita senangi. Dengan begitu, menjalankan sesuatu tidaklah menjadi beban namun kita akan terbawa untuk menikmatinya tanpa sadar waktu telah berlalu (flow).

            Ketiga, senantiasa berhubungan sosial dengan kawan ataupun kerabat. Tidak jarang kita mengalami pola pikir negatif karena disebabkan oleh orang-orang di sekeliling kita. Kita mungkin beberapa kali mengalami insecure melihat kawan-kawan dan orang-orang memiliki sesuatu yang lebih. Di mana pencapaian mereka berdampak pada diri sendiri untuk merasa rendah diri, ragu-ragu bahkan tidak pantas. Meskipun begitu, menjalin hubungan sosial dapat menyembuhkan rasa enggan atau pemikiran negatif tersebut. Dekat dengan orang-orang yang hebat sejatinya dapat memotivasi untuk mencapai langkah hebat pula meski dengan cara yang berbeda. Tetap menjalin hubungan akan mendorong hadirnya kesempatan-kesempatan baru dan selanjutnya turut membantu mengoreksi pola pikir negatif.

            Keempat, berdamai dengan pola pikir negatif melalui kegiatan yang bermakna. Pola pikir negatif akan kalah setelah melalui sesuatu yang jauh lebih dari pola pikir tersebut. Maka, salah satu implementasi yang dapat dilakukan yakni menemukan pemaknaan. Makna salah satunya dapat diraih dari aktivitas-aktivitas yang bersifat sosial, misalnya berbagi, membantu sesama, melakukan donasi, bahkan hingga aktivitas pengabdian pada masyarakat. Memiliki alasan untuk melakukan sesuatu juga dapat membantu “makna.” Apabila kehidupan dijalani dengan berpegang pada tujuan, seseorang akan terdorong untuk mencapai tujuan tersebut. Akhirnya, tercapainya tujuan memberikan makna pada hidup dan menghapuskan pemikiran negatif yang semula membebani diri.

            Terakhir, penting untuk berani melakukan sesuatu hal tanpa terpatok pada hasil semata melainkan prosesnya. Menghargai hal-hal yang dilakukan akan membantu menetralkan pikiran negatif dan memberikan kesempatan lebih untuk mengevaluasi aktivitas tersebut tanpa memandang suatu patokan angka atau capaian. Melalui aktivitas yang demikian dapat memberikan jeda agar progres turut diutamakan. Maka, menghadapi sesuatu dapat dilakukan dengan gaya kita sendiri, apa adanya. Tanpa perlu mengkhawatirkan kuantitas melainkan kualitasnya.

Simpulan

Keseluruhan konsep positive psychology memberikan gambaran atas pentingnya memaknai segala sesuatu dalam hidup. Sesederhana apa pun itu, mencapai kehidupan yang bahagia dan berkualitas dapat diraih dari hal-hal kecil beberapa di antaranya menanggapi pemikiran negatif, menerima masalah, dan menangani kesedihan. Positive psychology menjadi sarana netralisasi negative spectrum atas banyak problem dalam hidup. Sehingga, berbagai praduga yang menjadi bahan overthinking dapat diselesaikan dan konsep-konsep positive psychology menjadi sarana untuk membuat kondisi jiwa menjadi positif.

Perlu bersama-sama dipahami jika menjadi pribadi yang positif tidaklah mustahil meski diri kita masih serba buruk dan banyak kurangnya. Namun, sejatinya apabila dicoba perlahan-lahan dan melalui upaya yang benar pemikiran buruk atas diri sendiri dapat diatasi oleh diri sendiri pula. Dapat disimpulkan jika, melalui konsep positive psycholog hidup yang bahagia tidaklah sesulit itu untuk dimiliki. Kita dapat mencoba mengenal diri, terus berupaya melihat hal baik dari diri dan kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup diri sendiri hingga harapannya mampu menularkan kepada orang lain di sekitar. Setidaknya untuk mencapainya dimungkinkan tiga tahapan yang terjadi dan dilakukan setelah memahami positive psychology.

Pertama dimulai dari diri sendiri merasakan emosi positif seperti berpuas hati, bersyukur, optimisme, dan sebagainya. Pada tingkat ini, penerapan positive psychology akan membawa pada feel good. Kedua, pada tingkat individual kita akan mulai mengembangkan kebijaksanaan, mengaplikasikan kemampuan interpersonal untuk menjadi good person. Terakhir hal yang akan dilakukan adalah berkontribusi, membantu sesama dan berperan dalam komunitas yang lebih luas. Yakni, langkah yang dilakukan dimulai dari sharing hingga membentuk lingkungan yang positif.

REFERENSI

Beck, J. S. (1995). Cognitive Therapy: Basics and Beyond. New York: The Guilford Press.

Seligman, M. E.P. (2002). Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York, NY: Free Press.

Penulis: Afifah Ulayya Itsnaini (Instagram)

Penutup

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini atau mau mengirimkan artikel bisa kamu kirimkan ke admin@bumipsikologi.com atau ke menu submit artikel.

Kata kunci: Mengatasi pikiran negatf dari sudut pandang psikologi. Mengatasi overthinking dalam psikologi. Cara mengatasi overthinking dalam psikologi.

Kanal kiriman artikel dari pembaca dan seluruh manusia tercinta.