Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai terapi marah dalam psikologi islam. Momen puasa seperti ini, tapi di kondisi lain juga, akan lebih enak dan elok jika tidak dihiasi dengan sikap marah. Mau marah ke diri sendiri, orang lain, keadaan atau kepada ahlul bid`ah. Barangkali kamu yang aktif di medsos sudah barang tentu melihat akun marah berseliweran diman-mana. Umpatan, cacian dan makian memenuhi dinding beranda medsos kamu, dan saya tentunya. [Baca buku terapi Humor juga di sini]

Baca juga: Menjadi Pribadi yang Selalu Memaafkan – Mengenal Konsep Pemaaf dalam Psikologi Islam

Kenapa sih mereka selalu marah-marah? Apa karena ketidakpuasan terhadap keadaan atau sebagai bagian dari konspirasi-konspirasi feemanson, tentunya bukan ya. Yang pasti, fenomena marah kesumat itu lumrah terjadi di jagat media. So, mungkin bagi kamu yang sering marah juga solusinya yaitu membaca terapi marah dalam psikologi islam.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam sampai tuntas ya!

Solusi Bagi Mental yang Selalu Marah-Marah dengan Terapi Marah dalam Psikologi Islam

Sebuah Fenomena Marah

terapi marah dalam psikologi islam, solusi bagi orang yang marah-marah, mengatasi marah dalam psikologi islam, terapi marah menurut psikologi.
Bumi Psikologi – Jangan selalu marah kayak kucing. Sumber: Pexels.com

Setiap orang pasti pernah mengalami rasanya marah. Baik karena merasa bermasalah dengan keluarga terdekat, teman, orang lain, maupun marah karena merasa bermasalah dengan diri sendiri. Masalahnya, terkadang marah hanya memberikan kepuasan sementara. Meluapkan kemarahan terhadap orang lain dilakukan, dan berakhir dengan penyesalan. Menyesal karena tidak seharusnya melakukan perbuatan itu, terkadang berimbas pada hilangnya karier, hilangnya hubungan baik, hilangnya citra diri bahkan menyesal karena sudah melakukan perbuatan criminal. Itu semua dilakukan karena marah membuat orang tidak sadar terhadap apa yang sudah dilakukan.

Oleh karena itu, kita perlu memahami tips yang diajarkan Nabi saw. sebelum datang marah dan saat marah sedang melanda diri kita.

Secara umum terdapat dua kondisi yang menjadi acuan kita dan perlu kita ketahui agar bisa terhindar dari marah:

Menolak marah; sebelum marah melanda yaitu dengan menghiasi diri dengan akhlak mulia. Sesegera mungkin kita berusaha agar bisa memperbanyak ibadah dan mengamalkan amalan baik, seperti sabar, santun, pemaaf, menahan marah, tawadhu, dan akhlak mulia lainnya. Kondisi ini merupakan langkah preventif yang dilakukan sebelum marah melanda kita.

Baca juga: Cerita Sebagai Media Pembentuk Pribadi Anak – Metode Bercerita untuk Pengajaran Anak dalam Psikologi

Terdapat kisah yang diriwayatkan oleh al- Qanabi, yaitu ada seseorang yang berakhlak mulia yang bisa menahan diri agar tidak marah. Ia bernama Ibnu ‘Aun. Suatu hari ia meminta budaknya untuk memberi minum unta kesayangannya. Budaknya justru memukul muka unta tersebut hingga unta itu mengeluarkan air mata. Namun akhlak mulianya membuat ia tidak marah dan justru merespon dengan bertanya “Maha suci Allah, tidak adakah bagian lain yang kamu pukul selain mukanya? Semoga Allah memberkahimu. Pergilah, saksikan budak ini telah bebas.”

Menghilangkan Marah; yaitu tindakan represif ketika marah melanda kita. Tindakan ini merupakan upaya agar tidak menuruti marah ketika suasana hati mulai marah. Sehingga kita terhindar dari akibat buruk yang ditimbulkan oleh marah. Beberapa terapi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

terapi marah dalam psikologi islam, solusi bagi orang yang marah-marah, mengatasi marah dalam psikologi islam, terapi marah menurut psikologi.
Bumi Psikologi – Terapi bagi yang selalu marah yaitu ya jangan marah. Sumber: Pexels.com

Terapi Diam

Terkadang marah bisa mengakibatkan keluarnya ucapan kotor, cacian, hingga kata-kata cerai dalam pernikahan. Oleh karena itu, agar terhindar dari akibat negative dari reaksi emosional yang akan ditimbulkan, sebaiknya kita diam ketika marah mulai melanda.

Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw.

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Apabila seseorang diantara kalian marah, hendaklah diam.”

