Ngopi bersama gebetan pdkt? – Sebuah fenomena misattribution of arousal dalam psikologi

Pendahuluan 

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai sebuah fenomena misattribution of arousal dalam psikologi. Bagi kamu yang suka banyak minum kopi, pernah ga kepikiran bahwa kafein bisa menciptakan jatuh cinta. PDKT dengan cara ngopi ini ternyata merupakan strategi yang efektif loh. Baca saja deh di bawah penjelasan fenomena misattribution of arousalnya.  

Baca juga: Aku Tahu, Kamu Suka Sama Aku, Kan? – Fenomena Erotomania 

Bagaimana dorongan-dorongan dalam diri itu dipengaruhi oleh apa saja. Juga, dorongan lain ketika dada bergetar bertemu seseorang apakah itu dinamakan cinta atau hanya karena kafein. Bagaimanapun juga kamu tentu mengetahui apa yang sedang kamu rasakan sendiri sih, termasuk halu. 

Baca saja artikel dengan judul lengkapnya apakah ini cinta, atau kebanyakan kafein? – sebuah fenomena misattribution of arousal dalam psikologi

ngopi bersama gebetan saat pdkt? – Sebuah fenomena misattribution of arousal dalam psikologi

Sebuah Fenomena naik roller coaster, ngopi sebelum presentasi, dan nonton film horror saat pdkt

Coba deh bayangin, kamu sedang kencan ke Dufan bersama dengan teman kampus kamu yang paling cantik. Menaiki wahana, bercanda, berlarian kesana kemari dan tertawa. Senyumnya membuat kamu bahagia, suaranya lembut menghangatkan, tawanya membuat hati kecil gembira. Rasanya jantungmu berdebar lebih kencang seperti genderang mau perang. sepulang kencan, pikiran kamu masih saja memikirkan teman kencanmu. Kamu merasa begitu hidup saat jalan bersamanya. Ah, dia ini bikin hatiku berdebar saja saat melihat senyumnya~ 

Mengalami perasaan semacam ini sama halnya dengan saat kamu mau presentasi mata kuliah di pagi hari. Sesampainya di kampus, kamu ngopi dan sebat-sebat lucu untuk menenangkan diri. Ketika waktu presentasi dimulai, tanganmu keringet dingin, badan gemeteran, dan akhirnya kamu lupa materi yang mau kamu sampaikan. Kemudian, kamu menangggap lupanya kamu dikarenakan dosen atau audience yang tatapannya mengintimidasi. Atau beralasan kalau di kelas itu ada wanita yang kamu sukai bikin kamu grogi hingga akhirnya kamu ngeblank

Kamu tau ga persamaan antara menonton film horror, naik roller coaster, dan minum kopi? Semuanya memiliki kesamaan, sama-sama bisa membuat jantung kita berdegup kencang, dan semua itu merupakan strategi pdkt yang efektif. Coba aja kamu ngopi dengan dengan gebetan di suatu cafe, Minum kopi esspreso, berbincang-bincang, sambil mengungkapkan perasaan. Kamu merasa jantungmu sangat deg-degan, hingga akhirnya kamu merasa ini yang dinamakan dengan cinta. Tapi, tapi, tapi…. sebenarnya hatimu yang cenat-cenut ini disebabkan oleh cinta? Atau karena kebanyakan kafein?~ 

Apakah ngopi bersama gebetan saat pdkt bisa menciptakan cinta? 

Fenomena misattribution of arousal dalam psikologi. Penjelasan misattribution of arousal psikologi. Contoh fenomena misattribution of arousal. Memahami misattribution of arousal. pdkt dengan cara ngopi
Bumi Psikologi – Cinta atau karena kopi. Sumber: unsplash.com

Manusia itu suka salah mengartikan penyebab dari apa yang sedang dia rasakan. Kamu merasakan detak jantung yang bergerak cepat mungkin akibat efek naik roller coaster bukan efek dari jatuh cinta. Kalau katanya Stanley Schachter dan Jerome Singer, seseorang untuk mengalami emosi memerlukan dua komponen. Pertama adalah gairah alias arousal, dan kedua adalah label alias penamaan untuk itu. Nah, manusia itu suka salah dalam label alias penamaan ini. 

Gairah (Arousal) dalam hal ini itu tidak terbatas pada hasrat seksual saja. Ini adalah suatu kondisi yang sebenarnya sering kita alami. Kondisi terjaga seperti detak jantung yang meningkat, perhatian terfokus, telapak tangan berkeringat, mulut kering, serta nafas panjang disertai dengan desahan yang lebih besar. Sedangkan, label ini merupakan jawaban atas pertanyaan apa yang bertanggung jawab atas arousal yang sedang kamu rasakan. 

