Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan perspektif psikologi isu Siti Fadilah. Isu atau kasus ini sempet rame di media sosial, atau saya doang yang rame, engga tau sih. Tapi ada segelintir orang juga yang bersimpati setelah menonton wawancara antara Om Deddy Corbuzier dengan Ibu Siti Fadilah. Simpati kepada Om Dedi atau Bu Siti nih?

Baca juga: Serial Mengenal Manusia Perspektif Psikologi dalam Cerpen – Manusia dalam Pandangan Psikoanalisis

Katanya sih sampai jemaah medsos buat surat petisi untuk pembebasan doi. Kenapa sih bisa beraksi sampai seperti itu? Jawabannya penjelasan perspektif psikologi Isu Siti Fadilah di sini.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Mengapa Orang Bereaksi Berlebihan Pada Wawancara Siti Fadilah – Penjelasan Perspektif Psikologi sampai tuntas ya!

Mengapa Orang Bereaksi Berlebihan Pada Wawancara Siti Fadilah – Penjelasan Perspektif Psikologi

Sebuah Cerita Konspirasi

Akhir bulan ramadan kemarin jagat Indonesia dihebohkan oleh wawancara Deddy Corbuzier dengan mantan menkes RI periode pertama presiden SBY. Sudah saya singgung beberapa kali, netizen memang selalu menarik untuk diulas. Karena setiap orang memiliki wakil kehidupan dirinya di media sosial, meskipun bisa menduplikat diri sih di internet, jadi wajar merefleksikan tingkah perilaku dan pemikirannya di kenyataan.

Sebelum melanjutkan artikelnya, alangkah baiknya kamu tonton video wawancaranya terlebih dahulu. Saya tempelkan nih di bawah ini.

Bagaimana pendapat kamu?

Bagi generasi yang mengalami wabah flu burung, tahun 2005, belum beranjak dewasa, tentu perjumpaan dengan nama “Siti Fadilah” merupakan perjumpaan yang baru, atau belum familiar. Terutama hooman berusia saat ini kira-kira di bawah 25 tahun masih asing mungkin dengan nama tersebut sebelum isu ini diangkat. Ini wajar saja karena, menurut saya, nama menkes jarang diekspos jurnalis ke muka masyarakat.

Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki tingkat literasi memadai dan mengetahui keadaan yang sebenarnya tidak akan bereaksi berlebihan dalam menanggapi isu yang sempat viral di beberapa media sosial yang saya ikuti ini.

Lalu, memang apa yang janggal?

penjelasan perspektif psikologi isu Siti Fadilah, Pandangan psikologi terkait kasus siti fadilah, penjelasan halo effect atau halo efek
Bumi Psikologi – Banyak baca dan tingkatkan literasi biar tau. Sumber: Pexels.com

Merujuk pada artikel kumparan, klaim Siti Fadilah terkait kasus dirinya merupakan sebuah konspirasi pemerintah atau pihak terkait yang ingin menjatuhkan dirinya karena melawan keberanian melawan flu burung atau H5N1 tahun 2005 silam. Beliau menganggap ada orang yang tidak suka atas perilakunya menangani WHO yang akan menyatakan pandemi H5N1, tapi atas prakarsanya tidak jadi demikian.

Bahkan Indonesia menang melawan flu burung tanpa membeli vaksin, yang diceritakan terjadi komersialisasi vaksin oleh negara maju ,“borjuis”, dan menjualnya ke kaum negara berkembang, “proletar”, dengan harga mahal.

Baca juga: Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi

Beliau memang berjasa dalam mengentaskan wabah H5N1 dari Indonesia dan memimpin produksi vaksin yang memang bahan bakunya tersedia melimpah di Indonesia. Alhasil tidak perlu repot membeli vaksin dengan harga selangit. Itu memang prestasi yang luar biasa, dan memang perlu diapresiasi oleh semua orang.

Akan tetapi, korupsi dengan prestasi, mereka merupakan cerita yang berbeda, tidak bisa dikaitkan menjadi sebuah privilege atau hak istimewa. Maksudnya bukan berarti orang yang berprestasi memiliki hak istimewa untuk korupsi. Dalam masalah ini, saya tidak bisa berlama-lama di sini karena merupakan bahasan di luar artikel ini.

