Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan bandwagon effect dalam psikologi. Sebelumnya pernah denger istilah bandwagon effect? Tentunya dong, warga netizen dengan segala ketahuannya merupakan hal kecil memahami bandwagon effect ini. Internet membuat mudah setiap orang mengakses informasi, dan mencaci maki orang, yang kekinian atau yang lama usang. Bahkan untuk berdebat pun, disana bebas bersuara. Meskipun tidak tahu pangkal masalahnya gimana.

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Barang kali juga mungkin untuk mengetahui apa sih yang sedang trending di medsos, karena medsos merepresentasikan kehidupan dunia saat ini. Alhasil, informasi apapun atau tren yang digandrungi dimanapun mudah sekali didapatkan oleh setiap orang. Lantas, timbul lah rasa ingin menjadi bagian dari tren tersebut, dan merasa terpanggil untuk ambil bagian darinya. Kenapa sih itu? Simak penjelasan bandwagon effect dalam psikologi di sini ya.

Oke mungkin begitu kira-kira, langsung saja kamu baca artikel dengan judul lengkapnya Ikut-ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Ikut-ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi

Fenomena Mengikuti Tren

penjelasan bandwagon effect dalam psikologi , mengenal bandwagon effect, bagaimana menghindari bandwagon effect , apa itu bandwagon effect
Bumi Psikologi – Ikut-ikutan atau dipaksa ikut. Sumber: pexels

Belakangan ini, sebagian besar teman saya pada doyan sekali mengisi formulir di instagram story mereka, formulir yang dalam bahasa kerennya adalah template instagram. Di waktu yang hampir bersamaan, media sosial saya diisi orang-orang yang mengikuti puberty challenge, dan pass the brush challenge. Ya memang sih menggemaskan, tapi kenapa ya orang pada ikutan?

Dulu waktu zaman film 5 cm, rame banget orang yang ikutan naik gunung. Pas ada film filosofi kopi dan menjamurnya coffeshop, mendadak kita jadi ikutan suka kopi. Saat industri musik indie bangkit dan booming, kita seolah menjadi ke-indie-an. Bahkan ketika pandemi sekarang ini, kita tak mau kalah ikut-ikutan berkomentar tentang kebijakan lockdown yang baik dan benar. Pokoknya kita ingin terlihat selalu update dan gamau ketinggalan kereta. Kenapa sih orang-orang suka banget ikut-ikutan?

Prof. Komarudin Hidayat pernah bercerita tentang sebuah parade musik dan sirkus di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19. Disana, terdapat sebuah kereta khusus yang membawa alat musik dan para pemainnya untuk menyemarakkan suasana parade. Kereta musik (bandwagon) ini sangat menarik perhatian hingga masyarakat luas yang mendengarnya lantas datang beramai-ramai ikut meramaikan parade. Suasana parade sangatlah meriah, dari rakyat, pebisnis hingga pejabat sangat menyukainya dan menginginkan parade ini diadakan setiap tahunnya.

Baca juga: Kesalahan Memahami Kepribadian Introvert dan Ekstrovert – Introvert dan Ekstrovert dalam Psikologi Kepribadian

Begitu spektakulernya parade tersebut, membuat para politisi yang ingin merebut suara rakyat berebut untuk naik ke atas kereta musik. Dengan berdiri di atas bandwagon, mereka berharap nama dan wajahnya semakin terkenal. Istilah ini dinamakan jump to the bandwagon yang menjadi cikal bakal dari fenomena bandwagon effect.

Ketika selebritas di atas bandwagon memakai sebuah produk atau model, orang-orang akan ikut-ikutan agar mereka ikutan keren seperti selebritas. Bandwagon effect mengacu pada kecenderungan orang untuk mengadopsi perilaku, gaya, atau sikap tertentu hanya karena banyak orang yang melakukannya. Efek ikut-ikutan ini merupakan bagian dari bias kognitif, yang merupakan kesalahan dalam pemikiran seseorang yang mempengaruhi pemberian nilai dan pengambilan keputusan.

penjelasan bandwagon effect dalam psikologi , mengenal bandwagon effect, bagaimana menghindari bandwagon effect , apa itu bandwagon effect
Bumi Psikologi – Kebanyakan pengaruh sosial media sih. Sumber: Pexels

Bandwagon effect tercipta karena euforia, berbicara soal euforia, maka berbicara soal psikologi massa. Dalam teori psikologi massa, masyarakat cenderung beranggapan bahwa apapun yang dilakukan orang banyak akan dianggap bagus dan benar. Ukuran benar dan salah atau baik dan buruknya sesuatu, diukur berdasarkan jumlah orang yang mendukungnya, bukan dari hasil pemikiran logis dan kritis.

