Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan stereotip dalam psikologi. Dasar kamu China, antek asing, pro komunis, sinis, kumis sss lainnya. Pernah ga sih denger kayak gitu sumpah serapah orang-orang? Kenapa bisa demikian dan darimana pandangan tersebut disematkan pada orang lain? Maksudnya pandangan terkait komunis itu apa, China itu bagaimana dsb? Jangan-jangan kamu terkena stereotip loh.

Baca juga: Alasan Kenapa Netizen Bisa Melabeli Siapapun dengan Satu Ciri Saja – Penjelasan Heuristik Keterwakilan dalam Psikologi

Pandangan-pandangan umum yang memang membatu dalam pikiran setiap manusia tidak bisa dihilangkan. Namun setidaknya bisa ditekan dan dinetralkan. Seperti pandangan orang Batak itu keras, pantangan nikah antara jawa dan sunda, atau sunda dan minang dll. Tahu ga sih kenapa? Yuk baca penjelasan stereotip dalam psikologi di sini.

Langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Menilai Suatu Hal dengan Pandangan Umum Namun Ternyata Keliru – Penjelasan Stereotip dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Menilai Suatu Hal dengan Pandangan Umum Namun Ternyata Keliru – Penjelasan Stereotip dalam Psikologi

Stereotip dalam Psikologi

Penjelasan stereotip dalam psikologi, apa itu stereotip dalam psikologi, stereotip menurut psikologi, pandangan psikologi mengenai stereotip
Bumi Psikologi – Anak Punk

Dari gambar tersebut, bagaimana penilaian kamu? Maksudnya, bagaimana karaktersitik orang tersebut, perilakunya, bahkan kesehariannya itu seperti apa?

Dalam pandangan yang lumrah di masyarakat mengenai gambar di atas, rerata orang akan menilai orang tersebut ialah anak punk, pengamen, berandalan dan sematan atribut negatif lainnya. Kemungkinan pekerjaan yang dijalankan orang tersebut tidak jauh dari hal yang dianggap bertentangan dengan norma masyarakat. Bukan kah begitu, pandangan pertama kamu jika tanpa sangkalan berpikir objektif?

Lantas mengapa orang kadung menilai demikian? Jawabannya karena manusia secara turun temurun dan pengaruh eksternal secara kompak mendoktrin otak untuk seragam menilai hal itu.

Dalam bahasa lainnya, dalam bias berpikir, ini dinamakan stereotip. Boros saya, stereotip memiliki definisi menarik dari Matsumoto (1996) yaitu mengeneralisasikan kesan yang dimiliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian orang yang dinilai tersebut. Misalnya, ketika kamu mendengar kata komunis atau pki, kesan apa yang pertama terlintas dalam benak? Nah ketika ada orang yang menurut publik dianggap komunis, penilaian kamu terhadap orang tersebut, baik kepribadian atau karakteristiknya, akan sama ketika kamu mendengar kata komunis atau pki tadi.

Penjelasan stereotip dalam psikologi, apa itu stereotip dalam psikologi, stereotip menurut psikologi, pandangan psikologi mengenai stereotip
Bumi Psikologi – Berpikir terbuka harus bisa lepas dari stereotip. Sumber: Pixabay.com

Oh iya, contoh yang terkait dengan komunis atau pki tadi ada beberapa fenomena yang cukup menggambarkan stereotip yang sangat jelas. Sebuah fragmen kisah sejarah Indonesia di masa Orde Baru, rezim atau bahkan masyarakat, yang tentunya dipengaruhi rezim, ketika mendengar hal yang berbau komunis atau pki itu selalu diasosiasikan dengan G30S atau gestok. Lebih jauh lagi, respon yang dimunculkan dalam diri yaitu sinis dan takut terhadap orang tersebut. Takut dalam artian, seolah orang tersebut bagian dari G30S, karena memiliki satu atribut yaitu PKI, baik merupakan simpatisan atau lainnya.

Baca juga: Ikut-Ikutan Tren Bukti Millennial Tidak Mau Disebut Ndeso – Penjelasan Bandwagon Effect dalam Psikologi

Contoh di atas sejalan memang dengan definisi dari Hog dan Abram tahun 1988 yang katanya mengeneralisakan seseorang berdasarkan pada karaktersitik suatu kelompok. Contoh lumrah yang sering kamu dengarkan yaitu orang minang identik dengan pedagang dan pelit, jadi terpatri dalam memori ketika bertemu dengan orang yang berasal dari Sumatera Barat (yang konon lebih sering dikenal orang Padang meski asalnya dari belahan mana juga) selalu muncul dalam pikiran, “emang dia pelit ya?” dan tergelitik untuk ditanyakan kepada orang itu.

