Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan cancel culture dalam psikologi. Tema ini diangkat karena dewasa ini influencer kerap kali menunjukan sisi keblingerannya. Coba saja kamu lihat diantara beberapa yang waras, ada yang berujar mengenai suatu hal tanpa dipikirkan lebih dulu. Contohnya itu yang sampe minta maaf karena bikin gaduh di channel seseorang.

Baca juga: Siang Anxiety, Kalau Malam Overthinking – Dampak Bermedia Sosial Secara Psikis

Semoga saja sih para influencer atau selebgram atau apalah namanya, bisa mawas diri akan posisinya. Masyarakat Indonesia masih berkembang dalam hal literasi dan memahami literasi tersebut, so segala yang kamu ucapkan dan lakukan harus dipikirkan ulang dulu ye. Baca sok penjelasan cancel culture dalam psikologinya.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul resminya Sedikit Nasihat Bagi Influencer yang Agak Keblinger – Penjelasan Cancel Culture dalam Psikologi sampai tuntas yo!

Sedikit Nasihat Bagi Influencer yang Agak Keblinger – Penjelasan Cancel Culture dalam Psikologi

Ngadi-ngadi aja kelakuan lau bos

penjelasan cancel culture dalam psikologi, memahami cancel culture dalam psikologi, apa itu cancel culture dalam psikologi
Bumi Psikologi – Pengaruh media sosial dan influencer sangat kuat. Sumber: Pixabay.com

Semakin kesini, kelakuan orang di media sosial semakin aneh-aneh saja. Dari mulai opini seorang beauty vlogger mengenai penggunaan masker, lelang keperawanan yang dilakukan seorang selebgram, sampai musisi yang memprakarsai teori konspirasi pandemi virus corona. Semua perilaku itu dan contoh-contoh lain kelakukan aneh-aneh para influencer membuat kita ingin sekali mengatakan “jangan ngadi-ngadi deh lo”.

Sederhananya, seiring dengan bertambahnya jumlah followers atau subscriber, maka harus disertai dengan kebijaksanaan dalam berperilaku atau beropini. Harus tahu posisi lah, secara kita punya pengaruh, opini dari kita akan diperhitungkan oleh khalayak umum, dan perilaku kita akan dicontoh oleh penggemar kita. Perilaku yang aneh-aneh atau opini yang ngadi-ngadi bisa sangat berbahaya bagi masyarakat.

Kenapa berbahaya? Misalnya aja gini, ada seorang influencer yang beropini bahwa ternyata bumi sebenarnya berbentuk seperti donat tanpa landasan ilmiah yang jelas. Sialnya, ini influencer punya jutaan pengikut garis keras, maka konsep itu akan dipercaya oleh penggemar garis kerasnya, dan menggugurkan teori baku mengenai bumi itu berbentuk bulat pepat. Pythagoras akan menangis melihat ini~

Apalagi, media sosial itu benar-benar memberikan kemerdekaan seluas-luasnya bagi para penggunanya. Informasi-informasi misleading semacam iini bisa sangat cepat menyebar keseluruh lapisan elemen masyarakat. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa hoax itu lebih subur di masa sekarang daripada zaman dulu. Dahulu, kita ini hanya menikmati sajian informasi misleading dari sumber media, tapi sekarang kita bebas menciptakan narasi misleading versi kita sendiri.

Cancel culture adalah sebuah solusi?

Agar kelakuan bodoh para influencer ini tidak terpelihara, kita butuh satu gerakan yang bikin orang-orang ini pada kapok. Gerakan yang bertujuan agar orang yang bersalah ini dapat bertanggung jawab dengan menanggung sanksi sosial. Beruntungnya kita, hari ini gerakan pemboikotan kayak gitu telah menjadi kebiasaan dan sudah membentuk sebuah budaya. Budaya yang belakangan akrab dinamakan dengan cancel culture.

Cancel culture merupakan sebuah agitasi masa yang melakukan public shaming kepada individu atas perilaku problematis atau opininya yang berbeda dengan opini mayoritas. Mirip sama orang yang maling ayam terus digebukin warga. Nah, orang yang berdosa di sosial media ini kita gebukin bareng-bareng sampai dia terbuang dan terkucilkan di masyarakat.

Penolakan alias peng-cancelan individu ini, berkaitan dengan terciptanya mentalitas massa. Mentalitas massa, berawal dari berkumpulnya individu yang memiliki kesamaaan pikiran tentang apa yang menurutnya benar (convergence), kemudian pemikiran populer diaspirasikan dan diemosikan untuk mempengaruhi opini publik secara keseluruhan (emergent-norm) dan pada akhirnya lahirlah perilaku massa yang tak terkendali (contagion).

Baca juga: Kenapa Orang Suka Menyukai Informasi yang Sesuai Pendapatnya Saja – Penjelasan Bias Konfirmasi dalam Psikologi

Sekalipun bertujuan baik, cancel culture ini ternyata menimbulkan masalah baru. Lama kelamaan budaya ini digunakan oleh seseorang yang memiliki pengaruh yang kuat untuk memojokkan orang yang tak disukainya. Budaya ini juga menciptakan masyarakat yang gampang nge-gas. Cancel culture sebagai solusi untuk menghentikan perbuatan bodoh di media sosial ini menjadi sangat dilematis.

Masalah utama yang timbul dari cancel culture ini adalah menciptakan masyarakat yang mudah marah, malas berpikir dan mencari tahu. Setiap kali ada orang yang berbuat aneh-aneh langsung diboikot bareng-bareng. Padahal, belum tentu semua yang ikut nge-cancel ini tahu permasalahannya, yang penting nge-gas aja. Pokoknya, setiap kali ada individu yang berbuat “dosa” di sosial media, hanya ada satu kata, lawan!

Mengapa cancel culture begitu dilematis?

penjelasan cancel culture dalam psikologi, memahami cancel culture dalam psikologi, apa itu cancel culture dalam psikologi
Bumi Psikologi – Jadi influencer kudu punya beban moral. Sumber: Pexels.com

Pertama-tama, kesehatan mental adalah hak setiap warga negara. Para influencer yang kontroversial ini juga berhak akan kesehatan mental. Kita selalu berkoar-koar tentang pentingnya kesehatan mental, tapi kita bareng-bareng ngatain orang tolol, bodoh, dongo, idiot, anjing, bangsat dan bahasa kasar lainnya. Bagaimana bisa dilempari batu, dibantai satu Indonesia menciptakan individu yang sehat mental?

Dalam konsep utama humanistik, kita diajarkan untuk memanusiakan manusia. Setiap manusia memiliki potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Jika orang suci memiliki masa lalu, maka si pendosa pun berhak akan masa depan. Dengan satu perilaku kontroversialnya bukan berarti kita mengingkari potensi kebaikan yang ada di dalam dirinya. Kita berkampanye soal kemanusiaan, potensi manusia, memanusiakan manusia, lantas konsep manusia mana lagi yang kita dustakan?

Semua agama mengajarkan untuk saling memaafkan, artinya kita harus menghargai setiap itikad baiknya untuk meminta maaf. Dengan seseorang melakukan kesalahan, bukan berarti kita dibenarkan melakukan apa saja kepada orang yang salah. Okelah orang itu salah, tapi menghujat bareng-bareng orang secara tidak manusiawi, itu juga tidak bisa dibenarkan. Kita sepakat bahwa jangan main hakim sendiri pada maling kotak amal, tapi kita mukulin orang bareng-bareng dengan kata-kata kasar di media sosial. Apa bedanya kita sama warga yang mukulin maling kotak amal?

Cancel culture dan nirvana fallacy

Orang bijak pernah berkata, bagian paling menyakitkan dari menjadi orang besar adalah kamu tidak diperbolehkan menunjukan sisi lemahmu. Semua harus sempurna, tidak boleh ada sedikitpun kekurangan walau sebesar biji zarrah. Kita terjebak dalam perangkap kesempuranaan, perangkap bernama nirvana fallacy.

Bukan, bukan nirvana-nya Kurt Cobain, tapi sebuah cacat logika yang berpendapat bahwa seseorang, sesuatu, atau solusi haruslah sempurna. Padahal setiap manusia dan segala yang ia ciptakan itu tidak pernah luput dari kekurangan. Kita suka sekali membandingkan individu, sesuatu atau solusi yang paling memungkinkan dengan kesempuranaan ideal yang utopis, tidak mungkin ada, tidak mungkin terjadi.

Semua harus sempurna seperti di alam nirwana. Ada orang yang punya followers jutaan, kita hujat karena dia tidak membahas isu-isu sosial terkini. Sekalinya ada yang membahas, kita hujat juga karena solusi yang dikeluarkan tidak bagus. Ada individu yang mendukung kebijakan pemerintah, kita hujat dia dengan sebutan BuzzeRp. Ketika dia mengkritik pemerintah, kita bilang dia sakit hati karena tidak kebagian jatah kekuasaan. Kita ini maunya apa sebenarnya?

Baca juga: Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi

Tolong lah, sebenarnya kita ini hidup di dunia nyata atau di alam nirwana?

Terakhir, bagi para influencer tolong lah dipikirkan dengan bijaksana ketika membuat sebuah konten. Jangan pernah main-main dengan mentalitas massa, massa yang dipenuhi amarah bisa melakukan apa saja dan akan sangat sulit untuk dikendalikan. Hati-hati terhadap wilayah sensitif masyarakat, identitas sosial seperti suku, agama, ras, golongan, atau apapun kesamaan yang membentuk identitas sosial. Indonesia juga bisa merdeka karena dahulu kita punya kesamaan, sama-sama tertindas oleh penjajah.

Untuk kalian yang punya niatan meng-cancel seseorang coba dipikir dulu yang matang. Pelajari dulu permasalahan dan problematiknya di bagian mana. Jangan langsung emosi dengan menghujat individu ini, santai saja, rileks saja. Semisal ada orang yang berperilaku aneh-aneh atau beropini yang ngadi-ngadi tidak usah dihujat, ketawain aja, nanti juga dia bakal malu sendiri. Berhentilah menghujatnya, mulailah mentertawakannya.

Penutup

Oke untuk artikel penjelasan cancel culture dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Untuk para influencer harap baca baik-baik ya, dan untuk masyarakat yang ingin mempraktikan cancel culture baca baik-baik juga. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan cancel culture dalam psikologi, memahami cancel culture dalam psikologi, apa itu cancel culture dalam psikologi