Baca juga: Mengenal Dissociative Disorder; Kepribadian Ganda, Depersonalisasi, dan Amnesia Dissosiative – Serial Mengenal Stress

Dengan kata lain, bandwagon efek lebih bersifat emosional daripada rasional. Jika mayoritas orang melakukan hal tertentu, maka orang lainnya akan menganggap jalan yang diambil si mayoritas adalah hal yang benar. Oleh karenanya, setiap orang akan menyesuaikan diri, karena memiliki rasa takut untuk dianggap aneh di mata umum. Sehingga mereka melompat masuk ikut kedalam barisan sebagai cara untuk mendapatkan penerimaan sosial. Mereka ingin menjadi benar, dan mereka ingin tergabung dalam pihak yang menang.

Para pebisnis dan politisi sering menggunakan bandwagon effect. Pebisnis menggunakanya dalam pembentukan sebuah trend, seperti fashion, musik, atau mode. Ketika sebagian besar orang menggunakan fashion tertentu, maka orang lain akan ikut-ikutan. Orang-orang tersebut akan langsung masuk ke dalam barisan tanpa proses pemikiran rasional, hanya ikut-ikutan. Inilah alasannya mengapa suatu trend yang diciptakan bandwagon cenderung singkat.

Baca juga: Menjadi Pribadi yang Selalu Memaafkan – Mengenal Konsep Pemaaf dalam Psikologi Islam

Sementara, politisi sering menggunakannya dalam suatu pemilihan umum, seperti berkampanye dengan konser musik agar mengundang keramaian orang. Atau melakukan sebuah manipulasi hasil survey yang terlihat seolah dialah pemenangnya. Tujuannya, adalah menciptakan persepsi di masyarakat bahwa mayoritas orang mendukungnya sehingga diharapkan bandwagon effect ini membuat mereka ikut masuk ke dalam barisan.

Bagian penting yang perlu digaris bawahi adalah bahwa bandwagon effect tidak memiliki muatan positif atau negatif. Efek ini bisa digunakan untuk sesuatu yang benar dan bisa digunakan untuk sesuatu yang salah. Sesuatu yang benar seperti digunakan untuk menciptakan trend pola hidup sehat kepada masyarakat, dan sesuatu yang salah seperti digunakan untuk menciptakan suatu gerakan massa yang merugikan kehidupan berbangsa. Namun, satu hal yang pasti adalah mereka yang terjebak dalam bandwagon effect adalah mereka yang lebih menggunakan emosional daripada berfikir secara logis untuk mengambil keputusan rasional dan tegas. Terakhir, mengutip kalimat Kurt Cobain, “Mereka mentertawakanku karena aku berbeda, aku mentertawkan mereka karena mereka semua sama”.

Lebih jelasnya, kamu bisa simak video berikut:

Kira-kira Bandwagon ini seperti di atas. Sumber: Youtube, channel The Life Formula

Penutup

penjelasan bandwagon effect dalam psikologi , mengenal bandwagon effect, bagaimana menghindari bandwagon effect , apa itu bandwagon effect
Bumi Psikologi – Cobalah menjadi kreatif. Sumber: pexels

Artikel penjelasan bandwagon effect hanya cukup sampai di sini saja. Semoga selain menjadi ikut-ikutan tren, kamu bisa menciptakan tren yang bisa diikuti warga dunia ini. So, tetap rasional dalam berbuat dan bisa terus memunculkan ide-ide yang kreatif untuk kehidupan ini. Jika kamu mendapatkan sesuatu, jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain atau temenmu, supaya bisa terus berbagi bersama orang lain. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan bandwagon effect dalam psikologi , mengenal bandwagon effect, bagaimana menghindari bandwagon effect , apa itu bandwagon effect