Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan bias konfrimasi dalam psikologi. Pernah ga sih kamu hanya ingin mencari berita tapi tujuannya untuk buktiin bahwa pendapat kamu tentang sesuatu itu bener? Atau juga butuh pengakuan dari berita mengenai kesimpulan terhadap sesuatu supaya yakin? Dan demi mendapatkan keyakinan itu, kamu mengabaikan fakta lain tentang kebenaran tersebut? Mungkin kamu terkena bias konfirmasi loh.

Baca juga : Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi

Atau juga ketika kamu memuja doi, terus kamu hanya tahu kebaikan-kebaikan doi aja, dan mengabaikan keburukannya. Anggapan kamu tentang doi itu baik, karena informasi keburukan atau info negatif mengenai doi kamu lupakan (baik sengaja atau tidak). Dengan begitu, kamu terkena bias konfirmasi loh kalau seperti ini. Coba simak ilustrasi penjelasan bias konfirmasinya di sini.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Kenapa Orang Suka Menyukai Informasi yang Sesuai Pendapatnya Saja – Penjelasan Bias Konfirmasi dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Kenapa Orang Suka Menyukai Informasi yang Sesuai Pendapatnya Saja – Penjelasan Bias Konfirmasi dalam Psikologi

Sebua Cerita Masa Kini

penjelasan bias konfirmasi dalam psikologi, confirmation bias dalam psikologi, bias konfirmasi itu apa
Bumi Psikologi – Bias Berpikir akan Mendapatkan Kesimpulan yang Salah. Sumber: Pixabay.com

Di dunia ini memang sah-sah saja setiap orang mau mendapatkan informasi apapun dari dunia internet atau lainnya. Mau itu informasi berhaluan kiri, kanan, depan atau belakang itu tidak masalah karena setiap orang memiliki hak untuk mengakses semua itu. Begitu juga dengan orang yang hanya mencari sumber referensi dari kelompok atau golongannya saja, itu juga tidak masalah. Namun yang jadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi informasi itu.

Terkadang nih banyak sekali berseliweran ujaran kebencian, terutama di media sosial yang dipenuhi oleh kawula sepuh, dengan mencatut pada sumber yang meragukan. Apalagi hanya baca judul beritanya saja, wah bisa gawat tuh.

Simak ilustrasi fenomena berikut yuk:

Kang Agus siang itu sedang asyik main smartphone nya. Dia terkaget-kaget dengan berita yang sedang dibacanya dari berita kopet. Judulnya sangat fantastis “Awas! Kebangkitan PKI di Indonesia dengan ciri melarang shalat ied di masjid.” Membaca berita itu Kang Agus tentu kesumat bukan main, bahkan sesekali memaki Indonesia sambi baca beritanya yang tidak tuntas.

Tak sampai di situ, Kang Agus diarahkan dari website tersebut kepada judul berita “Media Aseeng Sebut Jokowi Berkolaborasi dengan Negara Sarang Komunis.” Dari beritaaslibukanabalabal.xyz. Meledaklah emosi Kang Agus saat itu, dan menyumpah nyerapahi “Dasar rezeim komunis, dengan menutup masjid aing tahu pemerintah bakal mendukung lahirnya komunis, rezim dzolim, Kafeer!!!.”

Setelah membaca judul berita itu, Kang Agus berinisiatif membagikan info tersebut ke grup yang diikutinya di facebook dan whatsapp group. Ia membagikan link tersebut dengan komentar, “Astaghfirullah, hati-hati kebangkitan komunis. Rezim mulai memunculkan muka dzalimnya.”

Baca juga : Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Tidak puas sampai di situ, Kang Agus menemukan meme yang menyandingkan antara masjid yang kosong dan ramainya mall dimana-mana ketika terjadi wabah. Kang Agus pun otomatis berkomentar di postingan tersebut, “Rezim komunis, anti-islam astaghfirullah. Musnahkanlah mereka pemerintah yang dzalim itu ya Allah!!”

Ustad Iwan yang kebetulan lewat rumah Kang Agus kaget keheranan melihat air mukanya yang merah kesal. “Kang Agus, kenapa atuh terlihat kesal begitu?”