Dalam video itu, klaim lainnya yaitu doi tidak terlibat dalam kasus korupsi yang diperkarakan padanya. Beliau mengutarakan hal itu dengan raut muka sendu, sesekali terisak. Ini juga diamini oleh interviewer yang sesekali ikut terisak bahkan membuang air mata tanpa terlihat. Argumen dan bukti sidang terkait beliau dinyatakan bersalah atau tidak dalam kasus korupsi, kamu bisa baca jalannya artikel berikut [Kumparan]

Dalam hal ini, narasi yang ingin dibangun yaitu menarik simpatisme masyarakat, terutama yang baru mengenal dirinya, untuk membebaskannya dari balik jeruji besi. Selain itu ingin membuat citra positif kepada khalayak atas kinerjanya dulu dalam pengentasan wabah H5N1 dan denial atau argumen positif mengenai kasus korupsi.

Dari sini timbul reaksi masyarakat netizen baik nada dukungan positif atau negatif. Dalam artikel ini, khususnya kepada pembaca yang baru pertama kali mengenal doi dan bersimpati bahkan mencaci penegak hukum alangkah baiknya memperbanyak literasi dan meluruskan kognitifnya. Kerancuan kognitif orang tersebut salah satunya adalah efek halo atau halo effect.

Baca juga: Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Halo bukan berarti sapaan usang motivator hallo hallo hai hai untuk ice breaking ya, tapi fenomena geografis, yaitu cahaya melingkar di sekitar matahari. Ini diasosiasikan dengan gambar emotikon yang memiliki lingkaran di atas kepalanya, dan digambarkan sebagai seorang malaikat atau hal yang baik dan benar.

Menilai orang lain atau seseorang, cenderung positif, dengan cara mengeneralisasikan secara menyeluruh dari salah satu karakteristiknya saja merupakan definisi halo efek. Memang biasanya halo efek rentan terjadi ketika pertemuan pertama, atau istilahnya judgement by cover. Jadi orang yang berpenampilan rapih, sering tersenyum akan lebih dinilai dengan positif.

penjelasan perspektif psikologi isu Siti Fadilah, Pandangan psikologi terkait kasus siti fadilah, penjelasan halo effect atau halo efek
Bumi Psikologi – Biasakan juga untuk cross check. Sumber: Pexels.com

Biasanya efek halo bekerja dalam spektrum ketika orang menyukai atau terkesan dan simpati positif dengan suatu aspek tertentu, orang itu akan memiliki kecenderungan menilai positif secara keseluruhan terkait seseorang. Implikasinya, bakal mempercayai apa yang dibicarakannya.

Contoh lainnya seperti orang yang berparas rupawan atau penampilan fisik menarik akan diberikan kesan lebih sehat, bermoral baik, dan dianggap memiliki kompetensi lebih begitupun sebaliknya. Ini biasanya disebut stereotipe daya tarik. Ini juga terkait dengan heuristik keterwakilan, dimana contohnya orang berjenggot, memakai jubah dan bermuka kearaban akan dinilai lebih mungkin sebagai seorang teroris daripada orang yang biasa saja.

Baca juga: Banyak Nonton Berita Akan Menumpulkan Kemampuan Mengambil Kesimpulan – Penjelasan Heuristik Ketersediaan dalam Psikologi

Kesan ini yang akan menggerakan orang berperilaku sesuai dengan apa yang dipersepsikan dalam otaknya. Dalam kasus ini, simpati masyarakat terkait beliau menjadi positif disebabkan karena jasanya atas pengentasan wabah flu burung dan ditayangkan dalam akun media sosial oleh seseorang yang cukup terkenal, atau dianggap trusted oleh sebagian orang.

Ditambah juga klaim pembenaran dirinya menjadi korban konspirasi pihak-pihak yang membencinya, selain itu juga timing yang tepat yaitu mirip dengan tahun 2005 lalu dan penonton yang lebih mungkin menonton video terlebih dahulu ketimbang mencari fakta-fakta mengenai dirinya memuluskan kesan itu.

Sementara fakta orang Indonesia yang cenderung abai terkait informasi yang lain atau cross-check itu pasti tidak mungkin ya, atau bahkan bener begitu?

Udah sih gitu aja.

Oh iya, biasanya Halo effect ini digunakan oleh mereka yang bekerja dalam bidang pemasaran, baik pemasaran barang atau jasa. Contohnya sih branding website ini yang menyatakan membumikan psikologi untuk keseharian, padahal isinya tulisan doang hehe.

Penutup

Oke untuk artikel penjelasan perspektif psikologi mengenai isu Siti Fadilah sampai sini saja. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini, dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini. Kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: penjelasan perspektif psikologi isu Siti Fadilah, Pandangan psikologi terkait kasus siti fadilah, penjelasan halo effect atau halo efek