Baca juga: Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda – Mengukur Kebahagiaan dalam Psikologi 

Untuk mengalami emosi, kamu memerlukan arousal alias kondisi sadar dan terjaga seperti di atas dan kamu ngasih label apa nih yang bikin gue bergairah banget. Semisal bahagia, kamu merasakan detak jantungmu terpompa yang disebut arousal, kemudian kamu menganggap teman kencanmu adalah penyebabnya yang disebut labelnya. Atau semisal marah, kamu merasakan perhatianmu yang fokus dan nafas panjang yang disebut arousal, kemudian kamu menganggap bahwa orang yang menyerempet motormu adalah penyebabnya alias labelnya. 

Kebiasaan manusia itu menyalahkan manusia lain atas apa yang dia rasakan berdasarkan pengamatan lingkunganya. Ketika misalnya kamu minum kopi sebelum presentasi di kelas, kemudian kamu merasa begitu gugup dan grogi. Kamu malah menyalahkan dosen atau audience yang tatapannya mengintimidasi, bukan karena kopi yang kamu minum sebelumnya. Kamu mencari penyebab yang mana adalah seseorang yang bisa kamu amati di lingkungan, bukan penyebab sebenarnya. Kesalahan penafsiran tentang gairah ini disebut dengan missattribution of arousal

Apa itu Misattribution of arousal? 

Salah satu pembuktian paling populer adalah keisengan Arthur Aron dan Donald Dutton pada tahun 1974. Penelitian mereka berlokasi di dua jembatan yang berbeda. Jembatan pertama menggantung tinggi, ringkih, bergoyang bila tertiup angin, dan di bawahnya ngarai membentang. Satu kata yang dapat menggambarkannya adalah menyeramkan. Sedangkan jembatan yang kedua tidak terlalu tinggi, kokoh, kuat, dan sangat aman untuk dilewati. 

Di tengah jembatan, ada seorang wanita yang menarik. Setiap laki-laki yang berpapasan diminta untuk mengisi kuisoner oleh si wanita. Di akhir kuesioner, subjek diminta untuk mengilustrasikan si wanita dan cerita di belakang untuk penjelasannya. Setelah mengisi kuesioner, si wanita memberikan nomor handphone kepada subjek dan bersedia untuk berdiskusi tentang riset tersebut serta akan melaporkan hasil kuisonernya.  

Ternyata 50% pria yang melewati jembatan yang menyeramkan mengangkat telepon dan menelepon nomor si nyonya ngarai, sedangkan hanya 12.5% pria di jembatan aman yang menelepon. Tidak hanya itu, ilustrasi dan cerita tentang wanita yang ditemui oleh pria di jembatan menyeramkan lebih romantis dan agak terkait hasrat seksual dibandingkan pria di jembatan aman. 

Para pria ini beranggapan bahwa yang menyebabkan jantungnya nyut-nyutan, telapak tangannya berkeringat, dan nafasnya panjang adalah karena si nyonya ngarai yang memberikannya kuisoner. Bukan karena jembatan gantung mengerikan dan dapat memacu adrenaline yang barusan dia lewati. Keisengan Aron dan Dutton ini bukan hanya satu-satunya pembuktian terkait misattribution of arousal ini. 

Apakah misattribution of arousal hanya tentang cinta dan hasrat seksual? 

Fenomena misattribution of arousal dalam psikologi. Penjelasan misattribution of arousal psikologi. Contoh fenomena misattribution of arousal. Memahami misattribution of arousal.
Bumi Psikologi – Burung aja berpasangan lah kamu. Sumber: Unsplash.com

Beberapa eksperimen lain yang bukan tentang cinta mendukung temuan ini, seperti yang penelitian oleh Fritz Strak (1988). Subjek penelitian diperintahkan untuk membaca strip kartun, kelompok pertama diinstruksikan untuk membaca sambil mengigit pulpen di sela-sela gigi, sedangkan kelompok yang kedua menaruh pulpen di sela-sela mulut mereka. Hasilnya kelompok yang membaca sambil mengigit pulpen di sela-sela gigi mereka menganggap bahwa kartun tersebut lebih lucu daripada kelompok yang menaruh pulpen di sela-sela mulut. 

