Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai prasangka dalam psikologi. Dalam kehidupan bermasyarakat penilaian negatif terhadap kelompok atau suatu hal yang berbeda tidak bisa dihindarkan. Misalnya ketika tiba-tiba di lingkungan kamu ada orang berjubah putih, berjanggut tebal dan jidat hitam berpeci putih, otomatis tidak mungkin disangka biksu kan? Atau misalnya melihat palu arit langsung dibakar dan dihajar, padahal mungkin orang sedang benerin arit dengan palunya.

Baca juga: Dark Jokes: Melumrahkan Hal Tabu dengan Humor – Dark Jokes dalam Pandangan Psikologi

Fenomena ini dinamakan dengan prasangka. Tabiat buruk, bisa juga baik sebagai pertahanan diri, manusia yang memang sulit sekali dihilangkan, tapi bukan tidak mungkin. Dalam perkembangannya prasangka sering sekali menjadi pemicu konflik antar kelompok atau orang yang saling berbeda. Baca saja ya artikel prasangka dalam psikologi lebih lanjutnya.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya  Menilai Orang atau Kelompok Lain dengan Emosional – Prasangka dalam Psikologi sampai tuntas ya!

Menilai Orang atau Kelompok Lain dengan Emosional – Prasangka dalam Psikologi

Fenomena Prasangka

prasangka dalam psikologi, contoh prasangka dalam psikologi, teori prasangka dalam psikologi, prasangka menurut para ahli psikologi, apa itu prasangka.
Bumi Psikologi – Kasih saja salam hangat kepada haters. Sumber: Pexels.com

Suudzan antum mah akhee~

Sebagai humankind sudah pasti memiliki otak dan hati untuk berpikir. Otak merupakan sebuah misteri yang muskil untuk dipecahkan seutuhnya. Manusia masih sedikit tahu akan otaknya sendiri, bahkan ada yang sama sekali tidak menyadarinya punya otak, ada? Pasti ga ada ya tentunya hehe. Mohon maaf nih yah bukan bermaksud menyinggung, tapi memang menghujat.

Sudah barang tentu juga kamu tahu fungsi otak yaitu untuk mengingat, berpikir, ya mikirr. Namun katanya di otak juga ada bagian yang berfungsi untuk memunculkan emosi, nama posnya di otak sih amygdala yang bentuknya mirip biji almond katanya. Nah dengan berfungsinya amygdala kamu akan mudah mengingat ingatan yang melibatkan emosi atau perasaan diri sendiri. Misalnya kenapa orang lebih sulit melupakan mantan daripada mata pelajaran? Ya jawabannya kamu lebih baper ke doi dan gagal move on, mampussss!!! Oke lupakan kalau antum seorang akhee akhee.

Baca juga: Menilai Suatu Hal dengan Pandangan Umum Namun Ternyata Keliru – Penjelasan Stereotip dalam Psikologi

Ingatan-ingatan atau informasi yang diingat kamu, baik dicampur dengan emosi atau tidak, akan menjadi pusat data base kamu sebagai bekal menilai orang, kelompok atau objek lainnya. Karena kamu mendapatkan informasi suatu perkara ya dari belajar, baik membaca, mendengarkan orang lain atau melihat sendiri langsung, jadi berdasarkan pengalaman kamu. Nah pengalaman ini juga akan memiliki kesan-kesan tersendiri, dan akan mempengaruhi cara berpikir kamu. Misalnya kamu yang suatu ketika dimarahi dosen A saat pelajaran di kelas, dan sialnya kamu harus mengumpulkan tugas secara individu ke ruangannya di minggu depan. Pikiran positif kamu seakan diberedel oleh pengalaman negatif ketika berinteraksi dengan Dosen A itu, dan mungkin kamu (secara otomatis punya pikiran) “Pasti gua dimarahin nih.” Padahal mungkin doi nya juga udah lupa siapa kamu ckckck.

Itu namanya sih prasangka, kalau kata si akhee sih suudzan~.

Emang prasangka apaan?

Kalau kata si Baron dan si Byrne kalau kamu benci  dan memiliki sikap negatif terhadap FPI hanya karena kamu anggota deadwood, itu sudah dikatakan memiliki prasangka atau prejudice. Lebih jauh Mas Daft bersabda, ketika kamu menilai orang lain negatif karena orang tersebut memiliki perbedaan dalam hal jenis kelamin, ras, etnik atau orang difabel. Penilaian tanpa informasi yang memadai dan hanya terbukti dalam angan kamu saja, itu dinamakan prasangka.

Misalnya, karena kejadian bom bali lalu atau bom bom di WTC itu pelakunya dianggap orang Islam terutama berjanggut lebat, maka jika kamu merasa memiliki Islamofhobia terutama pada orang berjanggut lebat itu sudah dirasuki prasangka. Ini agak nyerempet stereotip karena memang komponen dari prasangka yaitu stereotip. Dan prasangka merupakan sikap dan bisa diikuti dengan perilaku negatif terhadap orang lain.

