Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan mengenalkan sebuah perbedaan stress dan depresi dalam psikologi kesehatan. Ketika tulisan ini diterbitkan, keadaan kehidupan sedang dirundungi oleh pageblug corona. Wabah ini bisa menjadi trigger atau pemicu setiap orang mengalami stres bahkan sampai depresi, atau juga menjadi cemas. Karena banyak masalah yang terdampak dari bencana ini. Seperti kegiatan ekonomi, kesehatan diri dan keluarga, kehidupan akademik dan segala aktivitas yang mengharuskan berinteraksi dengan orang lain.

Baca juga: Stres Membunuhmu. Kenali Definisi, Kinerja, Dampak, dan Terapinya – Mengenal Stres dalam Psikologi

Dari sini, saya merasa perlu memberikan sebuah edukasi mengenai kesehatan mental yang rentang terjangkit pada masa sulit ini. Di antranya kamu perlu mengetahui perbedaan stres dan depresi dalam sudut pandang psikologi. Supaya kamu bisa setidaknya memahami diri, tapi tidak sampai menjustifikasi ya. Artikel perbedaan stres dan depresi dalam psikologi hanya untuk sarana pengetahuan dan tidak mendiagnosis diri sendiri.

Yuk baca saja langsung artikel dengna judul lengkapnya Stress dan Depresi Sama Tidak Sih? – Simak Perbedaan Stres dan Depresi dalam Psikologi Kesehatan sampai tuntas ya!

Stress dan Depresi Sama Tidak Sih? – Simak Perbedaan Stres dan Depresi dalam Psikologi Kesehatan

Perbedaan Stres dan Depresi

perbedaan stres dan depresi dalam psikologi, stres dan depresi sama atau tidak, menangani stres dan depresi
Bumi Psikologi – Stres di tempat kerja. Source: Pexels.com

Biasanya ada beberapa orang yang kurang tepat membedakan antara stres dan depresi. Pandangan umum yang biasanya didengar stres berkaitan dengan pikiran aneh atau “gila” dalam masyarakat. Ada juga yang memandang stres memang sebagai tekanan hidup, pikiran yang penuh atau mumet dan ruwet. Atau untuk menjustifikasi perilaku dan pemikiran orang yang tidak sesuai harapan orang lain. Ada lagi yang tahu?

Lain dengan stres, depresi biasanya diartikan dengan sedang galau atau memiliki masalah yang cukup berat. Selain itu, biasanya masyarakat atau beberapa orang sering menjustifikasi diem nih gua lagi depresi, atau gua depresi nih tolongin dong, hidup ini berat banget dah buat gua depresi aja dll. Apakah kamu pernah begitu? Yuk mending simak saja bener tidak sih pandangan umum yang beredar di masyarakat mengenai stres dan depresi ini.

Stres Itu Apa Sih?

Gampangnya yaitu stres terjadi karena adanya respon negatif terhadap ketimpangan antara harapan dan kenyataan yang ada. Ketika kamu misalnya mengharapkan bulan, namun kenyataannya kamu hanya sampai pada pohon cemara, kemudian kamu baper, cemas dan berpikir negatif karena tidak menggapai bulan, nah ini bisa dikatakan kamu dalam keadaan stres.

Lebih detail diungkapkan oleh Sarafino yaitu proses interaksi terus menerus dan penyesuaian diri antara orang atau individu dengan lingkungannya. Pandangan ini lebih komprehensif, karena stres merupakan keadaan dinamis yang akan terus terjadi. Dikatakan karena stres itu interaksi antara kamu dan lingkungan sekitar. Jadi sumber stres (stressor) itu ada di lingkungan, tapi tergantung juga bagaimana kamu merespon tekanan tersebut.

Baca juga: Mengenal Dissociative Disorder; Kepribadian Ganda, Depersonalisasi, dan Amnesia Dissosiative – Serial Mengenal Stress

Karena merupakan proses adaptasi yang terus menerus, lama kelamaan, tubuh kamu akan terbiasa dan menganggap masalah, yang sudah dilalui, bukan merupakan hal yang membuat stres lagi. Nah di sini berkaitan dengan proses yang terjadi di dalam tubuh kamu. Ketika menerima tekanan, tubuh akan merespon dengan memproduksi hormon stres atau adrenalin, kortisol dan norepinefrin. Gejala yang lumrah biasanya yaitu detak jantung akan sangat cepat dan lanjut di bawah ini.

So, stres juga bisa dikatakan sebagai pengalaman emosi negatif yang diiringi dengan perubahan biochemical (adrenalin, kortisol dan norepinefrin), psikologi, kognisi dan perilaku yang mana tujuannya untuk mengatasi dari masalah dan penyesuaian diri darinya. Meskipun begitu ada beberapa gangguan yang dimulai dari stres yang tidak ditangani loh, jadi jangan diremehkan ya.

Oh iya, stres juga punya manfaat loh. Tekanan hidup itu perlu biasanya untuk menginkatkan kualitas kerja, semangat untuk menjadi lebih baik atau juga untuk meraih prestasi dsb. Jadi tidak selamanya buruk ya stres itu.

perbedaan stres dan depresi dalam psikologi, stres dan depresi sama atau tidak, menangani stres dan depresi
Bumi Psikologi – Stress itu hal yang biasa ya. Source: Pexels.com

Gejala Stres

Adapun beberapa gejala stres di antaranya yaitu dibagi ke dalam beberapa domain:

  • Tubuh: Pusing, cepat lelah, sesak, infeksi, iritasi dan/atau otot tegang.
  • Pikiran: Cemas, sulit mengambil keputusan, mimpi buruk dan/atau pikiran negatif.
  • Emosi: Kurang percaya diri, mudah marah dan tersinggung, menyendiri, dan/atau apatis.
  • Perilaku: Mudah celaka, kehilangan selera makan, dan/atau sulit tidur.

