Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai sebuah renungan ibadah dengan alat ukur psikologi, khususnya bagi umat islam yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Dengan masuknya bulan ramadhan, sambutan dan pancaran kebahagiaan terpancar di setiap wajah umat islam, ada yang tidak juga sih ya, kamu gimana? Bukti yang bisa diamati yaitu semangat beribadah di awal ramadhan sering dijumpai. Contohnya, malam pertama terawih, masjid akan penuh sesak bak mengecil ukurannya. Namun berbanding terbalik ketika memasuki pertengahan apalagi akhir ramadhan, masjid serasa membesar dan melebar.

Baca juga: Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam

Kamu pernah lihat yang seperti ini? Tentu ini sangat menarik untuk ditinjau, terutama menggunakan alat ukur psikologi. Semangat beribadah yang dilaksanakan di bulan ramadhan terjadi fluktuasi, padahal fadhilah yang Allah Swt. janjikan sangatlah luas dan tak terhingga. So, bagaimana sih kita seharusnya? Simak yuk renungan ibadah dengan alat ukur psikologi,

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Menakar ulang semangat ibadah di bulan Ramadhan dengan alat ukur psikologi – renungan ibadah dengan alat ukur psikologi sampai tuntas ya!

Menakar ulang semangat ibadah di bulan Ramadhan dengan alat ukur psikologi

Ibadah di Bulan Suci Ramadhan

renungan ibadah dengan alat ukur psikologi, ibadah bulan ramadhan dalam psikologi, alat ukur pskologi dan ibadah islam
Bumi Psikologi – Harus terus menjaga semangat ibadah seterusnya. Sumber: Pexels.com

Berbicara ibadah di bulan suci Ramadhan, akan berbicara tentang gegap gempita masyaraka Indonesia dalam menyambutnya. Masjid di kampung-kampung pun di kota, mulai dibersihkan, bergotong royong mempersiapkan fasilitas untuk tarawih, persediaan takjil, ifthor, bahkan memfasilitasi sahur.

Satu persatu individu mulai mempersiapkan sejadah, mukena, baju koko, sarung, peci, guna persiapan melakukan shalat tarawih. Ditambah persiapan Al-qur’an untuk memenuhi kegiatan Ramadhan dengan tadarus hingga khatam dan beri’tikaf di masjid. Bahkan bisa dibilang tempat tongkrongan yang paling mengasyikan di bulan Ramadhan ini adalah sudut-sudut masjid atau mushola.

Semua dilakukan atas dasar cinta, rindu, dan mungkin aji mumpung menyambut fadilah atau keutamaan ibadah di bulan Ramadhan. Bahkan untuk sebagian orang yang bingung “ibadah apa lagi yaah yang harus saya lakukan”, menggunakan hadis dhoif (lemah) atau bahkan mau’dhu (palsu), untuk melegitimasi ibadah lain yang bisa dilakukan. Walaupun ada yg berpendapat hadis dhoif boleh untuk fadhoil amal.

Baca juga: Bagaimana sih Toleransi Beragama dalam Sudut Pandang Psikologi? Simak Penjelasan Teoritisnya!

Menjadi pertanyaan adalah entah bingung cari ibadah lain, menyemangati orang lain, atau karena sudah jadi diskursus sejak lama, hadis palsu turut menghiasi semangat orang untuk melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Bahkan ada buku khusus Prof.Dr. Ali Mustafa Yaqub (Pendiri Darus Sunnah International Institute), berjudul “Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan”. Walaupun sebenarnya, masih banyak ibadah- ibadah dengan keutamaan yang besar dengan dalil yang shohih.

renungan ibadah dengan alat ukur psikologi, ibadah bulan ramadhan dalam psikologi, alat ukur pskologi dan ibadah islam
Bumi Psikologi – Setelah Ramadhan Usai Jangan Berhenti Ibadahnya. Sumber: Pexels.com

Namun demikian, sering kali Ramadhan yang hanya dijadikan aji mumpung, tidak berdampak pada ibadah kita dibulan selanjutnya. Kebiasaan baik yang sering kita lakukan bak baju yang terlumuri pemutih. Semuanya hilang dan luntur hingga tak berbekas. Kita tidak menafikan penghususan Allah Swt. terhadap bulan Ramadhan ini dengan bergelimang keutamaannya. Akan tetapi, kita nya yang belum bisa mengambil istifadzah dari adanya bulan suci Ramadhan ini.

Kalau kita mencoba menakar ibadah dengan menggunakan alat ukur Psikologi Kreapelin dan atau Pauli, mungkin kurva yang terbentuk tidak stabil. Deretan bulan yang diibaratkan deretan angka pada tes Kreapelin dan Pauli, mungkin terjadi kenaikan secara signifikan di bulan Ramadhan karena diisi dengan banyak ibadah dan menjorok turun di bulan setelahnya, karena kita mulai melepaskan ibadah-ibadah yang sering dilakukan di bulan Ramadhan.

Baca juga: Meningkatnya Kesadaran Religiusme pada Masyarakat sebagai Awal Psikologi Islam – Mengenal Psikologi Islam

Mungkin kita tahu di bulan Ramadhan nilai pahalanya sangat tinggi, ibarat kita sudah diberi bocoran bagian mana yang di berikan nili tinggi oleh tester ketika mengerjakan Kreapelin dan atau Pauli. Tapi bukan itu yang dimaksud dengan adanya tes Kreapelin dan Pauli. Bukan seperti itu pula istifadzah adanya bulan Ramadhan. Yang hanya memperlihatkan lonjakan ibadah di satu waktu saja.

Tes Kreapelin dan Pauli yang bagus akan menunjukan kurva yang cenderung lebih stabil, atau mungkin cenderung naik. Artinya, stabil menunjukan ibadah kita yang cenderung stabil, mampu mengelola emosi dan tidak terpengaruh oleh lingkungan. Cenderung naik, artinya kita mampu berlomba dalam melakukan ibadah, kebaikan dan ingin lagi dan lagi menambah ibadah yang belum kita lakukan sebelumnya. Bukan malah memperlihatkan kurva penurunan yang tajam. Yang memperlihatkan lunturnya semangat untuk meneruskan kebiasaan baik di bulan Ramadhan.

Baca juga; Memahami Kejayaan Islam dalam Sejarah – Resensi Sejarah Islam yang Hilang

Penutup

Untuk artikel renungan ibadah dengan alat ukur psikologi, terutama ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan sampai di sini saja. Semoga kita senantiasa mendapatkan berkah ibadah di bulan ramadhan. Oh iya, setelah bulan ramadhan berlalu, semangat beribadahnya harus lebih ditingkatkan lagi bukan malah bertakbir seperti menyuarakan terbebas dari belenggu penderitaan, ada? Terima kasih dan jangan lupa bagikan dengan menekan tombol di bawah kepada temen kamu yang lain.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: renungan ibadah dengan alat ukur psikologi, ibadah bulan ramadhan dalam psikologi, alat ukur pskologi dan ibadah islam