Kalau di novel AAC 2 itu kan si Jason sama si Keira selalu membenci Kang Fahri, memang sich Fahri kelakuan, karena didasari kematian Ayahnya dari bom teror seseorang muslim di negerinya. Nah diceritakan mereka tidak mau berdamai dengan Fahri, bahkan sampai berperilaku destruktif. Ini memang benar bisa terjadi, karena dengan prasangka bersifat emosional dan bisa menjadi pemicu ledakan emosional untuk berperilaku merugikan secara masa.

Komponen Prasangka

Prasangka itu sikap yang dipelajari dan diajarkan, so kamu bisa mengubah dan bisa mulai memberikan pandangan baru terkait apa yang diprasangkakan. Syaratnya banyak memahami dan rendah hati.

Aing

Biasanya orang yang memiliki prasangka itu memiliki ciri informasi tanpa data yang jelas, bias berpikir (heuristik dan lainnya), tidak menyukai orang atau kelompok tertentu karena suatu kejadian, keinginan untuk melecehkan secara verbal atau fisik dsb. Ini disebabkan juga oleh stereotip, adanya kelas sosial, dan sikap diskriminatif.

Baca juga: Siang Anxiety, Kalau Malam Overthinking – Dampak Bermedia Sosial Secara Psikis

Komponen-komponen di atas saling bersatu padu memberikan kesimpulan dalam otak untuk menilai seseorang atau kelompok atau objek merupakan suatu hal yang perlu dimusnahkan, dibenci atau memiliki itikad buruk terhadap diri. Sikap merasa takut akan suatu perkara juga merupakan wujud prasangka. Misalnya, ketika umat Islam takut akan eksistensinya tergusur oleh umat Yahudi atau umat lainnya dan mendorong bersikap destruktif merupakan contoh prasangka yang jelas. Contoh lainnya mungkin membenci orang China, karena memiliki pikiran yang emosional seperti orang China serakah, komunis atau aseeng merupakan penilaian yang hanya bener dalam pikirannya saja.

Banyak sekali praktik prasangka di dunia ini yang memang tidak mendasar terhadap kelompok (misal terhadap Muslim minoritas di Rohingya), Ras (Ras kulit hitam di Amerika), Gender (Laki-laki menganggap rendah perempuan) dan Orang difabel (dipandang sebelah mata). Prasangka-prasangka tersebut akan memiliki dampak buruk dan bersikap negatif terhadap orang lain, apalagi diikuti dengan perilaku yang destruktif tadi.

Lalu gimana sih prosesnya prasangka?

prasangka dalam psikologi, contoh prasangka dalam psikologi, teori prasangka dalam psikologi, prasangka menurut para ahli psikologi, apa itu prasangka.
Bumi Psikologi – Prasangka bisa memunculkan rasisme loh. Sumber: Pixabay.com

Pertama menurut Teori Belajar Sosial Albert Bandura yaitu belajar sosial. Menurutnya Prasangka disebabkan karena kamu mempelajarinya dari orang tua, teman dan lingkungan sekitar. Bagaimana mereka bersikap atau mendoktrin kamu, akan menjadikan itu sebagai sikap dan perilaku kamu, yang tentunya bisa kamu ubah jika ada kemauan.

Kedua, karena hubungan dengan kelompok lain. Adanya ketidakadilan ketika diperlakukan oleh orang lain, diintimidasi, konflik terhadap kelompok yang berbeda (misal Konflik antar agama), atau iri terhadap orang lain.

Ketiga, Social Identity Theory. Intinya kamu ketika bergabung dengan organisasi misalnya NU, nah kamu akan meniru cara pandang NU terhadap kelompok lain, misalnya terhadap HTI tanpa tahu pangkal permasalahan atau pembuktian kebencian tersebut dsb, in-group favoritism bias (bisa dibaca di link di bawah ini).

Baca juga: Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi

Terakhir teori dari pengikut Om Freud. Pertama teori Frustasi Agresi, artinya prasangka muncul karena frustasi diri sendiri karena tidak dapat mengatasi permasalahan yang dialami, akhirnya mencari orang lain untuk disalahkan. Misalnya sih kamu memiliki kekurangan tidak bisa membaca, kamu beranggapan itu dikarenakan misal berteman dengan si A atau lainnya. Sudah satu saja deh~

Cara untuk mengatasi prasangka bisa dengan berpikir terbuka terhadap kelompok lain, memiliki pandangan bahwa orang atau kelompok lain memiliki kesetaraan, dan santuy. Kalau ga santuy kan misalnya kamu ngechat doi tapi tidak dibalas berhari-hari ya muncul prasangka. Berprasangka baiklah mungkin hapenya hidup orangnya meninggal.

Selalu berbaik sangka lah kepada siapapun, termasuk kepada diri sendiri.

Bacaan lanjutan: Prasangka, The Nature of Prejudice – Allport.

Penutup

Oke untuk artikel prasangka dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Mohon maaf apabila ada orang atau kelompok yang disebut itu semata hanya dijadikan contoh saja. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: prasangka dalam psikologi, contoh prasangka dalam psikologi. teori prasangka dalam psikologi, prasangka menurut para ahli psikologi, apa itu prasangka.