Gejala stres umumnya bisa muncul secara keseluruhan, namun bisa juga berbeda-beda setiap orang. Namun secara umum akan mengalami bebearapa hal di atas.

Penanganan Stres

Dalam artikel ini akan dijelaskan sedikit mengenai bagaimana mengatasi stres (coping stress), dan akan dijelaskan dalam satu artikel khusus. Beberapa di antaranya yaitu meditasi, hipnosis, dipiijit dan diberikan jamu, menggunakan pendekatan behaviour dan cognitive methods.

Hal terpenting dalam penangan stres secara umum yaitu tergantung individu bagaimana mengatasinya dan menemukan coping stress terbaik dan tentunya positif. Sebagai contoh biasanya melakukan apa yang disukai dan meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Depresi itu Sebuah Gangguan Mental Tingkat Lanjut

perbedaan stres dan depresi dalam psikologi, stres dan depresi sama atau tidak, menangani stres dan depresi
Bumi Psikologi – Depresi itu gangguan gaes. Source: Pexels.com

Gangguan depresi merupakan keadaan ketika kamu tidak mampu merasakan kesenangan dan hanya diliputi kesedihan mendalam dalam jangka waktu yang lama. Kehidupannya sudah hilang harapan, karena terus meneru dipenuhi pikiran negatif. Bahkan, orang yang mengalami depressive disorder atau gangguan depresi cenderung memandang sesuatu dengan pandanga negatif tanpa harapan, dan selalu fokus pada kekurangan diri yang dimiliki. So, masih berani menganggap diri depresi?

Baca juga: Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda – Mengukur Kebahagiaan dalam Psikologi

Orang yang depresi juga biasanya tidak memiliki stamina yang banyak, sering merasa kelelahan. Biasanya juga mereka menderita beberapa gangguan fisik, padahal meskipun ketika diperiksa fisiknya tidak menunjukan gejala aneh tapi ada yang terkena (psikosomatis). Selain itu, penderita gangguan ini akan kesulitan tidur, menarik diri dari kehidupan sosial karena perasaan ingin terus sendiri dan merasa kecil. Biasanya, karena merasa tidak memiliki harapan dalam hidup akan berujung pada kasus bunuh diri.

Ciri Depresi dalam DSM V

Beberapa ciri dari pengidap depresi sudah di jelaskan di atas. Namun dalam bagian ini, ciri dari pengidap depresi yang sesuai kritera DSM-V untuk major depressive disorder atau gangguan depresi mayor. Kriterianya sebagai berikut

  • Mood yang terus menerus dipenuhi kesedihan atau tidak dapat merasakan kenikmatan ketika beraktivitas.
  • Terlalu banyak tidur atau tidak bisa tidur sama sekali dan sering terbangun.
  • Memiliki gangguan psikomotor.
  • Kehilangan berat badan yang drastis atau hilang banget selera makan.
  • Kehilangan energi dengan cepat.
  • Merasa tidak berharga dan merasa bersalah yang sangat berlebihan.
  • Kesulitan berkonsentrasi pada sesuatu atau sulit memutuskan perkara.
  • Terlintas untuk mati atau bunuh diri.

Biasanya simptom atau ciri ini dirasakan sepanjang hari atau seharian, dan bertahan selama dua minggu.

Untuk informasi lanjutan, depresi memang dibagi menjadi beberapa jenisnya ada yang namanya major depressive disorder single episode, major depressive disorder, recurrent, major depressive disorder chronic subtype. Kamu bisa baca di buku ini ya [Ann M. Kring dkk – Abnormal Psychology].

Penanganan Depresi

Untuk penanganan depresi memang harus diselesaikan oleh ahlinya baik oleh psikolog atau psikiater. Namun dalam pencegahannya, kamu (bagi yang tidak mengalami) harus saling peduli satu sama lain. Memberikan perhatian dan menanyakan kabar kepada teman, kerabat atau keluarga dekat bisa mencegah hal tersebut. Karena orang yang mengalami depresi mereka terkungkung dengan pikiran negatif mengenai dirinya atau kesalahan (dipersepsikan karena ulahnya) yang sangat dalam.

So, bagi kamu yang menemukan teman atau kerabat dekat seperti di atas bisa direkomendasikan untuk mengunjungi psikolog untuk ditangani lebih lanjut.

Daftar Pustaka

  • Kring M. Ann, et.al (2012), Abnormal Psychology, John Wiley and Sons.
  • Sarafino et.al., Health Psychology, John Wiley and Sons.

Penutup

perbedaan stres dan depresi dalam psikologi, stres dan depresi sama atau tidak, menangani stres dan depresi
Bumi Psikologi – Mari berbahagia. Source: Pexels.com

Oke, untuk artikel perbedaan antara stress dan depresi dalam psikologi kesehatan cukup sampai di sini saja. Pesan saya yaitu jangan menjustifikasi atau menilai diri mengalami gangguan psikologis dari ciri di atas. Namun ketika kamu merasa mengalami hal tersebut, bisa segera berkonsultasi dengan ahlinya. Terima kasih

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: perbedaan stres dan depresi dalam psikologi, stres dan depresi sama  atau tidak, menangani stres dan depresi