Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan menjelaskan artikel tentang mengenal konsep pemaaf dalam psikologi islam. Mumpung dalam suasana bulan ramadan, pasti dong banyak orang yang saling maaf-memaafkan. Nah di satu sisi, ada aja orang yang memang kukuh tidak mau memaafkan orang yang minta maaf, tapi ada juga yang sebaliknya. Kenapa sih begitu? Baca aja ya artikel mengena konsep pemaaf dalam psikologi islam.

Baca juga: Meningkatnya Kesadaran Religiusme pada Masyarakat sebagai Awal Psikologi Islam – Mengenal Psikologi Islam

Oh iya, konsep ini akan dijelaskan dalam perspektif psikologi islam. Sebuah mazhab baru dalam psikologi, yang tumbuh subur di Indonesia. Mungkin mengenal konsep pemaaf dalam psikologi islam ini tidak dikontradiksikan dengan pandangan psikologi lain, namun saling melengkapi dalam memahaminya.

Yuk baca aja sampai tuntas artikel dengan judul lengkapnya Menjadi Pribadi yang Selalu Memaafkan – Mengenal Konsep Pemaaf dalam Psikologi Islam.

Menjadi Pribadi yang Selalu Memaafkan – Mengenal Konsep Pemaaf dalam Psikologi Islam

Konsep Pemaaf atau Afwun

Konsep pemaaf dalam psikologi islam, sifat pemaaf dalam psikologi, menjadi orang pemaaf, ciri pemaaf dalam psikologi islam
Salam damai dan kasih sayang sesama makhluk hidup. Source: Pexels.com

Menurut Abdul Mujib, Alafuwu atau afwun merupakan kepribadian rabbani yang memaafkan kesalahan orang lain; meninggalkan sanksi atau hukuman terhadap orang yang besalah; menutupi dan menghapus kesalahan orang lain. Mulia sekali bukan menjadi seorang pemaaf?

Menurut McCullough, foregiveness merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang supaya tidak membalas dendam dan bisa meredakan kebencian terhadap orang yang menyakiti dirinya. Hasilnya menuju arah konsiliasi untuk tidak saling menyakiti, kata lainnya damai.

Baca juga: Terapi Gestalt untuk Membangun Kesadaran Lingkungan Hidup Masa Kini – Pandangan Psikologi Terhadap Alam

Artinya ketika seseorang mampu bersikap memaafkan orang lain, orang tersebut bukan berarti tidak memiliki amarah atau dendam, namun lebih tidak melampiaskannya kepada orang lain. Emosi yang ada dalam diri orang tersebut tidak dihilangkan, namun dikendalikan secara tepat.

Dalam psikologi Islam ini ada kaitannya dengan struktur jiwa manusia yang mendominasi dirinya antara qalb, nafs, dan aql. Ketika menjadi seorang pemaaf, dorongan buruk nafsu, seperti menyakiti orang lain, akan lebih sedikit ketimbang dorongan akal dan qalb individu tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Sifat Pemaaf

Konsep pemaaf dalam psikologi islam, sifat pemaaf dalam psikologi, menjadi orang pemaaf, ciri pemaaf dalam psikologi islam
Tahan dan tidak untuk meluapkan emosinya ya. Source: Pexels.com

Faktor-faktor yang mempengaruhi orang memiliki sifat pemaaf bisa dibagi menjadi beberapa penyebab, di antaranya:

Faktor religiusitas

Religiusitas sendiri berarti bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam doktrin agama, perilaku memaafkan merupakan perilaku yang sangat mulia. Ganjaran yang akan didapatkan ketika mampu memaafkan orang lain yaitu cukup menggiurkan. Karenanya menurut Bedell, untuk melihat perilaku memaafkan yang dipengaruhi religiusitas bisa dilihat dari seringnya beribadah.

Selain itu, dalam konsep agama, yang diajarkan adalah perihal cinta dan kasih sayang, sehingga dengan sendirinya orang yang memiliki religiusitas tinggi dan mengimplementasikannya sudah terlihat jelas.

Faktor Trait atau disposisi

Pemaafan ada dua jenisnya yaitu pemaafan episodik dan disposisi. Pengaruh pemaafan episodik terkait pada lingkungan eksternal yang mendorongnya untuk memaafkan orang lain. Sehingga perilaku ini tidak akan cenderung bertahan lama. Beda halnya dengan pemaafan disposisi, yang mana perilaku memaafkan sudah terpatri dalam diri. Oleh karenanya, orang dengan disposisi atau sifat memaafkan akan mudah dan murah memaafkan orang lain.

