Mengapa Kita Membicarakan Perselingkuhan?

Shabrin Risti Aulia

9 Jan, 2023

Mengapa Kita Membicarakan Perselingkuhan? – Selingkuh dalam psikologi sebagai topik pembicaraan

Bumipsikologi.com – Membicarakan perihal topik perselingkuhan selalu menjadi buah bibir yang tak pernah habis terkhusus bagi masyarakat Indonesia. Beberapa kasus yang viral seakan menjadi bahan obrolan bersama teman atau tetangga. Lantas, kenapa kita membicarakan perselingkuhan? dan menjadikan selingkuh sebagai topik pembicaraan? Yuk simak topik selingkuh dalam psikologi.

Selingkuh. Satu kata dengan sejuta problema. Perselingkuhan menjadi salah satu momok utama bagi pasangan yang sedang menjalin hubungan. Hadirnya pihak ketiga dirasa sebagai bentuk pengkhianatan paling kejam dalam ikatan kesetiaan.

Beberapa waktu lalu, publik dibuat heboh dengan munculnya berita tentang perselingkuhan yang dilakukan seorang suami dengan ibu mertuanya. Setelah viral, beragam komentar mulai bermunculan. Kebanyakan berupa hujatan bagi sang suami maupun ibu mertua. Akan tetapi, tak jarang pula muncul dukungan bagi istri yang mengalami pengkhianatan.

Tak lama setelah itu, kembali muncul berita mengenai warga net yang menggeruduk akun Instagram tempat kerja suami yang menjadi pelaku perselingkuhan. Mereka menuntut pihak manajemen mengeluarkannya dari tempat kerja hingga mengecam sebagai perusahaan yang mendukung penyimpangan sosial.

Perselingkuhan memang selalu menjadi topik yang menarik. Sejak kita masih jadi siswa sampai sudah bekerja, ada saja kabar burung yang mampir ke telinga. Si A merebut pacar kakak tingkat, karyawan B ada main dengan karyawati dari divisi lain, dan sebagainya. Selalu ada ruang untuk pembicaraan soal pengkhianatan.

Baca juga: Can relate banget sama lagunya: Bagaimana lagu mempengaruhi pendengarnya?

Perselingkuhan menjadi satu fenomena sosial yang berdiri antara ranah publik dan ranah privat. Meskipun kita paham bahwa rumah tangga adalah urusan dapur masing-masing, ketika menyangkut ketidaksetiaan, orang cenderung menjadikannya masalah kolektif. Respons masyarakat terhadap fenomena ini pun bermacam-macam mulai dari mengecam dan mengucilkan pelaku hingga mendikte korban untuk melakukan sesuatu.

Perselingkuhan selalu punya ruang yang lapang untuk menjadi topik bahasan. Dalam salah satu kanal media sosial, jumlah komentar berita perselingkuhan bisa mencapai dua kali lipat dari berita-berita lainnya. Lantas mengapa kita menginvestasikan begitu banyak tenaga untuk membahas ketidaksetiaan? Apa yang membuat pengkhianatan mendapatkan atensi yang terkadang lebih tinggi dari kasus korupsi?

Saat ini, di Indonesia, monogami menjadi norma utama bagi orang yang memilih untuk berpasangan. Ketika seseorang merasa sudah menemukan partner yang tepat, mereka akan mengharapkan eksklusivitas baik secara seksual maupun emosional. Perselingkuhan dapat dinilai sebagai salah satu bentuk pelanggaran terhadap norma monogami karena mengkhianati keintiman emosional dan seksual.

Hal ini, menyebabkan individu yang tidak setia dianggap sebagai orang yang kehilangan moralitas. Untuk menjaga pelestarian norma, sanksi sosial yang diberikan masyarakat sering kali berbentuk kecaman atau gosip. (Velicu, 2011).

