Apakah Malin Kundang Benar-Benar Anak Yang Durhaka? – Pola asuh psikologi Uda Malin

M. Nadhif Amrillah Syams

18 Jan, 2023

Bumipsikologi.com – Malin kundang sebagai representatif anak durhaka dari budaya minang yang saat ini mungkin tidak ada salah satu anak pun bercita-cita seperti diri nya. Lantas apakah betul perilaku Uda Malin ini melampaui batas dan muncul sendiri tak bisa termaafkan? Simak saja sendiri ya pola asuh psikologi uda malinnya.

Apakah Malin Kundang Benar-Benar Anak Yang Durhaka?

Siapa yang tidak kenal dengan legenda Malin Kundang dari daerah Minang, Sumatera Barat. Dalam legenda tersebut, Malin Kundang terkenal dengan sikap durhaka yang ditujukan pada ibunya. Dikisahkan, Malin pulang ke kampung halamannya bersama istrinya yang cantik setelah sukses sebagai pedagang di tempat jauh.

Namun, Malin terkejut saat melihat ibunya yang datang menemuinya dengan pakaian yang kumal dan mengaku sebagai ibunya. Malin merasa malu dan mencampakkan ibunya hingga ia terjatuh dan terguling-guling. Ibu tidak terima dengan perlakuan anaknya dan marah serta mengutuk Malin menjadi batu.

Kutukan tersebut menjadi kenyataan dan Malin menjadi batu yang berlutut seperti yang terlihat di Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Namun, bagaimana jika Malin sebenarnya bukan anak yang durhaka, melainkan ibunya sendiri yang bersalah?

Yup di dunia yang tidak hanya hitam dan putih ini sudah selayaknya kita telaah dalam dongeng hikayat malin kundang yang dinilai malin kundang sebagai peran yang salah atau durhaka terhadap ibunya.

Namun apakah durhakanya malin kundang sepenuhnya salah malin? Apakah ibunya tidak punya peran sebagai sosok yang mempengaruhi perkembangan malin yang dinilai durhaka tersebut?

Mari kita renungkan sejenak, apa yang membuat seorang anak bersikap durhaka kepada orang tuanya?

Salah satu kesalahan dalam pola asuh yang sering kali terjadi pada metode orang tua dalam mendidik anaknya adalah orang tua yang terlalu memanjakan anaknya. Menurut Dr. Bredehoft, seorang profesor emeritus dalam bidang psikologi, orang tua yang terlalu memanjakan anaknya biasanya karena niat yang baik, yaitu ingin membuat anaknya merasa senang.

Niat ini muncul karena orang tua mungkin terlalu sibuk bekerja atau terpisah dari anak, sehingga untuk menutupi rasa bersalah karena sering meninggalkan anak, mereka memanjakan anak terlalu berlebihan. Ini juga bisa terjadi karena orang tua mengalami masa sulit saat kecil, sehingga mereka tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama.

Baca juga: Lu bilang gue egois? Lah lu sendiri gimana?: Mengenal Retorika Soviet bernama ‘Whataboutisme’

Penelitian mengungkapkan bahwa terdapat tiga jenis pola pengasuhan yang terlalu memanjakan anak oleh orang tua, yaitu:

(1) memberikan anak terlalu banyak benda material seperti mainan, pakaian, dan kegiatan,

(2) melakukan atau menyuruh orang lain melakukan hal-hal yang seharusnya dapat anak lakukan sendiri,

(3) tidak menetapkan aturan di rumah atau jika ada, tidak konsisten dalam penerapannya.

Pola pengasuhan “too much” ini tidak hanya terbatas pada benda-benda material saja, tetapi juga terlalu banyak kegiatan yang oleh orang tua tetapkan. Orang tua mungkin ingin anaknya memiliki kemampuan super dalam berbagai bidang atau tidak ingin anaknya hanya duduk di rumah dan bermain komputer sehingga anak dijadwalkan dengan kegiatan yang padat. Akibatnya, anak mengalami kelelahan mental dan bosan ketika harus duduk diam di rumah.

Anak juga akan terbiasa dengan orang lain yang mengatur hidupnya dan menjadi tidak percaya diri ketika harus mengatur kehidupannya sendiri. Pola pengasuhan “over-nurture” menyebabkan anak tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal dasar dalam hidupnya dan tidak mampu mengatasi masalah sendiri.

Pola pengasuhan “soft structure” menyebabkan anak sulit diatur di dalam atau di luar rumah dan menjadi manipulatif. Anak yang terlalu orang tua manjakan akan tumbuh dengan pemikiran bahwa diri nya adalah pusat segalanya. Ia juga akan cenderung tidak menghargai barang miliknya sendiri atau orang lain, dan sulit menghargai orang lain. Anak ini juga akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berdaya.

Kembali pada pertanyaan awal, apa yang menyebabkan anak melakukan sikap durhaka terhadap orang tuanya? Salah satu faktor utamanya adalah pola pengasuhan yang salah!

Sebelum menciptakan anak yang sama dengan legenda Malin Kundang, teruntuk para orang tua Jangan sampai menghalangi kesempatan anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bacaan lanjutan: Pola asuh menurut Dr Bredehoft [Psychology Today]

Penutup

Menurutmu Uda Malin ini salah ga? Ya salah karena ga belajar akhlak kayak para karyawan BUMN yang sangat berakhlak xixixi

Panggil saja Nadip
Lihat artikel lain dari kategori Fakta Unik!
Lihat Artikel Lainnya dari M. Nadhif Amrillah Syams!