Ciri dan Indikator Orang Pemaaf

Konsep pemaaf dalam psikologi islam, sifat pemaaf dalam psikologi, menjadi orang pemaaf, ciri pemaaf dalam psikologi islam
Nikmati hidup ini dengan tenang dan memaafkan. Source: Pexels,com

Untuk mengetahui ciri orang pemaaf menurut Moh. Khasan dapat dilihat dari empat aspek yaitu kognisi, afeksi dan konasi.

Aspek kognisi berarti individu mampu memahami kesalahan orang lain, meyakini adanya kebaikan dalam pemaafan, tanggung jawab terhadap kedamaian dan keselamatan bersama.

Baca juga: Bagaimana sih Toleransi Beragama dalam Sudut Pandang Psikologi? Simak Penjelasan Teoritisnya!

Aspek afeksi berarti lapang dada, memperbaiki hubungan dengan pelaku, mendoakan pelaku agar sadar dan bertaubat, memintakan ampunan kepada Allah kepada pelaku, bermusyawarah dan membuka pintu dialog dengan pelaku.

Aspek konasi berarti menjadi pemaaf, berserah diri kepada Allah, menyerahkan semua urusan kepada Allah (tawakkal) setelah maksimal berusaha.

Manfaat Sifat Pemaaf

Konsep pemaaf dalam psikologi islam, sifat pemaaf dalam psikologi, menjadi orang pemaaf, ciri pemaaf dalam psikologi islam
Keseimbangan dan ketenangan. Source: Pexels.com

Manfaat memiliki sikap pemaaf antara lain bisa meredakan konflik, meningkatkan kesehatan mental, menggapai kesuksesan di masa dewasa. Selain itu juga, foregiveness berperan dalam beberapa domain psikologis diri, di antaranya yaitu pengurangan afek negatif (perasaan negatif), motivasi negatif (dorongan negatif), kognisi negatif (pikiran negatif), dan perilaku negatif.

Secara teoritis, Enright menjelaskan hubungan antara kesehatan mental dan perilaku memaafkan yaitu bertujuan individu akan mengenal dirinya yang terlepas dari kurungan emosional terutama yang negatif. Karenanya, kecenderungan untuk mengatasi pemaafan merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan diri.

Baca juga: Mengenal Dissociative Disorder; Kepribadian Ganda, Depersonalisasi, dan Amnesia Dissosiative – Serial Mengenal Stress

Ada empat tahap untuk mencapai manfaat memiliki sikap pemaaf menurut Enrigh. Pertama yaitu tahap mengungkap. Tahap ini merupakan pembukaan individu terhadap segala dampak pada perlaku yang akan mungkin terjadi jika balas dendam, dan individu memahami pengampunan merupakan jalan mencapai kesejahteraan diri. Tahap kedua yaitu memutuskan.

 Di sini orang telah paham arti sesungguhnya dari pemaafan dan berkomitmen dengannya.  Ketiga yaitu tahap bertindak. Bertindak dalam hal ini yaitu seseorang mampu merekontruksi pemahaman dari asumsi terhadap orang yang bersalah, orang lain atau lingkungannya.

Rekonstruksi kognisi melalui persepsi yang positif ini, individu akan mulai menyadari empati pada orang lain. Keempat yaitu tahap pendalaman. Tahap ini individu mampu menemukan makna dalam penderitaan, meningkatkan dan memperbaharui tujuan hidupnya.

Daftar Pustaka

  • Moh. Khasan, “Perspektif Islam dan Psikologi Tentang Pemaafan”, at-Taqaddum, vol. 9, No. 1, Juli 2017.
  • Mujib A., (2017), Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, Jakarta: ajawali Pers.
  • Muntafi, M.S. “Forgivingness ditinjau dari kepribadian big five pada mahasiswa uin maliki malang”, Skirpsi UIN Malik Malang, 2014.
  • Rahmat Aziz, E.N. Wahyuni, & W. Wargadinata, “Kontribusi bersyukur dan memaafkan dalam mengembangkan kesehatan mental di tempat kerja”, Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental (INSAN), Vol. 2(1), p. 33-43, 2017.

Penutup

Konsep pemaaf dalam psikologi islam, sifat pemaaf dalam psikologi, menjadi orang pemaaf, ciri pemaaf dalam psikologi islam
Keadaan yang damai dan saling memaafkan adalah yang terbaik. Source: Pexels.com

Oke deh untuk artikel mengenal konsep pemaaf dalam psikologi islam cukup sampai di sini saja. Semoga bisa menjadi manusia yang penuh dengan kasih sayang yang selalu memaafkan kesalahan diri sendiri dan orang lain. Ini penting karena bisa meningkatkan kualitas hidup diri dan dalam hidup bermasyarakat. Oh iya, kamu bisa baca buku [Terapi Humor dulu nih]. Terima kasih

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: Konsep pemaaf dalam psikologi islam, sifat pemaaf dalam psikologi, menjadi orang pemaaf, ciri pemaaf dalam psikologi islam