Walaupun bergosip dinilai sebagai sesuatu yang buruk, gosip sering kali merupakan kecaman moral yang digunakan untuk menghakimi dan menghukum mereka yang melanggar aturan moral yang dianut masyarakat (DeScioli & Kurzban, 2009)

Berdasarkan teori fondasi moral, terdapat motivasi moral yang memunculkan gosip diantaranya:

  • 1. Harm/care : Mengacu pada sejauh mana individu peduli terhadap penderitaan orang lain.
  • 2. Fairness/reciprocity: Mengacu pada nilai-nilai keadilan yang dianut oleh seseorang.
  • 3. Ingroup/loyalty: Mengacu pada hubungan yang lebih kuat dengan orang yang merupakan bagian dari kelompok dan sikap yang bermusuhan pada orang yang berasal dari luar kelompok.
  • 4. Authority/ respect: Meliputi penilaian kepatuhan terhadap figur yang dianggap memiliki otoritas dalam kelompok.
  • 5. Purity/sancity : Berhubungan dengan adanya rasa jijik terhadap orang, kegiatan, atau benda yang dianggap tidak suci.

Lima landasan moral ini cenderung memengaruhi persepsi orang terhadap moralitas, emosi dalam menanggapi pelanggaran moral, dan penilaian selanjutnya terhadap orang yang melanggar moral. Gosip selalu mengandung evaluasi terhadap informasi yang berkaitan dengan tindakan amoral.

Misalnya, dalam hal perselingkuhan, seseorang atau sekelompok orang yang memegang nilai purity/sancity akan cenderung bergosip karena menganggap perilaku berselingkuh sebagai perilaku yang tidak suci. Sementara itu, orang yang memegang nilai harm/care akan menilai pelaku perselingkuhan sebagai seseorang yang menyebabkan penderitaan kepada orang lain sehingga memancing diri nya untuk bergosip.

Pada akhirnya, nilai apapun yang melekat pada seseorang akan selalu memberikan alasan untuk menghakimi perselingkuhan.

Menariknya, Fernandes,dkk (2007) melakukan penelitian pada sekelompok orang yang diberikan dua macam berita. Berita pertama berupa informasi negatif tentang perselingkuhan dan berita kedua berupa informasi positif tentang kesetiaan.

Hasilnya, partisipan penelitian terbukti lebih sering memberikan penilaian yang evaluatif kepada kasus perselingkuhan.  Sementara itu, mereka tidak terlalu reaktif dalam memberikan penilaian pada informasi tentang kesetiaan. Hal ini, mengisyaratkan partisipan lebih mungkin menyalurkan gosip yang memiliki muatan informasi negatif.

Partisipan penelitian juga ternyata lebih suka bergosip ketika menemukan informasi yang menarik. Berbeda dengan berita bahagia, berita buruk lebih memiliki daya pikat untuk masyarakat. Ketidaksetiaan, salah satunya, merupakan salah satu berita buruk paling menarik untuk menjadi topik pembicaraan bagi laki-laki maupun perempuan (McAndrew, 2007).

Referensi

  • DeScioli, P., & Kurzban, R. (2009). Mysteries of morality. Cognition, 112(2), 281-299.
  • Fernandes, S., Kapoor, H., & Karandikar, S. (2017). Do we gossip for moral reasons? The intersection of moral foundations and gossip. Basic and applied social psychology, 39(4), 218-230. Link artikel
  • McAndrew, F. T., Bell, E. K., & Garcia, C. M. (2007). Who do we tell and whom do we tell on? Gossip as a strategy for status enhancement 1. Journal of Applied Social Psychology, 37(7), 1562-1577.
  • Velicu, A. M. Infidelity and Stigma: How the Love Triangle is Socially Constructed.“Love Has No Limits, but People Do”.(2011). Petru ILUŢ, 253.

Penutup

Jadi, kamu sekarang pahamkan kenapa kita selalu merasa tertarik ketika berbicara mengenai topik perselingkuhan. Mau kamu dari latar belakang apa pun atau nilai yang dianut, selalu ada jalan menuju julid selingkuh.

Penulis: Shabrin Risti Aulia

Keterangan: Artikel ini merupakan kiriman dari penulis bumi psikologi. Bagi kamu yang memiliki artikel untuk dibagikan kepada para pembaca melalui kanal kami, kamu bisa kirim ke lama ini ya, Masukan dan Submit Artikel atau ke email kami di bumipsikologi@gmail.com