Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan konspirasi dalam psikologi untuk mengupas sesat pikir konspirasi corona narasi JRX. Baru-baru ini jagat media sosial dikejutkan dan diramaikan dengan narasi konspirasi corona dari seorang musisi beken. Ramainya peristiwa itu dipertegas oleh Komp4s TV yang mengundang tokoh tersebut [Beritanya di sini]. Dari sini netizen selalu terbiasa terbawa ke dalam dua arus, mendukung dan mengolok.

Baca juga: Ikut-Ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi

Berbicara mengenai konspirasi memang selalu menarik diperhatikan. Bukan karena kedahsyatannya, tapi keberanian untuk berbeda dari cara berpikir dan konsensus yang ada di masyarakat. Karena bertolak belakang, sudah barang tentu ini menjadi bahan hiburan, olok-olok, semua orang. Tapi apa kamu tahu konspirasi itu kenapa sih bisa ada? Mending simak deh penjelasan konspirasi dalam psikologi.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Sesat Pikir Konspirasi Corona Narasi Ala JRX – Penjelasan Konspirasi dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Sesat Pikir Konspirasi Corona Narasi Ala JRX – Penjelasan Konspirasi dalam Psikologi

Awal Cerita

penjelasan konspirasi dalam psikologi, sesat pikir narasi ala jrx tentang corona, konspirasi corona jrx, teori konspirasi dalam psikologi
Bumi Psikologi – Corona dan Konspirasi. Sumber: Pixabay.com

Konspirasi, apalagi terkait corona menjadi isu yang sedang hangat di masyarakat. Pembahasan teori konspirasi oleh beberapa public figure semakin membuat konspirasi ini layak untuk diperbincangkan. Tak mau ketinggalan tentunya, all hail his grace JRX pun ikut membahasnya, tentu saja dengan kebiasaan nge-gasnya. Memang bukan JRX namanya kalo tidak ngegas kan? Alih-alih diterima publik, narasi JRX justru menjadi bahan olok-olokan masyarakat.

Entah karena sikapnya yang tidak santuy atau isi dari gagasnnya, sampai-sampai netizen menciptakan ungkapan rajin baca jadi pintar, malas baca jadi JRX. Memang, tudingan tanpa kerangka berpikir yang jelas akan sangat sulit untuk tidak ditertawakan. Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang benar atau salahnya teori tuan muda JRX. Selain tidak penting dan diluar batas kemampuan saya, saya juga tidak mau media sosial saya di komen “Ayo kita debat di live IG bangs*t”. Baiklah, mari kita bahas saja kenapa orang bisa percaya teori konspirasi.

Konspirasi vs Hoax

Konspirasi merupakan suatu teori yang mencoba menjelaskan bahwa penyebab serangkaian peristiwa adalah persekongkolan rahasia orang-orang yang sangat berkuasa atau berpengaruh dengan tujuan atau keuntungan tertentu. Konspirasi tidaklah sama dengan hoax. Para pembuat hoax sebenarnya mengetahui mana yang benar, namun menciptakan narasi yang berlawanan dengan kebenaran. Sedangkan para pembuat konspirasi tidak mengetahui mana yang benar mana yang salah, mereka menciptakan narasi berdasarkan asumsi tanpa mempertimbangkan kebenaran yang sebenarnya. Jika disederhanakan, konspirasi adalah omong kosong, sedangkan hoax adalah omong bohong. Inilah alasannya mengapa hoax sudah pasti salah, dan konspirasi bisa jadi salah bisa jadi benar. Sekalipun berbeda, namun keduanya memiliki kesamaan. Sama-sama tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sama-sama berdampak negatif bagi masyarakat.

Konspirasi dan Emosi

penjelasan konspirasi dalam psikologi, sesat pikir narasi ala jrx tentang corona, konspirasi corona jrx, teori konspirasi dalam psikologi
Bumi Psikologi – Konspirasi Alien. Sumber: Pixabay.com

Baik konspirasi maupun hoax seringkali dipercaya publik, Sebab keduanya mampu membangkitkan emosi positif dan negatif yang kuat. Makanya tak jarang teori konspirasi menyentuh bagian paling sensitif dari emosional masyarakat. Identitas seperti suku, agama, ras, dan bangsa adalah sasaran dari konspirasi. Itulah kenapa narasi konspirasi memiliki struktur yang hampir sama, dan biasanya berkaitan dengan identitas.