Terdapat kisah yang menerangkan penerapan terapi diam ini. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa ada seorang lelaki mencaci Abu Bakar r.a. dan ia meresponnya dengan berdiam diri. Nabi tersenyum dan kagum. Ketika cacian itu melampaui batas, Abu Bakar r.a. pun membalasnya. Nabi pun meninggalkannya.

Nabi saw. bersabda:

“(Ketika kamu diam saja) malaikat turun dari langit dan memberi tahu bahwa apa yang dikatakan lelaki itu adalah bohong, ketika kamu membalas perkataannya, malaikat pergi dan setan duduk. Aku  tidak akan duduk bila setan duduk.”

Terapi Duduk

Mengapa kita dianjurkan duduk saat marah? Lagi-lagi untuk menghindari kemungkinan terburuk akibat marah. Berbeda dengan posisi berdiri yang cenderung memudahkan gerak untuk memukul, menyerang, ataupun menyakiti, duduk atau bila perlu berbaring merupakan posisi aman sehingga sulit untuk bangun dan melakukan penyerangan. Hal ini sesuai dengan anjuran Nabi saw. dalam hadisnya:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila salah satu diantara kalian marah dalam posisi berdiri, hendaklah ia duduk. Bila belum mereda hendaknya berbaring.”

Dalam ilmu psikologi kita bisa menemukan adanya teori James-Lange. Teori itu menyatakan bahwa emosi; termasuk didalamnya emosi marah terjadi setelah reaksi fisiologis. Artinya kita bisa merubah emosi marah dengan cara merubah reasi fisiologis; dalam hal ini merubah posisi menjadi duduk atau berbaring.

Berkaitan dengan terapi ini, terdapat suatu kisah yang inspiratif. Suatu hari ketika Abu Dzar menyiram kolamnya, beberapa orang datang dan bermaksud untuk membantunya. Mereka pun membantu untuk memberikan minum unta di kolam tersebut. Tidak disangka-sangka unta itu berontak. Alih-alih membantunya, malah membuat kerusakan dan kerugian. Posisi waktu itu, Abu Dzar sedang berdiri. Lalu ia duduk kemudian berbaring.

Terapi Wudhu/ Mandi

Perlu diketahui bahwa saat marah hati kita panas dan bergolak. Wudhu merupakan salah satu cara yang dianjurkan untuk mendinginkannya.

Nabi saw. bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ نَارٍ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

sesunggunya, marah berasal dari setan. Dan sesungguhnya, setan diciptakan dari api, sedangkan api dipadamkan dengan air. Karenanya, bila sala satu diantara kalian marah hendaknya berwudhu.”

Suatu ketika, dikisahkan Mu’awiyah  ditimpa sesuatu hingga terluka ketika sedang berkhotbah. Ia pun marah, lalu turun dan mandi. Kemudian ia kembali ke mimbar.

terapi marah dalam psikologi islam, solusi bagi orang yang marah-marah, mengatasi marah dalam psikologi islam, terapi marah menurut psikologi.
Bumi Psikologi – Santuy aja kali. Sumber: Pexels.com

Terapi Isti’adzah

Kalau boleh dikategorikan maka 3 terapi sebelumnya termasuk dalam kategori terapi perbuatan, sedangkan terapi isti’adzah merupakan kategori terapi ucapan. Sehingga apabila kita gabungkan semua terapi ini, maka usaha kita untuk menghindari diri dari marah kemungkinan besar akan tercapai. Terapi isti’adzah ini merupakan formula yang dirumuskan oleh Nabi saw. sebagaimana dalam sabdanya:

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أُعُوْذُ بِاللّهِ سَكَنَ غَضَبُهُ

“Apabila seseorang marah, kemudian mengucapkan isti’adzah (aku berlindung kepada Allah), maka marahnya pasti reda.”

Begitulah sekilas tentang terapi marah, semoga kita ada dalam lindungan Allah swt. dan menjadi orang kuat yaitu orang yang mampu mengendalikan diri dari marah.

Daftar Pustaka

Thalib, Abdul Qadir Abu. (2006). Anger Management: Tips Me-menage Amarah. Jakarta: Embun Publishing

Penutup

Oke mungkin untuk artikel terapi marah dalam psikologi islam cukup sampai di sini saja. Semoga kamu dan saya juga tidak diselimuti dengan marah-marah terhadap apapun. Senantiasa bisa bersabar dalam menjankan hidup. Bukankah lebih elok bisa beramah tamah, meski hidup dalam perbedaan juga. Terima kasih dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada yang lain supaya kamu bisa berbagi manfaat bersama teman-teman kamu.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: terapi marah dalam psikologi islam, solusi bagi orang yang marah-marah, mengatasi marah dalam psikologi islam, terapi marah menurut psikologi.