Keberadaan stereotip jelas adanya di dalam kehidupan bermasyarakat. Keberadaan ini tentu merupakan bukti ketidakmampuan menilai orang lain atau sutau hal degan objektif. Artinya manusia bukan merupakan makhluk yang rasional tulen. Sedikit atau bahkan banyak dipengaruhi oleh pandangan kaku, konservatif, atau kolot terjadi dimana-mana. Lihat saja Amerika, yang konon disebut negara liberal nan rasional. Buktinya saat ini stereotip tentang rasial masih mengakar dalam otak mereka, bahkan dalam sejarahnya terekam jelas menunjukan stereotip ras putih merasa lebih tinggi dari ras lain.

Penjelasan stereotip dalam psikologi, apa itu stereotip dalam psikologi, stereotip menurut psikologi, pandangan psikologi mengenai stereotip
Bumi Psikologi – Menghargai perbedaan dan mengubah stereotip. Sumber: Pexels.com

Seperti yang sudah saya katakan, stereotip merupakan pandangan kaku dan kolot, ini dilestarikan karena salah satunya dengan cerita verbal dari generasi ke generasi. Misalnya tadi, kamu memang tidak mengetahui dan memang tidak hidup di zaman orde baru, tapi merasa bahwa orang yang berada di persimpangan kiri atau berbau komunis merupakan hal yang keji, buruk, hina dll. Padahal secara objektif, kamu tidak mengalami dan tak bersinggungan dengan mereka. Implikasinya akan menumpulkan ketajaman bernalar dan berpikir terbuka atas suatu perkara.

Stereotip terbesar di Indonesia mungkin penilaian terkait bagaimana “orang baik” itu. Orang baik terutama dalam konteks pelajar atau sekolah yaitu mereka yang penurut, rapih secara pakaian, mengerjakan tugas dan taat aturan dll. Sementara dalam konteks yang lebih luas, yaitu mereka yang tidak melenceng dari norma masyarakat yang berlaku. Misalnya perempuan dianggap baik ketika tidak botak, atau tidak maskulin dll. Kenapa begitu coba?

Baca juga: Bagaimana sih Toleransi Beragama dalam Sudut Pandang Psikologi? Simak Penjelasan Teoritisnya!

Atau juga orang China yang seperti orang Minang diidentikan dengan berdangang, pelit dll. Padahal Faktanya toh banyak tuh Indonesia mengimpor tenaga kerja dari Tiongkok sebagai pekerja hiyahiyahiya, atau Sun Yat Sen yang tidak menjadi pedangang, dan mungkin tidak pelit.

Dampak dari adanya stereotip cukup luas dan besar, terutama dalam cara berpikir individu. Individu yang terlalu banyak dipengaruhi oleh stereotip akan cenderung menyederhanakan informasi yang kompleks. Maksudnya abai terkait fakta-fakta atau data terkait lainnya yang berhubungan dengan objek atau perihal yang dinilainya. Ia cenderung menilai orang lain atau objek lain hanya dari satu ciri saja yang merepresentasikan kelompok misalnya.

Stereotip juga bisa menjadi alat untuk mengkambinghitamkan orang lain. Misalnya gini, kamu merupakan seorang kepala di FBI dan melihat adanya serangan pengeboman di gedung WTC. Sebelumnya kamu pernah melihat dan mendengar bahwa teroris itu orang Islam, berjanggut dan berwajah Arab. Lantas, hal pertama yang terbesit dalam pikiran kamu untuk mencari pelaku pengeboman gedung WTC itu mencurigai orang berciri Islam, berjanggut dan berwajah Arab. Inilah mengapa juga terjadi Islamofobia di Eropa, yang konon juga negara rasional, yang memandang orang Islam, terutama Arab sebagai orang yang keji dan peneror.

Inilah mengapa dampak laten dari dipeliharanya stereotip dalam masyarakat akan menumpulkan cara berpikir yang terbuka dan rasional, karena biasanya stereotip abai terkait informasi komprehensif. Mereka kadung memiliki nilai dan kesan terhadap suatu objek atau orang dalam otaknya.

Yang ingin saya sampaikan sih berpikir santuy terkait suatu kejadian sosial, terkait orang lain atau suatu objek dengan tidak terburu-buru memberikan kesimpulan dan menjudge dengan informasi terbatas. Katanya kan mau berpikir out of the box, nah berarti kamu harus mampu keluar dari pandangan umum di masyarakat yang nilainya keliru. Meski biasanya stereotip derajat kebenarannya cukup tinggi.

Penutup

Oke untuk artikel penjelasan stereotip dalam psikologi cukup sampai di sini saja ya, sudah capek saya. Tapi jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: Penjelasan stereotip dalam psikologi, apa itu stereotip dalam psikologi, stereotip menurut psikologi, pandangan psikologi mengenai stereotip