Kang Agus mulai menurunkan kadar matanya yang melotot karena melihat Ustad Iwan. “Eh . . Ustad Iwan. Ini Tad, pemerintah melarang Shalat Ied dan menutup masjid, tapi mall pada buka tuh rame.”

“Mungkin bukan dilarang Kang, itu dianjurkan untuk shalat di rumah saja” kata Ustad Iwan

“Berita yang saya baca itu melarang Tad, bahkan umat islam dilarang pergi ke masjid, memang rezim kafeer” Jawab Kang Agus tegas

Ustad Iwan hanya bisa senyum-senyum kecil. “Sabar dulu Kang Iwan atuh, Husnudzan, coba baca lagi beritanya di sumber yang lain. Dan kalau bisa cari tahu hukum shalat ied itu gimana juga ya Kang Agus.”

“Emang hukum shalat ied gimana tad? Itukan wajib karena satu tahun sekali.” tanya Kang Agus heran.

Baca juga : Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi

“Coba cari tahu dulu, nanti sore datang ke rumah saya sambil ngopi, kalau sudah buka puasa ya Kang. Dan jangan lupa cari informasi yang banyak” Jawab Ustad Iwan sambil pamit pergi.

“Gimana Ustad Iwan ini, percuma nyari informasi apapun. Lagian pemerintah ini janjiin bantuan juga, buktinya mana ga ada sama sekali. Memang dzalim pemerintah ini, haduh.” Gerutu Kang Agus dalam hati.

penjelasan bias konfirmasi dalam psikologi, confirmation bias dalam psikologi, bias konfirmasi itu apa
Bumi Psikologi – Jadilah orang yang bersumbu panjang biar santuy. Sumber: Pexels.com

Dari ilustrasi tersebut, kita bisa tahu bahwa Kang Agus mengalami bias confirmation. Bias konfirmasi definisi susahnya gini, suatu sistem atau cara berpikir seseorang yang bersifat induktif, dimana orang tersebut mengambil kesimpulan hanya dengan memperhatikan informasi yang mendukung dengan apa yang dipercaya saja atau mengabaikan informasi lain yang berkebalikan dengan yang dipercayainya.

Baca juga : Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Kang Agus setelah membaca berita dari berita kopet, memiliki pandangan bahwa pemerintah ini merupakan rezim yang ingin membangkitkan komunis karena melarang shalat Ied berjamaah. Kesimpulan Kang Agus begitu. Namun, Kang Agus lupa membandingkan sumber informasi lain yang berbeda dengan hal itu, misal ketentuan hukum shalat ied atau juga sumber berita lain yang meyakinkan.

Selain itu, Kang Agus mengukuhkan kepercayaan atau kesimpulannya itu dengan bergabung dengan postingan orang lain di grup facebook yang mengamini kesimpulannya.

Fenomena ini rentan bahkan banyak terjadi ketika pilpres kemarin. Pendukung 01 atau 02 rata-rata terkena bias konfirmasi. Mereka akan mencari informasi apa yang membuat pernyataannya yang mereka miliki dibenarkan oleh orang lain. Misalkan gini, pendukung 01 percaya bahwa dukungannya itu bekerja dengan baik, maka berita yang menyatakan tentang dukungannya tidak berkinerja baik akan diabaikan dan dianggap ketidakbenaran. Begitu juga dengan pendukung 02 yang mempercayai hasil survey internal hasilnya, dan mengabaikan penghitungan orang lain.

Kira-kira seperti itu, apapun pilihannya kita tetep satu yaitu Indonesia. Perbanyak kolaborasi dan persempit kompetisi.

Gimana sering begitu atau tidak? Baca berita jangan judulnya saja ya, terkadang menyesatkan dan jurnalis banyak yang klikbait.

Penutup

Oke untuk artikel penjelasan bias konfirmasi dalam psikologi hanya sampai di sini saja. Semoga apa yang kamu dapatkan di sini bisa bermanfaat dan mengambil pelajarannya. Yuk bagikan juga artikel ini ke orang lain supaya mereka juga tahu apa yang kamu dapatkan di sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan bias konfirmasi dalam psikologi, confirmation bias dalam psikologi, bias konfirmasi itu apa