Subjek yang membaca sambil mengigit pulpen menghasilkan konstraksi di gigi mereka seolah mereka tertawa, sedangkan subjek yang menaruh pulpen di mulut tidak menghasilkan konstraksi sehingga seolah mereka sedang murung. Subjek merasa bahwa dia begitu menikmati komik kartun tersebut, sampai lupa bahwa sebenarnya yang menciptakan konstraksi di otot giginya bukan karena tertawa, melainkan karena pulpen yang ia gigit sambil membaca kartun tersebut. 

Baca juga: Masalahku Berat, kamu Ga Akan Kuat, biar Aku Saja – Memahami Fenomena Snowflake Syndrome 

Berbeda lagi dengan yang dilakukan Garry Wells dan Richard Petty (1980). Mereka memerintahkan subjek untuk mengangguk dan menggelengkan kepala sambil mendengarkan seorang pakar menyampaikan editorial. Hasilnya kelompok yang menggelengkan kepala sambil mendengarkan cenderung membantah dan tidak setuju dengan apa yang disampaikan si pakar dibandingkan kelompok yang menganggukan kepala. Subjek merasa anggukan atau gelengan kepala mereka disebabkan oleh pemaparan si pakar, bukan karena itu memang diperintahkan oleh si peneliti. 

Temuan ini sama seperti apa yang dilakukan Jens Forster (2003). Eksperimenya menuliskan nama-nama makanan di sebuah layar besar. Subjek diminta untuk mengamati nama makanan yang bergerak ke atas dan ke bawah, serta nama makanan yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian, subjek ditanya apa makanan yang dia inginkan. Hasilnya sama dengan eksperimen pakar tadi, bahwa nama makanan yang bergerak ke atas dan ke bawah yang menghasilkan anggukan kepala subjek lebih mungkin diinginkan dibanding nama makanan yang bergerak ke samping. Kecuali subjek memiliki alergi khusus dengan makanan yang bergerak ke atas ke bawah. 

Selain pdkt dengan cara ngopi, ini saran bagi pasangan sebagai manfaat praktis dari misattribution of arousal 

Misattribution of arousal ini merupakan fenomena yang menarik yang di amati oleh para ahli psikologi sosial. Sekalipun merupakan kesalahan penafsiran, fenomena ini memiliki manfaat praktis bagi pasangan. Sebagaimana James Graham (2008) yang melakukan eksperimen tentang suasana hati dan perasaan terhadap pasangan. Ternyata, pasangan akan cenderung lebih dekat ketika keterampilan mereka ditantang. 

Menghabiskan waktu bersama itu tidak cukup, tetapi jenis aktivitas yang dilakukan bersama juga tidak kalah penting. Karena kita ini didorong untuk tumbuh, berkembang, menambah kemampuan, dan pengetahuan. Dalam kehidupan berpasangan kita membutuhkan kesulitan untuk menambahkan kelekatan satu sama lain. Aktivitas yang mampu menciptakan gairah alias arousal, tentunya bukan hanya sekedar hasrat seksual ya, harus lebih sering kita lakukan. Hingga pada akhirya kita merasa begitu hidup karena bangkitnya gairah, dan label alias penyebab gairah ini adalah pasangan yang ada di samping kita. 

Jadi, yang bikin hati kamu cenat-cenut itu coba kamu pikirin lagi deh, apa karena si dia atau karena kamu kebanyakan kafein. Tapi tidak apa-apa, kalau kamu jatuh cinta maka ayo minum kopi, naik roller coaster, menonton film horor, mendaki gunung, dan menjelajahi samudera. Tantang keterampilanku mendengarkan sebagai seorang mahasiswa psikologi. Mari kejar mimpi yang bisa membuat kita tumbuh dan berkembang. Niscaya kita akan menjadi pasangan yang awet tanpa formalin hehe. 

Bacaan lebih lanjut:  

Penutup 

Oke untuk artikel kali ini cukup sampai di sini saja. Semoga bisa bermanfaat buat hidup kamu atau kehaluan kamu juga. Jangan lupa bagiin dan komen artikelnya supaya kami dapet adsense. Terima kasih, 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini. Mungkin juga ingin mengirimkan artikel untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat email berikut: admin@bumipsikologi.com 

Kata kunci: Fenomena misattribution of arousal dalam psikologi. Penjelasan misattribution of arousal psikologi. pdkt dengan cara ngopi. Contoh fenomena misattribution of arousal. Memahami misattribution of arousal. 

 

Menulis untuk merawat kewarasan berpikir. Follow Instagram: Shandifofficial
%d blogger menyukai ini: