Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan heuristik ketersediaan dalam psikologi. Pernah tidak kamu menyadari kenapad berita trending atau berita yang digembar-gemborkan membuat kamu ketakutan pada objek atau kejadian itu? Misal diberitakan perampokan terjadi di beberapa daerah, tentu kamu akan ketakutan apakah bakal terjadi perampokan di daerah saya. Padahal mungkin berita itu hanya satu atau dua kejadian saja.

Baca juga: Apa Saja Sih yang Dipelajari Kuliah S1 Psikologi UIN Jakarta? – Mata Kuliah Jurusan Psikologi UIN Jakarta

Atau mungkin kamu ketika datang ke supermarket ternyata banyak sekali produk mie yang tidak kamu ketahui. Hanya karena sering menonton berita dan iklan produk mie indocina saja, sehingga hanya menganggap yang tersedia banyak di supermarket hanya indocina mie. Mungkin kamu terkena heuristik ketersediaan loh. Simak saja yuk penjelasan heuristik ketersediaan dalam psikologi di sini.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi

Fenomena Heuristik Ketersediaan

penjelasan heuristik ketersediaan dalam psikologi, contoh heuristik ketersediaan dalam psikologi, fenomena heuristik ketersediaan dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Berita ikut andil dalam cara berpikir kamu. Sumber: Pexels

Menjamurnya media masa terutama elektronik semakin memudahkan masyarakat dalam mencari informasi. Tinggal mengetik beberapa kata kunci yang ingin dicari, tidak sampai satu menit berita dan informasi muncul ratusan bahkan jutaan. Kamu tinggal pilih mana sekiranya yang cocok untuk memenuhi kewarasan otak. Sampai sini masih normal saja, karena kamu bisa menyaring informasi sesuka hati.

Namun celakanya, ketika kamu aktif di media sosial yang lain, misalnya mengenai berita pandemi corona, menjadi trending dan terus memenuhi beranda medsos sana. Mau menghindar tapi apalah daya bahkan teman atau akun yang diikuti terus membagikan berita mengenai bencana corona itu. Hasilnya, setiap membuka internet atau medsos yang dibahas itu-itu aja tentang corona menghiasi harimu.

Siapa sangka, disadari atau tidak, berita yang masuk memenuhi kepala kamu itu akan mempengaruhi bagaimana kamu mengambil keputusan. Atau mempengaruhi kamu bagaimana menilai suatu kejadian atau objek yang diberitakan di atas. Baik berita yang asli atau hoax. Mungkin juga karena kebiasaan warga netizen, katanya sih ya katanya, berita yang hoax pun tidak luput diedarkan.

Baca juga: Ikut-Ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi

Contohnya begini, ketika terjadi perang di timur tengah yang tidak pernah usai, ini menjadi topik lezat bagi media atau jurnalis untuk memberitakan kejadian tersebut. Hari demi hari bahkan 24 jam, kamu terus menerima informasi perang yang terjadi di timur tengah, tentu dari beragam angel. Ada yang membahas dari sudut korbannya siapa, pihak terlibat, kerugian, kutukan bahkan konspirasi di balik kejadian itu juga dihidangkan.

Suatu ketika, kamu diajak ngopi temen kamu, yang rencanaya akan pergi studi ke Suriah. Kamu ditanya mengenai bagaimana sih keadaan Suriah itu. Nah bukan tidak mungkin kamu akan bilang negara tersebut berbahaya untuk dikunjungi, karena ada perang. Dalam pikiran kamu (terpengaruh juga representative heuristic) Suriah masuk ke dalam zona timur tengah. Padahal mungkin secara kenyataan zona perang tidak berada di seluruh timur tengah tersebut.

Contoh lain yang lebih realistis yaitu ketika terjadi pemberitaan mengenai kecelakaan kapal karam yang ditayangkan berhari-hari akan mempengaruhi perilaku dan sikap kamu. Sedikit atau banyak, kamu akan ketakutan secara otomatis untuk naik kapal laut. Bahkan mungkin, bagi yang belum pernah menaiki kapal laut, akan takut dan sangsi menaiki kapal laut, mungkin juga sudah ketakutan ketika melihat lautnya. Padahal secara statistik, kecelakan lebih banyak terjadi pada pengendara motor atau mobil.

Nah dalam psikologi kognitif atau dalam ilmu ekonomi perilaku keadaan ini disebut availability heuristic atau heuristik ketersediaan. Secara definitif, heuristik ketersediaan berarti suatu cara mengambil kesimpulan atau keputusan karena kemudahan mengambil gambaran informasi mengenai suatu gambaran objek atau kejadian dalam pikiran kamu.

Heuristik Ketersediaan Menurut Ahli dalam Psikologi

penjelasan heuristik ketersediaan dalam psikologi, contoh heuristik ketersediaan dalam psikologi, fenomena heuristik ketersediaan dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Biasakan yuk tetap tenang dan jangan terburu-buru. Sumber: Pexels

Kajian dalam heuristic telah ditelaah secara mendalam oleh Amos Travesky dan Daniel Kahneman. Bahkan dalam bukunya Thinking Fast and Slow, Kahneman menjelaskan bagaimana manusia mengambil keputusan mengenai kehidupannya [Baca Resensi Buku Thinking Fast and Slow]. Contoh yang telah diteliti yaitu orang-orang akan menilai penyebab kematian yang menarik publisitas yang cukup besar (mis., Pembunuhan) dinilai lebih mungkin daripada yang tidak (mis. Sakit), bahkan ketika yang terjadi sebaliknya (Lichtenstein, dkk, 1978).

Proses pengambilan keputusan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan memori manusia dalam mengingat seluruh informasi yang valid dan karena dipengaruhi oleh informasi yang digembor-gembor kan. Kedua dipengaruhi oleh masyarakat kurang memperhatikan kejadian yang wah atau kurang menarik. Seperti pembunuhan, merupakan kejadian yang pasti mengagetkan dan lebih diperhatikan daripada yang lain.

Dampak dari fenomena ini sangatlah penting. Karena orang biasanya sering melebih-lebihkan kejadian atau perkara yang sering mereka denger (padahal hanya satu kejadian). Misalnya ketika berita kapal karam tadi diberitakan secara terus menerus, orang akan mendramatisir sehingga tidak akan pernah naik kapal laut.

Baca juga: Menyelami Fenomena Orang yang Menganggap Dirinya Serba Tahu dan Merasa Hebat – Memahami Dunning-Kruger Effect dalam Psikologi

Dampak lainnya seperti dalam pemasaran produk. Ketika produk A terus diiklankan kepada masyarakat, tentu produk sejenis lain yang tidak dipasarkan atau hanya sesekali akan tidak diingat oleh masyarakat ketika ingin membeli produk. Misalkan produk Aquo yang sering ditonjolkan di iklan, akan lebih mudah diterima ketimbang produk Aqui yang hanya muncul sesekali. Sehingga orang akan menganggap produk Aquo itu bagus, sehat atau berkualitas karena sering tampil dalam pikirannya.

Selain itu, biasanya ini dilakukan dalam pendoktrinan. Ketika didoktrin, berarti informasi yang didapatkan oleh individu hanya itu-itu saja. Informasi di luar hal yang didoktrinkan merupakan hal yang salah atau bukan kebenaran. Ini berlaku bagi warga netizen yang sering nyinyir karena beberapa berita doang, atau sering mencaci maki ustadz atau kiai karena beda pendapat dengan kamu saja.

Hayo apa kamu terkena heuristik ketersediaan? Memang tidak bisa lepas dari sana, karena pengaruh media dan karakteristik cara berpikir manusia. Bahkan seroang ekspert atau ahli sekalipun bisa terkena loh. Yang kata  Kahneman itu ada “sistem 1 yang malas”, sehingga apa yang tersedia di otak itulah yang terbaik dan menjadi duniamu.

Lebih mudah lihat dalam video berikut ini:

Disadur dari Youtube.com. Uploaded by Learn Liberty

Yuk perbanyak data, literasi agar tidak saling caci maki, eh.

Daftar Pustaka

  • Eysenck, Michael W., (2010), Cognitive Psychology: a Students Handbook, East Sussex: Psychology Press. [Link Ebook]
  • Kahneman, D., Thinking Fast and Slow, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013

Penutup

penjelasan heuristik ketersediaan dalam psikologi, contoh heuristik ketersediaan dalam psikologi, fenomena heuristik ketersediaan dalam psikologi.
Bumi Psikologi – Cobalah berpikir menggunakan data yang belum kamu temukan. Sumber: Pexels

Oke untuk penjelasan mengenai heuristik ketersediaan hanya cukup sampai di sini saja. Pesan saya usahakan untuk menimbang dan mencari banyak informasi sebelum menyimpulkan dan mengambil keputusan mengenai suatu hal. Jangan lupa untuk dibagikan kepada temenmu ya, jika kamu mendapatkan suatu informasi di sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan heuristik ketersediaan dalam psikologi, contoh heuristik ketersediaan dalam psikologi, fenomena heuristik ketersediaan dalam psikologi.