“Corona adalah senjata pemusnah massal yang bocor dari laboratorium Wuhan” kalimat ini dapat membangkitkan nostalgia permasalahan pribumi dengan China.

“Corona adalah ilusi yang diciptakan oleh para elite global” kalimat ini mampu membangkitkan emosional bangsa bahwa kita memiliki musuh yang sama yaitu elite global.

“Bumi itu datar, bumi bulat adalah buatan yahudi” kalimat ini membangkitkan emosional semangat keagamaan anti yahudi.

Paparan konspirasi biasanya menyebar secara masif dan berulang. Sebab segala informasi yang di ulang-ulang, sekalipun tidak masuk akal, orang-orang akan mempercayainya. Itulah kenapa sampai ada ungkapan cinta datang karena terbiasa. Jika narasi konspirasi diterima publik secara terus-menerus, akan berpotensi besar untuk dipercaya oleh publik.

Konspirasi dan Kognisi

Kepercayaan terhadap konspirasi juga erat kaitannya dengan proses kognisi seseorang. Secara ilmiah manusia memiliki dua tipe pemrosesan informasi, intuitive dan analytic. Intuitif berfikir secara cepat, sedangkan analitik cenderung lebih lambat dan reflektif. Karena dituntut cepat, intuitif rentan dengan bias availibility heuristic. Apa yang paling mudah terlintas dipikirannya pertama kali itulah yang dianggap kebenaran. Sedangkan analitik, ketika mendapatkan informasi dia akan mengumpulkan seluruh sumber daya yang ada baru akhirnya menentukan kebenaran. Jika kamu mengikuti lomba lari, kemudian kamu menyalip orang yang ada di posisi kedua maka berada di posisi berapakah kamu? Proses intuitif akan menjawab dirinya berada di posisi pertama, sedangkan proses analitik akan menjawab dirinya berada di posisi kedua.

Baca juga: Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi

Orang-orang yang mudah percaya dengan teori konspirasi, juga sering mengalami confirmation bias, dimana orang hanya akan mencari dan mempercayai informasi yang memperkuat keyakikanannya dan menganulir informasi yang berbeda dengan keyakinannya. Kalo kita percaya bumi itu datar, maka kita hanya akan mencari dan mempercayai informasi yang mendukung bahwa bumi itu datar. Terperangkap dalam lingkaran informasi bahwa bumi itu datar.

Konspirasi dan Argumentasi

Tuan muda JRX yang terhormat, saya hanya berusaha mencari jawaban mengapa orang sekritis dan sebijaksana anda justru diledek oleh publik. Mungkin, bisa jadi mereka memiliki kemampuan berpikir analitik yang tinggi, sehingga harus mengumpulkan semua data sebelum memutuskan untuk mendukung anda. Mengikuti Immanuel Kant, nalar yang berlaku dalam konteks ini adalah nalar a posteriori dimana argumentasi dibangun dari realitas empiris.

Sejalan dengan Prof. Masdar Hilmy yang mengutip Ibnu Taymiyah bahwa kebenaran terletak di realitas kehidupan, bukan di akal pikiran. Sekalipun logis, bila tidak didukung fakta empiris, tidak bisa dijadikan sebagai dasar argumentasi. Terlepas dari benar atau salah teori yang anda prakarsai, tetaplah dengarkan orang yang berpendapat sesuai bidang keahliannya. Salam kuat kita bersinar!

Inget ya, perbanyak literasi dan pahami.

Penutup

Oke untuk artikel penjelasan konspirasi dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Memang sih pemikiran semacam itu tidak bisa dicegah, dan merupakan hak prerogatif individu. Mau dia berbeda ya silahkan, tergantung kepada publik juga yang menilai dan memperbanyak literasi. Terima kasih, Jangan lupa bagikan artikel ini kepada yang lain apabila kamu menemukan suatu yang baru dari sini.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan konspirasi dalam psikologi, sesat pikir narasi ala jrx tentang corona, konspirasi corona jrx, teori konspirasi dalam psikologi